Matahari
sudah meninggi di langit tepat di atas kepala, menentang seluruh permukaan
bumi. Para petani yang sedang mencangkul di sawah masih bersimbah peluh,
semangat masih terpancar di wajah mereka untuk menyelesaikan pekerjaan menanam
padi. Sesaat terdengar suara adzan dari masjid mengingatkan waktu shalat dhuhur
telah tiba. Petani meletakkan cangkul dan peralatannya, mengayunkan langkah
menuju masjid untuk menghadap Allah Swt.
Seorang pengantar pos
di desa mengendarai sepeda motornya melintasi jalan setapak di antara sawah dan
dusun. Tas terpal berisi surat-surat yang harus diantarkan kepada si alamat
masih banyak belum tersampaikan. Terdengar olehnya suara adzan dari masjid dan
surau di desa itu mengingatkannya bahwa waktu dhuhur telah tiba. Segera diarahkan sepeda motornya menuju surau
terdekat untuk melaksanakan kewajiban menghadap Allah Swt
Sementara itu, dalam
kesibukan di sebuah grosir pasar tradisional para pedagang sayur dan kebutuhan
sehari-hari rumah tangga masih sibuk mengatur barang dagangan dan melayani
pembeli. Suara adzan menghimbau dari masjid pasar yang berada di loteng atas bangunan pasar tersebut.
Pedagang-pedagang berhenti sejenak dan menaruh barang-barang dagangannya dan
melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan shalat. Beberapa pedagang
bergantian meninggalkan lapak karena memang perlu dijaga bergantian.
Pegawai-pegawai suatu
kantor mendengar suara adzan dari radio monitor dan ponselnya, segera menyempatkan
sejenak menghadap Allah Swt menunaikan shalat dhuhur secara bergantian di
musholla yang dibangun di area kawasan kantor tersebut.
Subhanallah,
demikian suasana berlangsung terus menerus dan berkelanjutan di atas bumi ini,
yang tidak henti-hentinya suara adzan menyerukan ummat beriman di muka bumi
untuk menunaikan shalat, menghadap dan mengagungkan Allah Swt.
Shalat Sebagai Sendi Agama
Shalat
diwajibkan Allah kepada setiap orang beriman, karena Allah memerintahkannya
melalui berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Allah Swt berfirman: “Maka apabila
kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu
duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka
dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah
kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS An-Nisaa’
4: 103).
Di
antara hikmah disyariatkannya shalat adalah bagaimana membersihkan dan menyucikan
jiwa, sebagai media bagi hamba untuk bermunajat (menyampaikan bisikan hatinya)
kepada Allah Swt di dunia, dan untuk membuat dirinya dapat berdampingan dengan
Allah di akhirat. Sebagaimana shalat juga merupakan media untuk mencegah
pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu,
yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS
Al-Ankabuut 29: 45).
Keutamaan
shalat juga ditunjukkan Rasulullah sebagaimana dalam hadits Nabi Saw sebagai
berikut: “Pokok segala urusan adalah
Islam. Tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
(HR Muslim)
Tingginya
nilai shalat lima waktu juga tercermin dari keutamaannya, sebagaimana dalam
sebuah dialog Rasulullah Saw dengan para sahabatnya, beliau bertanya: “Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah
sungai di depan pintu seorang di antara kalian,
yang di sana ia dapat mandi lima kali dalam sehari, apa yang akan kalian
katakan? Apakah masih tersisa kotoran di badannya?” Mereka menjawab: “Tidak ada kotoran yang tersisa” Nabi bersabda: “Demikianlah permasalahan shalat lma waktu, dengannya Allah akan
menghapus segala dosa sebagaimana air menghilangkan segala kotoran.” (HR
Imam Ahmad dan Muslim).
Begitu
pentingnya shalat bagi setiap orang beriman, sehingga perintah melaksanakan
shalat diberikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad Saw di tempat yang
lebih atas dari langit ke tujuh. Perintah shalat itu telah diberikan Allah
dalam suatu peristiwa besar sepanjang sejarah ummat manusia, yaitu peristiwa
Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Tentunya hal ini menunjukkan urgensi dan
tingginya nilai shalat, karenanya tidak seorangpun yang boleh menyia-nyiakan
shalatnya.
Isra’ dan Mi’raj
Beberapa waktu yang lalu kita baru saja
memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti berangkat
pada tengah malam, dan Mi’raj artinya
tempat berpijak Nabi Muhammad Saw naik ke atas, untuk bertemu Yang Maha Suci
Allah Swt. Beliau naik ke atas melalui tujuh lapisan langit, karena beliau
dipanggil untuk menghadap Allah Swt.
“Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al
Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Israa’ 17: 1)
Malam
itu tanggal 27 Rajab, Allah Swt memerintahkan malaikat Jibril yang mengurus
langit, agar bulan bersinar lebih terang dari biasanya, dengan cara matahari
memberikan sinar yang lebih dan menyinari bulannya. Agar malam menjadi terang
benderang yang menandakan bahwa malam itu adalah malam yang penting dan
diistimewakan oleh Allah Swt. Malaikat Jibril telah diperintahkan oleh Allah
untuk menjemput Nabi Muhammad Saw melalui tujuh lapisan langit untuk dihadapkan
ke hadapan Allah Swt.
Malam
itu Nabi Muhammad Saw sedang tidur nyenyak, ketika bertemu dengan malaikat Jibril
dengan membawa seekor Buraq, binatang yang konon menyerupai kuda tapi
kepala dan mukanya menyerupai manusia, bisu dan tidak bisa berbicara. Beliau
diajak terbang dengan mengendarai buraq. Dengan berkendaraan buraq itu beliau
terbang sangat cepat, dan hanya dalam waktu sekejap Masjidil Haram di kota
Mekah sudah tidak tampak lagi, dan tidak lama kemudian tiba di Masjidil Aqsha
di Jerusalem.
Setelah
Nabi Muhammad Saw turun dari Buraq, tidak lama kemudian datang seorang
laki-laki dengan membawa dua macam minuman dalam dua buah tempat, yang satu
berisi air susu dan yang lainnya berisi anggur, dan beliau diminta memilih diantara
dua. Nabi Muhammad Saw pun mengambil tempat yang berisi air susu dan kemudian
meminumnya. Malaikat Jibril yang selama ini mendampingi beliau, membenarkan apa
yang dilakukan Nabi memilih air susu. “Kalau
engkau ya Nabi salah pilih, yaitu memilih anggur, tentu ummatmu juga akan salah
pilih”. kata Jibril menjelaskan.
Kemudian
Nabi berangkat dari Baitul Maqdis
melewati sebuah tempat di mana terdapat batu karang Sakhra, yaitu suatu tempat berdoa yang dimuliakan oleh orang-orang
beriman. Tempat ini sekarang berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid
Umar.
Selanjutnya,
oleh malaikat Jibril Nabi Muhammad Saw didampingi menaiki tangga Mi’raj untuk
menghadap Allah Swt. Tujuh langit, sudah dilewati, maka sampailah Nabi pada
suatu tempat. Di sana Nabi Muhammad Saw bertemu dengan para Nabi terdahulu;
yaitu Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, dan Nabi Isa As di Surga, yang digambarkan
sebagai tempat dengan kebun yang indah,
pohon-pohon yang teduh, dan menyebarkan wewangian. Beliau juga melihat api yang
sangat besar, inilah yang disebut neraka tempat bagi orang-orang yang berdosa
dan membelakangi Allah Swt.
Setelah melewati
langit ketujuh, kemudian terdengan suara ucapan kalam Lauh al Mahfudz, yang di dalamnya dituliskan skenario seluruh
perjalanan manusia dari awal sampai akhir hidupnya. Lauh al Mahfudz adalah suatu tempat di Bait al-Ma`mur, berada langsung di bawah Arasy, di langit ketujuh, di mana Allah memerintahkan untuk menuliskan
‘semua yang bakal ada dan terjadi’, yaitu tentang segala sesuatu dan seluruh
apa yang diciptakan-Nya sampai pada hari pembalasan. Jadi semua yang akan ada
tertulis di Lauh al-Mahfudz, apapun sesuatu yang terjadi, atau
akan ada, kecil atau besar, dituliskan di sana, dikualifikasi dan
dicacah dengan pasti dengan disertai rincian kapan dan di mana akan ada dan kapan
akan dihancurkan. Tidak akan ada perubahan terhadap apa yang telah tertulis,
kecuali jika Allah menghendaki, yang memiliki kekuatan untuk menghapus.
Pada waktu itu para
malaikat beramai-ramai mengeluarkan pujian-pujian dan shalawat bagi Nabi Muhammad yang baru datang. Nabi yang dikasihi
Allah Swt, mendapat rahmat dari Allah Swt untuk dapat bertemu dengan Allah Swt.
Akhirnya Nabi sampai dan melihat Sidrat’ul
Muntaha, suatu pohon yang besar, tempat yang tertinggi dicapai oleh Rasul.
Kemudian malaikat Jibril berkata kepada
Rasulullah Swt: “Sekarang kita berpisah.
Di sini batas saya mengantarmu, Ya Nabi. Ini batas apa yang harus diketahui,
apa yang harus dijalani, sedangkan engkau adalah raja dari segala Rasul yang
dikasihi Allah Swt, silahkan meneruskan perjalanan sampai selesaikan apa yang engkau
harus capai.”
Nabi Muhammad
Saw berjalan sendirian menempuh berbagai alam gaib menuju tempat Allah Swt.
Tempat yang tidak akan dapat dipikirkan dan tidak akan terkejar oleh akal, dan
mata lahiriyah pun tidak akan sampai mencapainya.
Allah memerintahkan
agar Nabi Muhammad Saw mendekati Kursi Jibril,
suatu tempat yang sangat tinggi sebagaimana
dalam ayat: “Sedang dia (Jibril) berada di
kaki langit yang tinggi. Lalu (Jibril) mendekat (kepadaRasul), lalu semakin
tambah dekat. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur
panah atau lebih dekat (lagi).” (QS An-Najm
53: 7-9)
Kemudian
Allah Swt Yang Maha Agung membuka Basirah
Muhammad, yaitu batinnya yang melihat. Maha Agung, Maha Suci mengasihi Nabi
Muhammad Saw, memberikan nasihat-nasihat untuk tidak pernah melupakan kepada
Allah.
Perintah
dari Allah Swt yang harus dilaksanakan
berupa shalat sebanyak lima puluh kali sehari semalam sebagai wujud rasa syukur
dan sujud kepada Allah Swt.
Selesai
mengadap Allah, Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Musa As, dan beliau
bertanya: “Muhammad Nabi yang Utama, apa yang Allah perintakan perkara bakti
kepada Allah Swt?”. Nabi Muhammad Saw menjawab: “Perintah untuk shalat 50 kali
sehari semalam bagi semua orang mukmin.” “Hai, Nabi yang paling diutamakan.”
Kata Nabi Musa As, “Sebaiknya kamu, Muhammad kembali menghadap kepada Allah
Swt. Kamu harus memberitahukan bahwa shalat 50 kali sehari semalam sangat
memberatkan dan tidak ada tenaga lagi, apalagi bagi mereka yang baru masuk
Islam, sehingga dapat menimbulkan keenganan.”
Rasulullah
tidak merasa bosan untuk bolak-balik menyampaikan permohonan keringanan.
Akhirnya Allah Swt mengabulkan permohnan beliau, yaitu shalat yang paling
ringan yaitu 5 waktu. Jadi perintah
shalat yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam, untuk menyatakan rasa
syukur dan tunduk kepada Allah Swt namun dengan pahala yang tidak berkurang.
Allah Swt berfirman: ▪ “Allah
hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An-Nisaa’ 4: 28). ▪ “Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki
kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaahaa
20: 132).
Hikmah Peristiwa Isra’ Dan Mi’raj
Bagi
kita ummat di zaman ini, kiranya dapat memetik banyak hikmah dari peristiwa
besar Isra’ dan Mi’raj ini, di antaranya;
- Tingginya nilai shalat lima waktu. Hikmah dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terpenting adalah diwajibkannya shalat lima waktu, melalui perintah Allah yang disampaikan secara langsung di tempat yang lebih tinggi dari langit ke tujuh.
- Melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah meneguhkan hati Rasul-Nya, apalagi dalam peristiwa itu banyak ditunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Hikmah bagi kita terutama bagi orang-orang yang berdakwah di jalan Allah, dapat meneguhkan iman dan menambah percaya dan kita meyakini bahwa pertolongan Allah itu benar ada, karena Allah adalah Maha Kuasa atas segala apapun. Dia menolong Rasul-Nya dan akan menolong orang-orang yang berjuang untuk agamanya.
- Isra’ dan Mi’raj menjadi ujian keimanan bagi setiap mukmin. Peristiwa ini sungguh tidak dapat dicerna akal manusia, bagaimana mungkin seseorang dapat berpergian secepat kilat menuju tempat yang amat jauh, bahkan sampai di atas langit ke tujuh, ditempuh hanya dalam satu malam? Hanya orang yang beriman dapat menerimanya karena percaya atas kebesaran dan kekuasan Allah Swt. Hal tersebut dicontohkan oleh sahabat Nabi yaitu Abu Bakar Shiddiq yang langsung membenarkan Rasulullah, ketika banyak orang yang meragukan ikhwal perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw.
Demikianlah,
sekelumit riwayat mengingatkan kita akan peritiwa besar Isra’ dan Mi’raj, khususnya
bagi ummat Islam, sekaligus memberikan hikmah dan menambah keimanan kita.
Amien.
Mohammad
Kamal
No. 188
Baguz ustadz.
BalasHapus