Kamis, 04 Juli 2013

KEMBALIKAN PUASA RAMADHAN KE JALAN YANG LURUS


Beberapa hari lagi akan tiba bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Bulan di mana pada siang dan malam hari adalah hari-hari yang paling utama. Begitu pula jam demi jamnya adalah yang paling utama. Itulah bulan ketika kita ummat Islam diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan itu nafas-nafas kita menjadi tasbih, amal-amal kita diterima dan doa-doa kita diijabah. Kita bermohon kepada Allah Swt dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar dibimbing-Nya untuk melakukan puasa (shiyam) dan membaca Kitab-Nya.
Puasa pada tingkatan paling dasar adalah pelajaran untuk mengendalikan diri dari ketiga kebutuhan manusia; makan, minum dan hasrat seksual. Perlu diingat bahwa dasar puasa pengendalian diri bukanlah mematikan keinginan diri. Dengan demikian hasrat ketiga keinginan diri tersebut sesungguhnya hanyalah dikendalikan semata, itupun dalam situasi dan waktu tertentu saja. Dalam situasi orang sakit, ibu menyusui, dan orang lanjut usia misalnya, upaya pengendalian diri menjadi tidak relevan, karena yang terpenting bagi mereka adalah penyembuhan, pemeliharaan kesehatan bayi, dan kelangsugan hidup orang tua. Dari segi dimensi waktu, puasa itu sendiri hanyalah dilakukan di siang hari, tidak sepanjang siang dan malam. Artinya aktivitas makan, minum dan hubungan seksual di malam hari tidaklah dilarang.
Berpuasa Adalah Sarana Pengendalian Diri
Sudahkah kita berhasil mengendalikan diri melalui puasa-puasa Ramadhan kita selama ini? Jawaban terbaik adalah ‘belum’. Bulan Ramadhan selama ini sering dimaknai berbeda oleh sebagian besar masyarakat dari berbagai kalangan, dibandingkan dengan tujuan beribadah puasa yang hakiki. Tidak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan selama ini telah menjadi bulan tanpa kendali.
Adalah kenyataan di saat kita harus melakukan pengendalian diri, di kalangan mereka yang mampu, konsumsi makanan dan kebutuhan sehari-hari lainnya justru meningkat.  Kita bisa menyaksikan betapa mewahnya ketika dan pengusaha mengadakan buka puasa bersama. Hal ini telah mendorong para pedagang setiap menjelang bulan Ramadhan tiba dan menyambut hari Idulfitri, menimbun sembako dan kebutuhan pokok lainnya untuk meraih omset dan keuntungan yang lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Inilah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, terlepas dari rencana kenaikan harga BBM yang belakangan ini ramai dibicarakan orang.
Bagi partai politik (Parpol), Ramadhan selain dimanfaatkan untuk membangun citra di tengah masyarakat melalui ucapan selamat berbuka puasa dengan memberikan santunan untuk anak-anak yatim, mereka juga menyampaikan pesan-pesan khusus agar masyarakat mau tahu dan mau bersama-sama menjadi bagian dari parpol tersebut. Jadi selain berlomba meraih pahala, mereka juga menjadikan Ramadhan sebagai ajang kegiatan politik parpol tersebut agar lebih dikenal luas oleh masyarakat umum.
Tentu saja media televisi tidak mau ketinggalan menyajikan berbagai acara Ramadhan. Selain acara pengajian menjelang berbuka puasa dan menjelang waktu imsak, ditayangkan pula sinetron atau acara lawak, yang menambah penghasilan para da’i dan selebrita dengan bayaran tinggi, yang juga memberi keuntungkan bagi media tersebut melalui dukungan iklan.
Di sisi lain, bagi orang-orang yang terbiasa berbuat jahat dan zhalim, bulan Ramadhan hampir tidak ada bedanya dengan bulan-bulan biasa, mereka tetap saja melakukan pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, perbuatan-perbuatan asusila, zhalim dan maksiat lainnya. Meskipun pada bulan Ramadhan syeitan-syeitan terbelenggu (HR Al-Bukhari dan Muslim), para penjahat terus saja berbuat zhalim, karena selain jiwa dan kebiasaan mereka yang buruk, mereka tidak menyadari bahwa dirinya sudah tercemar oleh pengaruh syeitan-syeitan dari golongan manusia sendiri, karena yang dibelenggu adalah syeitan-syeitan dari golongan jin (HR At-Tirmidzi).
Dari beberapa fenomena tersebut, kita pertanyakan apakah puasa Ramadhan kita harus dimaknai dengan memuaskan nafsu untuk kesenangan duniawi, dan mengumbar kebiasaan buruk? Apakah amal-amal dalam puasa selama ini telah kita lakukan dengan sepenuh hati keihklasan mengharap ridha Allah Swt seperti yang dipesankan oleh Rasulullah Saw dalam menyambut bulan suci Ramadhan? Inikah yang dinamakan pengendalian diri? Jawaban kita tentu ‘bukan’.
Berpuasa di samping merupakan sarana pendidikan Ilahi untuk menanamkan tanggungjawab pribadi, juga merupakan sarana pendidikan untuk menanamkan solidaritas atau tanggungjawab sosial. Berpuasa harus kita manfaatkan untuk melakukan muhasabah, baik dalam ibadah mahdah maupun mu’amalah.
Allah Swt berfirman: ▪ “Ingat kamu adalah orang yang diajak membelanjakan harta di jalan Allah.” (QS Muhammad 47: 38). ▪ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya.(QS Al-Baqarah 2: 277). Jadi kepedulian sosial itu bukan hanya monopoli ibadah puasa. Diibaratkan sebuah rumah pribadi Muslim, puasa adalah atap yang bersambungan erat dengan tiangnya yaitu shalat, dan dindingnya adalah zakat.
Karena itu kita harus melaksanakan kewajiban membayar zakat, termasuk zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan. Sebab, seperti halnya dengan setiap zakat atau shadaqah, pertama-tama dan terutama diperuntukkan bagi golongan fakir-miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup, demi upaya meringankan hidup mereka, yaitu; 1) Al-riqab (budak yang terbelenggu, yang dalam istilah modern dapat berarti mereka yang terkungkung oleh ‘kemiskinan struktural’. 2) Al-gharimun (orang terbeban hutang yang berat). 3) Ibn al-sabil (orang terlantar dalam perjalanan).
Demikian pula sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial yang sasaraannya adalah manusia termasuk kaum mu'allaf yang memerlukan dan kaum sabilillah (berjuang di jalan Allah), dan kepentingan sosial lainnya.
Waspada Perilaku Yang Merusak Puasa
Berpuasa adalah sarana untuk menempa diri agar supaya kita masing-masing dapat mematangkan diri secara emosional dan spiritual. Di samping itu, berpuasa adalah sarana untuk melatih berkompetisi secara jujur dan sehat. Abi Ubaidah berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda; “Puasa adalah perisai selama yang bersangkutan tidak merusak.’ Lalu ada yang bertanya, ’Dengan apa merusaknya?’ Jawab Rasulullah, ’Dengan berbohong atau bergunjing’. (HR An-Nassai, Al-Baihaqi, Ibnu Huzaimah, dan Ath-Thabrani).
Demikianlah bahwa bahaya berbohong dan bergunjing itu dapat merusak puasa kita, sehingga bersikap jujur dan kematangan emosi untuk tidak bergunjing adalah kunci keberhasilan puasa kita.
Contoh ketidak-jujuran dalam diri seseorang adalah orang yang memulai harinya dengan makan sahur di rumah, kemudian di luar rumah ia secara sembunyi-sembunyi makan atau minum, dan dalam hal apa saja yang dilarang dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu tidak akan terjadi.
Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam masalah makan, minum dan apa-apa yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita pada tidak bisa menjaga kejujuran dalam hal lain yang juga menyangkut kepentingan masyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat kenyataan dalam kehidupan masyarakat kita yang tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata.
Allah Swt dengan tegas memperingatkan: ▪ "Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong. (QS Ghaafir 40: 28).“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl 16: 105). Demikianlah bahwa berpuasa itu erat hubungannya dengan kejujuran.
Di samping itu, tidak kalah penting pada kesempatan puasa Ramadhan adalah muhasabah tentang bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah seseorang yang menyebut orang lain tentang sesuatu yang dibencinya, dengan maksud mencela dan menghujat, baik melalui ucapan maupun tulisan.
Hukum bergunjing adalah haram sebagaimana firman Allah Swt: "Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS Al Hujuraat 49: 12). Demikianlah tingkat keharaman bergunjing.
Makna lebih dalam dari ayat di atas adalah bahwa Islam mengajarkan kita untuk melihat manusia dengan positif dan hormat. Kita tidak boleh berprasangka, menghina, mencari-cari kekurangan, kesalahan, mengejek, menertawakan kekurangan, menggunjing dan melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Janganlah kita berdalih kebebasan berpendapat dalam demokrasi untuk bergunjing satu sama lain.
Bergunjing dapat menimbulkan kemudharatan yang besar di dunia maupun akhirat kelak. Di antara bahaya bergunjing adalah: 1) Menjadikan pelakunya terbuka aibnya di dunia maupun akhirat. 2) Menunjukkan keburukan jiwa dan niat pelakunya. 3) Menyakiti orang lain, 4) Berbuat kezhaliman yang melampaui batas terhadap orang lain. 5) Berakibat terkena azab pada hari kiamat. 6) Mengacaukan masyarakat, menebarkan fitnah, menimbulkan permusuhan dan dendam di antara manusia.
Di sinilah saatnya bagi kita semua untuk berhenti bergunjing, karena bergunjing penuh kemudharatan yang bisa merusak puasa kita. Khusus bagi para elite bangsa dan kalangan media massa yang berpengaruh besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, puasa Ramadhan merupakan kesempatan untuk berhenti bergunjing karena bergunjing bisa mengundang konflik horisontal di kalangan masyarakat maupun vertikal terhadap pemerintah, (siapapun presidennya). Elite bangsa dan media massa sejatinya harus berbuat sebesar-besar kebajikan untuk mengemban amanah dalam membangun bangsa dan negara, bukan memecah belah persatuan bangsa.
Rasulullah Saw bersabda: “Allah bisa jadi mengampuni seseorang yang telah berzina dan kemudian menyesali perbuatannya dan memohon ampunan-Nya. Namun Allah Swt tidak akan memaafkan orang yang menggunjingkan orang lain, sebelum penderita gunjingan itu memaafkannya.” (HR At-Tabrani). Artinya selain keharaman bergunjing itu besar bagaikan makan daging saudara kita yang sudah mati, beratnya dosa menggunjing melebihi berzina. Bayangkan kalau penderita gunjingan itu tidak bisa kita mintai maaf  karena lebih dahulu meninggalkan dunia?
Dilihat dari mudahnya orang bergunjing satu sama lain, maka dosa itu nampaknya kecil itu, saking kecilnya orang tidak sadar bahwa ia telah menumpuk banyak dosa dan akhirnya menjadi besar. Apalagi Nabi Saw memperingatkan supaya kita berhati-hati dengan dosa-dosa kecil, karena dapat mengakibatkan siksaan yang pedih di alam kubur.
Kembali Ke Jalan Yang Lurus
Kembali pada niat kita untuk melakukan muhasabah secara kaffah, kita perlu mengingat sabda Rasulullah Saw: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir.” (HR Abu Daud).
Dari empat unsur yang disebut di atas, ulama memiliki peran utama dalam membangun akhlak ummat sesuai amanah yang diterimanya. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. (QS Faathir 35: 28). Takut para ulama kepada Allah Swt adalah takwa dan tanggungjawab mereka untuk menjadi contoh kebaikan bagi ummat dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang makmur, sejahtera, diberkahi dan diridlai Alllah di dunia sebagai bekal hidup di akhirat, bukan menjadi selebrita yang mencari popularitas dan materi.
Bagi para pemimpin dan elite politik, jika pada bulan-bulan lain mereka semaunya mengumbar janji, maka selama puasa Ramadhan mereka harus berlatih untuk lebih bijak dalam bertutur kata. Kalau pada bulan selain Ramadhan para pelaku para birokrat begitu mudah menyimpangkan kekuasaan dan anggaran belanja negara, saat puasa Ramadhan kali ini mereka harus mengakhirinya.
Bagi para hartawan, dan mereka yang berkecukupan ekonominya, hendaklah bersyukur kepada Allah Swt atas keberkahan yang diberikan-Nya dengan meningkatkan rasa tanggungjawab sosial yang besar terhadap para fakir miskin yang selalu berdoa.
Dengan berpuasa Ramadhan, kita harus mengembalikan harkat kemanusiaan yang lebih mulia dari segala yang ada di dunia ini sebagai makhluk ciptaan Allah. Sejatinya, kitalah yang mengendalikan harta, bukan sebaliknya harta mengendalikan kita. Dan kitalah yang mengendalikan makanan, bukan kita dikendalikan oleh makanan.
Maka supaya puasa Ramadhan kita tidak menyimpang lebih jauh, marilah kita menempatkan kembali puasa kita ini ke jalan yang lurus (ash-shirathal-mustaqim). Jalan ini bukanlah jalan biasa, melainkan jalan tol yang tidak boleh kita lewati untuk kembali lagi, jalan yang harus kita lewati terus sesuai rambu-rambu yang harus kita patuhi sampai ke tujuan akhir perjalanan. 
  
Hidup kembali melalui ash-shirathal-mustaqim adalah sebuah penegasan doa dan ikrar kita agar selalu ditunjukkan ke jalan yang lurus itu. Marilah kita jadikan puasa Ramadhan sebagai momen yang paling khidmat untuk meningkatkan ketakwaan  kita sebagaimana kewajiban yang ditetapkan Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,..” (QS Al-Baqarah 2: 183). Semoga hasilnya dapat kita petik setidaknya selama sebelas bulan sesudah usai Ramadhan tahun ini dengan perilaku yang lebih baik. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamin.
Hermanto Harsolumakso
No. 190

10 komentar:

  1. Allahuakbar. Alhamdulillah, kiriman al-Mustaqiim sdh kami terima. Semoga Bapak selalu sehat wal afiat dan perlindungan dari Allah Swt. Dengan akan tibanya bulan Ramadhan 1434, kami mohon maaf atas kehilafan, semoga ramadhan 1434 ini memberi kesabaran yang lebih hingga Shaum kita dapat dilaksanakan dengan penuh ketaqwaan kepada Allah Swt. Amin. (Via e-mail)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih doa Anda. Semoga puasa kita diterima Allah Swt. Aamiin

      Hapus
  2. Betul sekali, puasa Ramadhan bukanlah basa-basi ibadah, tapi melatih mengendalikan diri untuk menjadi takwa yang sesungguhnya. Marhaban ya Ramadhan.

    BalasHapus
  3. Marhaban ya Ramadhan. Marilah kita berpuasa di jalan yang lurus, supaya menjadi lebih takwa. Amin.

    BalasHapus
  4. Salut ustadz yang telah mengemukakan fakta sebenarnya. Marilah kita muhasabah dan kembali ke jalan yang lurus.

    BalasHapus
  5. Selamat menunaian ibadah puasa Ramadhan 1434 H kepada para pembaca Al-Mustaqiim, semoga amal ibadah kita diterima Allah Swt, dan dosa-dosa kita diampuni-Nya. Aamiin.

    BalasHapus
  6. Siip, padhe, matur nuwun..
    mohon maaf lahir batin....selamat menjalankan ibadah shaum...(via e-mail)

    BalasHapus
  7. pak @Hermanto Harsolumakso terima kasih informasinya pak, saya suka sekali dengan tulisan bapak di blogspot almustaqiim, temanya damai dan sangat perlu untuk pegangan hidup, Wassalam pak. (dari facebook)

    BalasHapus