Jumat, 25 April 2014

MENJAGA AMANAH

Kalau kita perhatikan syariat Islam dan seluruh ajaran Islam, maka kita akan mendapati bahwa keseluruhannya adalah untuk mashlahat dan kebahagiaan manusia. Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam Islam adalah kewajiban melaksanakan amanah. Tentang amanah amanah, ada tiga kata sepadan yang semuanya dibentuk dari huruf   ا(alif),  م (mim) dan (nun)  ن (nun), ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu aman, amanah dan iman dan makna ketiganya hampir serupa yaitu menunjukkan kepada ketenangan (tumaninah). Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut dan ini juga berarti ketenangan, kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta amal perbuatan, yang di dalamnya terdapat pula ketenangan.

Oleh karena itu Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan Mukmin karena hanya orang Mukmin saja yang dapat memelihara amanat Allah, menunaikan serta memegangnya dengan erat, sebagaimana difirmankan oleh Allah, yaitu: ‘orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (QS Al-Mukminuun 23: 8).

Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari amanah berarti tumbuhnya sikap untuk memelihara dan menjaga apa saja yang menjadi perjanjian atau tanggungan manusia berupa benda nyata atau yang bersifat maknawi. Hal ini seperti yang ditunjukkan di dalam sabda Rasulullah Saw: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya.” Maka amanah memiliki makna yang sangat luas yang mencakup seluruh hubungan mua’malah dan hak-hak pihak lain yang harus ditunaikan.

Secara garis besar amanah terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama. Amanah Dalam Menunaikan Hak-hak Allah. Yaitu dengan menauhidkan-Nya, mengesakan-Nya di dalam beribadah, mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah. Ini merupakan amanah yang terbesar, yang setiap hamba wajib melaksanakannya pertama kali sebelum amanah-amanah yang lain. Dan darinya akan muncul seluruh bentuk amanah yang lain.

Kedua. Amanah Dalam Nikmat Yang Diberikan Allah. Misalnya nikmat pendengaran, penglihatan, pemeliharaan, harta dan anak-anak. juga amanah badan dan segala isinya, kepala dan kemampuan otaknya untuk berfikir. Maka setiap mukallaf wajib menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai fungsinya yang Allah ciptakan dan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah. Apabila anggota badan, kesehatan, harta dan seluruh nikmat yang kita terima digunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt, maka berarti kita telah merealisasikan amanah serta menunaikan sesuai tuntutannya. Sebagai balasannya maka Allah akan menjaga dan memelihara orang yang berbuat demikian dan juga menjaga nikmat tersebut.Nabi Saw bersabda: Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka Dia akan kau dapati dihadapanmu.

Seorang salaf berkata, Barang siapa bertakwa kepada Allah maka dia telah menjaga dirinya sendiri, dan barang siapa menyia-nyiakan ketakwaan kepada-Nya maka berarti dia menyia-nyiakan dirinya sendiri, sedangkan Allah tidak pernah membutuhkannya.

Oleh karenanya siapa saja yang menunaikan amanah dalam menjaga batasan-batasan Allah serta memelihara hak-hak Nya, baik yang berkaitan dengan dirinya atau apa yang diberikan oleh Allah berupa nikmat, harta dan sebagainya, maka Allah akan menjaganya untuk kebaikan agama dan dunianya. Sebab balasan itu sesuai dengan amal usaha seseorang sebagaimana firman Allah Swt: Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS Al-Baqarah 2: 40).▪” Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad 47: 7) 

Ketiga. Amanah Dalam Menunaikan Hak Sesama Manusia Seperti titipan, harta, rahasia, aib dan kehormatan, dan lain sebagainya. Al-Qur’an telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam banyak ayat, yang sekaligus menganjurkan kepada kita untuk memelihara dan menjaganya. Di antaranya adalah firman Allah: ▪ “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.“ (QS An Nisaa’ 4: 58) Juga firman Allah yang menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang berhak mendapatkan surga Firdaus: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat(yang dipikulnya) dan janjinya,(QS Al- Mu’minuun 23: 8)

Berkaitan dengan amanah ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit , bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. (QS. 3A- Ahzaab 3: 72)

Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, dimana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya.

Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konskwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.

Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzaab 33:73)

Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya serta menunaikan hak-haknya maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa. Maka dalam lanjutan ayat Allah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menunaikan amanah tersebut, yaitu munafik, musyrik dan Mukmin. Mereka itu juga termsuk kita oramg-orang yang bekerja uutuk Al-Musaqiim tetapi kemudian tidak peduli lagi akan kelangsungan penerbitannya. Tahukah kita bahwa amalan yang paling disukai oelh Rasulllah adallah "Adwamuha wa inqalla." sedikit tetapi istiqanah dibangdingkan amalan besar tetapi hanya sekali dua kali. saja.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kengganan langit, bumi dan gunung, yang berbeda dengan keengganan iblis ketika diperintahkan sujud terhada Adam as. Perbedaanya adalah bahwa keengganan langit, bumi dan gunung adalah timbul dari kelemahan dan ketidakmampuan sedangkan keengganan iblis karena menolak dan takabbur (sombong). Hal yang kedua adalah bahwa yang disampaikan kepada langit,bumi dan gunung adalah tawaran yang disitu ada pilihan sedangkan yang disampaikan kepada iblis adalah perintah wajib yang harus, tidak ada pilihan lain selain patuh.

Beberapa Pelajaran Seputar Amanah

Amanah adalah akhlak yang bersifat utuh, tidak bisa hanya dilaksanakan sebagiannya saja. Maka orang yang amanah terhadap yang sedikit dan berkhianat terhadap yang banyak dia adalah khianah. Orang yang amanah dalam satu kondisi lalu berkhianat dalam kondisi yang lain maka berarti tidak amanah.

Amanah adalah akhlak dan ciri keimanan. Dengan pendidikan keimanan dia akan menjadi baik dan bersih yaitu dengan menumbuhkan rasa kedekatan Allah, yang tak satupun tersembunyi di hadapan Allah, serta takut ketika ditanya di hadapan Allah. Orang yang amanah hanya ketika ada orang lain berarti dia belum merealisasikan amanah.

Amanah adalah bekal paling besar dan paling baik yang dimiliki seseorang, jika seseorang terpercaya di dalam amanahnya maka itu merupakan kekayaan di dunia sebelum nanti di akhirat.

Amanah adalah kekuatan, dalam pengaruh dan kekuasaan, kemuliaan dan kecukupan, bahkan merupakan kekuatan jiwa sehingga tidak lemah dan tunduk terhadap hawa nafsu dan segala yang membawa kepada kebinasaan.

Lawan amanah adalah khianat yaitu meninggalkan dan menyembunyikan yang hak dan yang seharusya disampaikan. Dan ini merupakan karakter utama orang munafik sebagaimana di dalam hadits yang masyhur, Nabi saw bersabda, artinya, Tanda-tanda orang munafik ada tiga, Jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.

Bermacam-macam Khianat

Allah swt berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS Al-Afaal 8: 27)

Berdasar ayat ini, khianat ada tiga macam:

1.Khianat terhadap hak-hak Allah swt, yang paling besar adalah kufur dan syirik kemudian setelah itu disusul dengan fusuq (kefasikan) dan ishyan (kemaksiatan). Tauhid, shalat, puasa, ikhlas, zakat, ruku,sujud,mandi janabah adalah contoh amanat seorang hamba di hadapan Allah Swt, yang harus ditunaikan dengan benar dan tidak boleh dikhianati.

2. Khianat terhadap hak-hak Rasul saw, yaitu dengan meremehkan sunnah-sunnah dan pengajarannya, ghuluw (berlebihan) di dalam mengagungkan beliau, meninggalkan sunnah dan melakukan bid’ah atau membuat hal-hal baru di dalam agama padahal tidak pernah diajarkan oleh beliau SAW.

3. Khianat terhadap hak-hak sesama manusia, seperti khianat di dalam harta, kehormatan atau nasihat terhadap mereka. Amanah terhadap sesama manusia amat banyak, diantaranya adalah amanat anak,orang tua, kerabat,suami- istri, tetangga,amanah dalam jual beli, berbicara, pekerjaan, ilmu, nasihat, dan lain sebagainya.

Semoga Allah menolong kita semua untuk dapat melaksanakan amanah kehidupan ini, amin. Wallahu a’lam bish shawab.

Selain kita berharap kepada para para wakil rakyat akan pentingnya amanah yang harus mereka tunaikan, tentu akan lebih baik pula kalau kita sebagai masyarakat untuk muhasabah sejauh mana perilaku kita sebagai anggota masyarakat.

Rasulullah bersabda: "Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu juga akan diminta bertanggungjawab tentang apa yang kamu pemimpin, ketua atau imam adalah pemimpin dan ia akan diminta tanggungjawab tentang apa yang dipimpin. (HR Al-Bukhari).

PadaA suatu hari ketika sedang berkecamuk Perang Uhud, Rasulullah mengangkat pedang, lalu bersabda kepada para sahabat yang ada waktu itu, "Siapakah di antara kalian yang mau menerima dan menggunakan pedang ini?

Para sahabat hampir semua mengulurkan tangannya seraya berkata, "Saya, saya," sahut mereka.

Melihat reaksi para sahabat demikian kemudian Rasulullah bersabda lagi dengan suara agak tinggi, "Siapakah di antara kalian yang mau menerima dan menggunakan pedang ini dengan penuh tanggung jawab"?

Karena disetai dengan kata-kata tanggungjawab, untuk beberapa saat tidak ada yang menjawab. Akan tetapi, tidak terlalu lama, kemudian Abu Dujanah salah seorang di antara mereka yang duduk cukup jauh dari baginda Rasul, berteriak sambil berkata, "Wahai utusan Allah insya Allah saya mau menerimanya dengan penuh tanggung jawab".

Tanpa berpikir kembali kemudian Rasulullah memberikan pedang tersebut kepadanya sambil berkata, "Semoga engkau bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya".

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada peperangan tersebut Abu Dujanah berhasil memenggal leher orang-orang musyrik yang akan membahayakan kaum Muslimin.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Dujanah adalah seorang sahabat Rasul yang tidak begitu populer di kalangan kaum Muslimin. Kalau kebetulan Rasulullah mengadakan suatu musyawarah dengan para sahabat yang lainnya tentang sesuatu hal, Abu Dujanah senantiasa mengikutinya dengan baik, ia memiliki perhatian besar terhadap keselamatan kaum Muslimin dan perjuangan Rasulullah sekalipun kalau ada musyawarah/pertemuan tertentu duduknya selalu berjauhan dengan baginda Rasul.

Abu Dujanah menerima pedang dari Rasulullah dalam keadaan kritis dan krisis sehingga ini merupakan amanah yang cukup berat. Ia tahu memegang pedang bukan untuk tidak berbuat apa-apa, hanya sensasi atau hanya untuk membela diri sendiri yang kemudian disalahgunakan. Akan tetapi, ia harus berbuat banyak untuk kepentingan bersama, kepentingan kaum Muslimin bahkan kalau perlu ia harus berani memenggal leher musuh yang nyata-nyata memang akan membahayakan Rasulullah dan kaum Muslimin. Demikian prinsip Abu Dujanah. 

Hermanto Harsolumakso
No. 218

12 komentar:

  1. Abdoellah Baamrand Assallamm'alaiqum,pkhabar pak semoga dalam keberkahan dan sehat walafiat.

    BalasHapus
  2. Sakib Machmud Alhamdulillah, sudah sembuh. Insya Allah saya masih siap di Al-Mustaqiim.

    BalasHapus
  3. Hasfar Fathur Rochim saya berdoa untuk omberdua semoga tetap sehat terus dan ditunggu pencerahannya

    BalasHapus
  4. Segala sesuatu yg terjadi krn izin Allah pak Hermanto Harsolumakso, terkadang hal yg tdk kita inginkan yg terjadi, namun Allah berkehendak inilah yg terbaik... Allah sayang sama bapak,,,, Allah akan memberikan yg terbaik utk bapak sbg hadiah kesabaran atas ujian yg diberikan... semangat dan bersabar terus pak.. doa dr kami menyertai semangat bapak.. Salam dari Bukittinggi

    BalasHapus
  5. Assalaamualaikum ww, aps kabar pak Hermanto,?mudah2 an baik2 saja,kebetulan kami di Jkt,mau Umrah beso, salam kami,sehat selalu utk anda dan klg,amin.

    BalasHapus
  6. Mukmin sejati tak pernah kenal kata munudr, adanya maju terus. Dukung terus Al-Mustaqiim.

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah. Al-Ustad Hermanto sdh sehat dan aktif kembali. Selamat berkarya beribadah. Wass

    BalasHapus
  8. Majju terus Om Hermanto.

    BalasHapus
  9. Salut ustadz, 5 tahun lbukan batasan. Wass.

    BalasHapus