Beberapa hari lagi akan tiba bulan Ramadhan, bulan penuh
berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Bulan di mana pada siang dan malam
hari adalah hari-hari yang paling utama. Begitu pula
jam demi jamnya adalah yang paling utama. Itulah bulan ketika kita ummat Islam diundang
menjadi tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan itu nafas-nafas kita menjadi tasbih, amal-amal kita diterima dan doa-doa kita diijabah. Kita bermohon kepada Allah Swt dengan niat yang tulus dan hati
yang suci agar dibimbing-Nya untuk
melakukan puasa (shiyam) dan membaca Kitab-Nya.
Puasa pada tingkatan paling dasar adalah pelajaran
untuk mengendalikan diri dari ketiga kebutuhan manusia; makan, minum dan hasrat
seksual. Perlu diingat bahwa dasar puasa pengendalian diri bukanlah mematikan keinginan
diri. Dengan demikian hasrat ketiga keinginan diri tersebut sesungguhnya
hanyalah dikendalikan semata, itupun
dalam situasi dan waktu tertentu saja. Dalam situasi orang sakit, ibu menyusui, dan orang lanjut usia misalnya, upaya pengendalian diri menjadi
tidak relevan, karena yang terpenting bagi mereka adalah penyembuhan, pemeliharaan kesehatan bayi, dan kelangsugan hidup orang
tua. Dari segi dimensi
waktu, puasa itu sendiri hanyalah dilakukan di siang hari, tidak sepanjang
siang dan malam. Artinya aktivitas makan, minum dan hubungan seksual
di malam hari tidaklah dilarang.
Berpuasa Adalah Sarana Pengendalian Diri
Sudahkah kita berhasil mengendalikan diri melalui
puasa-puasa Ramadhan kita selama ini? Jawaban terbaik adalah ‘belum’. Bulan
Ramadhan selama ini sering dimaknai berbeda oleh sebagian besar masyarakat dari
berbagai kalangan, dibandingkan dengan tujuan beribadah puasa yang hakiki.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan selama ini telah menjadi bulan tanpa
kendali.
Adalah kenyataan di saat kita harus melakukan
pengendalian diri, di kalangan mereka yang mampu, konsumsi makanan dan
kebutuhan sehari-hari lainnya justru meningkat. Kita bisa menyaksikan betapa mewahnya ketika dan
pengusaha mengadakan buka puasa bersama. Hal ini
telah mendorong para pedagang setiap menjelang bulan Ramadhan tiba dan
menyambut hari Idulfitri, menimbun sembako dan kebutuhan pokok lainnya untuk
meraih omset dan keuntungan yang lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya.
Inilah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, terlepas dari rencana kenaikan
harga BBM yang belakangan ini ramai dibicarakan orang.
Bagi partai politik (Parpol), Ramadhan selain
dimanfaatkan untuk membangun citra di tengah masyarakat melalui ucapan selamat
berbuka puasa dengan memberikan santunan untuk anak-anak yatim, mereka juga
menyampaikan pesan-pesan khusus agar masyarakat mau tahu dan mau bersama-sama
menjadi bagian dari parpol tersebut. Jadi selain
berlomba meraih pahala, mereka juga menjadikan Ramadhan sebagai ajang
kegiatan politik parpol tersebut agar
lebih dikenal luas oleh masyarakat umum.
Tentu saja media televisi tidak mau ketinggalan menyajikan berbagai acara Ramadhan. Selain acara pengajian menjelang berbuka puasa dan
menjelang waktu imsak, ditayangkan pula sinetron atau acara lawak, yang menambah penghasilan para da’i dan selebrita dengan
bayaran tinggi, yang juga memberi keuntungkan bagi media tersebut
melalui dukungan iklan.
Di sisi lain, bagi orang-orang yang terbiasa
berbuat jahat dan zhalim, bulan Ramadhan hampir tidak ada bedanya dengan
bulan-bulan biasa, mereka tetap saja melakukan pencurian, perampokan, korupsi,
pembunuhan, perbuatan-perbuatan asusila, zhalim dan maksiat lainnya. Meskipun pada
bulan Ramadhan syeitan-syeitan terbelenggu (HR Al-Bukhari dan Muslim), para penjahat
terus saja berbuat zhalim, karena selain jiwa dan kebiasaan mereka yang buruk, mereka
tidak menyadari bahwa dirinya sudah tercemar oleh pengaruh syeitan-syeitan dari
golongan manusia sendiri, karena yang dibelenggu adalah syeitan-syeitan dari
golongan jin (HR At-Tirmidzi).
Dari beberapa fenomena tersebut, kita pertanyakan
apakah puasa Ramadhan kita harus dimaknai dengan memuaskan nafsu untuk kesenangan
duniawi, dan mengumbar kebiasaan buruk? Apakah amal-amal dalam puasa selama ini
telah kita lakukan dengan sepenuh hati keihklasan mengharap ridha Allah Swt seperti
yang dipesankan oleh Rasulullah Saw dalam menyambut bulan suci Ramadhan? Inikah yang dinamakan pengendalian
diri? Jawaban
kita tentu ‘bukan’.
Berpuasa di samping merupakan sarana pendidikan
Ilahi untuk menanamkan tanggungjawab pribadi, juga merupakan sarana pendidikan
untuk menanamkan solidaritas atau tanggungjawab sosial. Berpuasa harus kita
manfaatkan untuk melakukan muhasabah, baik dalam ibadah mahdah
maupun mu’amalah.
Allah
Swt berfirman: ▪ “Ingat
kamu adalah orang yang diajak membelanjakan harta di jalan Allah.” (QS Muhammad
47: 38). ▪ Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya.“ (QS Al-Baqarah 2: 277).
Jadi kepedulian
sosial itu bukan hanya monopoli ibadah puasa. Diibaratkan sebuah rumah pribadi
Muslim, puasa adalah atap yang bersambungan erat dengan tiangnya yaitu shalat,
dan dindingnya adalah zakat.
Karena itu kita harus melaksanakan
kewajiban membayar zakat, termasuk zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan.
Sebab, seperti halnya dengan setiap zakat atau shadaqah, pertama-tama dan
terutama diperuntukkan bagi golongan fakir-miskin serta mereka yang berada
dalam kesulitan hidup, demi upaya meringankan hidup mereka, yaitu; 1) Al-riqab
(budak yang terbelenggu, yang dalam istilah modern dapat berarti mereka yang
terkungkung oleh ‘kemiskinan struktural’. 2) Al-gharimun (orang terbeban hutang yang
berat). 3) Ibn al-sabil (orang terlantar dalam perjalanan).
Demikian pula sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan
dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial yang
sasaraannya adalah manusia termasuk kaum mu'allaf yang memerlukan dan kaum sabilillah
(berjuang di jalan Allah), dan kepentingan sosial lainnya.
Waspada Perilaku Yang Merusak Puasa
Berpuasa
adalah sarana untuk
menempa diri agar supaya kita masing-masing dapat
mematangkan diri secara emosional dan spiritual. Di samping itu, berpuasa adalah sarana untuk melatih berkompetisi secara jujur dan sehat. Abi Ubaidah berkata:
“Saya mendengar Rasulullah bersabda; “Puasa adalah perisai selama yang
bersangkutan tidak merusak.’ Lalu ada yang bertanya, ’Dengan apa merusaknya?’
Jawab Rasulullah, ’Dengan berbohong atau bergunjing’. (HR An-Nassai,
Al-Baihaqi, Ibnu Huzaimah, dan Ath-Thabrani).
Demikianlah bahwa bahaya berbohong dan bergunjing itu dapat
merusak puasa kita, sehingga bersikap jujur dan kematangan emosi untuk tidak
bergunjing adalah kunci keberhasilan puasa kita.
Contoh ketidak-jujuran dalam diri seseorang adalah orang
yang memulai harinya dengan makan sahur di rumah, kemudian di luar rumah ia
secara sembunyi-sembunyi makan atau minum, dan dalam hal apa saja yang dilarang
dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu
tidak akan terjadi.
Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam masalah makan,
minum dan apa-apa yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita pada tidak
bisa menjaga kejujuran dalam hal lain yang juga menyangkut kepentingan
masyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat kenyataan dalam kehidupan masyarakat
kita yang tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata.
Allah Swt dengan tegas memperingatkan: ▪ "Sesungguhnya
Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka
berbohong. (QS Ghaafir 40: 28).
▪ “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang
tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”
(QS An-Nahl 16: 105). Demikianlah bahwa berpuasa itu erat hubungannya
dengan kejujuran.
Di samping itu, tidak kalah penting pada
kesempatan puasa Ramadhan adalah muhasabah tentang bergunjing (ghibah).
Bergunjing adalah seseorang yang menyebut orang lain tentang
sesuatu yang dibencinya, dengan maksud mencela dan menghujat, baik melalui
ucapan maupun tulisan.
Hukum bergunjing adalah haram
sebagaimana firman Allah Swt: "Dan janganlah mencari-cari keburukan
orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu
yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya." (QS Al Hujuraat 49: 12). Demikianlah tingkat keharaman
bergunjing.
Makna lebih dalam dari ayat di
atas adalah bahwa Islam mengajarkan kita untuk melihat manusia dengan positif
dan hormat. Kita tidak boleh berprasangka, menghina, mencari-cari kekurangan, kesalahan,
mengejek, menertawakan kekurangan, menggunjing dan melakukan tindakan yang
merugikan orang lain. Janganlah kita berdalih kebebasan berpendapat dalam demokrasi
untuk bergunjing satu sama lain.
Bergunjing dapat menimbulkan
kemudharatan yang besar di dunia maupun akhirat kelak. Di antara bahaya bergunjing
adalah: 1) Menjadikan pelakunya terbuka aibnya di dunia maupun akhirat. 2) Menunjukkan
keburukan jiwa dan niat pelakunya. 3) Menyakiti orang lain, 4) Berbuat
kezhaliman yang melampaui batas terhadap orang lain. 5) Berakibat terkena azab
pada hari kiamat. 6) Mengacaukan masyarakat, menebarkan fitnah, menimbulkan
permusuhan dan dendam di antara manusia.
Di sinilah saatnya bagi kita
semua untuk berhenti bergunjing, karena bergunjing penuh kemudharatan yang bisa
merusak puasa kita. Khusus bagi para elite bangsa dan kalangan media massa yang
berpengaruh besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, puasa Ramadhan
merupakan kesempatan untuk berhenti bergunjing karena bergunjing bisa mengundang
konflik horisontal di kalangan masyarakat maupun vertikal terhadap pemerintah, (siapapun
presidennya). Elite bangsa dan media massa sejatinya harus berbuat
sebesar-besar kebajikan untuk mengemban amanah dalam membangun bangsa dan
negara, bukan memecah belah persatuan bangsa.
Rasulullah Saw bersabda: “Allah bisa jadi mengampuni seseorang yang telah berzina
dan kemudian menyesali perbuatannya dan memohon ampunan-Nya. Namun Allah Swt tidak akan memaafkan orang yang
menggunjingkan orang lain, sebelum penderita gunjingan itu memaafkannya.” (HR At-Tabrani). Artinya selain keharaman bergunjing itu
besar bagaikan makan daging saudara kita yang sudah mati, beratnya dosa
menggunjing melebihi berzina. Bayangkan kalau penderita gunjingan itu tidak
bisa kita mintai maaf karena lebih
dahulu meninggalkan dunia?
Dilihat dari mudahnya orang bergunjing satu sama lain,
maka dosa itu nampaknya kecil itu, saking
kecilnya orang tidak sadar bahwa ia telah menumpuk banyak dosa dan akhirnya
menjadi besar. Apalagi Nabi Saw memperingatkan supaya kita berhati-hati dengan
dosa-dosa kecil, karena dapat mengakibatkan siksaan yang pedih di alam kubur.
Kembali Ke Jalan Yang Lurus
Kembali pada niat kita untuk melakukan muhasabah secara
kaffah, kita perlu mengingat sabda Rasulullah Saw: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat
ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang
kaya, dan do’anya orang-orang fakir.” (HR Abu Daud).
Dari empat unsur
yang disebut di atas, ulama memiliki peran utama dalam membangun akhlak ummat sesuai amanah yang
diterimanya. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya,
hanyalah ulama”. (QS Faathir 35: 28). Takut para ulama kepada Allah
Swt adalah takwa dan tanggungjawab mereka untuk menjadi contoh kebaikan bagi
ummat dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang makmur, sejahtera, diberkahi dan diridlai
Alllah di dunia sebagai
bekal hidup di akhirat, bukan menjadi
selebrita yang mencari popularitas dan materi.
Bagi para pemimpin dan elite politik, jika
pada bulan-bulan lain mereka semaunya mengumbar janji, maka selama puasa
Ramadhan mereka harus berlatih untuk lebih bijak dalam bertutur kata. Kalau
pada bulan selain Ramadhan para pelaku para birokrat begitu mudah menyimpangkan kekuasaan dan anggaran belanja negara, saat puasa Ramadhan kali ini mereka harus mengakhirinya.
Bagi para hartawan, dan mereka yang
berkecukupan ekonominya, hendaklah bersyukur kepada Allah Swt atas keberkahan
yang diberikan-Nya dengan meningkatkan rasa tanggungjawab sosial yang besar
terhadap para fakir miskin yang selalu berdoa.
Dengan berpuasa Ramadhan, kita harus
mengembalikan harkat kemanusiaan yang lebih mulia dari segala yang ada di dunia
ini sebagai makhluk ciptaan Allah. Sejatinya, kitalah yang mengendalikan harta,
bukan sebaliknya harta mengendalikan kita. Dan kitalah
yang mengendalikan makanan, bukan kita
dikendalikan oleh makanan.
Maka supaya puasa Ramadhan kita tidak menyimpang
lebih jauh, marilah kita menempatkan kembali puasa kita ini ke jalan yang lurus
(ash-shirathal-mustaqim). Jalan ini
bukanlah jalan biasa, melainkan jalan tol yang tidak boleh kita lewati untuk
kembali lagi, jalan yang harus kita lewati terus sesuai rambu-rambu yang harus kita
patuhi sampai ke tujuan akhir
perjalanan.
Hidup kembali melalui ash-shirathal-mustaqim
adalah sebuah penegasan doa dan ikrar kita agar selalu ditunjukkan ke jalan
yang lurus itu. Marilah kita jadikan puasa Ramadhan sebagai momen yang paling
khidmat untuk meningkatkan ketakwaan kita
sebagaimana kewajiban yang ditetapkan Allah Swt: “Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa,..” (QS Al-Baqarah 2: 183). Semoga hasilnya
dapat kita petik setidaknya selama sebelas bulan sesudah usai Ramadhan tahun
ini dengan perilaku yang lebih baik. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamin.
Hermanto
Harsolumakso
No. 190


Allahuakbar. Alhamdulillah, kiriman al-Mustaqiim sdh kami terima. Semoga Bapak selalu sehat wal afiat dan perlindungan dari Allah Swt. Dengan akan tibanya bulan Ramadhan 1434, kami mohon maaf atas kehilafan, semoga ramadhan 1434 ini memberi kesabaran yang lebih hingga Shaum kita dapat dilaksanakan dengan penuh ketaqwaan kepada Allah Swt. Amin. (Via e-mail)
BalasHapusTerima kasih doa Anda. Semoga puasa kita diterima Allah Swt. Aamiin
HapusBetul sekali, puasa Ramadhan bukanlah basa-basi ibadah, tapi melatih mengendalikan diri untuk menjadi takwa yang sesungguhnya. Marhaban ya Ramadhan.
BalasHapusMarhaban ya Ramadhan. Marilah kita berpuasa di jalan yang lurus, supaya menjadi lebih takwa. Amin.
BalasHapusSalut ustadz yang telah mengemukakan fakta sebenarnya. Marilah kita muhasabah dan kembali ke jalan yang lurus.
BalasHapusSelamat menunaian ibadah puasa Ramadhan 1434 H kepada para pembaca Al-Mustaqiim, semoga amal ibadah kita diterima Allah Swt, dan dosa-dosa kita diampuni-Nya. Aamiin.
BalasHapusSiip, padhe, matur nuwun..
BalasHapusmohon maaf lahir batin....selamat menjalankan ibadah shaum...(via e-mail)
Sana-sama, semoga puasa kita diterima Allah Swt. Aamiin
Hapuspak @Hermanto Harsolumakso terima kasih informasinya pak, saya suka sekali dengan tulisan bapak di blogspot almustaqiim, temanya damai dan sangat perlu untuk pegangan hidup, Wassalam pak. (dari facebook)
BalasHapusAlhamdulillah, semoga bermanfaat.
Hapus