Mendidik anak bukanlah pekerjaan sambilan yang hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, dan bukan sekedar mengajarkan pengetahuan tetapi mengembangkan potensi yang ada pada anak serta mengarahkan potensi-potensi itu sehingga sebagai kesatuan membentuk watak, kemampuan dan perilaku yang baik. Mendidik anak merupakan tugas orangtua yang dilakukan dalam setiap waktu dan dengan segenap perhatian. Mendidik anak dilaksanakan dengan ucapan, dengan berbagai bentuk komunikasi, dan dengan contoh keteladanan. Ketika seorang ibu membangunkan anaknya di waktu subuh dengan senyum ramah dan kata-kata yang halus, itu bagian dari pendidikan. Ketika ayah mengantarkan anaknya ke sekolah dan kesempatan itu digunakannya untuk berbincang-bincang dengan anak, itu bagian dari pendidikan. Ketika ayah dan ibu menunaikan shalat berjama’ah di depan anaknya yang masih Balita, itu bagian dari pendidikan. Begitu pula ucapan salam sang ayah kepada ibu ketika berangkat ke tempat kerja, ucapan do’a tatkala memulai makan, dan sebagainya.
Potensi pertama dan utama yang harus dikembangkan pada diri anak adalah keyakinan (iman) kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Potensi iman ini merupakan fitrah manusia, maka tugas orang tua adalah me-recall memori anak terhadap Allah. Ada dua pendekatan yang tidak dapat dipilih salah satu tetapi harus dilakukan bersama secara seimbang. Yang pertama pendekatan rasio dan yang kedua pendekatan rasa. Anak kecil adalah makhluk yang sedang mengembangkan akal pikirnya. Dia akan banyak bertanya sehingga kadang-kadang tampak sebagai ‘filsuf kecil’. Sekiranya perkembangan rasionalitasnya tidak dihalangi, anak akan bertanya tentang segala sesuatu, termasuk tentang Tuhan. Maka orangtua harus dapat memberikan jawaban secara arif, sesuai dengan tingkat kemampuan akal anak itu. Misalnya kalau anak kecil bertanya: “Seperti apakah Allah itu?”, orang tua dengan caranya sendiri harus mampu menerangkan bahwa Allah tidak seperti apapun. Allah adalah Pencipta sedangkan manusia yang dicipta; maka yang dicipta tidak dapat mengetahui penciptanya, seperti halnya mainan tidak dapat mengetahui pembuatnya.
Kalau anak bertanya: “Mengapa kita memberi sedekah kepada orang miskin?”, orangtua harus dapat memberi jawaban, bahwa orang miskin itu adalah manusia juga, yang perlu makan, minum, pakaian. Tetapi mereka kurang beruntung dalam mengusahakan kebutuhan-nya itu. Maka yang beruntung harus menolong yang kurang beruntung. Kalau anak bertanya: “Mengapa kita shalat, mengapa puasa?”, ayah dan ibu harus memberi jawaban yang sederhanya tetapi benar. Rasulullah Saw bersabda: “Bicaralah kepada manusia menurut kadar akalnya”.
Pendekatan kedua di dalam memperkenalkan anak kepada Allah adalah melalui rasa. Alangkah baiknya bila pada usia sedini mungkin, kepada anak diperdengarkan bacaan Al-Qur’an dan ucapan-ucapan pujian kepada Allah. Anak itu belum dapat memahami dengan pikirannya tetapi sudah dapat meresapi kalimat-kalimat baik yang diucapkan secara baik. Kalau seorang ibu, ketika menyusui bayinya mendendangkan puji-pujian kepada Allah, maka insya Allah bayi tersebut dapat meresapkan perkataan baik itu ke dalam hatinya. Kemudian ketika anak sudah mulai tumbuh, alangkah baiknya bila ayah atau ibu sering mengajak anak itu mengamati alam, menyaksikan bintang-bintang yang berkelap-kelip, gunung yang membiru, pohon-pohon yang menghijau, bunga-bungaan yang berwarna-warni, lalu mengatakan kepadanya: “Inilah makhluk-makhluk Allah yang sempurna. Maka alangkah hebatnya Allah!.” Ini sudah merupakan gabungan dari dua pendekatan yaitu pendekatan rasio dan pendekatan rasa.
Pendekatan kedua di dalam memperkenalkan anak kepada Allah adalah melalui rasa. Alangkah baiknya bila pada usia sedini mungkin, kepada anak diperdengarkan bacaan Al-Qur’an dan ucapan-ucapan pujian kepada Allah. Anak itu belum dapat memahami dengan pikirannya tetapi sudah dapat meresapi kalimat-kalimat baik yang diucapkan secara baik. Kalau seorang ibu, ketika menyusui bayinya mendendangkan puji-pujian kepada Allah, maka insya Allah bayi tersebut dapat meresapkan perkataan baik itu ke dalam hatinya. Kemudian ketika anak sudah mulai tumbuh, alangkah baiknya bila ayah atau ibu sering mengajak anak itu mengamati alam, menyaksikan bintang-bintang yang berkelap-kelip, gunung yang membiru, pohon-pohon yang menghijau, bunga-bungaan yang berwarna-warni, lalu mengatakan kepadanya: “Inilah makhluk-makhluk Allah yang sempurna. Maka alangkah hebatnya Allah!.” Ini sudah merupakan gabungan dari dua pendekatan yaitu pendekatan rasio dan pendekatan rasa.
Pembinaan iman kepada Allah tidak boleh berhenti sebagai keyakinan yang statis, yang tidak bermakna apa-apa. Membina iman itu seperti membangun pondasi, maka di atas pondasi itu harus didirikan bangunan yang kokoh yaitu bangunan akhlak. Anak secara bertahap harus diberi pengertian bahwa Allah selalu memberi kepadanya setiap yang dia perlukan, Allah menolong dia, melindungi dia, tetapi Allah juga senantiasa mengawasi dia. Kesadaran akan’kehadiran’ Allah ini mendorong orang melakukan kebaikan dan mencegah dia dari melakukan perbuatan yang tidak benar. Inilah yang dalam terminologi agama disebut Ihsan. Rasulullah menerangkan: ‘Ihsan adalah melakukan pengabdian kepada Allah dengan sebaik-baiknya, seakan-akan engkau melihat Allah. Karena meskipun engkau tidak dapat melihat Allah tetapi engkau yakin bahwa Dia melihat kamu.’ Iman merupakan prasyarat yang harus ada untuk membangun akhlak yang kuat, tetapi pembangunan akhlak itu akan menjadi lebih mudah bila dibantu dengan pembiasaan dan keteladanan.
Marilah kita bicarakan beberapa contoh: Kejujuran (Amanah) adalah salah satu wujud akhlak yang baik. Orang akan bersikap jujur apabila dia yakin bahwa ucapannya serta perilakunya diawasi dan dinilai oleh Allah. Namun tekad untuk bersikap jujur itu pasti terganggu kalau anak sering menyaksikan ayah dan ibunya berkata bohong, apa lagi bila dia sendiri yang dibohongi oleh orang tuanya. Ketika Rasul mendengar seseorang menyatakan janji akan memberi sesuatu kepada anaknya, beliau bertanya: “Apakah kamu benar-benar akan melaksanakan janjimu itu? Jangan sekali-kali kamu berbohong kepada anakmu.” Orang memang sering lupa bahwa berbohong kepada anak berarti mengajar anak itu untuk berbohong. Ada seorang ayah yang dengan emosi meluap memarahi anaknya, sampai menampar anak itu ketika mengucapkan suatu perkataan yang tidak menyenangkannya. Padahal dia (anak) justru menyatakan pendapatnya secara jujur. Ayah tersebut tidak menyadari bahwa pada waktu itu muncul pemahaman di benak anaknya bahwa kejujuran akan membawa celaka; maka untuk selanjutnya dia akan lebih senang menjadi safety player dengan berbohong.
Kesenangan bersedekah merupakan akhlak yang baik. Kesenangan itu akan tumbuh bila anak sejak kecil dibiasakan bersedekah. Alangkah baiknya bila ayah atau ibunya sengaja menyuruh anak untuk menyerahkan uang sedekah kepada seorang fakir, atau mengajak anak menyerahkan beras fitrah pada hari raya Fitri, atau membiasakan anak menabung setiap hari untuk membeli hewan Qurban. Semua itu hendaknya disertai dengan pujian atau hal-hal lain yang menjadikan anak senang. Maka kelak kebiasaan itu terus terkenang dalam ingatan anak dan akan dilanjutkan sepanjang hidupnya. Bersikap ramah dan menyayangi sesama adalah akhlak baik yang harus ditumbuhkan sejak kecil. Sifat ini akan tumbuh apa bila anak bukan hanya melihat tetapi meresapi kasih sayang di dalam lingkungan keluarganya. Kalau ayah dan ibu sering bertengkar, maka anak akan menjadi bingung. Tetapi kalau ayah dan ibu rukun dan damai maka anak akan menikmati suasana itu, meresapkannya ke dalam hati kemudian memancarkannya kembali ke masyarakatnya. Dia akan bersikap ramah kepada teman-temannya, menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih besar.
Itulah beberapa contoh yang memperlihatkan bahwa pengembangan iman harus dilanjutkan dengan bimbingan dan pembiasaan kepada anak untuk berakhlak baik. Upaya itu pasti akan ‘bersaing’ dengan input-input lain yang diperoleh anak dari lingkungan sosialnya dan dari media massa. Ketika orangtua membiasakan anak mengucapkan perkataan-perkataan yang sopan, anak mendengar dari kawan-kawannya kata-kata kasar. Tatkala orangtua membiasakan anak untuk hormat kepada ayah dan ibu, anak itu melihat dati tayangan televisi anak yang melawan ayah dan ibunya. Situasi seperti itu memang merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Memagari anak dengan memisahkannya terhadap dunia luar jelas tidak bijaksana, karena pada suatu ketika toh anak akan tahu apa yang ada di luar tembok rumahnya. Proteksi yang berlebihan justru menjadikan daya tahan anak rapuh dan rentan terhadap pengaruh luar. Maka akan jauh lebih baik apabila orangtua selalu menemani dan mendampingi anak ketika anak itu berinteraksi dengan lingkungannya. Menemani dan mendampingi itu tentu saja tidak selalu secara fisik. Yang penting, ayah dan ibu akrab dengan anaknya dan menjadi parner dialog yang baik bagi anaknya ketika anak itu menceriterakan hal-hal yang didapatnya di luar dan ketika anak mengemukakan pikiran-pikirannya dengan dunia luar itu.
Sakib Machmud
No. 128
No. 128
Dari dua artikel terakhir No. 127 dan No. 128, mungkin dapat disimpulkan, mendidik anak menjadi ihsan adalah menjelaskan tentang muraqabah. Begitu kan ustadz? Wassalam.
BalasHapusIman yang mantap kepada Allah menghasilkan dua kesadaran penting yaitu: Allah melindungi, menunjuki, menyediakan segala keperluan hamba2-Nya. Allah juga mengawasi. Dua kesadaran tersebut memberi harapan dan rasa takut. Orangtua perlu mendidik anaknya sehingga memiliki keduanya.
BalasHapusSaya paham penjelasan ustadz di atas, tetapi saya belum mendapat jawaban memuaskan.
BalasHapusKesimpulan pembaca Husni al-Bakri itu adalah logis saja, karena didasarkan pada makna kedua tulisan yang disebutkan sebelumnya. Terimakasih atas partisipasi Anda. Wassalamu’alaikum wr.wb.
BalasHapus