Selasa, 25 Juni 2013

WASPADA TERHADAP MUNAFIK


Allah Swt berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ﴿٨﴾
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾
Di antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah 2: 8-9).
Ayat-ayat awal surah Al-Baqarah mengemukan tiga golongan manusia ditinjau dari sikapnya terhadap keterangan dan petunjuk Allah Swt. Golongan pertama adalah orang yang bertakwa, yaitu yang beriman teguh kepada Allah dengan memenuhi segala konsekuensinya. Golongan kedua ialah orang kafir, yang sama sekali tidak percaya kepada Allah sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengatur segala sesuatu. Ketika Rasulullah Saw menyampaikan keterangan dan petunjuk dari Allah mengenai kebenaran yang sejati, mereka tidak mau percaya sedikitpun. Bahkan ketika utusan Allah tersebut telah menyampaikan argumen dan dalil-dalil yang meopang apa yang beliau sampaikan, mereka tetap menolaknya. Golongan ketiga adalah orang-orang yang digambarkan pada ayat-ayat yang kita pampangkan di atas. Mereka disebut sebagai munafiqun - orang-orang yang culas, yang pura-pura beriman padahal kafir, pura-pura mengikuti Rasul padahal benci kepada beliau. Mereka bahkan berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk menghancurkan kredibilitas beliau di mata pendukung dan masyarakat pada umumnya.
Munafiqun berkembang di Madinah sesudah Rasulullah Saw hijrah ke negeri tersebut. Kita mudah memahami hal itu. Ketika beliau masih bermukim di Makkah, negeri ini berada di dalam cengkeraman kekuasaan orang-orang musyrik. Mayoritas penduduk, apalagi para pemimpinnya adalah penyembah berhala, yang tentu saja tidak menyukai ajaran Rasul yang bersendikan tauhidullah. Maka orang-orang kafir tidak perlu pura-pura beriman. Mereka leluasa menyatakan penolakannya kepada agama yang bertentangan dengan keyakinan banyak orang. Mereka bahkan bebas mengejek dan mencemooh agama itu beserta orang yang menyampaikannya, Muhammad Saw. Kondisi berbeda terdapat di Yatsrib - kota yang kemudian berganti namanya menjadi Madinatur Rasul (kotanya Rasul) atau Madinah al-Munawwarah (kota yang menerangi dunia dengan cahaya Islam).
Sebelum Muhammad Saw hijrahpun, telah banyak orang Madinah yang masuk Islam, termasuk para pemimpin dari dua suku paling besar, yaitu Aus dan Khazraj. Ketika datang mengunjungi Ka'bah sebagai kebiasaan ritual bangsa Arab, mereka bertemu langsung dengan Muhammad dan menerima keterangan tentang dasar-dasar iman dan ibadah. Mereka sangat tertarik sehingga di tahun berikutnya secara khusus tetapi diam-diam mereka menyatakan ikrarnya untuk beriman dan melaksanakan ketetapan-ketetapan Allah Swt. Bahkan mereka bersedia menerima saudara-saudara seiman dari Makkah sekiranya mereka meninggalkan kota Makkah yang menghalangi kemerdekaan beribadah itu, untuk menjalani kehidupan baru yang bebas di Yatsrib. Maka kaum Mukminin yang tertindas di Makkah secara berangsur-angsur pindah ke Yatsrib. Akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad Saw pribadi hijrah ke negeri tersebut, kemudian dua suku terbesar yaitu Aus dan Khazraj menobatkan beliau sebagai pemimpin tertinggi Madinah.
Perubahan tersebut sudah tentu tidak diinginkan oleh sebagian orang Madinah yang masih menyembah berhala. Mereka ingin sekali agar masyarakat kembali menganut keyakinan terdahulu, dan menjalani kehidupan yang dalam anggapan mereka penuh warna; bebas menenggak minuman keras, berjudi dan berzina. Ajaran Muhammad yang pendatang itu - dalam pandangan mereka - telah menyingkirkan kesenangan-kesenangan yang telah mereka rasakan sejak dahulu. Orang-orang yang sebelum itu menjadi tokoh yang disegani, yang selalu menjadi tempat bertanya, dan yang menjadi pemutus semua masalah masyarakat, kehilangan pengaruh dan kekuasaannya. Arah kepatuhan berpindah, dari mereka kepada Muhammad.
Tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Kafirin Makkah, para pembesar Madinah itu tidak berani menentang Muhammad Saw secara terbuka. Maka merekapun pura-pura beriman, berlagak seperti orang-orang yang rajin menunaikan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, tidak mabuk-mabukan, tidak berjudi, dan sebagainya. QS Al-Baqarah 2: 14 menggambarkan keadaan orang-orang Munafik itu: Dan bila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syeitan-syeitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok belaka."
Eksistensi kaum culas ini sangat membahayakan kaum Muslimin. Orang-orang kafir sama pendiriannya dengan mereka, yaitu memusuhi Islam dan para penganutnya. Tetapi kaum ini menyatakan pendiriannya secara terang-terangan, sehingga jelas sosok dan keberadaannya. Sedangkan orang-orang Munafik berada di tengah-tengah kaum beriman. Secara sembunyi-sembunyi mereka senantiasa berusaha untuk mengembangkan situasi yang kondusif baginya untuk beraksi menentang Islam. Mereka tidak segan-segan menohok kawan seiring dan menggunting dalam lipatan. Sejarah mencatat, kaum ini pernah mendirikan sebuah masjid di luar masjid Nabi, dengan alasan membantu orang-orang yang tinggal jauh dari pusat kota untuk berjama'ah shalat lima waktu. Padahal mereka membangun masjid tersebut sebagai base camp dalam melawan Rasulullah, sekaligus membelokkan hati orang-orang yang beriman, yang shalat dan shaum, agar pendiriannya berlawanan dengan Rasul beserta para sahabat beliau.
Siasat mereka memang lahir dari pikiran yang cerdik. Tetapi Allah Swt Yang Maha bijaksana tentu tahu apa yang ada dalam hati mereka. Maka pada suatu ketika Dia memerintahkan Rasul-Nya untuk menghancurkan masjid tersebut, yang disebut oleh para ulama sebagai sebagai masjid dzirar - masjid penyesat. Mengenai hal ini Al-Quran berkomentar keras: "Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam?" (QS  At-Taubah 9: 109).
Pada waktu yang lain, tokoh Munafiqun Madinah yang bernama Abdullah bin Ubay melancarkan taktik berbeda. Dia ikut dalam pertempuran yang berlangsung di luar Madinah. Dalam perjalanan pulang dia menghadapkan dua kelompok Muslimin Madinah yaitu Muhajirin - kaum pendatang dari Makkah, dengan Anshar - penduduk asli Madinah. Menggunakan sentimen kesukuan, dia mengobarkan perselisihan di antara keduanya, dan dengan kelicikannya usaha itu hampir berhasil. Tetapi pada saat yang tepat Rasulullah Saw datang dan menyelesaikan perselisihan tersebut dengan cepat. Maka ketahuanlah pada saat itu siapa yang mendalangi keonaran. Mungkin karena mengira pasti berhasil, Abdullah bin Ubay yang biasanya menyembunyikan identitasnya dan mengipas-ngipas membesarkan api pertengkaran dari kejauhan, sekarang tampil secara pribadi di muka umum. Karena itu dengan mudah diketahui siapa yang berulah. Abdullah bin Ubay diputuskan untuk diusir dari Madinah. Dia berkelana ke mana-mana karena tentu sulit bagi dia pada masa tersebut untuk mencari tempat tinggal yang baru. Kawasan kaum Muslimin sudah sangat luas, dan semua orang dengan cepat menjadi tahu apa yang telah dilakukan Abdullah bin Ubay.
Munafiqun dan sifat culasnya jelas tidak hanya ada pada masa Rasulullah Saw. Kaum ini berada di semua kawasan dan setiap zaman, terutama ketika orang-orang beriman menjadi kelompok mayoritas. Karena itu Allah Swt menurunkan keterangan serta petunjuk, untuk setiap orang yang beriman agar menjaga diri dari sifat buruk tersebut, dan untuk segenap masyarakat agar dapat menjaga anggotanya sehingga tidak bersikap dan berbuat sesuatu yang hanya akan menimbulkan penyesalan mendalam di kemudian hari.
Tentang hal yang terakhir ini Rasulullah Saw bersabda: "Tolonglah saudaramu (seiman), yang aniaya maupun yang dianiaya." Sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah kami tahu bagaimana menolong yang dianiaya. Tetapi bagaimana kami menolong orang yang aniaya?". Beliau menjawab: "Dengan menahan tangannya (dari melakukan perbuatan aniaya itu)."
Al-Quran banyak memberi gambaran tentang kaum Munafiqun; ayat-ayat mengenai mereka terdapat di 27 tempat. Bahkan surah yang ditempatkan dalam urutan ke 63 dinamai Al-Munafiqun. Ayat 1 s/d 8 menerangkan sifat-sifat orang yang culas, dan ayat 9 s/d 11 menyampaikan peringatan bagi kaum Mukminin agar waspada terhadap ulah mereka. Surah 63 ini menerangkan antara lain bahwa Munafiqun itu tidak lebih dari pendusta belaka. Dalam mengemukakan kedustaan itu mereka tidak segan-segan mengucapkan sumpah, dengan menyebut Nama Allah pula, sebagai perisai untuk meyakinkan kaum Mukminin bahwa apa yang mereka katakan itu tidak lain kecuali kebenaran. Allah Swt memperingatkan para pengikut Rasulullah Saw agar jangan tertarik hati ketika melihat tindak tanduk mereka yang penuh gaya, atraktif, dan mengesankan. Mereka hanyalah orang kafir yang mengajak siapapun untuk menjadi kafir seperti dirinya. (QS An-Nisaa’ 4: 89). Mereka termasuk orang-orang fasik, orang-orang yang bergelimang dosa. (QS At-Taubah 9: 67). Maka barangsiapa mengikuti kaum Munafik, akan dimasukkan Allah ke dalam golongan mereka. (Al-Hadits).
Untuk memperjelas sosok kaum Munafiqun tersebut Rasulullah Saw memberikan keterangan: "Tanda-tanda orang Munafik itu tiga. Bila berbicara dusta, bila berjanji mungkir, dan bila dipercaya khianat". (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi). Apapun yang mereka lakukan, bila kaum Mukminin waspada, perbuatan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Ayat 9 QS Al-Baqarah 2 yang kita jadikan pangkal bagi pembicaraan kita menyatakan: "Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar."
Sakib Machmud
No. 189

2 komentar:

  1. Bagus, semoga kita dihindarkan dari sifat munafik. Amin (via-email)

    BalasHapus
  2. Munafik, penyakit ummat Islam yang dalam keseharian kita di jaman moderen ini dapat dilihat antara lain melalui pakaian yang dikenakan para tahanan KPK.

    BalasHapus