Karenanya kita perlu muhasabah dengan menanyakan kepada diri kita sendiri tentang motivasi kita beribadah di bulan Ramadhan yang baru lalu dengan hikmah dari Imam Ali Bin Abi Thalib, tentang tiga Tipologi Ibadah.
Pertama, beribadah karena Pahala. Apakah kita beribadah puasa karena mengharap pahala, ganjaran, imbalan dan surga. Jika itu motivasi kita, maka itu adalah ibadah tipe pedagang, yaitu dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Misalnya orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah pada hari-hari biasa saja akan mendapatkan pahala berlipat ganda 700 kali dan terus bahkan tak terhingga (QS Al-Baqarah 2: 261-262), apalagi di bulan Ramadhan.
Kedua, beribadah karena Takut. Inilah ibadah tipe budak. Melakukan pekerjannya karena takut hukuman oleh majikannya. Orang yang masuk kategori ini, misalnya, mendirikan shalat, memberi makan orang miskin, karena takut kepada Allah Swt dan siksa neraka, sebagaimana firman Allah: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam saqar (neraka)? Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin.” (QS Al- Muddatstsir 74: 42-44).
Ketiga, beribadah karena Syukur. Tipe ibadah yang ketiga ini adalah beribadah karena cinta kepada Allah Swt. Inilah cinta orang yang bersyukur. Dalam syukur itulah tumbuh rasa cinta yang dalam. Kita beribadah bukan karena hanya berharap surga atau takut neraka, tetapi lebih dari pada itu adalah karena cinta kepada Allah Swt.
Kedua, beribadah karena Takut. Inilah ibadah tipe budak. Melakukan pekerjannya karena takut hukuman oleh majikannya. Orang yang masuk kategori ini, misalnya, mendirikan shalat, memberi makan orang miskin, karena takut kepada Allah Swt dan siksa neraka, sebagaimana firman Allah: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam saqar (neraka)? Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin.” (QS Al- Muddatstsir 74: 42-44).
Ketiga, beribadah karena Syukur. Tipe ibadah yang ketiga ini adalah beribadah karena cinta kepada Allah Swt. Inilah cinta orang yang bersyukur. Dalam syukur itulah tumbuh rasa cinta yang dalam. Kita beribadah bukan karena hanya berharap surga atau takut neraka, tetapi lebih dari pada itu adalah karena cinta kepada Allah Swt.
Namun sesungguhnya ketiga Tipologi ibadah tersebut di atas adalah ibadah yang ikhlas, lilahi ta ‘ala, meskipun makna dan muatannya berbeda bagi setiap orang. Dan beribadah karena cinta mestinya menjadi puncak dari perjalanan spiritual kita menuju Allah Swt. Dan bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan, bersungguh-sungguh dan sabar, maka akan segera mendapatkan maghfirah - ampunan, dan dijauhkan dari api neraka (iqun minannar), dan sampai digambarkan menjadi manusia dalam keadaan fitri - yang benar-benar bersih, seperti bayi yang baru lahir.
Kemudian, kita melaksanakan shalat Idul Fitri, seraya mengagungkan dan memuliakan Allah Swt, sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan terhadap syeitan dan hawa nafsu. Dan sekarang, di bulan Syawal kita memulai lagi kehidupan dan menghadapi rutinitas seperti biasanya dan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Di kantor, di perusahaan, di pasar, di pabrik, dan di pusat-pusat kegiatan lainnya, itu semuanya akan mempengaruhi kehidupan kita. Kita akan menghadapi dan berinteraksi dengan seluruh jenis pekerjaan, kegiatan dan dengan segala jenis karakter manusia.
Inilah yang akan menentukan kehidupan kita selama sebelas bulan ke depan, apakah kita akan masih tetap dapat mempertahankan jati diri kita sebagai orang-orang yang mendapat kategori Muttaqin? Dengan tetap tekun beribadah, berdzikir, mengingat Allah, membaca, dan mengamalkan isi Al-Qur'an dengan terus-menerus di dalam kehidupan sehari-hari? Atau kita lupa beribadah, lupa berdzikir mengingat Allah dan tidak lagi menyentuh Al-Qur'an?
Apakah Ramadhan tidak ada lagi bekasnya? Apakah jejak Ramadhan yang pernah ada di dalam diri kita, sirna bersamaan datangnya bulan Syawal? Kita akan bergumul dengan kehidupan - yang mungkin saja - tanpa ruh Islam. Apakah kita akan kembali berbuat dosa, maksiat, berbuat durhaka, melakukan perbuatan faqisah - dosa besar, dan bahkan melalaikan Allah Rabbul Alamin, serta melakukan perbuatan syirik kepada-Nya?
Maka, semuanya nanti akan nampak dalam fenomena kehidupan, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Ukurannya, bagaimana arus yang kuat dalam kehidupan mayoritas ummat atau masyarakat sehari-hari. Adakah arus yang kuat itu kecenderungan orang berbuat baik, yang menjadi ciri orang-orang Mukmin, yaitu selalu berbuat baik, dan meninggalkan keburukan dan kejahatan yang dilarang, serta melakukan nahyi munkar - melarang kemungkaran? Jika arus ini yang kuat di dalam kehidupan ummat dan masyarakat, berarti ibadah selama bulan Ramadhan itu, termasuk sukses mendidik dan mengubah karakter kehidupan kita, sehingga, mempunyai atsar - bekas - di dalam kehidupan sehari-hari, tidak punah tergerus oleh berbagai kehidupan jahiliyah.
Sebaliknya bila yang menjadi fenomena umum, yang dominan dan menjadi arus utama dalam kehidupan ummat dan masyarakat, adalah keburukan, perbuatan faqisah - dosa besar, serta banyak kedurhakaan kepada Allah Swt, berarti Ramadhan yang baru kita lalui, tidak mempunyai nilai apa-apa dalam kehidupan kita. Ibadah Ramadhan hanya menjadi sebuah rutinitas dan ritual, yang tidak mempunyai kaitan sama sekali dengan kehidupan sehari-hari.
Kemudian, fenomenanya semakin banyak orang yang tamak, tidak sabar, tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, berlebihan dalam segala hal, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah Swt, hilangnya rasa malu, berbuat sewenang-wenang dan tanpa batas. Inilah kegagalan yang nyata.
Setiap tahun dan setiap Ramadhan, seharusnya semakin banyak orang yang Muttaqiin, dan menjadi sebuah entitas yang baru. Dengan hidup lebih bersih, lebih shaleh, lebih sabar berpegang dengan syari'ah Allah, akan semakin sedikitnya jumlah orang yang durhaka, berbuat dosa dan maksiat serta melakukan faqisah, yang melahirkan ummat dengan, satu aqidah, satu tujuan, yaitu menjadikan Allah Swt sebagai satu-satunya tujuan hidup. Tidak ada yang lain.
Kita akan menghadapi ujian kembali dalam sebelas bulan ke depan. Mungkin kita tergolong yang selamat dengan iman dan amalan kita, serta tetap istiqamah di jalan Allah, dan mungkin kita termasuk orang yang gagal, dan mengikuti jalan syeitan dan melanggar semua larangan Allah Swt.
Kita sedang diuji dalam kehidupan kita, sehari-hari, dan ujian itulah yang akan menentukan nasib kita nanti. Apakah kita termasuk orang yang sukses atau orang yang gagal dalam mengelola kehidupan.
Sesungguhnya pada hari ini seyogyanya kita merenung sejenak betapa banyak setiap tahun kaum Muslimin mudik ke kampung halaman pada akhir bulan Ramadhan hingga awal bulan Syawal untuk bersilaturahmi Lebaran bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman. Dan ini berulang sepanjang tahun selama berpuluh tahun. Kita rela bersusah-payah sepanjang tahun menabung, menghadapi kemacetan di perjalanan yang setiap tahun semakin parah dan rawan kecelakaan yang menimbulkan korban tewas dan luka-luka, berdesak-desakan di kendaraan umum, semuanya untuk kesenangan sesaat di hari Lebaran bersama keluarga dan kerabat di tempat mudik.
Kalau kita mau bekerja keras sepanjang tahun, mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk kesenangan sesaat yaitu mudik Lebaran, mengapa kita tidak mulai berpikir juga bekerja keras sepanjang tahun dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk mudik kita ke kampung akhirat kita yang abadi kelak?
Kita tentu merindukan bersilaturahim dengan ibu-bapak kita di tempat mudik, anak-anak kitapun merindukan nenek-nenek dan kakek-kakek, yang bahkan sering kasih sayangnya terhadap cucu-cucunya melebihi apa yang bisa kita berikan. Bila mereka menyiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, targetnya bukan untuk kita - anak-anaknya, tetapi untuk anak-anak kita - yang adalah cucu-cucu mereka.
Kitapun seyogyanya merenungkan sabda Rasulullah Saw: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR Al-Bukhari). Kekuatan silaturahim - yang berarti mennyambungkan kasih sayang, bukan sekedar saling bersalaman dan saling memaafkan, tetapi yang lebih hakiki tentang silaturahim ini adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk memperbaiki akhlak, dengan memperbaiki mengubah karakter dasar manusia untuk menjadi lebih baik. Ini adalah prioritas utama dalam dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw.
Jika ibu-ayah kita telah tiadapun, kita bisa berkumpul kembali dengan mereka bila kita berusaha, karena Allah Swt menjanjikan pertemuan ini: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath-Thuur 52: 21).
Maka ketika Lebaran yang sesaat ini berakhir, marilah mulai bekerja keras kembali, bukan untuk kesenangan yang sesaat, melainkan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk pulang kampung akhirat kita yang abadi. Allah Swt berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An’aam 6: 32).
Pada hari ini kita marilah bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam berbagai hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.
Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.
Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari ini seharusnya kita dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini sebaik-baiknya untuk menjalani hidup yang benar, sehingga apabila ajal atau kiamat tiba kita sudah siap. Inilah yang disebut husnul khatimah.
Hermanto Hs
No. 124
Assalamu'alaikum wr wb
BalasHapusOm Hermanto, trm kasih atas tulisannya di blog al-mustaqiim yg berjudul:
"KEMBALI MENGHADAPI UJIAN"
(No. 124, 15 Sep 2011).
Alhamdulillah, saya sdh membacanya.
Tulisannya sangat bagus, ttg bgm keikhlasan ibadah kita kpd Allah SWT?
Berhubungan dgn ibadah puasa di bulan Ramadhan yg telah lewat, apakah kita beribadah kpd Allah SWT hanya spt pedagang yg hitung2 pahala, atau hanya krn takut akan neraka?
Nah.. Selanjutnya silahkan disimak/baca sendiri, mantaaap..!
Wassalam,
Tedjo
Yth Pengasuh.
BalasHapusTerima kasih
Selamat Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir batin.
Maju terus Al-Mustaqiim dengan tulisan-tulisan yang progresive.
BalasHapus