Senin, 15 Juli 2013

MENGAPA AKU RINDU RAMADHAN


Bulan Ramadhan mengingatkan penulis pada masa kecil di kampung halaman yaitu di kampung Keprabon, Solo. Pada waktu itu setiap menjelang Isya’ selama bulan Ramadhan suasana di mushalla ‘Sunniyah’ di Keprabon Wetan sangat ramai termasuk anak-anak yang akan mengikuti shalat tarawih. Para jemaah shalat tarawih terdiri dari para pria di ruang mushalla, sedang jamaah wanita di ruangan kelas yang bersebelahan dengan mushalla yang selama bulan puasa disulap menjadi tempat berjamaah shalat tarawih.

Selama bulan puasa itu pula kegiatan mengagungkan ramadhan dilakukan, mulai dari mengaji untuk anak-anak di mana pada tanggal - tanggal akhir bulan ramadhan sebagai apresiasi kepada mereka yang mengaji sampai tamat Al-Qur’an, maka diadakan acara ‘Khataman’. Sementara itu acara peringatan Nuzulul Qur’an juga diselenggarakan dengan mengadakan ceramah dan dilengkapi suguhan makanan yang dikumpulkan dari warga secara sukarela.

Dari musholla ini pula di luar bulan puasa pun terlihat suasana syiar Islam di kampung dengan adanya kegiatan-kegiatan dakwah yang selalu dilakukan termasuk peringatan hari besar Islam, mulai dari belajar mengaji Al-Qur’an bagi anak-anak sampai pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha.

Sedangkan kegiatan sehari-hari penulis bersama teman-teman sering mengikuti shalat berjamaah magrib yang selalu dipimpin oleh Imam mushalla. Ada keasyikan tersendiri sebelum shalat jamaah magrib, karena selalu berebut mendahului sebagai pemukul kentongan setinggi 2 meter lebih yang termasuk kentongan antik dan tidak terdapat di mushalla lain. Sesekali penulis ikut mengalunkan adzan maghrib.

Kegiatan-kegiatan yang penulis lakukan pada mulanya berjalan begitu saja secara beramai-ramai dengan banyak teman bermain, seperti halnya adat yang sudah berjalan dan dilakukan para orangtua kami. Yang penulis ingat hal tersebut juga atas dorongan bahkan perintah dari ayah yang sangat saya cintai yaitu almarhum Abdul Madjid Harsolumakso. Beliau pula yang selalu membangunkan saya setiap pagi agar tidak terlambat melaksanakan shalat subuh. Kegiatan lain selanjutnya adalah mengikuti pengajian rutin ‘Kuliah Subuh’ yang dilaksanakan setiap minggu pagi di Balai Muhammadiyah di Keprabon Kulon, tidak jauh dari rumah orangtua.

Selama bertahun-tahun suasana yang rutin ini berlangsung dan penulis mengikutinya sebagai bagian dari irama perjalanan kehidupan dan silaturahim antar warga di kampung Keprabon, sampai pada suatu saat penulis harus meninggalkan kota Solo untuk meneruskan kuliah di Yogya. Sebelum meninggalkan kampung ini saya sempat mengalami situasi dramatis yang menimpa sebagian besar kota Solo tidak terkecuali terhadap kampung Keprabon, yaitu peristiwa banjir Solo tahun 1965, di mana pada waktu itu hampir seluruh kampung Keprabon tergenangi air  setinggi rata-rata 2 sampai 3 meter. Penanganan bantuan dan kerjasama antar warga dalam menanggulangi banjir terlihat sebagai buah rasa kekeluargaan yang telah dibina selama ini. Suasana di atas sangat membekas dalam hati sebagai bagian dari kisah yang tidak dapat penulis lupakan seumur hidup. 

Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman dan ditinggalkan orang tua, penuis benar-benar merasakan betapa kasih sayang ayahanda yang selalu mengingatkan waktu shalat dan selalu mengingatkan agar banyak belajar agama di setiap kesempatan baik melalui ceramah, buku-buku maupun media lainnya.

Dari kisah dan pengalaman masa kecil yang penulis alami, yang sangat mengesankan adalah suasana setiap bulan Ramadhan. Pada masa itu sekolahan libur selama satu bulan penuh, sehingga kegiatan mengisi dan mengagungkan bulan Ramadhan benar-benar fokus dan mempunyai pengaruh emosional yang besar.

Sesuai berjalannya waktu, kegiatan Ramadhan yang semula bagi penulis hanya merupakan aktifitas rutin, menjadi semakin banyak  dilengkapi pengetahuan dan pemahaman lebih mendalam yang diperoleh dengan mempelajarinya baik tentang riwayat perintah puasa Ramadhan, maksud dan tujuan puasa, takwa, maupun keistimewaan puasa di bulan Ramadhan, disamping fungsi puasa itu sendiri sebagai bagian dari kewajiban bagi setiap muslim.

Puasa Ramadhan

Kewajiban melaksanakan puasa di bulan Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah. Uraian Al-Qur’an tentang puasa Ramadhan ditemukan di dalam QS Al-Baqarah 2: 183, 184, 185, dan 187, Ini berarti puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw tiba di Madinah.

Allah Swt berfirman: ▪ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana diwajibkan terhadap ummat-ummat sebelum kamu agar kamu bertawa. (QS Al-Baqarah 2: 183). ▪ “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkannya Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu,  baramg siapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa, Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditnggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu nmencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah 2: 185).

Tujuan Berpuasa

Secara jelas Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan (la’allakum tattaquun). Dalam rangka memahami tujuan tersebut perlu digaris bawahi penjelasan dari Nabi Saw, misalnya: “Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.” Ini berarti bahwa menahan lapar dan dahaga bukan tujuan  utama dari puasa.

Puasa merupakan suatu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat dikemukakan, misalnya bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri. Dari sini dapat disimpulkan bawa orang yang melakukan ibadah puasa, melaksanakannya demi karena Allah.

Hadis qudsi menyatakan antara lain, “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran.” Seperti halnya firman Allah  melalui ayat Al-Qur’an: ”Sesunggiuhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya  tanpa batas.” (QS Az-Zumar 39: 10). Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Puasa dan Takwa

Takwa mempunyai arti ‘menghindar’, ‘menjauhi’ atau ‘menjaga diri’, sehingga ittaqullah berarti menghindar, menjauhi, atau menjaga diri dari siksa Allah Swt, atau yang lebih mendalam lagi berarti menjaga diri dari siksa karena adanya Allah.

Menghindari siksa atau hukuman Allah, dilakukan dengan jalan menghindarkan diri dari semua yang dilarang, serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa yaitu Allah Swt.

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt setiap saat, sebagaimana kutipan dari hadis: “Bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya maka palng tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya.”

Karena itu banyak cara dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa, sebagaimana perintah Allah dalam ayat 183 di atas.

Keistimewaan Puasa Ramadhan

Dari kesekian banyak hikmah puasa dalam bulan Ramadhan adalah berdoa dibulan Ramadhan mendapat tempat yang tempat yang dekat dengan Allah, seperti dijelaskan dalam QS Al-Baqarah 2: 186. Ayat tersebut tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penetapan urutan tentang doa, atau penyisipannya dalam uraian Al-Qur’an tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Hal ini mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan: “Sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al-Baqarah 2: 186).

Hikmah lainnya yang penting dalam bulan Ramadhan adalah, di bulan ini terdapat malam Qadar (Lailatul Qadar), yang menurut Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril)  silih berganti turun dengan seizin Allah dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Firman Allah: “Sesungguhnya  Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadar 97: 1-5).

Yang pasti dan harus diimani  oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an di atas bahwa, ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam, dan sesungguhny Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan besar di sisi Kami (QS Ad-Dukhaan 44: 3-5).

Dengan datangnya bulan Ramadhan 1434 H, kita bersyukur mendapat kesempatan menyambutnya dan mengharapkan hikmah yang sebesar-besarnya selama bulan ini, dan dengan sisa umur yang diberikan kepada kita agar dapat kesempatan memperoleh pahala yang berlipat ganda melalui amal baik yang sesuai perintah Allah, serta doa yang kita panjatkan kehadirat-Nya akan dikabulkan dan mendapat ridha dari Allah Swt.

Dari hal-hal yang disampaikan di atas membuat banyak alasan mengapa kita selalu rindu datangnya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.


Mohammad Kamal
No. 191

1 komentar: