Apabila harapan
ini menjadi kenyataan, insya Allah kita akan menuai keberuntungan yang Allah
janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti Allah akan berikan
jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di akhirat). Dan pasti Dia akan
memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan siapa yang bertaqwa
kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan urusannya (di dunia dan
di akhirat). Dan siapa yang ber-takwa kepada Allah, niscaya Allah akan
menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan melipatgandakan
pahalaNya”. (QS At-Thalaq 65: 2-5).
Namun di sisi lain kita
juga merasa sedih, bahkan menangis karena cemas dan kawatir kalau ternyata
Ramadhan telah berlalu tanpa nilai tambah dan mutu, karena dalam mengemban
perintah Allah untuk melaksanakan ibadah puasa sasarannya agar kita menjadi
orang yang bertakwa. Bahkan lebih ekstrim lagi kekhawatiran kita, apakah kita
masih dapat bertemu bulan Ramadhan pada tahun depan. Demikianlah gambaran rasa
senang dan sedih setiap kita meninggalkan bulan suci Ramadhan, meskipun setiap
orang mempunyai kadar berbeda dalam menyikapinya.
Selesai Ramadhan, maka
kita ber’Idul Fitri’ atau ‘kembali
kepada fitrah’. Selama bulan puasa yang merupakan bulan ‘ujian kenaikan
tingkat’ bagi setiap orang yang mengaku beriman, sekaligus sebagai bulan koreksi atas
penyimpangan dari fitrah manusia, untuk selanjutnya kembali kepada fitrahnya
dengan mengharapkan ridha Allah agar
termasuk kedalam golongan orang-orang muttaqin.
‘Fitrah’ Manusia Yang Paling Asasi Adalah ‘Tauhid’
Tauhid, yaitu pengakuan terhadap Allah
sebagai Tuhan sebagaimana tertulis dalam ayat Al-Qur’an: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu melahirkan keturunanmu dan para anak
Adam dari tulang rusuknya dan menyuruh mereka bersaksi terhadap dirinya
sendiri, atas pertanyaan: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti
kamu tidak berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak mengetahui hal itu (keesaan
Tuhan)“ (QS Al-‘Araaf 7: 172). Makna dari ayat-ayat di atas adalah
pengakuan kita bahwa tiada Tuhan selain Allah. Untuk itu kita siap untuk taat,
patuh, tunduk dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. Kita siap untuk
melaksanakan seluruh perintahNya, menjauhi seluruh larangan-Nya, berhukum pada
hukum-Nya, dan kita hanya mengharap ridha dari Allah.
Tauhid
mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah mengandung konsekuensi
keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah
Swt. Dia-lah Pemilik mutlak dan tunggal yang dalam genggaman-Nya segala
kerajaan langit dan bumi. Keyakinan demikian mengantarkan seorang muslim untuk
menyatakan sebagaimana dalam doa ruku’:
“Ya Tuhanku, Kepada-Mulah aku ruku’, dengan-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku
menyerah. Engkau adalah Tuhanku. Kepada-Mu pendengaran dan penglihatanku
tunduk, dan begitu juga otak dan tulang-tulangku.” (HR Muslim dan Abu ‘Awanah).
Keyakinan terhadap
adanya Tuhan sesungguhnya sudah ada dalam diri manusia, baik sadar atau tidak,
seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an: “Sesunguhnya
jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan
menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka
betapakah mereka dipalingkan dari jalan yang benar.” (QS Al-Ankabuut 29:
61)
Seluruh manusia
mengakui Allah sebagai pencipta, namun sudahkah kita meng’Esa’kan Allah dalam
seluruh hidup dan kehidupan kita? Maka di sinilah persoalannya, apabila
seseorang yang hanya mengakui Allah, tetapi dia tidak meng’esa’kan Allah, maka
sebenarnya dia telah menyimpang dari ‘fitrah’nya.
Mengapa Kembali Ke
Fitrah?
Dalam perjalanan hidup
manusia di dunia yang penuh dengan godaan terutama oleh pengaruh hawa nafsu dan
kekuasaan, sangat mungkin terjadi penyimpangan dari fitrah. Bentuk penyimpangan
dari fitrah yang paling mendasar adalah ‘syirik’,
yaitu menganggap ada Tuhan selain Allah. Kadang-kadang kita merasa sudah
tauhid, tapi pada hakikatnya menjurus kepada syirik. Ketika mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ kita sering
mengartikan hanya sebatas tiada Tuhan selain Allah, namun barangkali kita belum
mengartikan secara utuh bahwa hanya Allah yang ‘maha segala-galanya’. Kita
harus meyakini mengucapkan dan
melaksanakan ‘laa ilaaha illallahu’
dalam arti tidak ada pencipta, raja, pemimpin tujuan, tempat kembali, rizki,
penguasa, hukum, kedudukan, kepandaian, dan seterusnya kecuali semua milik
Allah. Dia memiliki ling-kup yang luas, seluas kemahaan zat, nama dan
sifat-Nya. Memaknakan ‘laa ilaaha
illallahu’ hanya sebatas pengertian tidak ada Tuhan selain Allah, berarti
kemurnian tauhid seperti yang
dikehendaki oleh Allah dan Rasul belum tertanam dalam dirinya, maka berarti
fitrahnya masih tertutup syirik.
Apabila orang yang
mengaku sudah ber’Idul fitri’, sementara imannya masih terselubungi syirik,
tauhidnya bercampur kufur, aqidah-nya berbagi dengan selain Allah, maka sebenarnya
dia belum ber’idul fitri’, walaupun menyambut ‘Idul Fitri’ lengkap dengan
ketupat dan baju barunya. Karena itu marilah kita seru mereka, sekaligus
mengevaluasi diri kita agar kembali kepada fitrah yang sebenarnya, dalam arti
mengembalikan pengertian dan pemahaman yang
benar akan tauhid, dan menghilangkan unsur-unsur syirik dalam setiap
tindak tanduk kegiatan amal sehari-hari.
Bentuk penyimpangan
dari fitrah atau syirik sangat mudah dan kadang-kadang tidak terasa seseorang
terbawa kesana karena sudah lumrah terjadi di masyarakat, antara lain:
Pertama. Mencari pertolongan kepada kekuatan selain Allah. Karena lemahnya iman dan kurangnya pemaham-an agama serta kurangnya keyakinan bahwa Allah ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, merupakan faktor utama seseorang mencari alter-natif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup, dan menggan-tungkan harapan kepada kekuatan lain seperti dukun, paranormal dan sebagainya. Solusi yang Islami untuk ini adalah meminta pertologan kepada Allah dengan sabar dan shalat, seperti firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah 2: 153).
Kedua. Mempercayai kekuatan
gaib atas suatu benda yang dikeramatkan, seperti pusaka, benda peninggalan,
atau azimat, yang diyakini bisa membawa berkah dan keselamatan, bahkan
mem-punyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha
manusia. Kadang-kadang kepercayaan tersebut dibungkus dengan ayat-ayat
Al-Qur’an, namun disertai amalan-amalan yang tidak diajarkan dalam Al-Qur’an.
Ketiga. Meyakini bahwa
keberhasilan dan kemajuan diperoleh karena hasil jerih payah serta upaya
pikiran manusia. Di sini orang tidak mensyukuri dan lupa bahwa semua itu atas kehendak
dan karunia Allah.
Keempat. Mencampur-adukkan
ajaran berbagai agama dan kepercayaan dengan maksud untuk mencari penyelesaian
masalah dunia. Untuk ini marilah kita simak firman Allah: “Orang-orang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman
(syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu
adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS Al-Anam 6: 82).
Seruan Kembali
Kepada Fitrah
Penyimpangan dari
fitrah selalu ada dan sudah berlangsung sejak awal-awal kehidupan manusia, baik
di zaman nabi-nabi sampai sekarang ini. Ketika penyimpangan manusia dari
fitrahnya mencapai puncaknya, Allah selalu mengutus seorang Rasul untuk
mengembalikan manusia pada kesucian fitrahnya. Tugas para Nabi dan Rasul dalam
sejarah kenabian sampai dengan Rasulullah Muhammad Saw, adalah menyeru manusia
untuk kembali kepada fitrahnya mengakui tiada Tuhan selain Allah.
Seseorang yang imannya
teguh, tauhidnya kukuh, aqidahnya mantap, adalah orang yang memiliki dan
berpegang dengan fitrah asasi. Hal itu dapat di peroleh antara lain melalui upaya yang terus menerus
untuk mendalami tauhid, menjauhi syirik, melatih diri memperbanyak amal shaleh
serta mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan. Pada bulan ini Allah
memberikan ampunan, pahala yang melimpah, bahkan Allah menurunkan suatu malam
‘Laitul Qadar’ yang lebih baik dari seribu bulan. Demikianlah Allah menjadikan
Ramadhan sebagai wahana bagi setiap mukmin untuk mengevaluasi, mengoreksi, dan
men-dekatkan diri pada Allah, mempertebal iman, serta kesempatan yang diberikan
oleh Allah untuk memperbanyak ‘timbangan’ melipatgandakan pahala. Maka apabila
seseorang telah khusyu’ dan ikhlas melaksanakan itu semua, dia layak disebut orang yang ber ‘Idul Fitri’.
Bila iman yang fitri
harus bersih dari syirik, maka selanjutnya diikuti dengan amal perbuatan yang
fitri juga harus bersih dari bid’ah
dan khurafat. Dalam kehidupan
sehari-hari, kita masih menyaksikan banyak-nya ummat Islam, mungkin termasuk
kita juga, yang dalam amal ibadahnya masih belum bersih dari bid’ah dan khurafat. Padahal Nabi dalam salah satu haditsnya menyerukan: “Barang siapa berbuat sesuatu yang tidak ada
contohnya dariku, maka perbuatan itu tertolak”
Betapa ruginya bila
kita sudah menghabiskan waktu, tenaga dan biaya untuk suatu yang kita anggap
sebagai ibadah, tapi ditolak karena tidak ada contoh dari Nabi. Karena itu
lebih baik kita tinggalkan hal-hal yang tak berguna agar tidak rugi dan selamat
dari api neraka. Iman yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah akan melahirkan al-akhlaqul-karimah, di mana salah satu
ciri al-akhlaqul-karimah adalah keikhlasan dalam seluruh amal ibadahnya,
karena beribadah hanya untuk mengharap ridha Allah Swt.
Mohammad Kamal
No. 194
Seoga sesudah kita menjalani inbadah puasa bisa kembali ke fitrah. Amiin.
BalasHapus