Kamis, 15 Agustus 2013

IDULFTRI, KEMBALI KE FITRAH

Baru saja kita merayakan Hari Raya Idul Fitri 1434 H setelah menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, semoga amal ibadah puasa, shalat tarawih dan amal-amal kita lainnya diterima dan mendapat ridha Allah Swt dan diampuni segala dosa dan kesalahan kita. Dengan berakhirnya puasa Ramadhan, timbullah berbagai macam perasaan kita dalam menyikapinya. Kita merasa bahagia karena telah selesai melaksanakan amanah dan perjuangan berat melawan hawa nafsu. Kita dapat merasakan kembali santapan yang lezat di mana sebelumnya kita harus menahan diri, dan merasakan segarnya minuman pada siang hari di mana kita harus menahannya selama bulan puasa. Kita merasakan ke bahagiaan sebagaimana bahagianya pada waktu berbuka puasa. Harapan kita, semoga amal ibadah Ramadhan yang baru diakhiri ini benar-benar mampu mengantarkan jiwa dan raga kita menjadi orang-orang muttaqin.

Apabila harapan ini menjadi kenyataan, insya Allah kita akan menuai keberuntungan yang Allah janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti Allah akan berikan jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di akhirat). Dan pasti Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan urusannya (di dunia dan di akhirat). Dan siapa yang ber-takwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan melipatgandakan pahalaNya”. (QS At-Thalaq 65: 2-5).

Namun di sisi lain kita juga merasa sedih, bahkan menangis karena cemas dan kawatir kalau ternyata Ramadhan telah berlalu tanpa nilai tambah dan mutu, karena dalam mengemban perintah Allah untuk melaksanakan ibadah puasa sasarannya agar kita menjadi orang yang bertakwa. Bahkan lebih ekstrim lagi kekhawatiran kita, apakah kita masih dapat bertemu bulan Ramadhan pada tahun depan. Demikianlah gambaran rasa senang dan sedih setiap kita meninggalkan bulan suci Ramadhan, meskipun setiap orang mempunyai kadar berbeda dalam menyikapinya.

Selesai Ramadhan, maka kita ber’Idul Fitri’ atau ‘kembali kepada fitrah’. Selama bulan puasa yang merupakan bulan ‘ujian kenaikan tingkat’ bagi setiap orang yang mengaku beriman,  sekaligus sebagai bulan koreksi atas penyimpangan dari fitrah manusia, untuk selanjutnya kembali kepada fitrahnya dengan mengharapkan ridha Allah  agar termasuk kedalam golongan orang-orang muttaqin.

‘Fitrah’ Manusia Yang Paling Asasi Adalah ‘Tauhid’

Tauhid, yaitu pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan sebagaimana tertulis dalam ayat Al-Qur’an: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu melahirkan keturunanmu dan para anak Adam dari tulang rusuknya dan menyuruh mereka bersaksi terhadap dirinya sendiri, atas pertanyaan: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan  yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti kamu tidak berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak mengetahui hal itu (keesaan Tuhan)“ (QS Al-‘Araaf 7: 172). Makna dari ayat-ayat di atas adalah pengakuan kita bahwa tiada Tuhan selain Allah. Untuk itu kita siap untuk taat, patuh, tunduk dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. Kita siap untuk melaksanakan seluruh perintahNya, menjauhi seluruh larangan-Nya, berhukum pada hukum-Nya, dan kita hanya mengharap ridha dari Allah.

Tauhid mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah Swt. Dia-lah Pemilik mutlak dan tunggal yang dalam genggaman-Nya segala kerajaan langit dan bumi. Keyakinan demikian mengantarkan seorang muslim untuk menyatakan sebagaimana dalam doa ruku’: “Ya Tuhanku, Kepada-Mulah aku ruku’, dengan-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku menyerah. Engkau adalah Tuhanku. Kepada-Mu pendengaran dan penglihatanku tunduk, dan begitu juga otak dan tulang-tulangku.” (HR Muslim dan Abu ‘Awanah).

Keyakinan terhadap adanya Tuhan sesungguhnya sudah ada dalam diri manusia, baik sadar atau tidak, seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an: “Sesunguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka betapakah mereka dipalingkan dari jalan yang benar.(QS Al-Ankabuut 29: 61) 

Seluruh manusia mengakui Allah sebagai pencipta, namun sudahkah kita meng’Esa’kan Allah dalam seluruh hidup dan kehidupan kita? Maka di sinilah persoalannya, apabila seseorang yang hanya mengakui Allah, tetapi dia tidak meng’esa’kan Allah, maka sebenarnya dia telah menyimpang dari ‘fitrah’nya.

Mengapa Kembali Ke Fitrah?

Dalam perjalanan hidup manusia di dunia yang penuh dengan godaan terutama oleh pengaruh hawa nafsu dan kekuasaan, sangat mungkin terjadi penyimpangan dari fitrah. Bentuk penyimpangan dari fitrah yang paling mendasar adalah ‘syirik’, yaitu menganggap ada Tuhan selain Allah. Kadang-kadang kita merasa sudah tauhid, tapi pada hakikatnya menjurus kepada syirik. Ketika mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ kita sering mengartikan hanya sebatas tiada Tuhan selain Allah, namun barangkali kita belum mengartikan secara utuh bahwa hanya Allah yang ‘maha segala-galanya’. Kita harus meyakini  mengucapkan dan melaksanakan ‘laa ilaaha illallahu’ dalam arti tidak ada pencipta, raja, pemimpin tujuan, tempat kembali, rizki, penguasa, hukum, kedudukan, kepandaian, dan seterusnya kecuali semua milik Allah. Dia memiliki ling-kup yang luas, seluas kemahaan zat, nama dan sifat-Nya. Memaknakan ‘laa ilaaha illallahu’ hanya sebatas pengertian tidak ada Tuhan selain Allah, berarti kemurnian tauhid  seperti yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul belum tertanam dalam dirinya, maka berarti fitrahnya masih tertutup syirik.

Apabila orang yang mengaku sudah ber’Idul fitri’, sementara imannya masih terselubungi syirik, tauhidnya bercampur kufur, aqidah-nya berbagi dengan selain Allah, maka sebenarnya dia belum ber’idul fitri’, walaupun menyambut ‘Idul Fitri’ lengkap dengan ketupat dan baju barunya. Karena itu marilah kita seru mereka, sekaligus mengevaluasi diri kita agar kembali kepada fitrah yang sebenarnya, dalam arti mengembalikan pengertian dan pemahaman yang  benar akan tauhid, dan menghilangkan unsur-unsur syirik dalam setiap tindak tanduk kegiatan amal sehari-hari.

Bentuk penyimpangan dari fitrah atau syirik sangat mudah dan kadang-kadang tidak terasa seseorang terbawa kesana karena sudah lumrah terjadi di masyarakat, antara lain:

Pertama. Mencari pertolongan kepada kekuatan selain Allah. Karena lemahnya iman dan kurangnya pemaham-an agama serta kurangnya keyakinan bahwa Allah ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, merupakan faktor utama seseorang mencari alter-natif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup, dan menggan-tungkan harapan kepada kekuatan lain seperti dukun, paranormal dan sebagainya. Solusi yang Islami untuk ini adalah meminta pertologan kepada Allah dengan sabar dan shalat, seperti firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah 2: 153).

Kedua. Mempercayai kekuatan gaib atas suatu benda yang dikeramatkan, seperti pusaka, benda peninggalan, atau azimat, yang diyakini bisa membawa berkah dan keselamatan, bahkan mem-punyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia. Kadang-kadang kepercayaan tersebut dibungkus dengan ayat-ayat Al-Qur’an, namun disertai amalan-amalan yang tidak diajarkan dalam Al-Qur’an.

Ketiga. Meyakini bahwa keberhasilan dan kemajuan diperoleh karena hasil jerih payah serta upaya pikiran manusia. Di sini orang tidak mensyukuri dan lupa bahwa semua itu atas kehendak dan karunia Allah.

Keempat. Mencampur-adukkan ajaran berbagai agama dan kepercayaan dengan maksud untuk mencari penyelesaian masalah dunia. Untuk ini marilah kita simak firman Allah: “Orang-orang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS Al-Anam 6: 82).

Seruan Kembali Kepada Fitrah

Penyimpangan dari fitrah selalu ada dan sudah berlangsung sejak awal-awal kehidupan manusia, baik di zaman nabi-nabi sampai sekarang ini. Ketika penyimpangan manusia dari fitrahnya mencapai puncaknya, Allah selalu mengutus seorang Rasul untuk mengembalikan manusia pada kesucian fitrahnya. Tugas para Nabi dan Rasul dalam sejarah kenabian sampai dengan Rasulullah Muhammad Saw, adalah menyeru manusia untuk kembali kepada fitrahnya mengakui tiada Tuhan selain Allah.

Seseorang yang imannya teguh, tauhidnya kukuh, aqidahnya mantap, adalah orang yang memiliki dan berpegang dengan fitrah asasi. Hal itu dapat di peroleh  antara lain melalui upaya yang terus menerus untuk mendalami tauhid, menjauhi syirik, melatih diri memperbanyak amal shaleh serta mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan. Pada bulan ini Allah memberikan ampunan, pahala yang melimpah, bahkan Allah menurunkan suatu malam ‘Laitul Qadar’ yang lebih baik dari seribu bulan. Demikianlah Allah menjadikan Ramadhan sebagai wahana bagi setiap mukmin untuk mengevaluasi, mengoreksi, dan men-dekatkan diri pada Allah, mempertebal iman, serta kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk memperbanyak ‘timbangan’ melipatgandakan pahala. Maka apabila seseorang telah khusyu’ dan ikhlas melaksanakan itu semua, dia  layak disebut orang yang ber ‘Idul Fitri’.

Bila iman yang fitri harus bersih dari syirik, maka selanjutnya diikuti dengan amal perbuatan yang fitri juga harus bersih dari bid’ah dan khurafat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih menyaksikan banyak-nya ummat Islam, mungkin termasuk kita juga, yang dalam amal ibadahnya masih belum bersih dari bid’ah dan khurafat. Padahal Nabi dalam salah satu haditsnya menyerukan: “Barang siapa berbuat sesuatu yang tidak ada contohnya dariku, maka perbuatan itu tertolak

Betapa ruginya bila kita sudah menghabiskan waktu, tenaga dan biaya untuk suatu yang kita anggap sebagai ibadah, tapi ditolak karena tidak ada contoh dari Nabi. Karena itu lebih baik kita tinggalkan hal-hal yang tak berguna agar tidak rugi dan selamat dari api neraka. Iman yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah akan melahirkan al-akhlaqul-karimah, di mana salah satu ciri al-akhlaqul-karimah adalah keikhlasan dalam seluruh amal ibadahnya, karena beribadah hanya untuk mengharap ridha Allah Swt.
Mohammad Kamal
No. 194

1 komentar:

  1. Seoga sesudah kita menjalani inbadah puasa bisa kembali ke fitrah. Amiin.

    BalasHapus