Minggu, 20 November 2011

KEWAJIBAN MENDIRIKAN PEMERINTAHAN ISLAM

Menanggapi komentar para pembaca atas tulisan No. 130, penulis merasa perlu menambahkan dalil yang mewajibkan ummat Islam mendirikan pemerintahan Islam. Secara ringkas kami jelaskan sebagai berikut:

Pertam
a. Allah Swt telah memerintahkan kepada kita untuk menaati ulil amri - pemimpin - sebagaimana firman-Nya: “Haiorang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS An-Nisaa’ 4: 59). Ayat ini merupakan perintah untuk menaati Allah, Rasul-Nya dan pemimpin.


Lebih jauh ayat ini juga memerintahkan kepada kita untuk menetapkan pemimpin yang wajib kita taati. Allah Swt tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin kita laksanakan. Kewajiban menaati ulil amri itu akan bisa kita laksanakan jika sosok ulil amri itu wujud. Jika tidak ada, maka tidak bisa. Padahal, itu adalah kewajiban, sehingga perintah menaati ulil amri juga adalah perintah untuk mewujudkan ulil amri, supaya kewajiban itu bisa kitalaksanakan. Maka ayat tersebut juga bermakna “realisasikan atau angkatlah ulilamri di antara kalian dan taatilah dia.”


Kedua
, Allah telah memerintahkan untuk menerapkan syariat Islam, sebagaimana firman-Nya:: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’andengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab(yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlahkamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS Al-Maaidah 5: 48):. “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QSAl-Maaidah 5: 49)


Kedua ayat di atas secara tersurat memerintahkan Rasul untuk menghukumi (memerintah) dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad Saw agar tidak mengikuti yang lain. Karena yang lain itu berasal dari hawa nafsu yang hanya akan menyebabkanmu menyimpang dari apa yang telah diturunkan Allah. Meskipun orang yang diseru secara langsung dalam ayat ini adalah Rasul, namun seruan ini juga merupakan seruan bagi kita, ummat Rasul, berdasarkan kaidah: “Seruan kepada Rasul merupakan seruan kepada ummatnya selama tidak datang dalil yang mengkhususkan kepadanya. Sementara itu tidak ada satu dalil pun yang mengkhususkan seruan itu hanya bagi Rasul. Maka seruan dalam kedua ayat di atas juga merupakan seruan kepada kita.


Perintah-perintah tersebut sifatnya adalah tegas. Indikasi-indikasi tersebut adalah firman Allah: “Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang kafir.” (QS Al-Maaidah 5: 44). Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah 5: 45). “Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maaidah 5: 47).


Orang yang tidak menghukumi sesuatu dengan apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam) sebagai orang zhalim, fasik atau kafir, adalah celaan kepada mereka. Jika ada perintah melakukan sesuatu, kemudian ada orang yang tidak melakukannya, maka akan mendapat celaan. Hal itu menunjukkan bahwa perintah tersebut sifatnya tegas, yaituwajib. Dengan demikian perintah Allah untuk menghukumi manusia menggunakan apa-apa yang diturunkan oleh Allah yakni dengan syariat Islam adalah wajib.


Hukum-hukum itu tentu saja tidak bisa dilaksanakan secara individual. Akan tetapi sudah kita ketahui bersama dan tidak ada seorangpun yang memungkirinya bahwa penerapan hukum-hukum itu hanya bisa melalui institusi negara dan dilaksanakan oleh pemimpin atau pemerintahan. Jadi pelaksanaan berbagai kewajiban itu - yaitu kewajiban menghukumi segala sesuatu dengan syariat Allah itu hanya akan bisa kita laksanakan jika ada negara dan pemimpin atau pemerintahan yang mengadopsi dan menerapkannya, berdasarkan kaidah: “Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.”


Persoalannya adalah ada atau tidaknya
kemauan para elite politik dan ulama Islam untuk mendirikannya..Kalau tidak mau, berarti para elitre politik hanya memikirkan kepentingan sesaat bagi mereka sendiri, tidak memikirkan masa depan bangsa ini. Hal yang sama juga kami mengritik para ulama. Kebetulan beberapa waktu yang lalu seorang pembaca telah mengirim kepada kami tulisan berjudul ‘Ulama Menurut Perspektif Imam Al-Ghazali’’ yang insya Allah akan kami tampilkan bulan depan.

Mengenai pemberlakukan syariat Islam sebagai sumber hukum di Indonesia, ummat non-Islam hendaknya berlapang dada, karena kewajiban melaksanakan syariat Islam ini hanya diberlakukan untuk ummat Islam semata-mata, dan Islam mengajarkan untuk melindungi semua ummat.


Hermanto Hs

4 komentar:

  1. Untuk membangun pemerintahan Islam para ulama harus bersatu dan bangkit. Bukan terpecah belah dan tidur terlena oleh hasutan setan. Politisi dimanapun hanya memikirkan diri sendiri dan golongannya. Kita memerlukan ulama yang kompeten untuk berijtihad, karena ittu adalah kewajiban ulama. Itu yang kita cari. Maju terus Al Mustaqiim.

    BalasHapus
  2. Hai pemimpin militer Mesir, mau ngapain lagi ente, beri kebebasan rakyatmu membangun kembali negaranya. Jangan halangi mereka mendirikan pemerintahan yang amanah. Takut sama Amerika ya. (Via e-mail).

    BalasHapus
  3. Kenapa Iran saja terus yang mendapat sanksi? Padahal belum ada bukti punya senjata nuklir, sedangkan Israel, India, Pakistan yang jelas punya senjata nuklir tidak dikenakan sanksi. Itu tidak adil Barry. Mana dukungan negara-negara Arab buat Iran?

    BalasHapus
  4. Sanksi ekonomi Liga Arab untuk Suriah? Itu cara Amerika yang tidak manusiawi untuk menekan pemimpin negara-negara musuhnya, karena yang menjadi korban adalah rakyat negara yang dimusuhi. Biarkan Suriah menyelesaikan masalah mereka sendiri.

    BalasHapus