Senin, 05 April 2010

72. PERINGATAN AKAN DATANGNYA BENCANA

Bencana adalah sebagian dari musibah. Apakah sebenarnya musibah itu? Rasulullah SAW menjelaskan: “Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah. [HR At Tabrani]. Dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang bencana, antara lain dalam QS Al Baqarah (2): 155-156, QS Al Maaidah (5): 40, dan QS At Taubah (9): 50.

Musibah ada yang menimpa seseorang atau sekelompok orang tertentu berupa sakit, kerugian dalam usaha, kehilangan barang, meninggal dunia, yaitu musibah yang bersifat individual. Ada pula musibah bersifat sosial, misalnya bencana alam, wabah penyakit, kekeringan yang berkepanjangan, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, semburan lumpur / gas, dan sebagainya seperti yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini, bukan saja di Indonesia, tetapi juga banyak terjadi di berbagai tempat di bumi ini. Selanjutnya dalam tulisan ini musibah sosial kita sebut ‘bencana’ saja.

Pendekatan keagamaan menegaskan, musibah adalah ketentuan dari Allah SWT, yang tidak bisa ditolak maupun dicegah. Meskipun demikian, manusia wajib untuk menghindari atau mengantisipasi dari berbagai bentuk musibah yang sudah atau akan terjadi pada diri kita. Seorang yang terkena sakit, diwajibkan untuk berobat agar bisa mendapatkan kesehatan seperti sediakala. Jika terjadi banjir, kekeringan atau bencana alam lainnya, diwajibkan untuk menghindar dari bahaya tersebut.

Upaya untuk mengantisipasi musibah bukan saja pada tingkat pencegahan semata, tetapi juga dalam penanggulangannya. Karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Al Qur’an dalam menjaga jiwa. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik. [Al Baqarah (2): 195].

Islam memberikan tuntunan dalam menyikapi musibah yang dialami seseorang, berupa istirja (mengembalikan segalanya kepada Allah SWT), dengan mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Hendaknya kita berdo’a agar musibah yang menimpa diri kita hanya bentuk ujian dari Allah SWT bagi hamba-Nya yang shalih, ikhlas dan lapang dada menghadapinya, agar kita mendapatkan rahmat dan pahala-Nya.

Dalam kehidupan di dunia, manusia tidak akan pernah terlepas dari musibah termasuk bencana dan cobaan lainnya. Selama hayat masih di kandung badan, seketika itu juga musibah mengintai dan kerap menghampiri kita. Menghadapi hal tersebut, selain istirja, hendaknya kita melakukan upaya antisipasi. Maka sudah sepantasnya ummat Islam lebih mendalami ayat-ayat kauniyah yaitu ayat yang dapat ditemukan manusia sendiri berupa realitas yang terjadi di alam semesta, di samping ayat-ayat yang sudah dirumuskan Allah SWT dan terhimpun dalam Al Qur’an, yang disebut ayat-ayat qur’aniyah atau tanziliah. Para tokoh besar masa lampau seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Kindi, Al Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, dan lainnya adalah ahli ayat-ayat kauniyah yang luar biasa. Mereka menunjukkan bahwa orang beriman akan selalu mendalami dan memegang teguh ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadits, dan ayat-ayat realitas di alam semesta secara bersama.

Musibah bisa menimpa orang-orang shalih. Namun bisa juga merupakan hukuman seperti yang ditimpakan pada kaum yang sesat. Apabila musibah adalah cobaan, maka cara tepat untuk menyikapinya adalah dengan cara istirja. Apabila bencana adalah hukuman, kita harus mengucap istighfar dan mengubah perilaku. Seruan moral memang penting, dorongan untuk lebih taat beribadah dan menjauhi maksiat harus ditingkatkan. Banyak melakukan istighfar serta dzikir sungguh berharga.

Dengan perspektif ini, para ulama senantiasa mengingatkan betapa banyak perilaku maksiat yang bertebaran di sekitar kita. Rentetan bencana seperti ini yang kita alami beberapa tahun belakangan ini, sangat mungkin disebabkan perilaku kita yang semakin jauh dari Allah SWT. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa mayoritas bangsa ini sudah tidak waras, baik para pemimpin, pengusaha, rakyat biasa, cendekiawan, maupun di kalangan ulama sendiri. Hampir semua orang telah menjadi sangat materialistis. Tidak ada yang salah dengan pandangan yang mengemukakan bahwa kerusakan moral bangsa ini telah sedemikian parah.

Tetapi memadaikah kita mengkaitkan bencana ini semata-mata dengan persoalan moral, sehingga kita hanya pasrah tanpa melakukan upaya untuk menghindarinya? Agama Islam bukan hanya mengatasi persoalan moral, tetapi juga menyangkut kemampuan untuk mengelola alam dan sosial, termasuk mengelola bencana alam yang kini semakin menjadi keseharian dalam kehidupan kita. Realitas mengajarkan bahwa bangsa yang kuat umumnya adalah bangsa yang mampu mengelola alamnya yang garang.

Kaum Qureisy sejak masa Nabi Ibrahim AS mampu bertahan hidup karena kemampuannya menghadapi alam yang keras. Ketika Mekkah dingin mereka pergi ke Yaman yang lebih panas. Di saat Mekkah sangat panas, mereka pergi ke Syria yang lebih dingin. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi sekaligus pedagang yang kuat hingga sekarang. Daulah Abbasiyah berjaya di abad ke-8, karena kepiawaiannya mengelola alam. Mereka mengirim tim peneliti untuk tinggal dua tahun penuh di wilayah bekas kekuasaan Persia, mencatat keadaan cuaca, aliran air, dan bahkan angin setiap hari untuk membangun kota Baghdad yang mencengangkan dunia saat itu.

Di zaman modern ini, bangsa-bangsa Barat dan Asia Timur menjadi kuat karena tempaan iklim ekstrem. Musim dingin telah memaksa mereka berdisiplin mengelola hidup dan lingkungannya. Hingga kini mereka terlatih untuk mengantisipasi masa-masa sulit, termasuk menyediakan kotak makanan yang isinya selalu diperbarui sebelum kedaluwarsa, menyediakan kebutuhan darurat sewaktu-waktu terjadi bencana, dan menentukan ke arah mana harus menyelamatkan diri. Dengan begitu setidaknya dapat mengurangi timbulnya korban manusia dan kerugian lainnya.

Namun, terlepas dari ikhtiar manusia melakukan pembenahan untuk mencegah terjadinya musibah, dari sudut pandang kita sebagai ummat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor semburan lumpur, dan sebagainya itu, bisa terjadi kapan saja apabila Allah menghendaki-Nya.

Dalam kaitan ini ada satu hal yang perlu kita cermati adalah peringatan Rasulullah SAW kepada para sahabat akan datangnya bencana: “Wahai kaum Muhajirin ada lima hal yang akan mendatangkan bencana bagimu, aku berlindung kepada Allah agar engkau tidak menemuinya, Tidak tampak perbuatan keji di suatu kaum hingga diumumkannya, kecuali akan ditimpakan pada mereka penyakit menular dan penyakit lainnya yang belum ada sebelumnya. Mereka tidak mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpakan kekeringan, kelaparan, dan kekejaman dari penguasa mereka. Mereka tidak membayar zakat atas harta mereka kecuali akan dicegah hujan dari langit. Kalau bukan karena binatang ternak maka tidak akan turun hujan bagi mereka. Mereka tidak melanggar ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan menciptakan musuh dari golongan selain mereka yang akan menguasai dan merampas semua yang mereka miliki, jika para pemimpin mereka tidak menghukumi (perkara) dengan kitab Allah dan tidak mengambil yang terbaik dari apa yang diturunkan Allah, maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka. [HR Ibnu Majah].

Hadits ini sangat luar biasa karena menjelaskan kelima fenomena di masyarakat yang merupakan tanda-tanda akan datangnya bencana yaitu:

1. Jika perbuatan keji dan kejahatan lainnya sudah tampak dan dipublikasikan di berbagai media, ketika pembunuhan dan mulitasi, pornografi, semarak di mana-mana, maka akan ada berbagai penyakit baru, yang belum ada sebelumnya. Lihat saja HIV/AIDS, flu burung, flu babi dan sebagainya.

2. Jika takaran dan timbangan dikurangi, ketika praktik korupsi menjadi tradisi, ketika dana pembangunan dibocorkan, ketika mark up menjadi kebiasaan, maka akan terjadi kekeringan, kelaparan, gizi buruk, dan kekejaman oleh para penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Inipun telah terbukti, misalnya kekejaman para makelar kasus yang berkolusi dengan penegak hukum.

3. Ketika zakat tidak dibayar, ketika orang-orang sudah menimbun harta mereka, maka Allah akan mencegah turunnya hujan, kalau bukan karena kasih sayang Allah kepada makhluk selain manusia, maka tidak ada hujan sama sekali. Betapa sering terjadi gagal panen dan sebagainya.

4. Ketika ketentuan-ketentuan Allah dilanggar, ketika ajaran-ajaran Rasulullah SAW disepelekan, maka akan datang musuh kejam yang akan merampas segala yang dimiliki, baik nyawa maupun harta. Perhatikan apa yang telah terjadi di sekitar kita masing-masing.

5. Ketika pemimpin jauh dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, ketika mereka memuja dan memuji hedonisme, liberalisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan agama, maka akan terjadi permusuhan di antara anak bangsa sendiri hingga hilanglah rasa cinta kasih di antara mereka. Hal ini juga sudah terbukti dari banyaknya konflik antar warga maupun konflik kepentingan para elite bangsa.

Begitulah peringatan dari Rasulullah SAW sebelum datangnya bencana. Peringatan ini adalah pesan ghaib, yang tidak hanya berkenaan dengan pengetahuan berdasarkan pengertian belaka, tetapi juga dengan perasaan. Perasaan itu bisa ditimba jika kita tidak sibuk dengan rasionalitas dan penyelesaian teknis belaka, tetapi juga berempati dan solider dengan nasib penderitaan ummat yang tertimpa bencana. Dengan empati dan solidaritas itu para pemimpin tak boleh mengelak dari tanggungjawab, seakan-akan bencana yang terjadi adalah kehendak alam yang tidak terelakkan, sehingga mereka melepaskan tangan begitu saja.

Belajar dari sabda Rasulullah SAW tersebut, kita seyogyanya menyadari bahwa bencana juga merupakan ulah mereka yang serakah, mengutamakan hidup dan nafsu untuk mengangkangi harta, dan tak peduli terhadap mereka yang miskin dan menderita. Kita harus bisa mengakui bahwa bencana apapun halnya, adalah akibat kesalahan dan keteledoran kita bersama. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ menjadi pembawa peringatan tersebut. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana lebih dahsyat dan besar bagi bangsa ini. Dan kenyataan itupun telah terjadi pula selama ini.

Setiap bencana selalu dapat dikaitkan dengan takdir, dan takdir juga hampir selalu menjadi cermin yang baik untuk mengetahui manusia macam apa kita ini. Satu dua bencana mungkin memang ujian dari Allah. Namun rangkaian bencana adalah petunjuk nyata, bahwa kita bukanlah bangsa yang baik.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa terdapat hukum alam yang pasti yang disebut Sunatullah yang tidak berubah. Alam mempunyai disain sempurna yang memiliki hubungan sebab dan akibat. Allah telah menggariskan keseimbangan alam. Hal ini ditegaskan oleh Allah bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini adalah karena ulah tangan manusia. Misalnya saja, karena hutan dirusak, maka sudah jelas bahwa sesuai dengan Sunatullah akan terjadi bencana banjir, karena fungsi hidrologis hutan tidak lagi berjalan. Hujan dan hutan sudah memiliki ukuran (takdirnya) masing-masing. Pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi saat ini telah kita akui sebagai kesalahan manusia di seluruh dunia.

Sunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal-sinyal kepada manusia. Akan tetapi sering kali manusia mengabaikan sinyal-sinyal itu sehingga keseimbangan alam menjadi rusak dan kemudian menjadi tidak terkendali dan menjadi bencana bagi kita. Makin seringnya terjadi gempa bumi, meluasnya bencana banjir, dan bencana lainnya, menjadi bukti bahwa kita telah mengabaikan sinyal-sinyal yang terjadi sebelumnya. Terlihat jelas pula, bagi manusia yang selalu menentang hukum Allah, akan ditimpa malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan tiada hentinya. Meskipun demikian, janganlah rakyat kecil yang tidak terkait dengan kemungkaran orang-orang tertentu yang serakah menjadi ‘terkorbankan’. Semoga mereka yang wafat itu mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT, dan para korban lainnya senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin ya rabbal aalamiin. [Hermanto]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar