Sabtu, 15 Juni 2013

KETIKA SHALAT DITETAPKAN MENJADI SENDI AGAMA


Matahari sudah meninggi di langit tepat di atas kepala, menentang seluruh permukaan bumi. Para petani yang sedang mencangkul di sawah masih bersimbah peluh, semangat masih terpancar di wajah mereka untuk menyelesaikan pekerjaan menanam padi. Sesaat terdengar suara adzan dari masjid mengingatkan waktu shalat dhuhur telah tiba. Petani meletakkan cangkul dan peralatannya, mengayunkan langkah menuju masjid untuk menghadap Allah Swt.
Seorang pengantar pos di desa mengendarai sepeda motornya melintasi jalan setapak di antara sawah dan dusun. Tas terpal berisi surat-surat yang harus diantarkan kepada si alamat masih banyak belum tersampaikan. Terdengar olehnya suara adzan dari masjid dan surau di desa itu mengingatkannya bahwa waktu dhuhur telah tiba. Segera  diarahkan sepeda motornya menuju surau terdekat untuk melaksanakan kewajiban menghadap Allah Swt 
Sementara itu, dalam kesibukan di sebuah grosir pasar tradisional para pedagang sayur dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga masih sibuk mengatur barang dagangan dan melayani pembeli. Suara adzan menghimbau dari masjid pasar yang berada  di loteng atas bangunan pasar tersebut. Pedagang-pedagang berhenti sejenak dan menaruh barang-barang dagangannya dan melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan shalat. Beberapa pedagang bergantian meninggalkan lapak karena memang perlu dijaga bergantian.
Pegawai-pegawai suatu kantor mendengar suara adzan dari radio monitor dan ponselnya, segera menyempatkan sejenak menghadap Allah Swt menunaikan shalat dhuhur secara bergantian di musholla yang dibangun di area kawasan kantor tersebut.
Subhanallah, demikian suasana berlangsung terus menerus dan berkelanjutan di atas bumi ini, yang tidak henti-hentinya suara adzan menyerukan ummat beriman di muka bumi untuk menunaikan shalat, menghadap dan mengagungkan Allah Swt.
Shalat Sebagai Sendi Agama
Shalat diwajibkan Allah kepada setiap orang beriman, karena Allah memerintahkannya melalui berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Allah Swt berfirman: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS An-Nisaa’ 4: 103).
Di antara hikmah disyariatkannya shalat adalah bagaimana membersihkan dan menyucikan jiwa, sebagai media bagi hamba untuk bermunajat (menyampaikan bisikan hatinya) kepada Allah Swt di dunia, dan untuk membuat dirinya dapat berdampingan dengan Allah di akhirat. Sebagaimana shalat juga merupakan media untuk mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabuut 29: 45).
Keutamaan shalat juga ditunjukkan Rasulullah sebagaimana dalam hadits Nabi Saw sebagai berikut: “Pokok segala urusan adalah Islam. Tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah. (HR Muslim)
Tingginya nilai shalat lima waktu juga tercermin dari keutamaannya, sebagaimana dalam sebuah dialog Rasulullah Saw dengan para sahabatnya, beliau bertanya: “Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah sungai di depan pintu seorang di antara kalian,  yang di sana ia dapat mandi lima kali dalam sehari, apa yang akan kalian katakan? Apakah masih tersisa kotoran di badannya?” Mereka menjawab: “Tidak ada kotoran yang tersisa”  Nabi bersabda: “Demikianlah permasalahan shalat lma waktu, dengannya Allah akan menghapus segala dosa sebagaimana air menghilangkan segala kotoran.” (HR Imam Ahmad dan Muslim). 
Begitu pentingnya shalat bagi setiap orang beriman, sehingga perintah melaksanakan shalat diberikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad Saw di tempat yang lebih atas dari langit ke tujuh. Perintah shalat itu telah diberikan Allah dalam suatu peristiwa besar sepanjang sejarah ummat manusia, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Tentunya hal ini menunjukkan urgensi dan tingginya nilai shalat, karenanya tidak seorangpun yang boleh menyia-nyiakan shalatnya.
Isra’ dan Mi’raj
Beberapa waktu yang lalu kita baru saja memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti berangkat pada tengah malam, dan Mi’raj artinya tempat berpijak Nabi Muhammad Saw naik ke atas, untuk bertemu Yang Maha Suci Allah Swt. Beliau naik ke atas melalui tujuh lapisan langit, karena beliau dipanggil untuk menghadap Allah Swt.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Israa’ 17: 1)  
Malam itu tanggal 27 Rajab, Allah Swt memerintahkan malaikat Jibril yang mengurus langit, agar bulan bersinar lebih terang dari biasanya, dengan cara matahari memberikan sinar yang lebih dan menyinari bulannya. Agar malam menjadi terang benderang yang menandakan bahwa malam itu adalah malam yang penting dan diistimewakan oleh Allah Swt. Malaikat Jibril telah diperintahkan oleh Allah untuk menjemput Nabi Muhammad Saw melalui tujuh lapisan langit untuk dihadapkan ke hadapan Allah Swt.
Malam itu Nabi Muhammad Saw sedang tidur nyenyak, ketika bertemu dengan malaikat Jibril dengan membawa seekor Buraq, binatang yang konon menyerupai kuda tapi kepala dan mukanya menyerupai manusia, bisu dan tidak bisa berbicara. Beliau diajak terbang dengan mengendarai buraq. Dengan berkendaraan buraq itu beliau terbang sangat cepat, dan hanya dalam waktu sekejap Masjidil Haram di kota Mekah sudah tidak tampak lagi, dan tidak lama kemudian tiba di Masjidil Aqsha di Jerusalem.
Setelah Nabi Muhammad Saw turun dari Buraq, tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dengan membawa dua macam minuman dalam dua buah tempat, yang satu berisi air susu dan yang lainnya berisi anggur, dan beliau diminta memilih diantara dua. Nabi Muhammad Saw pun mengambil tempat yang berisi air susu dan kemudian meminumnya. Malaikat Jibril yang selama ini mendampingi beliau, membenarkan apa yang dilakukan Nabi memilih air susu. “Kalau engkau ya Nabi salah pilih, yaitu memilih anggur, tentu ummatmu juga akan salah pilih”. kata Jibril menjelaskan.
Kemudian Nabi berangkat dari Baitul Maqdis melewati sebuah tempat di mana terdapat batu karang Sakhra, yaitu suatu tempat berdoa yang dimuliakan oleh orang-orang beriman. Tempat ini sekarang berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Umar.
Selanjutnya, oleh malaikat Jibril Nabi Muhammad Saw didampingi menaiki tangga Mi’raj untuk menghadap Allah Swt. Tujuh langit, sudah dilewati, maka sampailah Nabi pada suatu tempat. Di sana Nabi Muhammad Saw bertemu dengan para Nabi terdahulu; yaitu Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, dan Nabi Isa As di Surga, yang digambarkan sebagai tempat  dengan kebun yang indah, pohon-pohon yang teduh, dan menyebarkan wewangian. Beliau juga melihat api yang sangat besar, inilah yang disebut neraka tempat bagi orang-orang yang berdosa dan membelakangi Allah Swt.
Setelah melewati langit ketujuh, kemudian terdengan suara ucapan kalam Lauh al Mahfudz, yang di dalamnya dituliskan skenario seluruh perjalanan manusia dari awal sampai akhir hidupnya. Lauh al Mahfudz adalah suatu tempat di Bait al-Ma`mur, berada langsung di bawah Arasy, di langit ketujuh, di mana Allah memerintahkan untuk menuliskan ‘semua yang bakal ada dan terjadi’, yaitu tentang segala sesuatu dan seluruh apa yang diciptakan-Nya sampai pada hari pembalasan. Jadi semua yang akan ada tertulis  di Lauh al-Mahfudz, apapun sesuatu yang  terjadi, atau  akan ada, kecil atau besar, dituliskan di sana, dikualifikasi dan dicacah dengan pasti  dengan disertai  rincian kapan dan di mana akan ada dan kapan akan dihancurkan. Tidak akan ada perubahan terhadap apa yang telah tertulis, kecuali jika Allah menghendaki, yang memiliki kekuatan untuk menghapus.
Pada waktu itu para malaikat beramai-ramai mengeluarkan pujian-pujian dan shalawat bagi Nabi Muhammad yang baru datang. Nabi yang dikasihi Allah Swt, mendapat rahmat dari Allah Swt untuk dapat bertemu dengan Allah Swt. Akhirnya Nabi sampai dan melihat Sidrat’ul Muntaha, suatu pohon yang besar, tempat yang tertinggi dicapai oleh Rasul. Kemudian malaikat Jibril berkata  kepada Rasulullah Swt: “Sekarang kita berpisah. Di sini batas saya mengantarmu, Ya Nabi. Ini batas apa yang harus diketahui, apa yang harus dijalani, sedangkan engkau adalah raja dari segala Rasul yang dikasihi Allah Swt, silahkan meneruskan perjalanan sampai selesaikan apa yang engkau harus capai.
Nabi Muhammad Saw berjalan sendirian menempuh berbagai alam gaib menuju tempat Allah Swt. Tempat yang tidak akan dapat dipikirkan dan tidak akan terkejar oleh akal, dan mata lahiriyah pun tidak akan sampai mencapainya.
Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad Saw mendekati Kursi Jibril, suatu tempat yang sangat tinggi sebagaimana dalam ayat: “Sedang dia (Jibril) berada di kaki langit yang tinggi. Lalu (Jibril) mendekat (kepadaRasul), lalu semakin tambah dekat. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS An-Najm  53: 7-9)
Kemudian Allah Swt Yang Maha Agung membuka Basirah Muhammad, yaitu batinnya yang melihat. Maha Agung, Maha Suci mengasihi Nabi Muhammad Saw, memberikan nasihat-nasihat untuk tidak pernah melupakan kepada Allah.
Perintah dari Allah Swt yang harus  dilaksanakan berupa shalat sebanyak lima puluh kali sehari semalam sebagai wujud rasa syukur dan sujud kepada Allah Swt.
Selesai mengadap Allah, Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Musa As, dan beliau bertanya: “Muhammad Nabi yang Utama, apa yang Allah perintakan perkara bakti kepada Allah Swt?”. Nabi Muhammad Saw menjawab: “Perintah untuk shalat 50 kali sehari semalam bagi semua orang mukmin.” “Hai, Nabi yang paling diutamakan.” Kata Nabi Musa As, “Sebaiknya kamu, Muhammad kembali menghadap kepada Allah Swt. Kamu harus memberitahukan bahwa shalat 50 kali sehari semalam sangat memberatkan dan tidak ada tenaga lagi, apalagi bagi mereka yang baru masuk Islam, sehingga dapat menimbulkan keenganan.”
Rasulullah tidak merasa bosan untuk bolak-balik menyampaikan permohonan keringanan. Akhirnya Allah Swt mengabulkan permohnan beliau, yaitu shalat yang paling ringan yaitu 5  waktu. Jadi perintah shalat yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam, untuk menyatakan rasa syukur dan tunduk kepada Allah Swt namun dengan pahala yang tidak berkurang. Allah Swt berfirman: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An-Nisaa’ 4: 28). ▪ “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”  (QS Thaahaa  20: 132).
Hikmah Peristiwa Isra’ Dan Mi’raj
Bagi kita ummat di zaman ini, kiranya dapat memetik banyak hikmah dari peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj ini, di antaranya;
  1. Tingginya nilai shalat lima waktu. Hikmah dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terpenting adalah diwajibkannya shalat lima waktu, melalui perintah Allah yang disampaikan secara langsung di tempat yang lebih tinggi dari langit ke tujuh.
  2. Melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah meneguhkan hati Rasul-Nya, apalagi dalam peristiwa itu banyak ditunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Hikmah bagi kita terutama bagi orang-orang yang berdakwah di jalan Allah, dapat meneguhkan iman dan menambah percaya dan kita meyakini bahwa pertolongan Allah itu benar ada, karena Allah adalah Maha Kuasa atas segala apapun. Dia menolong Rasul-Nya dan akan menolong orang-orang yang berjuang untuk agamanya.
  3. Isra’ dan Mi’raj menjadi ujian keimanan bagi setiap mukmin.  Peristiwa ini sungguh tidak dapat dicerna akal manusia, bagaimana mungkin seseorang dapat berpergian secepat kilat menuju tempat yang amat jauh, bahkan sampai di atas langit ke tujuh, ditempuh hanya dalam satu malam? Hanya orang yang beriman dapat menerimanya karena percaya atas kebesaran dan kekuasan Allah Swt. Hal tersebut dicontohkan oleh sahabat Nabi yaitu Abu Bakar Shiddiq yang langsung membenarkan Rasulullah, ketika banyak orang yang meragukan ikhwal perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw.
Demikianlah, sekelumit riwayat mengingatkan kita akan peritiwa besar Isra’ dan Mi’raj, khususnya bagi ummat Islam, sekaligus memberikan hikmah dan menambah keimanan kita. Amien.
Mohammad Kamal
No. 188

1 komentar: