Sabtu, 05 November 2011

MENUJU TAKWA MELALUI IBADAH HAJI DAN QURBAN

Memasuki bulan Dzulhijjah ummat Islam di seluruh dunia bersiap untuk merayakan Idul Adlha 1432 H, atau hari raya Qurban, hari besar ummat Islam yang mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah yaitu kisah Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Kisah tersebut diabadikan oleh Allah Swt menjadi syari’at Haji dan Qurban yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan selanjutnya diikuti oleh seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

Ibadah Haji, dilaksanakan ummat Islam dari seluruh dunia, di mana jutaan manusia berkumpul melaksanakan kegiatan secara bersama-sama di suatu tempat, tidak terkecuali dari Indonesia yang pada tahun ini tercatat lebih dari 220 ribu jemaah sampai saat ini sudah berada di tanah suci. Haji merupakan ritual keagamaan yang sangat besar dan spektakuler, yang hanya dilakukan oleh ummat Islam. Maka benarlah doa Nabi Ibrahim kepada Allah untuk menjadikan rumah Allah (Ka’abah) tempat yang dirindukan oleh keturunannya: “Hai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan di sisi rumah Engkau yang suci. Hai Tuhan kami (tujuanku) agar mereka mau mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati manusia (seluruh dunia) rindu kepada mereka, dan berilah rezeki kepada mereka berupa buah-buahan, semoga mereka mau bersyukur (kepada-Mu).” (QS Ibrahim 14: 37). Semoga kita semua menjadi termasuk orang-orang sebagaiman doa Nabi Ibrahim, yang merindukan rumah Allah, dan bagi yang belum sempat melakukan ibadah haji diberikan kemudahan Allah untuk suatu ketika dapat menunaikan ibadah haji.

Demikian juga Qurban, salah satu kewajiban ummat Islam (yang mampu), dengan melakukan pemotongan hewan qurban, di mana jutaan hewan qurban dipotong dalam waktu yang bersamaan di seluruh dunia. Ibadah Qurban, mengingatkan kisah ujian keimanan yang sangat dahsyat dialami oleh Nabi Ibrahim, disyariatkan Allah dan diabadikan secara khusus sebagaimana tertulis di dalam Al-Qur’an: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!” Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Al-Shaffaat 37: 102-107).

Melalui kisah di atas dapat ditarik suatu tauladan, begitu kuatnya keimanan Nabi Ibrahim beserta isterinya dan Ismail puteranya, dengan keyakinan yang begitu kuat kepada Allah, apapun yang diperintahkan-Nya ditaati dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan sekalipun nyawa dipertaruhkan. Kisah tersebut diabadikan melalui praktek ritual ibadah haji dan qurban.

Pada ibadah Haji kita mengenal dan melakukan sa’i, jumrah, thawaf dan lainnya merupakan napak tilas terhadap apa yang dilakukan Ibrahim. Sa’i, mengingatkan bagaimana ketegaran Hajar isteri Ibrahim harus berlari dari bukit Safa ke bukit Marwah demi mencari setetes air untuk keperluan bayi Ismail. Melempar jumrah juga mengulangi dan meniru upaya Hajar yang melempar setan-setan yang mencoba menggodanya agar pergi meninggalkan mereka yang sedang mengalami penderitaan dan ujian. Thawaf, mengingatkan bagaimana Ibrahim dan Ismail pada saat itu sering mengelilingi bangunan Ka’abah yang mereka dirikan.

Firman Allah untuk sholat dan melaksanakan kurban: “Sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu kebaikan yang banyak (kautsar). Karena itu dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang benci kepadamu dialah orang yang terputus (dari nikmat Allah).” (QS Al Kautsar 108: 1-3).

Ibadah Qurban juga merupakan syari’at ummat yang terdahulu (sya’run man qablana), karena kegiatan tersebut juga dilakukan oleh putra keturunan Adam, yaitu Qabil dan Habil. Begitu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Qurban tidak mempunyai nilai apapun disisi Allah bila tidak disertai dengan keikhlasan, karena keikhlasan merupakan cermin dari ketauhidan. Daging yang dibagikan dan darah yang dialirkan , tidak berarti apa-apa bila tidak disertai keikhlasan dalam pelaksanaannya. Allah berfirman: “Daging-daging dan darahnya (hewan qurban) itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah Swt, tetapi ketaqwaan dari kamulah (yang dapat mencapainya).” (QS Al-Hajj 22: 37). Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa qurban seseorang tidak akan berarti dan diterima (mencapai keridhaan) Allah tanpa disertai dengan taqwa.

Adalah hubungan yang sangat erat antara ibadah shiyam ramadhan dengan ibadah haji dan ibadah qurban. Ibadah shiyam membentuk kepribadian taqwa kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang dahulu sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 183).

Sedangkan untuk melaksanakan ibadah haji bekal terbaik adalah ketaqwaan, dari ayat: “Ibadah haji itu di dalam bulan-bulan yang telah ditentukan, maka barang siapa yang melaksanakan kewajiban haji dalam bulan-bulan itu, maka tidak boleh sekali-kali rafats (jima’) dan tidak boleh sekali-kali fusuq, tidak boleh sekali-kali berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Dan jika kamu mengerjakan sesuatu kebajikan, Allah maha mengetahuinya. Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal, ialah takwa kepada Allah, dan bertakwalah kamu kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah 2: 197).

Barangkali baik kita cermati kisah nyata yang pernah dialami salah seorang yang pernah melaksanakan ibadah haji, semenjak tiba di tanah suci dia tidak pernah dapat melihat Ka’abah, biarpun dia telah masuk ke Masjidil Haram. Dalam melaksanakan thawaf pun dia tidak dapat melihat Ka’abah, entah karena apa selalu tertutup pandangannya oleh padatnya manusia dan benda-benda lain sehingga tidak dapat melihat Ka’abah. Oleh beberapa sahabat jemaah itu disarankan untuk istighfar dan selalu istighfar sambil mengoreksi diri atas perilaku yang telah dialaminya. Diakuinya bahwa dia masih mempercayai ada yang kuasa selain Allah, masih ada bibit syirik dalam hatinya. Dan setelah cukup lama, dan benar-benar memohon ampun kepada Allah, akhirnya Allah membuka matanya untuk melihat Ka’abah. Allah maha besar, berkuasa atas apa yang dikehendakinya. Sementara hamba Allah menyadari tidak berarti apa-apa dibawah kekuasaan Allah.

Demikian juga ibadah Qurban, yang akan sampai kepada Allah bukan daging dan darah hewan qurban, melainkan ketaqwaanlah yang akan sampai kepada-Nya. (QS Al-Hajj 22: 37).

Dengan demikian dapat diketahui bahwa inti dari perjalanan haji dan syari’at qurban, adalah tertanamnya ‘tauhid’ di dalam jiwa setiap hujaj dan orang yang berqurban sebagaimana tertanam dalam jiwa Ibrahim dan keluarganya. Ketauhidan, adalah ajaran yang penting dipesankan dalam dalam ibadah haji dan qurban. Haji adalah puncak ritual tauhid yang maha dahsyat bagi siapa saja yang mau memahami dan menemukannya. Tauhid ini pula yang essensial bagi tempat kembali (ke fitrah) manusia, yang menjadi tujuan ibadah shiyam yang disyariatkan pada bulan ramadhan.

Karena itu tidaklah suatu kebetulan kalau bulan Ramadhan berada di depan bulan Dzulhijjah, seakan-akan pelajaran untuk mencapai takwa dipersiapkan dahulu sebelum melakukan ujian yang lebih berat yaitu melakukan ibadah haji dan qurban. Muara dari semua syariat yang diperintahkan Allah adalah menjadikan manusia yang bertauhid, dengan berbekal takwa melaksanakan amal ibadah dan kewajiban-kewajiban di dunia ini dengan ikhlas, karena hanya mengharapkan keridhaan Allah Swt.

Moh Kamal Hs

No. 129

Tidak ada komentar:

Posting Komentar