Hari terus berganti tak terasa bulan Ramadhan hampir berakhir. Ketika tulisan ini ditampilkan, kita sedang menantikan malam Lailatul Qadar yang tidak kita ketahui kapan tibanya. Maka seyognyanya kita memperbanyak dan meningkatkan mutu ibadah kita pada seluruh hari dan malam di bulan yang istimewa ini, dan selanjutnya menunggu hari Idul Fitri yang akan segera tiba.
Sudahkan
kita kembalikan puasa Ramadhan ini ke jalan yang lurus (ash-shiraathal-mustaqiim),
yakni jalan tol yang tidak boleh kita lewati untuk kembali, melainkan jalan
yang harus terus kita lewati sesuai rambu-rambu jalan sampai akhir Ramadhan nanti?
Sudahkan kita mendapatkan hikmah Lailatul Qadar yang paling tinggi nilainya? Tidak
seseorang yang tahu kecuali kita sendiri, yaitu seberapa jauh kita peroleh
perbaikan aqidah dan akhlak pada diri kita dibanding dengan
sebelumnya.
Setelah merenung dan melakukan evaluasi puasa Ramadhan kali ini, mungkin ada di antara kita yang bersedih karena Ramadhan terasa cepat berlalu, rasanya belum optimal memanfaatkannya secara hakiki. Begitu banyak waktu yang tersita untuk hal-hal yang tidak penting menghabiskan malam, dan menunggu saat berbuka dengan sesuatu yang kurang bermanfaat.
Berbagai
kejahatan dan kemaksiatan masih saja terulang kembali; perampokan, pencurian, pembunuhan,
perdagangan narkoba, pelacuran, bentrok antar warga dan antar pelajar, bentrok
antara warga dengan ormas, kekerasan dan penghakiman oleh ormas tertentu dengan
dalih mencegah kemaksiatan, dan sebagainya. Korupsi tetap saja berlangsung
seperti biasa, termasuk yang melibatkan kalangan penegak hukum.
Selama
kita sebagai
orang-orang yang mengaku beriman tidak memperbaiki takwa dan implementasinya dalam hidup, maka tidak akan ada perbaikan perilaku
dari puasa Ramadhan kita, sehingga kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat yang
bahagia di dunia dan akhirat kelak tidak akan terwujud.
Hakikat Takwa
Seperti kita ketahui, takwa adalah tujuan
utama dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan. Allah Swt berfirman: “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah 2:
183). Takwa
tidak bisa dipisahkan dengan Iman,
karena perintah takwa ditujukan kepada orandi orang-orang beriman (Mukmin)
agar bertakwa dengan benar sebagaimana
firman Allah Swt: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imraan 3: 102).
Ketakwaan
kepada Allah Swt merupakan kunci kemuliaan bagi Mukmin. Karena itu
setiap Mukmin harus berusaha untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa.
Hal ini tidak hanya ditekankan kepada ummat Nabi Muhammad Saw, tetapi juga
kepada ummat-ummat sebelumnya. Takwa adalah perintah Allah kepada orang-orang Mukmin
agar menjadi takwa (Muttaqin) Dalam ayat tersebut, kata takwa yang disebutkan dua
kali itu,
mempunyai makna yang dalam
meliputi empat hal.
Pertama. Orang yang benar-benar takwa itu adalah orang yang selalu
ta’at kepada Allah Swt, dan
berusaha tidak berbuat zhalim,
jahat, maksiat dan sebagainya. Karena itu
orang yang takwa harus selalu
berusaha melaksanakan semua perintah
Allah dan menjauhi
larangan-Nya, karena terhadap
semua perbuatan yang akan
dilakukannya, pasti akan terbersit dalam
hati pantauan Allah (muraqabatullah).
Kedua. Orang yang benar-benar takwa selalu
berdzikir kepada Allah. Dengan
selalu berdzikir mengingat
Allah, maka ketika
hendak berbuat zhalim,
jahat, maksiat, dan sebagainya, akan
segera bertaubat serta memohon ampun kepada-Nya.
Ketiga. Orang yang benar-benar takwa
selalu bersyukur atas segala anugerah Allah, tidak pernah mengingkari
anugerah-Nya. Rasa syukur itu
harus dinyatakan dalam bentuk amal
ibadah. Ketika diberikan kesehatan, kita
mensyukurinya dengan melakukan
shalat, puasa dan ibadah lainnya. Ketika mendapatkan anugerah harta, kita beribadah dengan
membelanjakan di jalan Allah. Ketika diberikan anugerah anak, kita harus menjaga anak, agar selalu
dekat dengan Allah, dan banyak lagi anugerah Allah yang harus kita syukuri dalam
bentuk amal ibadah
kepada-Nya.
Keempat. Orang yang benar-benar takwa, selalu
ingat kematian yang bisa terjadi setiap saat, karena kematian merupakan jalan kembali kepada Allah
yang menciptakan kita. Dahulu kita berada di sisi Allah. kemudian kita
diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini untuk menjalani kehidupan
sementara, kemudian kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain kita
dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya dalam keadaan
Islam.
Inilah sebenar-benarnya takwa yang menjadi dasar keberhasilan kita dari
ibadah puasa Ramadhan kita ini. Jangan sampai kita berfikir berat melakukannya dalam
hidup kita sehari-hari. Allah
Swt menjanjikan kepada orang-orang yang takwa akan memberi jalan keluar ketika mereka menghadapi
masalah, memberikan rizki
kepadanya dengan tanpa disangka-sangka: ”Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rizki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.“ (QS
Ath-Thalaaq 65:
2-3).
Dengan dua kata kunci iman dan takwa, Allah Swt
pasti akan menepati janjinya yaitu membukakan berkah dari langit dan bumi sebagaimana
firman-Nya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri ini
berman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi.” (QS Al-A’raaf 7: 96).
Berkah berarti terbukanya tambahan
kebaikan dari langit dan bumi, baik berupa hujan yang menjadi sumber kehidupan
tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya, dengan tumbuh-tumbuhan dan makhluk lain
yang ada di bumi. Bumi akan menjadi kaya dengan alamnya yang sangat bermanfa’at
bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan keburukan berupa bencana; seperti angin puyuh,
semburan lumpur, gempa bumi, gunung
meletus, tanah longsor,
tanggul jebol, banjir, kebakaran, dan lainnya.
Karena
itu sesudah menyelesaikan puasa Ramadhan ini marilah kita masing-masing mempertahankan dan meningkatkan iman
dan takwa kita. Janganlah kita menyalahkan orang lain terhadap
permasalahan kita di dunia ini, tetapi
mulailah dari diri kita sendiri untuk senantiasa
muhasabah agar menjadi orang yang beriman dan bertakwa, karena
setiap diri kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt.
Apabila
ketakwaan kepada Allah Swt sudah kita tunjukkan, maka jalan keluar mengatasi
berbagai persoalan hidup; memperoleh rizki, kebahagiaan dan kesejahteraan akan
bisa kita raih. Dan yang lebih membahagiakan adalah memperoleh ampunan dan
ditutupi-Nya dosa-dosa kita. Allah Swt berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia
akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Dan barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya
dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Ath-Thalaaq 65: 2-5).
Apabila
takwa sudah bisa kita wujudkan dalam hidup, maka kita pun akan menjadi manusia
yang paling mulia di hadapan Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia
di sisi Allah di antara kamu adalah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujuraat 49: 13).
Demikianlah
dengan menunaikan ibadan puasa Ramadhan, kita masing-masing harus terus
berjuang mengembangkan kehidupan yang baik - meskipun kendala yang kita hadapi
sangat besar - untuk selanjutnya kita rayakan hari Idul Fitri sebagai rasa
syukur kita kepada Allah Swt yang telah memberikan kesempatan untuk berbenah
diri.
Idul
Fitri Hari Kemenangan
Idul
Fitri sering disebut sebagai Hari Kemenangan, yang bisa ditelusuri dari makna kembali
ke fitrah, yakni asal kejadian atau kesucian atau kebenaran. Disebut hari
kemenangan karena pada hari itu seluruh kaum Muslimin baru saja menuntaskan
kewajiban agamanya yang paling berat yaitu mengendalikan diri melalui ibadah
puasa Ramadhan. Mereka yang mampu menuntaskan ibadah Ramadhan itu selama
sebulan penuh, akhirnya akan keluar sebagai pemenang dalam ujian itu, karena di
bulan puasa Ramadhan segenap ummat Islam diuji kesabarannya dalam mengendalikan
dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di
siang hari. Maka usai kita melakukan ibadah puasa Ramadhan, kita mengakhirinya
dengan perayaan Idul Fitri, yaitu merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.
Cobalah
kita rasakan apabila pada saat bulan Ramadhan kita tidak berpuasa, lalu tibalah
saatnya hari raya Idul Fitri, apa yang harus kita sambut? Tentu tidak ada. Sesungguhnya,
kenikmatan di hari Idul Fitri lebih bermakna spiritual, yaitu berupa konsep
tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah ia
mampu menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan
kenikmatan spiritual itu bisa diperolehnya di dunia, karena kenikmatan hidup
itu terasa kian besar apabila kita mampu keluar dari kesulitan hidup dengan
selamat. Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar ibarat keluar
dari ‘lubang jarum’ suatu ruangan pengap kemudian keluar menuju ‘lapangan terbuka’,
sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk. Tiada lagi kepengapan
dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
Metafora
‘lapangan terbuka’ itu akan mampu memberikan kepada kita suatu kenikmatan hidup
yang membahagiakan. Kenikmatan semacam itulah yang disebut-sebut sebagai
kemampuan manusia untuk memperoleh kemenangan sejati dalam merayakan Idul Fitri.
Seolah-olah pada hari itu semua persoalan yang mengganjal kehidupan, menjadi terselesaikan.
Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk
kembali ke pangkuan Allah dalam keadaan putih bersih setelah melakukan taubatan
nashuha - taubat semurni-murninya. Idul Fitri merupakan hari kembali kepada
kesucian kita untuk berikhtiar secara sadar dalam melakukan penyegaran jiwa ketika
hendak melakukan transformasi sosial dalam kehidupan kita
Ibarat
berlomba dalam olahraga lompat jauh, setiap gerak ke depan membutuhkan persiapan
untuk mendapatkan daya tumpu yang kuat, agar gerak ke depan menghadapi
tantangan hidup bisa memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. IIustrasi
di bawah ini adalah lintasan lari, tempat kita melakukan persiapan dan menata
nafas dengan beribadah puasa Ramadhan, untuk memperkuat daya tumpu di
papan tumpu pada hari Idul Fitri, sehingga kita mampu lari melesat ke depan
dengan lebih kuat untuk maju menghadapi tantangan hidup.
Tantangan
hidup itu adalah 1) membentuk kepribadian agar kita menjadi Muslim yang berakhlak
mulia, 2) membangun masyarakat madani, 3) mencari solusi permasalahan yang dihadapi
ummat Islam, dan 4) mengangkat kembali martabat ummat Islam yang terpuruk karena
kelalaian ummat Islam sendiri.
Islam adalah
agama yang
mengajarkan keseimbangan antara
keshalehan religositas dan keshalehan sosial. Seseorang yang 1) benar-benar iman dan takwa, ia akan
menjunjung tinggi 2) moral dan
etika, 3) berlaku
jujur dalam meraih sukses hidup
di dunia untuk akhirat kelak, 4)
bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya, baik kepada kepada
Allah Swt maupun
kepada sesama, 5)
mematuhi kesepakatan bersama
termasuk menaati hukum dan undang-undang 6) memiliki
kepedulian sosial kepada
sesamanya, 7) bekerja dengan
kesungguhan dan profesional dalam kegiatan
apapun, 8) meninggalkan
generasi penerus yang cerdas, 9)
hidup sederhana dan berhemat, dan 10)
menegakkan disiplin.
Inilah resep andalan Al-Mustaqiim,
yaitu Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SPMMI) untuk menghadapi tantangan
tersebut di atas.
Suatu
kebahagiaan bagi kita apabila dapat menunaikan ibadah puasa dengan baik dan
memberi harapan positif dalam kehidupan kita ke depan. Demikian perlu kita
sadari pentingnya gerakan memacu meningkatkan moral sosial kita yang suci,
murni dan sejati, baik di mata manusia maupun di hadapan Allah Swt. Semoga pada
Hari Raya Idul Fitri nanti, kita termasuk orang-orang yang kembali memperoleh
keridhaan Allah sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala
ujian-Nya untk menghadapi tantangan hidup berikutnya selama sebelas bulan ke
depan sampai Ramadhan berikutnya tiba jika kita masih bisa menemuinya. Wallahu’alam.
Hermanto Harsolumakso


Tulisan yang kreatif dan menarik. Semoga puasa kita bisa memperkuat daya tumpu lompatan ke depan di hari Idulfitri nanti. Amien.
BalasHapusMatur nuwun Pak Hermanto Harsolumakso, tulisan Bpk bagus suka bacanya.
BalasHapusSPMMI rambu-rambu jalan yang harus kita taati sepanjang jalan tol sampai akhir perjalanan hidup ....
BalasHapusSemoga kita termasuk hamba yang terpilih mendapatkan malam lailatul qodar yang siap mempertahankan amal ibadah ramadhan sampai ramadhan tahun depan. amin.
BalasHapusAlhamdulillah ada SPMMI, bagus, semoga banyak dibaca dan dijadikan panduan beramal soleh. Amin.
BalasHapus