Allah Swt berfirman:
وَمِنَ
النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم
بِمُؤْمِنِينَ ﴿٨﴾
يُخَادِعُونَ اللّهَ
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾
“Di antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah dan
Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang
beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal
mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah 2: 8-9).
Ayat-ayat awal surah Al-Baqarah mengemukan tiga
golongan manusia ditinjau dari sikapnya terhadap keterangan dan petunjuk Allah
Swt. Golongan pertama adalah orang yang bertakwa, yaitu yang beriman teguh kepada
Allah dengan memenuhi segala konsekuensinya. Golongan kedua ialah orang kafir,
yang sama sekali tidak percaya kepada Allah sebagai Pencipta, Pemelihara dan
Pengatur segala sesuatu. Ketika Rasulullah Saw menyampaikan keterangan dan
petunjuk dari Allah mengenai kebenaran yang sejati, mereka tidak mau percaya
sedikitpun. Bahkan ketika utusan Allah tersebut telah menyampaikan argumen dan
dalil-dalil yang meopang apa yang beliau sampaikan, mereka tetap menolaknya.
Golongan ketiga adalah orang-orang yang digambarkan pada ayat-ayat yang kita
pampangkan di atas. Mereka disebut sebagai munafiqun - orang-orang yang
culas, yang pura-pura beriman padahal kafir, pura-pura mengikuti Rasul padahal
benci kepada beliau. Mereka bahkan berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk
menghancurkan kredibilitas beliau di mata pendukung dan masyarakat pada umumnya.
Munafiqun berkembang di Madinah sesudah Rasulullah Saw
hijrah ke negeri tersebut. Kita mudah memahami hal itu. Ketika beliau masih
bermukim di Makkah, negeri ini berada di dalam cengkeraman kekuasaan
orang-orang musyrik. Mayoritas penduduk, apalagi para pemimpinnya adalah
penyembah berhala, yang tentu saja tidak menyukai ajaran Rasul yang bersendikan
tauhidullah. Maka orang-orang kafir tidak perlu pura-pura beriman. Mereka
leluasa menyatakan penolakannya kepada agama yang bertentangan dengan keyakinan
banyak orang. Mereka bahkan bebas mengejek dan mencemooh agama itu beserta
orang yang menyampaikannya, Muhammad Saw. Kondisi berbeda terdapat di Yatsrib - kota yang kemudian
berganti namanya menjadi Madinatur Rasul (kotanya Rasul) atau Madinah
al-Munawwarah (kota yang menerangi dunia dengan cahaya Islam).
Sebelum Muhammad Saw hijrahpun, telah banyak orang Madinah
yang masuk Islam, termasuk para pemimpin dari dua suku paling besar, yaitu Aus
dan Khazraj. Ketika datang mengunjungi Ka'bah sebagai kebiasaan ritual bangsa
Arab, mereka bertemu langsung dengan Muhammad dan menerima keterangan tentang
dasar-dasar iman dan ibadah. Mereka sangat tertarik sehingga di tahun
berikutnya secara khusus tetapi diam-diam mereka menyatakan ikrarnya untuk
beriman dan melaksanakan ketetapan-ketetapan Allah Swt. Bahkan mereka bersedia
menerima saudara-saudara seiman dari Makkah sekiranya mereka meninggalkan kota
Makkah yang menghalangi kemerdekaan beribadah itu, untuk menjalani kehidupan
baru yang bebas di Yatsrib. Maka kaum Mukminin yang tertindas di Makkah secara
berangsur-angsur pindah ke Yatsrib. Akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad
Saw pribadi hijrah ke negeri tersebut, kemudian dua suku terbesar yaitu Aus dan
Khazraj menobatkan beliau sebagai pemimpin tertinggi Madinah.
Perubahan tersebut sudah tentu tidak diinginkan oleh sebagian orang Madinah
yang masih menyembah berhala. Mereka ingin sekali agar masyarakat kembali
menganut keyakinan terdahulu, dan menjalani kehidupan yang dalam anggapan mereka ‘penuh warna; bebas menenggak
minuman keras, berjudi dan berzina. Ajaran Muhammad yang pendatang itu - dalam pandangan
mereka - telah menyingkirkan kesenangan-kesenangan yang telah mereka rasakan
sejak dahulu. Orang-orang yang sebelum itu menjadi tokoh yang disegani, yang
selalu menjadi tempat bertanya, dan yang menjadi pemutus semua masalah
masyarakat, kehilangan pengaruh dan kekuasaannya. Arah kepatuhan berpindah,
dari mereka kepada Muhammad.
Tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Kafirin Makkah, para
pembesar Madinah itu tidak berani menentang Muhammad Saw secara terbuka. Maka
merekapun pura-pura beriman, berlagak seperti orang-orang yang rajin menunaikan
shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, tidak mabuk-mabukan, tidak berjudi, dan
sebagainya. QS Al-Baqarah 2: 14 menggambarkan keadaan orang-orang Munafik itu: “Dan bila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:
"Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syeitan-syeitan mereka,
mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami
hanyalah berolok-olok belaka."
Eksistensi kaum culas ini sangat membahayakan kaum
Muslimin. Orang-orang kafir sama pendiriannya dengan mereka, yaitu memusuhi
Islam dan para penganutnya. Tetapi kaum ini menyatakan pendiriannya secara
terang-terangan, sehingga jelas sosok dan keberadaannya. Sedangkan orang-orang
Munafik berada di tengah-tengah kaum beriman. Secara sembunyi-sembunyi mereka
senantiasa berusaha untuk mengembangkan situasi yang kondusif baginya untuk beraksi
menentang Islam. Mereka tidak segan-segan menohok kawan seiring dan menggunting
dalam lipatan. Sejarah mencatat, kaum ini pernah mendirikan sebuah masjid di
luar masjid Nabi, dengan alasan membantu orang-orang yang tinggal jauh dari
pusat kota untuk berjama'ah shalat lima waktu. Padahal mereka membangun masjid
tersebut sebagai base camp dalam melawan Rasulullah, sekaligus membelokkan
hati orang-orang yang beriman, yang shalat dan shaum, agar pendiriannya
berlawanan dengan Rasul beserta para sahabat beliau.
Siasat mereka memang lahir dari pikiran yang cerdik.
Tetapi Allah Swt Yang Maha bijaksana tentu tahu apa yang ada dalam hati mereka.
Maka pada suatu ketika Dia memerintahkan Rasul-Nya untuk menghancurkan masjid
tersebut, yang disebut oleh para ulama sebagai sebagai masjid dzirar - masjid penyesat. Mengenai
hal ini Al-Quran berkomentar keras: "Maka apakah orang-orang yang
mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu
yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang
runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka
Jahanam?" (QS At-Taubah 9: 109).
Pada waktu yang lain, tokoh Munafiqun Madinah yang
bernama Abdullah bin Ubay melancarkan taktik berbeda. Dia ikut dalam pertempuran
yang berlangsung di luar Madinah. Dalam perjalanan pulang dia menghadapkan dua
kelompok Muslimin Madinah yaitu Muhajirin - kaum pendatang dari Makkah, dengan Anshar - penduduk asli
Madinah. Menggunakan sentimen kesukuan, dia mengobarkan perselisihan di antara
keduanya, dan dengan kelicikannya usaha itu hampir berhasil. Tetapi pada saat
yang tepat Rasulullah Saw datang dan menyelesaikan perselisihan tersebut dengan
cepat. Maka ketahuanlah pada saat itu siapa yang mendalangi keonaran. Mungkin
karena mengira pasti berhasil, Abdullah bin Ubay yang biasanya menyembunyikan
identitasnya dan mengipas-ngipas membesarkan api pertengkaran dari kejauhan, sekarang
tampil secara pribadi di muka umum. Karena itu dengan mudah diketahui siapa
yang berulah. Abdullah bin Ubay diputuskan untuk diusir dari Madinah. Dia
berkelana ke mana-mana karena tentu sulit bagi dia pada masa tersebut untuk
mencari tempat tinggal yang baru. Kawasan kaum Muslimin sudah sangat luas, dan
semua orang dengan cepat menjadi tahu apa yang telah dilakukan Abdullah bin
Ubay.
Munafiqun dan sifat culasnya jelas tidak hanya ada
pada masa Rasulullah Saw. Kaum ini berada di semua kawasan dan setiap zaman,
terutama ketika orang-orang beriman menjadi kelompok mayoritas. Karena itu
Allah Swt menurunkan keterangan serta petunjuk, untuk setiap orang yang beriman
agar menjaga diri dari sifat buruk tersebut, dan untuk segenap masyarakat agar
dapat menjaga anggotanya sehingga tidak bersikap dan berbuat sesuatu yang hanya
akan menimbulkan penyesalan mendalam di kemudian hari.
Tentang hal yang terakhir ini Rasulullah Saw bersabda:
"Tolonglah saudaramu (seiman), yang aniaya maupun yang dianiaya." Sahabat
bertanya: "Wahai Rasulullah kami tahu bagaimana menolong yang dianiaya.
Tetapi bagaimana kami menolong orang yang aniaya?". Beliau menjawab:
"Dengan menahan tangannya (dari melakukan perbuatan aniaya itu)."
Al-Qur’an banyak memberi gambaran tentang kaum Munafiqun; ayat-ayat mengenai
mereka terdapat di 27 tempat. Bahkan surah yang ditempatkan dalam urutan ke 63
dinamai Al-Munafiqun. Ayat 1 s/d 8 menerangkan sifat-sifat orang yang culas, dan ayat 9 s/d 11 menyampaikan
peringatan bagi kaum Mukminin agar waspada terhadap ulah mereka. Surah 63 ini menerangkan
antara lain bahwa Munafiqun itu tidak lebih dari pendusta belaka. Dalam
mengemukakan kedustaan itu mereka tidak segan-segan mengucapkan sumpah, dengan
menyebut Nama Allah pula, sebagai perisai untuk meyakinkan kaum Mukminin bahwa
apa yang mereka katakan itu tidak lain kecuali kebenaran. Allah Swt
memperingatkan para pengikut Rasulullah Saw agar jangan tertarik hati ketika
melihat tindak tanduk mereka yang penuh gaya, atraktif, dan mengesankan. Mereka
hanyalah orang kafir yang mengajak siapapun untuk menjadi kafir seperti
dirinya. (QS An-Nisaa’ 4: 89). Mereka termasuk orang-orang fasik, orang-orang yang bergelimang
dosa. (QS At-Taubah 9: 67). Maka barangsiapa mengikuti kaum Munafik, akan dimasukkan Allah ke
dalam golongan mereka. (Al-Hadits).
Untuk memperjelas sosok kaum Munafiqun tersebut
Rasulullah Saw memberikan keterangan: "Tanda-tanda orang Munafik itu
tiga. Bila berbicara dusta, bila berjanji mungkir, dan bila dipercaya
khianat". (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi). Apapun yang mereka lakukan,
bila kaum Mukminin waspada, perbuatan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Ayat 9 QS Al-Baqarah 2 yang kita jadikan pangkal bagi
pembicaraan kita menyatakan: "Mereka hendak menipu Allah dan
orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang
mereka tidak sadar."
Sakib Machmud
No. 189
Bagus, semoga kita dihindarkan dari sifat munafik. Amin (via-email)
BalasHapusMunafik, penyakit ummat Islam yang dalam keseharian kita di jaman moderen ini dapat dilihat antara lain melalui pakaian yang dikenakan para tahanan KPK.
BalasHapus