Rabu, 09 April 2014

ADAKAH WAKIL RAKYAT YANG AMANAH

Pemilihan umum (legislatif) 2014 yang berlangsung hari ini 9 April 2014, kita harapkan menjadi proses terpilihnya orang terbaik yang akan mengurus negeri ini. Namun dari pengalaman selama ini, Pemilu selalu cidera karena sebagian besar pesertanya menghalalkan segala cara untuk mengantarkannya menjadi anggota legislatif.

Untuk mendapatkan kursi wakil rakyat itu, di banyak pojok terdengar caleg anu bayar sekian sedangkan caleg si fulan bayar sekian. Harga suara rakyat, yang katanya, suara Tuhan, telah menjadi bahan dagangan. Harganya pun meningkat dan saling menimpa. Awalnya, muncul patokan Rp 100 ribu / suara. Tetapi, ada caleg berani menimpanya Rp 250 sampai Rp 400 ribu. Caleg yang sudah menempel fotonya dengan sejuta gaya, masih tidak percaya diri untuk bisa memenangi pemilihan tanpa membayar (suara) rakyat.  Belum lagi aksi ’serangan fajar’ di hari H dengan mengantar kebutuhan pokok, seperti beras, gula, ddan sebagainya.

Membayar suara pemilih adalah ciri paling memalukan dari para wakil rakyat. Sesungguhnya, suara itu diperoleh atas kepercayaan rakyat dengan memberikan amanah kepada mereka sebagai wakil rakyat di lembaga legislatif, bukan dengan membayarnya. Namun, yang terjadi adalah, karena mereka telah membayar suara rakyat dengan uang recehan plus sedikit bahan pokok, sehingga ‘pemegang mandat’ itu tidak merasa perlu lagi bertanggungjawab kepada rakyat (konstituen) yang memilihnya. Akhirnya, seperti yang kita saksikan selama ini, anggota dewan itu bekerja tanpa peduli rakyatnya, karena semuanya sudah mereka lunas sebelum Pemilu.

Saat ini, lihatlah, puluhan anggota legislatif yang sudah dan atau masih duduk (satu atau dua periode). Apa sesungguhnya yang sudah mereka lakukan? Adakah mereka dekat dengan rakyatnya? Ataukah mereka coba sangat ramah bahkan santun, hanya menjelang Pemilu saja?   

Memang tidak semua wakil rakyat menjadikan uang sebagai segalanya. Masih ada di antara mereka yang menjadikan rakyat sumber inspirasinya, sumber ide dan kerja kreatifnya. Ada mereka yang selalu berdialog dan bersama rakyat dan memahami aspirasi rakyat, memiliki ko Seperti yang terjadi selama ini, mereka selalu tampak bermanis muka, sok akbrab, jadi pahlawan, tetapi apa yang mereka lakukan kemudian adalah ‘kegilaan sesungguhnya’ sebagai wakil rakyat dengan mempertontonkan aksi nambah dan ganti mobil, nambah rumah baru, pesiar ke luar negeri dan sebagainya. Rakyat sudah tidak mereka pikirkan lagi.

nsepnya untuk rakyat. Ia susun perencanaan anggaran pembangunan untuk rakyat. Mereka perjuangkan insfrastruktur dan fasilitas umum, untuk rakyat. Bila ada dana aspirasi pun mereka gunakan untuk kepentingan rakyat. Mereka kritisi eksekutif yang lalai, karena merasa rakyat tak dibela. Mereka tidak selingkuh dengan eksekutif untuk menzhalimi rakyat, dan mereka pun siap berseberangan dengan orang-orang zhalim, siap tidak populer, karena memperjuangkan rakyat. Tetapi mereka yang amanah itu hanya sedikit. Padahal rakyat  butuh mereka wakil rakyat yang amanah, kreatif, punya gagasan, inovasi, gigih dan selalu bersama rakyat. Nafas rakyat adalah nafas pejuangan mereka. Tetapi adakah mereka? Jawabnya, bisa ada bisa tidak.

Selama rakyat memilih caleg melalui politik uang ditambah serangan fajar, pasti pasti mereka itu bukanlah wakil yang bisa amanah. Akhirnya, kembali berpulang kepada dua belah pihak, yang membayar dan yang dibayar.

Amanah Dan Tugas Berat Wakil Rakyat

Berkaitan dengan amanah, ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit, bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan,  karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzaab 33: 72)

Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, di mana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya.

Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konsekwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.

Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya dan serta menunaikan hak-haknya, maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya,  maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa.

Dalam ayat berikutnya ditegaskan oleh Alllah: “Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzaab 33: 73). Begitulah bodohnya manusia manusia yang tidak mengerti apa hakikat amanah dan bagaimana memperlakukan amanah itu.

Allah Swt menyebutkan kata amanah dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Itu artinya amanah yang diemban seseorang tidak hanya satu. Pasti ia mengemban amanah lebih dari satu dan beraneka-ragam. Di sisi lain, kita melihat ayat ini menyebutkan kata adil setelah menyebutkan kata amanah. Dan ternyata memang demikian fenomena yang terjadi, bahwa keadilan tidak dituntut kecuali amanah sudah tidak ditunaikan.

Menjadi seorang wakil rakyat sesungguhnya bukanlah tugas yang ringan, bahkan teramat berat. Bukan karena kemampuan dalam menguasai tugas-tugas secara teknis maupun non teknis, karena mereka sesungguhnya didukung oleh staf-staf ahli yang sesuai dengan komisi di mana mereka duduk. Yang memberatkan adalah ketika jiwa kepemimpinan dan sikap amanah yang harus tetap dijaga secara konsisten.

Rasulullah Saw bersabda tentang beberapa tahapan hilangnya sikap amanah. Jika Allah hendak membinasakan seseorang, maka Dia akan mencabut rasa malu darinya. Jika dicabut rasa malu, maka kamu akan melihat dia akan dibenci dan dijauhi orang-orang. Jika ia dibenci dan dijauhi orang-orang, maka hilanglah  rasa amanah dalam dirinya. Bila amanah itu sudah dicabut, maka kamu melihat ia menjadi khianat dan pengkhianat. Jika ia telah dianggap khianat dan pengkhianat, maka dicabutlah rasa kasih sayang dalam dirinya. Jika rasa kasih sayang itu sudah dicabut, maka kamu akan melihat dia menjadi penjahat dan terlaknat. Bila ia sudah jadi penjahat dan terlaknat, maka dicabutlah Islam dalam dirinya." (HR Ibnu Majah).  

Siapakah yang orang yang berhak mengemban amanah setidaknya memiliki dua syarakat 1) Kompetensi (ilmiyah) dan Integritas (syar’iyah). Kompetensi tanpa integritas hanya melahirkan kecongkakan yang berdampak pada pengabaian terhadap amanah.

Demikian, semoga amanah yang kita emban, baik amanah dalam rumah-tangga, keluarga, masyarakat, pekerjaan, maupun jabatan dapat kita tunaikan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw tersebut

Modal awal yang seharusnya disadari oleh semua pemimpin negeri ini termasuk wakil rakyat (anggota legislatif) adalah bahwa keberadaan mereka saat ini menjadi seorang pemimpin adalah bukan hal yang main-main, karena mereka bukan hanya bertanggungjawab terhadap rakyat yang telah memilihnya, juga kepada Yang Maha Esa atas apa-apa yang telah dilakukan selama memegang amanah sebagai pemimpin sekaligus wakil rakyat.

Hidup Sederhana
Jalan menuju tampuk kekuasaan dan kursi-kursi kepemimpinan  negeri ini harus memenuhi norma-norma agama, bahwa jabatan itu tidak boleh diambil dengan cara-cara meminta-minta melalui politik uang. Bahwa amanat yang dipikul bukanlah hal yang patut disyukuri sebagai sebuah keberuntungan apalagi dianggap sebagai rizki. Sikap-sikap tersebut seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari para pemimpin-pemimpin negeri, baik yang berada di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, sehingga akan mempersempit ruang gerak dalam menyalahgunakan jabatan yang dipegang untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang banyak, seperti tindak pidana korupsi.

Godaan-godaan kekuasaan di negeri yang kaya raya ini memang begitu menggiurkan bagi para pemimpin negeri, khususnya para wakil rakyat. Tahta, harta dan wanita akan terus berputar silih berganti untuk mengoyak jiwa-jiwa wakil rakyat yang tidak amanah. Apabila kedudukan yang kini ada dalam genggaman adalah hasil dari perjuangan yang dipenuhi oleh politik uang, tentunya ketiga godaan tersebut bagaikan makanan lezat yang ingin segera disantap dan dilahap tanpa tersisa.

Kalaupun mereka yang duduk sebagai wakil rakyat tidak melalui proses politik uang, masih harus diuji keamanahannya dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat. Salah satu sikap yang perlu juga dimiliki adalah sikap hidup sederhana. Jika sebelumnya kehidupan wakil rakyat dalam kondisi ekonominya pas-pasan, maka setelah duduk sebagai wakil rakyat tawaran untuk gaya hidup bermewah-mewah sangat mungkin dilakukan. Dengan gaji  dan tunjangan di atas rata-rata rakyat kebanyakan, kesempatan tersebut sangat terbuka luas.

Hal ini juga berlaku bagi mereka yang sebelumnya sudah memiliki kekayaan yang berlimpah, dengan kedudukannya tersebut bisa mengeruk kekayaan yang lebih banyak lagi melalui jalan menjadi makelar-makelar proyek yang ada ataupun penyalahgunaan wewenangnya sebagai wakil rakyat untuk menekan pihak-pihak yang terindikasi melakukan hal-hal yang merugikan negara.

Menjadi wakil rakyat bila tidak memahami betul tugas dan tanggung-jawabnya maka yang akan terjadi adalah seperti yang kita sering dengar di pemberitaan media massa. Satu persatu wakil rakyat duduk di kursi pesakitan karena telah melakukan tindak pidana korupsi, baik di saat jabatan sebagai wakil rakyat masih dipegang, maupun setelah tak menjabat lagi.

Rapor Kinerja Wakil Rakyat

Sudah menjadi suatu hal yang umum di masyarakat bahwa para elit politik, khususnya para anggota dewan legislatif menebar pesona dalam kampanye mereka menjelang Pemilu. Mereka berupaua ‘memperlihatkan kepada masyarakat luas bahwa mereka berjuang untuk rakyat. Safari politik dilakukan menuju pelosok-pelosok daerah, padahal pada hari-hari biasa hal itu samasekali tidak dilakukan.

Kalau hal seperti ini terus terjadi, maka masyarakat kita menjadi objek pembodohan oleh para wakil rakyat tanpa bisa memberikan sikap terhadap hal ini. Masyarakat sudah seharusnya mengetahui perilaku, sikap kerja, kedisiplinan, dan prestasi para wakil yang mereka pilih. Akan tetapi hingga saat ini mungkin tidak ada ‘perangkat’ yang dapat membantu masyarakat untuk melakukan pemantauan terhadap kinerja para wakil mereka.

Oleh karena itu, seperti layaknya siswa sekolah yang dapat melihat kinerja serta prestasi mereka di lembaga pendidikan melalui rapor yang mereka terima, maka diperlukan juga adanya rapor penilaian untuk memantau kinerja dari masing-masing wakil rakyat. Rapor penilaian ini diberlakukan terhadap keseluruhan anggota dewan, dan setiap akhir tahun dipublikasikan kepada masyarakat untuk menunjukkan tingkat kinerja dari masing-masing orang. Kriteria penilaian yang dimasukkan dapat berupa tingkat kehadiran, kedisiplinan dalam menghadiri sidang, kemampuan menjaring aspirasi publik, dan lain sebagainya.

Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian apakah anggota dewan yang telah mereka pilih masih layak untuk dipilih lagi pada periode selanjutnya atau tidak. Kebijakan untuk membuat rapor penilaian terhadap para wakil rakyat harus dipantau dengan ketat dan diperlukan kerjasama antar semua pihak terkait agar mampu memberikan hasil yang optimal.

Hermanto Harsolumakso
No. 217

1 komentar:

  1. Alhamdulillah. Al-Ustad Hermanto masih produktif. Jazakallah.

    BalasHapus