> Dalam QS Ar Rahmaan (55) Allah SWT berfirman: "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?". Ayat tersebut diulang berkali-kali, yang menegaskan bahwa banyak orang yang mendustakan nikmat-Nya. Allah SWT memperingatkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih [QS Ibrahim (14): 7].
Ahli terapi kejiwaan dari Dr. Aidh Al Qarni, dari bukunya 'La Tahzan' (Jangan Bersedih), mengutip firman Allah SWT: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” [QS Azd Dzaariyaat (51): 20-21]. Selanjutnya dia menuliskan:
Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa yang tersedia di sekeliling kita, dan janganlah termasuk golongan seperti disebutkan dalam Al Qur’an; “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” [QS An Nahl (16): 83].
Betapa hinanya diri kita ketika tertidur lelap, sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya. Pernahkan kita merasa nista ketika dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kita tidak bisa makan dan minum karena sakit atau kemiskinan?
Coba pikirkan betapa fungsi pendengaran, yang dengannya Allah SWT menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingat dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra? Dan coba renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan?
Apakah kita ingin menukarkan mata kita dengan emas sebesar gunung Uhud? Atau menjual pendengaran kita dengan dengan perak satu bukit? Apakah kita mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah yang bisu? Maukah kita menukar kedua tangan kita dengan untaian mutiara sementara tangan kita buntung. Begitulah sebenarnya, kita berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi kita tidak menyadarinya. Kita tetap merasa resah, sedih dan gelisah, meskipun kita masih mempunyai nasi hangat untuk disantap dan air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Kita seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jika kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan dan lain sebagainya. Maka seharusnya kita pikirkan semua itu dan mensyukurinya.
> Di sisi lain Allah SWT berfirman: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. [QS Al Baqarah (2): 45]. Jadi, hanya bagi orang-orang yang sabar dan khusyuk shalatnya, Allah akan memberikan pertolongan. Jika tidak, maka manusia akan dalam kerugian sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS Al ‘Ashr (103): 2-3].
Mengenai kesabaran, ada kisah yang dituturkan oleh masyarakat Jepang tentang perilaku seekor anjing yang setia mengantar majikannya berangkat bekerja dari rumah sampai di depan stasiun stasiun KRL di kawasan Shibuya, Tokyo. Kemudian anjing itu pulang ke rumah majikannya. Biasanya sore hari sampai larut malam, anjing itu datang lagi ke stasiun, menunggu majikannya pulang.
Namun pada suatu musim dingin, kecelakaan merenggut nyawa majikannya, sehingga ia tidak lagi pulang kembali naik KRL ke stasiun Shibuya. Tetapi, anjing itu tetap menjemputnya di stasiun seperti biasanya, terus menunggu, di tempat duduk seperti biasanya. Matanya selalu memandang tajam pada setiap rombongan penumpang yang keluar dari stasiun KRL itu, mencari majikannya. Salju musim dingin sudah menutup seluruh tubuhnya. Malam telah menjatuhkan tirai kegelapan.
Ia mematung berhari-hari. Tidak makan tidak minum. Sampai suatu pagi, giliran para penumpang KRL mematung di depan mayatnya yang sudah membeku. Mata mereka basah dengan air mata. Anjing itu bersabar, karena rasa terima kasih dan kesetiannya kepada majikannya. Para penumpang meneteskan air mata, bukan hanya karena kasihan saja, mereka juga bertanya; “apakah manusia mempunyai kesabaran seperti itu?”
Anak-anak kami menceritakan bahwa kisah tersebut adalah salah satu tema dari pelajaran budi pekerti yang mereka peroleh di sekolah Jepang, di mana kisah anjing tersebut termasuk di dalamnya. Untuk mengenang anjing yang sudah mati itu, didirikanlah monumen di depan stasiun Shibuya tersebut. Kini patung anjing bernama ‘Hachiko’ itu dikelilingi taman kecil, dan dijadikan tempat rendezvous bagi orang-orang yang mengadakan perjanjian untuk bertemu di sekitar kawasan Shibuya, Tokyo. Di sana banyak orang yang mematung sambil memperhatikan ke arah sekerumunan orang lain, mencari teman dengan siapa mereka telah berjanji.
Ada baiknya kami sampaikan informasi bahwa Jepang tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup bangsa, karena konstitusi menetapkan, agama adalah urusan pribadi masing-masing orang, tidak boleh diajarkan kepada orang lain / masyarakat melalui sarana publik termasuk sekolah-sekolah umum. Di sana tidak ada siaran teve umum yang menayangkan ceramah agama apapun, karena dianggap memberikan prioritas kepada penyebaran ajaran agama tertentu yang melanggar konstitusi. Sehingga dalam pendidikan budi pekerti, antara lain diceritakan kisah seperti anjing ‘Hachiko’ dan lainnya, yang mengandung pesan akhlak dan moral untuk diajarkan sekolah-sekolah.
> Selanjutnya di sini dikemukakan dua kisah yang kami kutip bebas dari tulisan Dr. Jalaluddin Rahmat tentang bersyukur dan bersabar. Pertama, pada zaman khalifah Al Mansyur, salah seorang menterinya bernama Al Ashma'i, melakukan perburuan. Karena keasyikan mengejar buruannya, ia terpisah dari kelompoknya. Ia tersesat di padang sahara. Ketika rasa haus mencekamnya, dalam kejauhan ia melihat sebuah kemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya ke arah sana dan menemukan penghuni yang memukau; perempuan muda dan jelita. Ia meminta air. Perempuan Itu berkata, "Ada air sedikit, tetapi aku persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku. Kalau engkau mau, ambillah." Tiba-tiba wajah perempuan itu tampak siaga. Ia memandang kepulan debu dari kejauhan. "Suamiku datang", katanya.
Wanita itu kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih. Lelaki yang datang itu lebih tepat disebut ‘bekas manusia’. Seorang tua yang jelek dan menakutkan. Mulutnya tidak henti-hentinya menghardik istrinya. Tidak satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat, dan menuntunnya dengan mesra masuk ke kemahnya.
Sebelum pergi, Al Ashma'i sempat bertanya kepada wanita itu; "Engkau muda, cantik, dan setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan dirimu untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk?" Jawaban perempuan itu mengejutkan, "Muhammad Rasulullah SAW bersabda, agama itu terdiri dari dua bagian, yaitu syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Allah SWT telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan perlindungan. Dia membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu, aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar".
Kisah ini menunjukkan keputusan rohaniah ketika menetapkan pilihan. Ia memilih menyempurnakan agamanya dengan menambahkan sabar setelah syukur. Perasaan terima kasihnya kepada Allah SWT membuatnya tabah menanggung derita apa pun. Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa kesabaran adalah buah dari perasaan syukur.
Kisah kedua. Sa'di, penyair Persia, dalam Gulistan menceritakan pengalamannya ketika ia selesai shalat di Masjid Umayyah, Damaskus, ia mendapatkan sepatunya hilang. Ia mencari ke sana ke mari dengan hati yang jengkel dan sedih. Sa'di menggerutu terus-menerus, sampai di sudut masjid ia menemukan seorang penceramah di hadapan jamaahnya. Khatib itu selalu tersenyum. Wajahnya cerah gembira. Ia tampak menikmati hidupnya. Sangat kontras dengan wajah Sa'di, yang bermuram durja. Ketika Sa'di memperhatikan khatib itu lebih cermat, ia terkejut. Khatib itu sudah kehilangan kedua kakinya. Sa’di berkata dalam hati; "Aku berduka karena kehilangan sepatuku, padahal ia tetap ceria walaupun sudah kehilangan kedua kakinya".
Jadi, bersyukur adalah belajar memperhatikan anugerah Allah SWT. Bersyukur adalah memperhatikan kaki kita daripada sepatu yang tiada, tangan kita daripada cincin yang terlepas, dan seluruh tubuh kita daripada kekayaan yang lenyap. Dengan bersyukur, kita akan dapat menerima ketentuan-Nya dan bersabar atas ujian-Nya, karena Allah memberikan banyak kenikmatan bagi manusia. Allah memerintahkan kita untuk selalu menghitung nikmat-Nya.
Dengan bersyukur, kita akan memaafkan orang lain yang menyakiti hati kita; karena kita tahu, banyak kenyamanan dalam hidup ini kita nikmati berkat jasa orang lain. Boleh jadi ada keluarga kita, tetangga kita, kawan-kawan kita yang berbuat buruk kepada kita dengan satu perbuatan. Jangan lupa, ada banyak perbuatan mereka yang lain, yang menyenangkan kita.
> Marilah kita muhasabah seperti yang dinasihatkan Dr. Aidh Al Qarni di atas, belajar dari perempuan penghuni sahara, yakni melengkapi syukur kita dengan kesabaran, dan merenungkan seekor anjing yang setia dan sabar menunggu majikannya kembali.
Walhasil, bersyukur akan menyebabkan kita sabar dalam mentaati Tuhan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam memaafkan orang lain. Itulah sebabnya, setelah Allah menjelaskan hukum-hukum puasa, Allah mengakhirinya dengan: “Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa kalian, mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya pada kalian, supaya kalian bersyukur." [QS Al Baqarah (92): 185]. Rasa syukur yang mendalam bukan saja membuahkan kesabaran untuk menaati Allah, tetapi juga kesabaran untuk menerima pemberian-Nya. Tentang pentingnya bersyukur, Allah SWT mengingatkan: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [QS Al Baqarah (2): 152]. Dan Allah akan menyertai orang-orang bersabar, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS Al Baqarah (2): 153]. [Hermanto]
Ahli terapi kejiwaan dari Dr. Aidh Al Qarni, dari bukunya 'La Tahzan' (Jangan Bersedih), mengutip firman Allah SWT: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” [QS Azd Dzaariyaat (51): 20-21]. Selanjutnya dia menuliskan:
Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa yang tersedia di sekeliling kita, dan janganlah termasuk golongan seperti disebutkan dalam Al Qur’an; “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” [QS An Nahl (16): 83].
Betapa hinanya diri kita ketika tertidur lelap, sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya. Pernahkan kita merasa nista ketika dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kita tidak bisa makan dan minum karena sakit atau kemiskinan?
Coba pikirkan betapa fungsi pendengaran, yang dengannya Allah SWT menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingat dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra? Dan coba renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan?
Apakah kita ingin menukarkan mata kita dengan emas sebesar gunung Uhud? Atau menjual pendengaran kita dengan dengan perak satu bukit? Apakah kita mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah yang bisu? Maukah kita menukar kedua tangan kita dengan untaian mutiara sementara tangan kita buntung. Begitulah sebenarnya, kita berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi kita tidak menyadarinya. Kita tetap merasa resah, sedih dan gelisah, meskipun kita masih mempunyai nasi hangat untuk disantap dan air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Kita seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jika kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan dan lain sebagainya. Maka seharusnya kita pikirkan semua itu dan mensyukurinya.
> Di sisi lain Allah SWT berfirman: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. [QS Al Baqarah (2): 45]. Jadi, hanya bagi orang-orang yang sabar dan khusyuk shalatnya, Allah akan memberikan pertolongan. Jika tidak, maka manusia akan dalam kerugian sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS Al ‘Ashr (103): 2-3].
Mengenai kesabaran, ada kisah yang dituturkan oleh masyarakat Jepang tentang perilaku seekor anjing yang setia mengantar majikannya berangkat bekerja dari rumah sampai di depan stasiun stasiun KRL di kawasan Shibuya, Tokyo. Kemudian anjing itu pulang ke rumah majikannya. Biasanya sore hari sampai larut malam, anjing itu datang lagi ke stasiun, menunggu majikannya pulang.
Namun pada suatu musim dingin, kecelakaan merenggut nyawa majikannya, sehingga ia tidak lagi pulang kembali naik KRL ke stasiun Shibuya. Tetapi, anjing itu tetap menjemputnya di stasiun seperti biasanya, terus menunggu, di tempat duduk seperti biasanya. Matanya selalu memandang tajam pada setiap rombongan penumpang yang keluar dari stasiun KRL itu, mencari majikannya. Salju musim dingin sudah menutup seluruh tubuhnya. Malam telah menjatuhkan tirai kegelapan.
Ia mematung berhari-hari. Tidak makan tidak minum. Sampai suatu pagi, giliran para penumpang KRL mematung di depan mayatnya yang sudah membeku. Mata mereka basah dengan air mata. Anjing itu bersabar, karena rasa terima kasih dan kesetiannya kepada majikannya. Para penumpang meneteskan air mata, bukan hanya karena kasihan saja, mereka juga bertanya; “apakah manusia mempunyai kesabaran seperti itu?”
Anak-anak kami menceritakan bahwa kisah tersebut adalah salah satu tema dari pelajaran budi pekerti yang mereka peroleh di sekolah Jepang, di mana kisah anjing tersebut termasuk di dalamnya. Untuk mengenang anjing yang sudah mati itu, didirikanlah monumen di depan stasiun Shibuya tersebut. Kini patung anjing bernama ‘Hachiko’ itu dikelilingi taman kecil, dan dijadikan tempat rendezvous bagi orang-orang yang mengadakan perjanjian untuk bertemu di sekitar kawasan Shibuya, Tokyo. Di sana banyak orang yang mematung sambil memperhatikan ke arah sekerumunan orang lain, mencari teman dengan siapa mereka telah berjanji.
Ada baiknya kami sampaikan informasi bahwa Jepang tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup bangsa, karena konstitusi menetapkan, agama adalah urusan pribadi masing-masing orang, tidak boleh diajarkan kepada orang lain / masyarakat melalui sarana publik termasuk sekolah-sekolah umum. Di sana tidak ada siaran teve umum yang menayangkan ceramah agama apapun, karena dianggap memberikan prioritas kepada penyebaran ajaran agama tertentu yang melanggar konstitusi. Sehingga dalam pendidikan budi pekerti, antara lain diceritakan kisah seperti anjing ‘Hachiko’ dan lainnya, yang mengandung pesan akhlak dan moral untuk diajarkan sekolah-sekolah.
> Selanjutnya di sini dikemukakan dua kisah yang kami kutip bebas dari tulisan Dr. Jalaluddin Rahmat tentang bersyukur dan bersabar. Pertama, pada zaman khalifah Al Mansyur, salah seorang menterinya bernama Al Ashma'i, melakukan perburuan. Karena keasyikan mengejar buruannya, ia terpisah dari kelompoknya. Ia tersesat di padang sahara. Ketika rasa haus mencekamnya, dalam kejauhan ia melihat sebuah kemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya ke arah sana dan menemukan penghuni yang memukau; perempuan muda dan jelita. Ia meminta air. Perempuan Itu berkata, "Ada air sedikit, tetapi aku persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku. Kalau engkau mau, ambillah." Tiba-tiba wajah perempuan itu tampak siaga. Ia memandang kepulan debu dari kejauhan. "Suamiku datang", katanya.
Wanita itu kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih. Lelaki yang datang itu lebih tepat disebut ‘bekas manusia’. Seorang tua yang jelek dan menakutkan. Mulutnya tidak henti-hentinya menghardik istrinya. Tidak satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat, dan menuntunnya dengan mesra masuk ke kemahnya.
Sebelum pergi, Al Ashma'i sempat bertanya kepada wanita itu; "Engkau muda, cantik, dan setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan dirimu untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk?" Jawaban perempuan itu mengejutkan, "Muhammad Rasulullah SAW bersabda, agama itu terdiri dari dua bagian, yaitu syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Allah SWT telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan perlindungan. Dia membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu, aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar".
Kisah ini menunjukkan keputusan rohaniah ketika menetapkan pilihan. Ia memilih menyempurnakan agamanya dengan menambahkan sabar setelah syukur. Perasaan terima kasihnya kepada Allah SWT membuatnya tabah menanggung derita apa pun. Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa kesabaran adalah buah dari perasaan syukur.
Kisah kedua. Sa'di, penyair Persia, dalam Gulistan menceritakan pengalamannya ketika ia selesai shalat di Masjid Umayyah, Damaskus, ia mendapatkan sepatunya hilang. Ia mencari ke sana ke mari dengan hati yang jengkel dan sedih. Sa'di menggerutu terus-menerus, sampai di sudut masjid ia menemukan seorang penceramah di hadapan jamaahnya. Khatib itu selalu tersenyum. Wajahnya cerah gembira. Ia tampak menikmati hidupnya. Sangat kontras dengan wajah Sa'di, yang bermuram durja. Ketika Sa'di memperhatikan khatib itu lebih cermat, ia terkejut. Khatib itu sudah kehilangan kedua kakinya. Sa’di berkata dalam hati; "Aku berduka karena kehilangan sepatuku, padahal ia tetap ceria walaupun sudah kehilangan kedua kakinya".
Jadi, bersyukur adalah belajar memperhatikan anugerah Allah SWT. Bersyukur adalah memperhatikan kaki kita daripada sepatu yang tiada, tangan kita daripada cincin yang terlepas, dan seluruh tubuh kita daripada kekayaan yang lenyap. Dengan bersyukur, kita akan dapat menerima ketentuan-Nya dan bersabar atas ujian-Nya, karena Allah memberikan banyak kenikmatan bagi manusia. Allah memerintahkan kita untuk selalu menghitung nikmat-Nya.
Dengan bersyukur, kita akan memaafkan orang lain yang menyakiti hati kita; karena kita tahu, banyak kenyamanan dalam hidup ini kita nikmati berkat jasa orang lain. Boleh jadi ada keluarga kita, tetangga kita, kawan-kawan kita yang berbuat buruk kepada kita dengan satu perbuatan. Jangan lupa, ada banyak perbuatan mereka yang lain, yang menyenangkan kita.
> Marilah kita muhasabah seperti yang dinasihatkan Dr. Aidh Al Qarni di atas, belajar dari perempuan penghuni sahara, yakni melengkapi syukur kita dengan kesabaran, dan merenungkan seekor anjing yang setia dan sabar menunggu majikannya kembali.
Walhasil, bersyukur akan menyebabkan kita sabar dalam mentaati Tuhan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam memaafkan orang lain. Itulah sebabnya, setelah Allah menjelaskan hukum-hukum puasa, Allah mengakhirinya dengan: “Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa kalian, mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya pada kalian, supaya kalian bersyukur." [QS Al Baqarah (92): 185]. Rasa syukur yang mendalam bukan saja membuahkan kesabaran untuk menaati Allah, tetapi juga kesabaran untuk menerima pemberian-Nya. Tentang pentingnya bersyukur, Allah SWT mengingatkan: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [QS Al Baqarah (2): 152]. Dan Allah akan menyertai orang-orang bersabar, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS Al Baqarah (2): 153]. [Hermanto]
Assalamu’alaikum Editor dan para pembaca Al Mustaqiim. Seharusnya kita kaum muslimin yang memiliki ajaran sempurna ini malu, karena tidak bisa menunjukkan budi pekerti yang baik. Anak-anak sekolah Jepang yang diajari budi pekerti dengan belajar dari anjing saja, bisa menjadi harapan bangsanya di masa depan. Para mahasiswa Indonesia yang merupakan pemuda harapan bangsa, sudah kehilangan jatidiri. Mahasiswa kok melakukan kekerasan di dalam kampus, unjuk rasa anarkistis dan bentrok antar mereka, merusak bangunan universitas, dan penyimpangan lainnya. Wassalam. Zain Bahri (alumni dari Jepang), yang ikut prihatin akan masa depan bangsa, dan saya terus mendukung ijtihad Pak Hermanto, yang saya kenal punya idealisme yang bagus.
BalasHapusAssalamu’alaikum wr.wb. Sebenarnya bangsa Jepang itu memiliki budaya luhur yang dasarnya diambil dari agama Shinto dan Budha (ini mirip dengan bangsa Indonesia di zaman Hindu dan Budha). Kemajuan peradaban Barat yang mereka peroleh berkat modernisasi yang dirintis Kaisar Meiji, telah menjadikan mereka sebagai bangsa yang rasional dalam berpikir. Sebenarnya dengan masuknya Islam, bangsa Indonesia bisa melakukan modernisasi, karena seperti dikatakan presiden AS Barack Obama, peradaban Barat itu asalnya dari peradaban Islam. Bangsa Jepang selalu berinovasi untuk melakukan perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dilatar-belakangi oleh kondisi sumber daya alamnya yang kurang menguntungkan. Sehingga fenomena apa saja di sekitar kehidupan mereka yang bermanfaat, termasuk seperti kisah anjing yang sabar, mudah diadopsi sebagai salah satu unsur untuk membangun sumber daya manusia yang berbudi pekerti baik. Kalau saya membaca tulisan-tulisan di Al Mustaqiim, Editor sangat bersemangat menyerukan membangun bangsa dan negara kita dengan merujuk pada ajaran Islam sebagai dasarnya. Ijtihad ini sangat saya hargai. Sayangnya, sumberdaya alam kita yang berlimpah membuat kita menjadi malas untuk berikhtiar. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, elite bangsa terlalu sibuk berebut kekuasaan, berbeda dengan elite bangsa Jepang, setelah kalah perang dunia ke-2, mereka justru berlomba berbuat kebajikan, yang dalam bahasa Islam adalah 'fastabiqul khairat'. Maju terus Al Mustaqiim. Wassalamu’alaikum wr.wb. Prawiradirja.
BalasHapusAlaikumsalam wr.wb. Perlu kami sampaikan kepada para pembaca, sejak Jepang kalah perang, para elite bangsa telah menetapkan sasaran pembangunan ekonomi dengan jelas. Sejak itu, lebih dari 20 perdana menteri (PM) sampai sekarang, hanya 2 PM yang pernah menjabat lebih dari satu periode yaitu PM Shigeru Yoshida (3 kali) dan PM Eisaku Sato (2 kali), yang lain hanya satu periode. Cukup banyak di antaranya yang mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir, jika mereka merasa kurang berhasil memimpin pemerintahan, untuk memberi kesempatan kepada orang lain. Namun meskipun gonta-ganti PM, jalannya pemerintahan tetap stabil. Ini berkat profesionalisme yang tinggi dari para birokrat dalam melaksanakan tugas masing-masing. Demikian ‘resonansi’ dari kami atas komentar Bapak Zain Bahri dan Bapak Prawiradirja, teriring ucapan terima kasih. Wassalamu’alaikum wr.wb. Editor
BalasHapus