Kamis, 25 Juli 2013

MENYIMAK AYAT-AYAT SHIYAM

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 183).

Pada tanggal 10 bulan Sya'ban, demikian catatan para ahli sejarah, diturunkan 5 (lima) ayat Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Rangkaian ayat tersebut kemudian dikenal sebagai ayat-ayat shiyam, ayat-ayat yang membicarakan puasa, dan diletakkan oleh Nabi terakhir tersebut dengan petunjuk Allah dalam QS Al-Baqarah 2, pada urutan ke 183 s/d 187.

Ayat 183 yang kita kutip sebagai pembuka tulisan ini dengan jelas mengemukakan kewajiban puasa bagi orang-orang yang beriman. Setiap orang yang telah menyatakan diri percaya dengan sepenuh hati kepada Allah Swt beserta dengan rangkaian iman yang mengikutinya, harus mengabdi kepada Allah dengan menunaikan ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah mu'amalah (aktivitas sosial yang dilakukan karena Allah dan sesuai aturan agama Allah). Termasuk kegiatan ritual yang wajib dilakukan adalah puasa. Ayat 184 menerangkan bahwa kewajiban puasa itu dilaksanakan pada hari-hari tertentu, sedangkan ayat 185 menyatakan bahwa hari-hari yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.

Ramadhan, bulan ke 9 menurut kalender Qamariyah - kalender bulan - merupakan bulan yang diistimewakan Allah. Nabi Muhammad Saw menggelarinya sebagai syahrun mubarakun - bulan yang diberkati, dan sayyidur syuhur - pemimpin segala bulan. Berdasar keterangan Rasul pula para ulama menyebutnya sebagai Syahrullah - bulan Allah, yaitu bulan ketika Allah menganugerahkan ganjaran besar kepada orang yang berbuat baik di dalamnya. Disebut pula sebagai syahrur rahmah - bulan rahmah yaitu saat ketika Allah mengucurkan kasih sayang yang sangat besar, syahrus shiyam - bulan ketika kaum mukminin menunaikan puasa wajib, syahrul ala-i, bulan penuh kenikmatan bagi orang yang banyak beribadah, syahrul Quran - bulan diturunkan Al-Quran, syahrul muwasah - bulan memberi pertolongan kepada yang memerlukannya, syahrun najah - bulan pelepasan dari siksa neraka, dan masih banyak lagi.

Mengenai syahrul Quran, secara khusus QS Al-Baqarah 2: 185 menerangkan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ  
bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran. Yang dimaksud adalah bulan ketika ayat-ayat Al-Quran diturunkan untuk pertama kalinya kepada Muhammad Saw. Pada suatu malam di bulan Ramadhan ketika beliau berusia 40 tahun, diwahyukan lima ayat, yaitu QS Al-'Alaq 96: 1-5. Penganugerahan rangkaian ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah. Selanjutnya dinyatakan pada ayat QS Al-Baqarah 2: 185,
هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
bahwa Al-Quran merupakanpetunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda atau pemisah (antara yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk, yang bermanfaat dengan yang mendatangkan mudharat). Al-Quran memberi petunjuk pula kepada manusia, cara menemukan yang benar dan yang salah, serta usaha untuk senantiasa berada di dalam kebenaran serta menghindar dari kesalahan dan keburukan.

Tentang ibadah puasa, QS Al-Baqarah 2: 183 menerangkan bahwa yang diwajibkan berpuasa bukan hanya umat Muhammad Saw. Berbagai generasi yang hidup sebelumnya, sejak dari umat Nabi Adam As sampai dengan umat Nabi Isa As juga menerima perintah yang sama. Apakah masa dan cara puasanya sama, tidak ada keterangan yang qath'i - yang pasti. Kita tidak memerlukan informasi tentang hal itu, tetapi harus paham bahwa hakikat puasa bagi semua ummat itu sama: menahan diri dari memanjakan keinginan nafsu yang berlebihan. Nafsu bukan hal yang buruk; justru sebaliknya: nafsu adalah potensi yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Dengan adanya nafsu orang dapat mengembangkan budaya - tatacara dan sarana hidupnya. Tetapi nafsu rentan untuk didorong dan dikuasai syeitan; kondisi demikian itulah yang menyebabkan berbagai kesalahan dan kerusakan. Yusuf As menyatakan pengakuannya:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Dan aku tidak dapat membebaskan diriku sepenuhnya (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS Yusuf 12: 53).  
Nafsu yang bagaimana yang dirahmati Allah? Nafsu yang dikendalikan oleh akal sedangkan akal itu mengacu kepada petunjuk Allah. Karena itu Al-Quran menyatakan:
  وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
 Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Perkataan "makan dan minum" merupakan representasi dari segala perbuatan manusia.

Kemampuan menahan diri dari memanjakan nafsu diperoleh dengan kesadaran yang tinggi disertai latihan yang intensif. Maka puasa merupakan latihan yang efektif untuk mengendalikan nafsu tersebut. Karena itu meskipun secara hukum puasa adalah tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami isteri pada siang hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, tetapi orang yang puasa wajib menjaga sikap dan perbuatannya untuk menjauhi segala yang buruk. Bagaimana mungkin orang meninggalkan sesuatu yang halal ketika tidak sedang puasa, namun tetap melakukan sesuatu yang haram atau makruh (tercela) tatkala tengah puasa? Rasulullah Saw bersabda: "Tidak disebut puasa hanya karena meninggalkan makan dan minum. Yang dikatakan puasa adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna dan kotor". (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban). Pada waktu yang lain beliau menyatakan: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, dan bahkan tetap berdusta ketika meninggalkan makan dan minum, Allah tidak peduli kepadanya. (HR Bukhari dan Abu Dawud). Maka kalau seseorang berpuasa Ramadhan namun tetap berkata dusta, menggunjing, memendam iri dan dengki, tidak memelihara silaturahim, dia tidak memperoleh hikmah Ramadhan dan tidak mendapat pahala apa-apa. Rasulullah SAW bersabda: "Betapa banyak orang yang puasa tetapi tidak memperolah apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga". (HR Al-Hakim).

Allah Swt menerangkan hasil akhir yang akan diperoleh orang-orang yang benar puasanya, yaitu benar dalam niatnya dan benar dalam pelaksanaannya. Ujung QS Al-Baqarah 2: 183 menyatakan: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ - agar kamu bertakwa. Kita perhatikan penuturan ayat ini: Orang yang beriman diperintahkan untuk berpuasa supaya bertakwa. Ini berarti bahwa takwa merupakan kondisi puncak seseorang di hadapan Allah Swt. Kepada orang-orang tersebut Allah mengemukakan janji-janji yang sungguh amat sangat menggembirakan. Di antara janji-janji tersebut ialah: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu" (QS Al-Hujuraat 49: 13). "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar (dari segala permalahannya)". [QS At-Thalaaq 65: 2). "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". [QS At-Thalaaq 65:4). "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan" (QS An-Nabaa’ 78: 31). Dalam hal ketakwaan itu telah menjadi sikap mayoritas orang yang hidup di suatu negeri, Allah menyatakan: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”.(QS 7 Al-A’raf: 96). "…. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa". (QS Ali 'Imraan 3:133).

Baik kita perhatikan pula QS Al-Baqarah 2: 186 yang cukup menarik. Ayat itu diawali dengan kalimat:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Daku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (dengan mereka).” Ayat ini masuk ke dalam untaian ayat shiyam di dalam surah tersebut tetapi tidak menyebut atau membicarakan puasa. Hal ini tentu bukan sebuah kesalahan letak dan jelas bukan karena Allah lupa. Ulama tafsir memahami, kalimat tersebut ditujukan terutama kepada orang-orang yang puasa. Mereka tengah mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, maka Allah yang Mahapengasih berkenan mendekat kepadanya. Hal ini sesuai dengan pernyataan-Nya dalam hadits qudsi: "Bila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, pasti Aku datang kepadanya dengan berlari". (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan lainnya).

Setiap kali ada seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mendekat kepadanya dengan lebih cepat dan lebih baik. Bersamaan dengan pendekatan Allah itu maka mendekat pula kasih-Nya, ampunan-Nya, petunjuk-Nya, pertolongan-Nya, perlidungan-Nya. Siapa yang tidak tenteram hatinya dengan kenyataan demikian? Apa lagi kemudian dijelaskan:
 أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Dengan pernyataan ini Allah Swt mempersilakan orang yang sedang berpuasa, untuk memohon kepada-Nya, dan Dia berjanji akan mengabulkannya. Berkenaan dengan ini Rasulullah Saw menyatakan bahwa di antara orang-orang yang berdo'a, salah satu yang tidak akan ditolak Allah adalah yang sedang puasa.  Tetapi orang yang berdo'a juga mesti konsisten dalam iman dan ketaatannya. Maka Allah mengingatkan hal ini:
  فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
 “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
  
Uraian tadi memberi pengertian kepada umat, bahwa puasa menghasilkan banyak sekali kebaikan bagi pelakunya. Apakah ibadah itu berat dan sulit? Asalkan orang berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh, pasti terasa ringan. Ayat 185 surah QS Al-Baqarah 2: 185 menunjukkan adanya keringanan bagi mereka yang sakit atau sedang melakukan perjalanan yang memberatkan. Mereka boleh berbuka tetapi mengganti puasanya pada waktu yang lain.

Selanjutnya ayat tersebut menegaskan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Bukankah keterangan dan penjelasan Al-Quran ini memadai bagi orang-orang yang beriman di dalam menjalani dan menikmati puasanya?

Pada saat tulisan ini ditampilkan,  kita ummat Muslimin Indonesia sudah menunaikan setengah dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan tahun sekarang, tahun 1434 H. Maka tiba saatnya bagi kita untuk muhasabah - introspeksi, memeriksa pelaksanaan ibadah yang memberikan banyak hikmah ini. Apakah kita sudah menunaikan kewajiban ini dengan niat yang benar-benar tulus lillahi ta'ala, dengan semangat yang semakin kokoh, dengan cara yang semakin sesuai dengan syari'at? Ataukah masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Masih ada waktu untuk menyempurnakan puasa kita. Siapa tahu, puasa sekarang merupakan puasa terakhir dalam kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada yang tahu selain Allah Swt, apakah kita masih memiliki kesempatan untuk menikmati Ramadhan tahun yang akan datang. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang di dalam bulan Ramadhan ini diangkat-Nya ke jenjang tertinggi sebagai muttaqin - orang yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Sakib Machmud
No. 192  

1 komentar: