Bulan
Ramadhan mengingatkan penulis pada masa kecil di kampung halaman yaitu di
kampung Keprabon, Solo. Pada waktu itu setiap menjelang Isya’ selama bulan
Ramadhan suasana di mushalla ‘Sunniyah’ di Keprabon Wetan sangat ramai termasuk
anak-anak yang akan mengikuti shalat tarawih. Para jemaah shalat tarawih
terdiri dari para pria di ruang mushalla, sedang jamaah wanita di ruangan kelas
yang bersebelahan dengan mushalla yang selama bulan puasa disulap menjadi
tempat berjamaah shalat tarawih.
Selama
bulan puasa itu pula kegiatan mengagungkan ramadhan dilakukan, mulai dari mengaji
untuk anak-anak di mana pada tanggal - tanggal akhir bulan ramadhan sebagai
apresiasi kepada mereka yang mengaji sampai tamat Al-Qur’an, maka diadakan acara
‘Khataman’. Sementara itu acara peringatan Nuzulul Qur’an juga diselenggarakan
dengan mengadakan ceramah dan dilengkapi suguhan makanan yang dikumpulkan dari
warga secara sukarela.
Dari
musholla ini pula di luar bulan puasa pun terlihat suasana syiar Islam di
kampung dengan adanya kegiatan-kegiatan dakwah yang selalu dilakukan termasuk
peringatan hari besar Islam, mulai dari belajar mengaji Al-Qur’an bagi anak-anak
sampai pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha.
Sedangkan
kegiatan sehari-hari penulis bersama teman-teman sering mengikuti shalat
berjamaah magrib yang selalu dipimpin oleh Imam mushalla. Ada keasyikan
tersendiri sebelum shalat jamaah magrib, karena selalu berebut mendahului sebagai
pemukul kentongan setinggi 2 meter lebih yang termasuk kentongan antik dan
tidak terdapat di mushalla lain. Sesekali penulis ikut mengalunkan adzan
maghrib.
Kegiatan-kegiatan
yang penulis lakukan pada mulanya berjalan begitu saja secara beramai-ramai
dengan banyak teman bermain, seperti halnya adat yang sudah berjalan dan
dilakukan para orangtua kami. Yang penulis ingat hal tersebut juga atas
dorongan bahkan perintah dari ayah yang sangat saya cintai yaitu almarhum Abdul
Madjid Harsolumakso. Beliau pula yang selalu membangunkan saya setiap pagi agar
tidak terlambat melaksanakan shalat subuh. Kegiatan lain selanjutnya adalah
mengikuti pengajian rutin ‘Kuliah Subuh’ yang dilaksanakan setiap minggu pagi di
Balai Muhammadiyah di Keprabon Kulon, tidak jauh dari rumah orangtua.
Selama
bertahun-tahun suasana yang rutin ini berlangsung dan penulis mengikutinya
sebagai bagian dari irama perjalanan kehidupan dan silaturahim antar warga di
kampung Keprabon, sampai pada suatu saat penulis harus meninggalkan kota Solo
untuk meneruskan kuliah di Yogya. Sebelum meninggalkan kampung ini saya sempat
mengalami situasi dramatis yang menimpa sebagian besar kota Solo tidak
terkecuali terhadap kampung Keprabon, yaitu peristiwa banjir Solo tahun 1965,
di mana pada waktu itu hampir seluruh kampung Keprabon tergenangi air setinggi rata-rata 2 sampai 3 meter.
Penanganan bantuan dan kerjasama antar warga dalam menanggulangi banjir
terlihat sebagai buah rasa kekeluargaan yang telah dibina selama ini. Suasana
di atas sangat membekas dalam hati sebagai bagian dari kisah yang tidak dapat penulis
lupakan seumur hidup.
Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman dan ditinggalkan orang tua, penuis benar-benar merasakan betapa kasih sayang ayahanda yang selalu mengingatkan waktu shalat dan selalu mengingatkan agar banyak belajar agama di setiap kesempatan baik melalui ceramah, buku-buku maupun media lainnya.
Dari
kisah dan pengalaman masa kecil yang penulis alami, yang sangat mengesankan
adalah suasana setiap bulan Ramadhan. Pada masa itu sekolahan libur selama satu
bulan penuh, sehingga kegiatan mengisi dan mengagungkan bulan Ramadhan
benar-benar fokus dan mempunyai pengaruh emosional yang besar.
Sesuai
berjalannya waktu, kegiatan Ramadhan yang semula bagi penulis hanya merupakan
aktifitas rutin, menjadi semakin banyak dilengkapi pengetahuan dan pemahaman lebih mendalam
yang diperoleh dengan mempelajarinya baik tentang riwayat perintah puasa
Ramadhan, maksud dan tujuan puasa, takwa, maupun keistimewaan puasa di bulan Ramadhan,
disamping fungsi puasa itu sendiri sebagai bagian dari kewajiban bagi setiap
muslim.
Puasa Ramadhan
Kewajiban
melaksanakan puasa di bulan Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun
kedua Hijrah. Uraian Al-Qur’an tentang puasa Ramadhan ditemukan di dalam QS Al-Baqarah
2: 183, 184, 185, dan 187, Ini berarti puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah
Nabi Saw tiba di Madinah.
Allah Swt berfirman: ▪
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana
diwajibkan terhadap ummat-ummat sebelum kamu agar kamu bertawa. (QS Al-Baqarah
2: 183). ▪ “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkannya
Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, baramg siapa di antara kamu yang hadir (di
negeri tempat tinggalnya) pada bulan Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa, Dan
barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa
sebanyak hari yang ditnggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu
nmencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah 2: 185).
Tujuan Berpuasa
Secara
jelas Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan
adalah untuk mencapai ketakwaan (la’allakum
tattaquun). Dalam rangka memahami tujuan tersebut perlu digaris bawahi penjelasan
dari Nabi Saw, misalnya: “Banyak di
antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa
lapar dan dahaga.” Ini berarti bahwa menahan lapar dan dahaga bukan
tujuan utama dari puasa.
Puasa
merupakan suatu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang
dapat dikemukakan, misalnya bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan
pelakunya sendiri. Dari sini dapat disimpulkan bawa orang yang melakukan ibadah
puasa, melaksanakannya demi karena Allah.
Hadis
qudsi menyatakan antara lain, “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya
ganjaran.” Seperti halnya firman Allah
melalui ayat Al-Qur’an: ”Sesunggiuhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang disempurnakan pahalanya
tanpa batas.” (QS Az-Zumar 39:
10). Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.
Puasa dan Takwa
Takwa
mempunyai arti ‘menghindar’, ‘menjauhi’ atau ‘menjaga diri’, sehingga ittaqullah berarti menghindar, menjauhi,
atau menjaga diri dari siksa Allah Swt, atau yang lebih mendalam lagi berarti
menjaga diri dari siksa karena adanya Allah.
Menghindari
siksa atau hukuman Allah, dilakukan dengan jalan menghindarkan diri dari semua
yang dilarang, serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat
terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa yaitu
Allah Swt.
Dengan
demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt setiap
saat, sebagaimana kutipan dari hadis: “Bagaikan
melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya maka palng tidak,
menyadari bahwa Allah melihatnya.”
Karena
itu banyak cara dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan
berpuasa, sebagaimana perintah Allah dalam ayat 183 di atas.
Keistimewaan Puasa
Ramadhan
Dari
kesekian banyak hikmah puasa dalam bulan Ramadhan adalah berdoa dibulan
Ramadhan mendapat tempat yang tempat yang dekat dengan Allah, seperti
dijelaskan dalam QS Al-Baqarah 2: 186. Ayat tersebut tidak berbicara tentang
puasa, tetapi tentang doa. Penetapan urutan tentang doa, atau penyisipannya
dalam uraian Al-Qur’an tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Hal
ini mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat
dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan: “Sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan
beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al-Baqarah 2: 186).
Hikmah
lainnya yang penting dalam bulan Ramadhan adalah, di bulan ini terdapat malam
Qadar (Lailatul Qadar), yang menurut
Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun dengan seizin Allah dan
kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.
Firman
Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada
malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh
(Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam
itu sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadar
97: 1-5).
Yang
pasti dan harus diimani oleh setiap Muslim
berdasarkan pernyataan Al-Qur’an di atas bahwa, ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar, dan bahwa malam itu
adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala
urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. “Sesungguhnya
Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam, dan sesungguhny Kamilah yang
memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah,
yaitu urusan besar di sisi Kami (QS Ad-Dukhaan
44: 3-5).
Dengan
datangnya bulan Ramadhan 1434 H, kita bersyukur mendapat kesempatan
menyambutnya dan mengharapkan hikmah yang sebesar-besarnya selama bulan ini,
dan dengan sisa umur yang diberikan kepada kita agar dapat kesempatan
memperoleh pahala yang berlipat ganda melalui amal baik yang sesuai perintah
Allah, serta doa yang kita panjatkan kehadirat-Nya akan dikabulkan dan mendapat
ridha dari Allah Swt.
Dari
hal-hal yang disampaikan di atas membuat banyak alasan mengapa kita selalu
rindu datangnya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.
No. 191

Sangat mengesankan, semoga kita khusyu' dalam beribadah puasa. Amin.
BalasHapus