يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 183).
Pada
tanggal 10 bulan Sya'ban, demikian catatan para ahli sejarah, diturunkan
5 (lima) ayat Allah
kepada Nabi Muhammad Saw. Rangkaian ayat tersebut kemudian dikenal sebagai
ayat-ayat shiyam, ayat-ayat yang membicarakan puasa, dan diletakkan oleh
Nabi terakhir tersebut dengan petunjuk Allah dalam QS Al-Baqarah 2,
pada urutan ke 183 s/d 187.
Ayat 183
yang kita kutip sebagai pembuka tulisan ini dengan jelas mengemukakan kewajiban
puasa bagi orang-orang yang beriman. Setiap orang yang telah menyatakan diri
percaya dengan sepenuh hati kepada Allah Swt beserta dengan rangkaian iman yang
mengikutinya, harus mengabdi kepada Allah dengan menunaikan ibadah mahdhah
(ritual) dan ibadah mu'amalah (aktivitas
sosial yang dilakukan ‘karena Allah’ dan sesuai
aturan agama Allah). Termasuk kegiatan ritual yang wajib dilakukan adalah
puasa. Ayat 184 menerangkan bahwa kewajiban puasa itu dilaksanakan pada
hari-hari tertentu, sedangkan ayat 185 menyatakan bahwa hari-hari yang dimaksud
adalah bulan Ramadhan.
Ramadhan,
bulan ke 9 menurut kalender Qamariyah - kalender
bulan - merupakan bulan yang diistimewakan Allah.
Nabi Muhammad Saw menggelarinya sebagai syahrun mubarakun -
bulan yang diberkati, dan sayyidur syuhur - pemimpin
segala bulan. Berdasar keterangan Rasul pula para ulama menyebutnya sebagai Syahrullah
- bulan Allah, yaitu bulan ketika Allah
menganugerahkan ganjaran besar kepada orang yang berbuat baik di dalamnya.
Disebut pula sebagai syahrur rahmah - bulan
rahmah yaitu saat ketika Allah mengucurkan kasih sayang yang sangat besar,
syahrus shiyam - bulan ketika kaum mukminin menunaikan puasa
wajib, syahrul ala-i, bulan penuh kenikmatan bagi orang yang banyak
beribadah, syahrul Qur’an -
bulan diturunkan Al-Quran, syahrul muwasah -
bulan memberi pertolongan kepada yang memerlukannya, syahrun najah -
bulan pelepasan dari siksa neraka, dan masih banyak lagi.
Mengenai syahrul
Qur’an, secara khusus QS Al-Baqarah 2: 185
menerangkan:
شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
bulan Ramadhan adalah
bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Yang
dimaksud adalah bulan ketika ayat-ayat Al-Qur’an
diturunkan untuk pertama kalinya kepada Muhammad Saw. Pada suatu malam di bulan
Ramadhan ketika beliau berusia 40 tahun, diwahyukan lima ayat, yaitu QS
Al-'Alaq 96: 1-5. Penganugerahan
rangkaian ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan beliau sebagai Nabi dan
Rasul Allah. Selanjutnya dinyatakan pada ayat QS Al-Baqarah 2: 185,
هُدًى لِلنَّاسِ
وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
bahwa Al-Quran merupakanpetunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu, serta pembeda atau pemisah (antara yang benar dengan
yang salah, yang baik dengan yang buruk, yang bermanfaat dengan yang mendatangkan
mudharat). Al-Qur’an memberi petunjuk pula kepada manusia, cara menemukan yang benar dan
yang salah, serta usaha untuk senantiasa berada di dalam kebenaran serta
menghindar dari kesalahan dan keburukan.
Tentang ibadah puasa, QS Al-Baqarah 2: 183 menerangkan bahwa yang diwajibkan berpuasa bukan
hanya umat Muhammad Saw. Berbagai generasi yang hidup sebelumnya, sejak dari
umat Nabi Adam As sampai dengan umat Nabi Isa As juga menerima perintah yang sama. Apakah masa dan cara puasanya sama,
tidak ada keterangan yang qath'i - yang pasti. Kita tidak memerlukan informasi tentang hal itu, tetapi
harus paham bahwa hakikat puasa bagi semua ummat itu sama: menahan diri dari memanjakan keinginan nafsu yang
berlebihan. Nafsu bukan hal yang buruk; justru sebaliknya: nafsu adalah potensi
yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Dengan adanya nafsu orang dapat
mengembangkan budaya - tatacara dan sarana hidupnya. Tetapi nafsu rentan untuk didorong dan
dikuasai syeitan; kondisi demikian itulah yang menyebabkan berbagai kesalahan dan
kerusakan. Yusuf As menyatakan pengakuannya:
وَمَا أُبَرِّئُ
نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Dan aku tidak dapat membebaskan diriku sepenuhnya
(dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS Yusuf 12: 53).
Nafsu yang bagaimana
yang dirahmati Allah? Nafsu yang dikendalikan oleh akal sedangkan akal itu
mengacu kepada petunjuk Allah. Karena itu Al-Qur’an menyatakan:
وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan."
Perkataan "makan dan minum" merupakan representasi
dari segala perbuatan manusia.
Kemampuan menahan diri dari memanjakan nafsu diperoleh dengan kesadaran
yang tinggi disertai latihan yang intensif. Maka puasa merupakan latihan yang
efektif untuk mengendalikan nafsu tersebut. Karena itu meskipun secara hukum
puasa adalah tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami isteri
pada siang hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, tetapi orang yang
puasa wajib menjaga sikap dan perbuatannya untuk menjauhi segala yang buruk.
Bagaimana mungkin orang meninggalkan sesuatu yang halal ketika tidak sedang
puasa, namun tetap melakukan sesuatu yang haram atau makruh (tercela) tatkala
tengah puasa? Rasulullah
Saw bersabda: "Tidak disebut puasa hanya
karena meninggalkan makan dan minum. Yang dikatakan puasa adalah meninggalkan
hal-hal yang tidak berguna dan kotor". (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Hibban). Pada waktu yang lain beliau menyatakan: "Barangsiapa tidak
meninggalkan perkataan dusta, dan bahkan tetap berdusta ketika meninggalkan
makan dan minum, Allah tidak peduli kepadanya. (HR Bukhari dan Abu Dawud).
Maka kalau seseorang berpuasa Ramadhan namun tetap berkata dusta, menggunjing,
memendam iri dan dengki, tidak memelihara silaturahim, dia tidak memperoleh
hikmah Ramadhan dan tidak mendapat pahala apa-apa. Rasulullah SAW bersabda: "Betapa
banyak orang yang puasa tetapi tidak memperolah apa-apa dari puasanya kecuali
lapar dan dahaga". (HR Al-Hakim).
Allah Swt menerangkan hasil akhir yang akan diperoleh orang-orang yang
benar puasanya, yaitu benar dalam niatnya dan benar dalam pelaksanaannya. Ujung
QS Al-Baqarah 2: 183 menyatakan: لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
- agar kamu bertakwa. Kita perhatikan penuturan ayat ini: Orang yang
beriman diperintahkan untuk berpuasa supaya bertakwa. Ini berarti bahwa takwa
merupakan kondisi puncak seseorang di hadapan Allah Swt. Kepada
orang-orang tersebut Allah mengemukakan janji-janji yang sungguh amat sangat
menggembirakan. Di antara janji-janji tersebut ialah: "Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa di
antara kamu" (QS Al-Hujuraat 49: 13).
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan ke luar (dari segala permalahannya)". [QS At-Thalaaq 65: 2).
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya". [QS At-Thalaaq 65:4).
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan" (QS
An-Nabaa’ 78: 31).
Dalam
hal ketakwaan itu telah menjadi sikap mayoritas orang yang hidup di suatu
negeri, Allah menyatakan: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pasti Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi…”.(QS 7 Al-A’raf: 96). "…. Surga yang luasnya seluas langit dan
bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa". (QS Ali 'Imraan 3:133).
Baik kita
perhatikan pula QS Al-Baqarah 2: 186 yang
cukup menarik. Ayat itu diawali dengan kalimat:
وَإِذَا سَأَلَكَ
عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Daku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat (dengan mereka).” Ayat
ini masuk ke dalam untaian ayat shiyam di dalam surah tersebut tetapi
tidak menyebut atau membicarakan puasa. Hal ini tentu bukan sebuah kesalahan
letak dan jelas bukan karena Allah lupa. Ulama tafsir memahami, kalimat
tersebut ditujukan terutama kepada orang-orang yang puasa. Mereka tengah
mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, maka Allah yang Mahapengasih
berkenan mendekat kepadanya. Hal ini sesuai dengan pernyataan-Nya dalam hadits
qudsi: "Bila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku
mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat
kepadanya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, pasti Aku
datang kepadanya dengan berlari". (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan
lainnya).
Setiap
kali ada seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mendekat
kepadanya dengan lebih cepat dan lebih baik. Bersamaan dengan pendekatan Allah
itu maka mendekat pula kasih-Nya, ampunan-Nya, petunjuk-Nya, pertolongan-Nya,
perlidungan-Nya. Siapa yang tidak tenteram hatinya dengan kenyataan demikian?
Apa lagi kemudian dijelaskan:
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Dengan pernyataan ini Allah Swt mempersilakan orang yang sedang berpuasa,
untuk memohon kepada-Nya, dan Dia berjanji akan mengabulkannya. Berkenaan
dengan ini Rasulullah Saw menyatakan bahwa di antara orang-orang yang berdo'a,
salah satu yang tidak akan ditolak Allah adalah yang sedang puasa. Tetapi orang yang berdo'a juga mesti
konsisten dalam iman dan ketaatannya. Maka Allah mengingatkan hal ini:
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ
“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Uraian tadi memberi pengertian kepada umat, bahwa puasa menghasilkan
banyak sekali kebaikan bagi pelakunya. Apakah ibadah itu berat dan sulit?
Asalkan orang berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh, pasti terasa ringan.
Ayat 185 surah QS Al-Baqarah 2: 185 menunjukkan adanya keringanan bagi mereka yang sakit atau sedang
melakukan perjalanan yang memberatkan. Mereka boleh berbuka tetapi mengganti
puasanya pada waktu yang lain.
Selanjutnya ayat tersebut menegaskan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Bukankah
keterangan dan penjelasan Al-Quran ini memadai bagi orang-orang yang beriman di
dalam menjalani dan menikmati puasanya?”
Pada saat tulisan ini ditampilkan,
kita ummat
Muslimin Indonesia sudah menunaikan setengah dari kewajiban puasa di bulan
Ramadhan tahun sekarang, tahun 1434 H. Maka tiba saatnya bagi kita untuk muhasabah
-
introspeksi, memeriksa pelaksanaan ibadah yang memberikan banyak hikmah ini.
Apakah kita sudah menunaikan kewajiban ini dengan niat yang benar-benar tulus lillahi
ta'ala, dengan semangat yang semakin kokoh, dengan cara yang semakin sesuai
dengan syari'at? Ataukah masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Masih
ada waktu untuk menyempurnakan puasa kita. Siapa tahu, puasa sekarang merupakan
puasa terakhir dalam kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada yang tahu selain
Allah Swt, apakah kita masih memiliki kesempatan untuk menikmati Ramadhan tahun
yang akan datang. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang di dalam bulan
Ramadhan ini diangkat-Nya ke jenjang tertinggi sebagai muttaqin - orang yang bertakwa.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Sakib Machmud
No. 192
Bagus Ustadz, terima kasih
BalasHapus