Rabu, 05 Mei 2010

75. SABAR, PASANGAN SERASI BAGI SYUKUR

Ketika membahas pengertian takwa, kita telah menyimpulkan bahwa takwa merupakan pangkal dari segala akhlak yang baik (akhlaqul karimah). Kita dapat menggambarkan takwa sebagai sebuah berlian multi facet; masing-masing memancarkan kilau yang indah, baik dalam pandangan mutlak Allah SWT maupun dalam penglihatan nisbi manusia. Salah satu facet tersebut telah kita bicarakan yaitu sikap syukur kepada Allah. Facet lain yang sama indahnya dan karena itu perlu kita bahas adalah sabar.

Seperti halnya syukur, Al Qur’an banyak menyebut perkataan sabar. Di dalam kitab Mu’jam al Fahrasy lil fadzil Qur’anil Karim (Kamus Al Qur’an berdasarkan lafaznya) kita menemukan 97 perkataan sabar dalam berbagai derivasinya. Tidak seperti yang disalah-pahami sebagian orang, yaitu bahwa sabar adalah sikap menerima keadaan yang dialami tanpa daya dan tanpa upaya, Al Qur’an mengemukakan sabar sebagai istilah dengan spektrum makna yang sangat luas. Maka setelah mempelajari keterangan yang dinyatakan dalam Al Qur’an beserta penjabarannya dalam Al Hadits, Imam Al Ghazali (1058-1111 M) menggariskan devinisi sabar sebagai: “Kondisi mental yang tumbuh atas dorongan agama, di dalam mengendalikan nafsu.“ Sebagai ‘kondisi mental’, sabar merupakan pasangan syukur. Bila menghadapi keadaan yang menyenangkan orang seyogyanya bersyukur, maka ketika datang kepadanya keadaan yang tidak dikehendaki dia bersabar.

Rasulullah SAW bersabda: “Sabar adalah sebagian dari iman” [HR Abu Nu’aim]. Sedangkan iman merupakan kekuatan di dalam hati manusia untuk mengendalikan nafsu. Maka karena derajat iman setiap orang itu berbeda-beda, kemampuan mengendalikan nafsu berbeda-beda pula.

Ada orang-orang yang imannya lemah; maka mereka membiarkan saja nafsunya dikuasai syeitan dan karena itu berkembang melewati takaran dan mengabaikan rambu-rambu agama. Nafsu yang demikian disebut an nafsul ammaraat bis suu’i – nafsu yang selalu mendorong kepada keburukan [QS Yusuf (12): 53].

Segolongan orang yang lain kadang-kadang mampu menguasai nafsunya tetapi kadang kala menyerah kepada syeitan, kemudian dia menyesal dan berusaha memperbaiki diri. Nafsu seperti itu disebut an nafsul lawwaamah – nafsu yang menyesali dirinya. [QS Al Qiyamah (75): 2].

Sekelompok kecil orang mampu mengalahkan syeitan sehingga sepenuhnya mengendalikan nafsu. Nafsu terkendali tersebut dinamai an nafsul mutma’innah [QS Al Fajr (89): 27]. Termasuk golongan ini adalah Rasulullah SAW pribadi; beliau menyatakan dapat menaklukkan syeitan karena pertolongan Allah SWT. [HR Muslim].

Dari uraian di atas kita memahami bahwa kemampuan manusia dalam bersabar itu bertingkat-tingkat. Rasulullah SAW membagi tingkat kesabaran manusia itu ke dalam tiga golongan. Tingkat pertama adalah orang yang sabar ketika mengalami musibah, tingkat kedua orang yang sabar di dalam melaksanakan perintah Allah, dan tingkat ketiga orang yang sabar sehingga tidak melakukan perbuatan ma’shiyat. [HR Ibnu ‘Abid Dunya]. Kesabaran pada tingkat tertinggi ini mengantar orang untuk memperoleh pahala dua kali lipat [QS Al Qashash (28): 54], bahkan pahala yang tidak berbatas. [QS Az Zumar (39): 10].

Seorang ulama sufi terkemuka yang lahir di Palembang tetapi bermukim di Makkah yaitu Abdus Samad Al Jawi Al Palimbani (1704-1788 M), menerangkan tingkat orang yang sabar itu dari tinjauan tasauf. Menurut beliau tingkat yang paling rendah adalah kesabaran orang awam yaitu menanggung kesusahan dan menahan kesakitan dalam menerima hukuman Allah SWT. Tingkat di atasnya adalah kesabaran orang yang menjalani tarekat; mereka terbiasa dengan sikap sabarnya itu. Sedangkan tingkat ketiga dan yang tertinggi menurut Al Palimbani adalah kesabaran orang arif (bijaksana); mereka merasa nikmat dengan penderitaan yang dijalaninya dan rela terhadap apapun yang ditetapkan Allah SWT baginya.

Namun ada pula sebagian ulama yang meninjau kesabaran berdasarkan jenisnya, tanpa memperhatikan tingkatannya. Mereka menyatakan adanya lima jenis sabar.

>> Pertama mereka sebut as shabru ‘indal musibah – sabar ketika ditimpa musibah, yaitu teguh hati ketika menerima keadaan yang tidak dikehendaki, apapun wujud keadaan itu. Al Qur’an menerangkan bahwa Allah memberi cobaan kepada manusia dengan menghadapkan mereka kepada bahaya yang menakutkan, atau kemiskinan yang menyebabkan kelaparan, atau ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintai dan yang menjadi penanggung kehidupannya, atau datangnya paceklik. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menggembirakan orang-orang yang sabar, yaitu yang ketika musibah datang mereka berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun “Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.” [QS Al Baqarah (2): 155-156].

Pernyataan tadi bukan sekedar sebuah ritus, tetapi muncul dari hati yang sadar bahwa setiap keadaan terjadi atas kehendak Allah, dan orang yang menerima kondisi itu dengan rela hati pasti akan memperoleh balasan Allah yang sangat baik. Sikap orang-orang sabar itu berlawanan dengan kaum munafik, yang ketika mendapat kegembiraan bersuka ria tetapi tatkala datang musibah segera mencari kambing hitam untuk dipersalahkan, bahkan menyalahkan Rasul Allah. [QS An Nisaa’ (4): 78].

>> Jenis sabar yang kedua adalah as sabru ‘anid dunya – sabar terhadap daya tarik kesenangan duniawi. Orang yang sabar mengetahui bahwa di dunia tersedia berbagai sarana untuk memenuhi keinginannya, antara lain insan lawan jenis, anak keturunan, harta yang beraneka rupa, sarana transportasi, berbagai jenis flora yang indah dipandang dan bermanfaat, aneka macam fauna untuk dinikmati dagingnya maupun kecantikannya. Tetapi dia tidak menggantungkan diri kepada kesenangan yang demikian, karena sangat mendambakan anugerah Allah di akhirat, yang merupakan kenikmatan hakiki dan abadi. [QS Ali ‘Imran (3):14].

Orang yang sabar sadar benar bahwa apabila dia wafat dengan meninggalkan anak keturunannya dalam keadaan kaya raya, itu lebih baik dari pada meninggalkan mereka dalam kondisi miskin dan menjadi tanggungan masyarakat. Tetapi dia tidak mau memanjakan anak-anaknya dengan limpahan kesenangan materi, karena hal itu hanya akan menjerumuskan mereka menjadi pemboros, sedangkan pemboros adalah saudara syeitan [QS Al Israa’ (17): 27]. Orang yang sabar akan memberi nafkah kepada anggota keluarganya, seimbang dengan pemberian sedekah kepada kaum miskin dan orang-orang lain yang membutuhkan. [QS Al Israa’ (17): 26].

>> Jenis sabar yang ketiga adalah as shabru ‘anil ma’shiyat – sabar di dalam menjauhi berbagai perbuatan maksiat. Orang yang sabar tentang hal ini, selalu waspada terhadap bujuk rayu syeitan, karena tahu bahwa makhluk penggoda itu pasti datang kepadanya, tatkala sendirian maupun berada di tengah orang banyak, ketika sedang senang maupun susah, kaya maupun miskin; syeitan datang kepadanya di segala waktu dan dalam segala keadaan. Mereka memberi janji-janji palsu dan membangkitkan angan-angan kosong; padahal yang mereka katakan itu hanyalah tipuan belaka. [QS An Nisaa’ (4): 120]. Meskipun syeitan tidak bosan membujuk, tetapi orang yang sabar, karena senantiasa waspada, tidak mudah tertipu. Dia tahu benar bahwa syeitan adalah musuh setiap orang, karena itu harus diperlakukan sebagai musuh. [QS Fathiir (35): 6].

>> Jenis sabar yang keempat disebut para ulama sebagai as shabru fil ‘ibadah – sabar dalam mengerjakan ibadah, baik ibadah mahdhoh (ritual) maupun mu’amalah (melakukan interaksi sosial yang baik yang diniatkan untuk menunaikan perintah Allah). Imam Al Ghazali menyatakan bahwa orang yang sabar adalah yang melakukan ibadah dengan benar sejak hendak melakukan ibadah, ketika ibadah berlangsung, dan sesudah ibadah ditunaikan. Sebelum melaksanakan ibadah orang memantapkan niat dengan benar, sesuai dengan ikrar seorang mukmin: “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamin” – “Sesungguhnya shalatku, amal ibadahku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah Tuhan Pembina seluruh alam.“ [QS Al An’aam (6): 162]. Ketika ibadah berlangsung orang melaksanakannya dengan konsentrasi penuh sehingga dapat memenuhi tatacara ibadah tersebut sesuai dengan ilmu yang dipahaminya. Sesudah ibadah dia menghindarkan diri dari sikap riya – senang dipuji oleh sesama manusia.

>> Jenis sabar yang kelima adalah as shabru fil jihad – sabar dalam berjuang di jalan Allah. Jihad atau perjuangan seorang mukmin itu mencakup segala bidang, yaitu jihad dalam berdakwah, mendidik dan mengajarkan ilmu, mengembangkan kemampuan ekonomi umat, melaksanakan tata pemerintahan yang adil, dan sebagainya. Ciri jihad adalah kesungguhan dan pengorbanan. Maka orang yang jihad dalam hal ini adalah yang melaksanakan tugas yang diamanatkan Allah dan yang dipercayakan masyarakat kepadanya dengan sungguh-sungguh, dan tidak menjadikan imbalan dunia sebagai dasar amalnya. Allah berfiman tentang hal ini: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Dia (Allah) telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak tidak menjadikan untuk kamu di dalam agama, suatu kesempitan.” [QS Al Hajj (22): 78]. Termasuk jihad ialah berperang untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebathilan dalam masyarakat. Maka berperang yang termasuk jihad fi sabilillah adalah yang dilakukan lillahi ta’ala, tidak karena hendak mencari keuntungan dunia ataupun untuk melampiaskan kemarahan dan kejengkelan.

Kepada orang-orang yang sabar di medan tempur, Allah SWT berjanji untuk memberinya petunjuk, yang akan memudahkan mereka ke luar dari kesulitan; bahkan Dia menyertai orang yang jihad tersebut [QS Al ‘Ankabuut (29): 69]. Di dalam kondisi demikian, apabila ada duapuluh orang mukmin yang sabar, mereka akan dapat mengalahkan duaratus orang musuh, dan bila ada seratus perajurit mukminin yang sabar, mereka akan mampu mengalahkan seribu orang pasukan kafirin. Kemenangan yang gilang gemilang itu akan diperioleh orang-orang yang beriman karena mereka mengerti tujuan pertempurannya sedangkan kaum kafir tidak memahami untuk apa mereka berperang, selain dari kejayaan semu dan kesenangan yang sebentar belaka. [QS Al Anfaal (8): 65].

Uraian di atas mengantarkan kita kepada pemahaman, bahwa sabar adalah kondisi mental yang siap sedia menghadapi keadaan apapun, dengan hati yang tulus dan ridha, serta dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk memperoleh yang terbaik. Allah SWT ridha kepada orang-orang yang sabar; maka Dia menganugerahi mereka pahala-Nya yang agung. Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan ‘mereka’ itu. [Sakib Machmud]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar