Kedudukan harta sangatlah tinggi di hati manusia. Harta menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi manusia, sehingga mereka menjadi sangat bakhil. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” [QS Al Aadiyaat (100): 6-8].
Semua orang tahu kegunaan harta, karenanya mereka berlomba mencari harta sampai lalai memperhatikan perintah dan larangan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini telah dijelaskan Rasulullah SAW: “Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) orang tidak lagi peduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram.” [HR Bukhari].
Demikianlah realita di masyarakat. Masalah harta dan rezeki ini telah mendapatkan perhatian besar dalam Al Qur`an. Para ulama mencatat, kata ‘harta’ (al maal) dengan kata turunannya diulang sebanyak 86 kali, dan kata ‘rezeki’ (ar rizki) dengan kata turunannya diulang sebanyak 123 kali. Allah SWT tidak mengulang-ulang satu kata kecuali demikian besar urgensinya kepada makhluknya. Hal ini juga kita temukan dalam QS Ar Rahman (55) di mana kalimat فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان – “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, diulang sampai 31 kali dari seluruh 78 ayat-ayatnya.
Sehingga sudah selayaknya kaum Muslimin mengenal dan mengerti bagaimana konsep Islam terhadap harta dan sikap yang tepat menjadikan harta sebagai nikmat yang membawa kepada kebahagian dunia dan akhirat. Paling tidak mengetahui harta adalah cobaan yang Allah ujikan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat bersyukur dan tegak pada hujjah dan penjelasan yang terang. Semua itu agar orang hidup dengan harta berdasarkan ilmu, dan dapat bersabar bila tidak ia memiliki harta.
Allah SWT menciptakan manusia dan memberinya kesukaan kepada nafsu akan harta, sebagaimana firman-Nya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS Ali Imraan (3): 14].
Rasulullah SAW menggambarkan besarnya kecintaan manusia kepada harta: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah SWT memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat.” [HR Bukhari dan Muslim]. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa harta adalah cobaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagaimana firman-Nya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” [QS Al Anfaal (8): 28].
Bahkan harta itu telah menjadi cobaan besar bagi ummat Islam yang merusak dan meluluh lantakkan persendian mereka, sehingga mereka terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan ummat lain. Akal dan hati mereka terkendalikan oleh harta sehingga lambat laun lemahlah kondisi mereka. Tentang bahaya cobaan harta ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap ummat mendapatkan cobaan, dan cobaan ummat ini adalah harta.” [HR Timidzi].
Harta adalah salah satu nafsu terbesar yang dimiliki manusia, namun juga menjadi salah satu sebab mendekatkan diri kepada Allah. Harta menjadi tiang kehidupan seseorang. Ketika ia berusaha mendapatkan harta yang halal untuk membeli rumah, menikah dan memiliki anak yang shalih serta berbahagia dengan keluarga dan hartanya, maka hal itulah amalan yang disyariatkan Islam. Dengan demikian ada anjuran menjadi hartawan apabila cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran Islam, sebab harta adalah kekuatan dalam pengertian kesempatan yang diberikan kepada hartawan dalam amal shalih tidak terbatas dan terhitung. Dengan hartanya ia bisa menikahkan para pemuda, mengobati orang sakit, menyantuni para janda dan memberi makan anak yatim dan orang miskin, dan lain-lainnya.
Oleh karena itu Rasulullah SAW menjadikan Mukmin yang kaya dekat dari derajat alim yang beramal dengan ilmunya, sebagaimana sabdanya: “Demikianlah harta dapat menjadi sebab seseorang masuk surga, namun juga bisa membuat seseorang terbang terjerumus ke dalam neraka jahannam.” Harta bisa menjadi nikmat bila dikeluarkan dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan akan menjadi bencana bila digunakan untuk keburukan. Hal ini tergantung cara mendapatkannya dan bagaimana menginfaqkannya.
Allah SWT berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [QS Al Maa’uun (107): 1-3]. Ayat tersebut menjelaskan, jika kita menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka berarti kita mendustakan agama. Mendustakan adalah kata lain dari berbohong atau tidak jujur. Berarti sebagai orang-orang yang mengaku beriman, kita sedang dalam ujian apakah kita benar-benar beriman atau munafik.
Islam sebagai ajaran yang sempurna mewajibkan zakat, dan menyerukan memberikan infaq dan shadaqah, sebagai pengejawantahan kepedulian sosial. Zakat dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin sebagai tanda syukur atas nikmat Allah SWT. Dinamakan zakat karena di dalamnya terkandung harapan untuk beroleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan pelbagai kebajikan. Tidak membayar zakat, sanksinya adalah dosa, yang dapat mengurangi kualitas ibadah. Kewajiban membayar zakat disebutkan dalam firman-firman Allah SWT antara lain dalam QS Al Baqarah (2): 43, QS Al Baqarah (2): 254, QS Al Baqarah (2): 277, QS Ali Imran (3): 180, dan QS At Taubah (9):18.
Timbulnya kemiskinan di negeri kita terutama adalah kurangnya kepedulian sosial dari para hartawan. Meskipun mereka yang mampu senantiasa taat membayar zakat dan pajak, perilaku berfoya-foya adalah bukti kurangnya kepedulian sosial. Hidup secara berlebihan seperti itu dalam Islam dilarang. Dalam kaitan ini Allah SWT memperingatkan: “Ketahuilah sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena ia melihat dirinya serba cukup.” [QS Al ‘Alaq (96): 6-7]. Jika kita per-hatikan pesta pernikahan di gedung-gedung mewah dengan biaya puluhan / ratusan milyar rupiah misalnya, kita bisa mengetahui betapa kurangnya kepedulian sosial di kalangan mereka yang berada terhadap kaum fakir miskin. Jika kaum berada hanya berpikir: “Hari ini makan apa?”, berarti mereka tinggal memilih makanan enak apa yang akan dimakan pada hari itu, sebaliknya kaum fakir miskin selalu bertanya dalam hati; “Hari ini apa makan?” Sungguh menyedihkan mereka yang hari itu belum tentu bisa makan, karena apa yang akan dimakan belum tentu ada.
Kesenjangan sosial seperti itu disebabkan karena banyak hal. Salah satunya adalah keserakahan dalam bentuk korupsi. Korupsi yang makin meluas dan intensif di negeri kita, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan, melainkan juga dilakukan di kalangan bawahan, bahkan telah terjalin dalam bentuk kolaborasi antara keduanya. Hal itu sudah menjadi rahasia umum. Dengan dibentuknya ‘Satgas Pemberantasan Mafia Hukum’ oleh pemerintah, maka diharapkan akan terungkap penyalah-gunaan wewenang oleh aparat negara. Maka sudah saatnya kepada setiap aparat di bidang keuangan, perpajakan, dan penegak hukum untuk melakukan pembuktian terbalik atas kekayaan yang mereka miliki. Sistem pembuktian terbalik yang selama ini hanya merupakan wacana, harus benar-benar dan segera diterapkan secara konsekuen.
Nafsu harta pada manusia seperti ini pernah diprediksi Rasulullah SAW: “Pada suatu masa mesjid-mesjid ramai dikunjungi orang. Akan tetapi, hati penghuninya kosong dari petunjuk Allah. Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Orang tidak mengenal ulama kecuali karena pakaiannya yang khas, dan bukan karena ilmu serta akhlaknya. Orang tidak mengenal Al Qur’an kecuali dengan suaranya yang baik. Mereka tidak beribadah kepada Allah kecuali di bulan Ramadhan saja. Bila ulama-ulamanya sudah seperti itu, dan bila ummat Muslim hanya beramai-ramai melakukan ibadah di bulan Ramadhan saja, maka mereka akan diberi penguasa yang tidak memiliki ilmu. Tidak mempunyai kasih sayang kepada rakyatnya.” [HR Bukhari]. Pada saat itu manusia menyembah, mengabdi, dan mencurahkan hidupnya demi hartanya.
Kita bisa melihat manusia memberikan penghormatan kepada mereka yang memiliki banyak kekayaan. Manusia berlomba menumpuk kekayaan untuk menunjukkan kemuliaan dan kehormatan mereka di masyarakat. Saat ini, banyak orang telah meninggalkan iman, Islam hanya tinggal upacara ritualnya saja. Hal ini bisa dilihat dari perlaku yang jauh dari kebajikan. Al Qur’an hanya tinggal pelajarannya saja. Orang-orang ramai belajar Al Qur’an, tetapi tidak mencoba hidup dengan ajaran Al Qur’an. Mereka membaguskan suara bacaan Al Qur’an, tetapi tidak membaguskan akhlak mereka dengan ajaran Al Qur’an. Tanpa kita sadari, kemakmuran yang dicapai manusia selama ini lebih bersifat duniawi, dan telah mencapai puncaknya sedemikian rupa sehingga manusia yang sudah mendapatkan bimbingan Ilahi dan para Rasul pun, telah mendzalimi diri mereka sendiri.
Namun meskipun kemasyhurannya telah meneggelamkan dunia sebenarnya harta bukanlah segalanya. Jadi apa sebenarnya yang paling dicari manusia dalam hidup mereka? Jika seseorang mencintai nilai-nilai luhur, maka jawabannya adalah ‘kebaikan dan perbaikan’. Jika dia pemburu kesenangan duniawi maka jawabannya adalah; ‘kekuasaan’. Kekuasaan selalu diminati manusia, bahkan diperebutkan, karena manusia mengira, dengan kekuasaan dia akan bisa menggapai apa saja yang diinginkannya.
Menurut Imam Al Ghazali, kekuasaan adalah sesuatu yang sangat digandrungi manusia. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, karena bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Nafsu kekuasaan itu lebih besar daripada nafsu harta, hal itu disebabkan karena tiga faktor. Pertama, kekuasaan bisa mendatangkan harta. Dengan kekuasaan, orang bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, seseorang butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan. Kedua, kekuasaan menimbulkan efek popularitas. Begitu seseorang berhasil menjadi penguasa, maka seketika akan menjadi masyhur. Ketiga, pengaruh kekuasaan relatif lebih kuat dan tahan lama. Pada sebagian orang, pengaruh kekuasaan bisa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan kesetiaan sampai mati.
Karenanya tidak sedikit orang-orang yang meskipun sudah kaya raya, mereka belum juga puas jika belum mendapatkan kekuasaan. Kita bisa melihat betapa perebutan kekuasaan di lembaga-lembaga negara di negeri ini diikuti oleh banyak kalangan. Selain para politisi dan profesional, para pengusaha juga mencalonkan diri dalam pemilu, baik pemilu kepala daerah, pemilu legislatif, maupun pemilihan presiden. Begitu pula dari kalangan selebiriti, beberapa di antaranya telah menjadi anggota DPR dan wakil kepala daerah. Bahkan pada tahun 2010 ini dua wanita penyanyi dangdut / penari erotis konon akan ikut serta dalam pemilu kepala daerah di dua tempat yang berbeda. Itulah pesona kekuasaan. [Hermanto]
artis, penyanyi dangdut, penari erotis, maling, dlsb pada asyik masyuk berebut posisi untuk menjadi anggota dpr, atawa gubernur, atawa bupati, atawa walikota? itu-lah 'heybatnya' paham demokrasi yang disodor-sodorkan kepada kita orang. mereka merasa berhak penuh 200-300% untuk ikut bertarung! heunteu kua-kieu. menyedihkan bukan? bukaaan................
BalasHapusYa ga heran. Wajar-wajar, sah-sah saja di negeri satu gayus, ribuan markus jutaan tikus ini ada penari erotis mau jadi kepala daerah. Semua berlindung di bawah bayang-bayang sang dayyus.
BalasHapus