Pertengahan bulan September yang lalu saya mengalami operasi kecil untuk menghilangkan katarak di kedua mata, mula-mula yang kiri kemudian setelah membaik disusul dengan yang kanan. Karena kebiasan menggerak-gerakkan kepala yang sulit dicegah, saya minta agar dokter melakukan pembiusan total; maka dua kali dalam waktu sebulan saya ditidaksadarkan. Ketika operasi sudah siap dilaksanakan, obat bius dimasukkan ke tubuh, dan saya dipersilakan membaca do’a. Maka sayapun berkonsentrasi menghadapkan hati kepada Allah Swt dan lisan saya berucap pelan: Allahumma Rabban nasi adzhibil ba’sa. Isyfii Antas Syafi la syifa-a illa syifa-uka, syfa-an la yughadiru saqama - Duhai Allah, Pembina dan Pelindung manusia, yang menghilangkan segala penyakit, sembuhkanlah saya. Engkau Mahapenyembuh, tidak ada kesembuhan sempurna selain dari-Mu, kesembuhan yang tidak mendatangkan penyakit lagi. Saya ulang-ulang permohonan tersebut, namun belum selesai bacaan yang ketiga, kesadaran saya hilang dengan proses yang amat halus. Saya baru siuman kembali setelah dibangunkan kira-kira satu jam kemudian, ketika operasi sudah selesai.
Setelah sembuh saya mengingat dan merenungkan kembali peristiwa pembiusan tersebut. Saya berpikir, barangkali sakaratul maut bagi orang yang diwafatkan Allah dalam keadaan husnul khatimah - akhir kehidupan yang baik, mirip dengan keadaan saya ketika dibius total itu. Kesadaran menghilang dengan cepat, mudah, tanpa derita sama sekali baik lahir maupun batin. Mestinya sakaratul maut bagi orang yang baik bahkan jauh lebih nikmat lagi. Rasulullah Saw menerangkan hal ini: “Beberapa malaikat menyambutnya dengan membawakain dan wewangian surga. Wajah mereka ramah. ‘Izrail sang malaikat maut duduk di dekat kepala orang itu dan berkata: “Wahai jiwa yang tenteram, keluarlah menuju ampunan Allah serta ridha-Nya”. Maka nyawa orang itu berpisah dari tubuhnya dengan tenang, seperti kucuran air dari mulut sebuah kantong kulit.” (HR Ahmad).
Kalau proses kematian saja begitu nikmat, apa lagi ketika orang yang wafat dalam keadaan husnul khatimah itu dibangunkan pada hari Kiamat. Dia akan menghadap Allah Swt di padang Mahsyar dalam keadaan Allah senyum kepadanya. Allah berfirman dengan nada yang ramah: “Aku sudah menutupi dosa-dosamu yang kamu lakukan di dunia, dan sudah Aku ampuni semua itu pada hari ini”. (HR Al-Bukhari-Muslim). Maka prosedur pemeriksaan dan penimbangan amal dijalaninya dengan lancar kemudian dia diantarkan malaikat memasuki surga yang penuh kenikmatan. Yang akan diperolehnya adalah segala yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati seorangpun (HR Al-Bukhari). Dia berada di sana untuk selama-lamanya, menikmati segala karunia yang menyertai ridha Allah yang agung (QS Al-Bayyinah 98: 8).
Kondisi yang digambarkan tadi bertolak belakang dengan yang dialami orang-orang kafir, yang karena kekufurannya mati dalam keadaan su-ul khatimah - akhir kehidupan yang buruk. Al-Qur'an menggambarkan situasi ketika mereka mengalami sakaratul maut: Alangkah ngerinya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil membentak kasar): "Lepaskan nyawamu." (QS Al-An’aam 6: 93). Keterangan ini ditegaskan lagi pada ayat lain: “Seandainya kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul wajah dan belakang kepala mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (QS Al-Anfaal: 8: 50). Mati dalam kondisi itu seperti pasti sangat menyakitkan, sehingga Rasulullah menggambarkan, sakitnya sakaratul maut bagi orang-orang kafir itu setara dengan sakitnya dipukuli dengan tiga ratus pedang (HR Ibnu Abu Dunya).
Saya, Anda, dan semua orang beriman tentu tidak ingin mengalami kematian dan kebangkitan kembali dalam kondisi sangat buruk seperti digambarkan tadi. Semua kita mengharapkan untuk diwafatkan Allah dalam kondisi terbaik. Untuk itu orang harus melakukan ikhtiar di sepanjang hayatnya. Apa yang harus dilakukan? Allah berfirman tentang hal ini: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan menyatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushshilat 41: 30). Ayat ini mengemukakan dua hal sebagai syarat untuk memperoleh kegembiraan yang hakiki beserta surga yang dijanjikan Allah kepada semua orang.
Syarat yang pertama adalah iman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang mencipta, mengatur, dan menentukan segala sesuatu, dan karena itu Allah adalah satu-satunya yang disembah dan tujuan berserah diri. Orang beriman sudah tentu tidak hanya menyimpan imannnya di dalam hati. Dia merealisasikan iman itu sebagai ibadah - pengabdian diri seutuhnya kepada Allah Swt. Agama mengajarkan pengabdian diri langsung kepada Allah (ibadah mahdhah), dan pengabdian diri kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan kepada sesama makhluk. (ibadah mu’amalah). Mengenai hal ini Allah berfirman dengan jelas: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu lagi dengan imannya itu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (dalam pernyataan imannya).
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang diwafatkan dalam kondisi husnul khatimah dan memperoleh surga adalah istiqamah - konsisten dalam imannya. Keharusan istiqamah di dalam kebenaran dan kebaikan ini berkenaan dengan ujian-ujian yang selalu dihadapi setiap orang di sepanjang hidupnya. Ada ungkapan dalam bahasa Arab yang menyatakan: Alhayatu silsilatun minal imtihan - hidup itu merupakan untaian dari ujian demi ujian. Ada ujian yang berupa kesulitan, kemiskinan, sakit, wafatnya orang-orang yang dicintai, dan sebagainya. Ada pula ujian yang justru berupa kemudahan, kekayaan yang banyak, kedudukan sosial yang tinggi, dan sebagainya. Ujian adalah prosedur yang niscaya, untuk mengangkat posisi seseorang di hadapan Allah Swt. Al-Qur’an menegaskan: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi (tentang pernyataannya itu)? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Orang yang benar ialah yang ketika menghadapi kesulitan dia bersabar. Dia terus menerus mengerahkan potensi yang ada pada dirinya untuk mendapat-kan apa yang diperlukannya, sedangkan jiwanya berserah diri kepada Allah, karena yakin bahwa hasil usahanya ditentukan oleh Allah Swt. Al-Qur’an menceriterakan kisah Nabi Ayyub As yang dihadapkan kepada beberapa musibah berturut-turut. Mula-mula kekayaan beliau lenyap, tetapi Nabi Allah itu berserah diri sepenuhnya. Beliau meyakini bahwa harta yang ada padanya adalah titipan dari Allah, maka ketika titipan tersebut diambil kembali oleh Pemilik, beliau mengikhlaskan tanpa keberatan sedikitpun. Kemudian putera-putera beliau wafat seorang demi seorang. Tetapi Ayyub As tidak bersedih hati sama sekali. Seperti halnya harta, anak juga amanah Allah, yang pada suatu ketika diambil kembali oleh Penitipnya. Sesudah itu kesegatan beliau yang diambil, sehingga Ayyub merasakan sakit yang tenat. Pada saat itu beliau menyatakan: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sedang menderita sakit, dan Engkau adalah Tuhan yang paling Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiyaa’ 21: 83).
Al-Qur’an mengisahkan pula sikap Nabi Sulaiman As yang mendapatkan segala karunia idaman setiap orang. Beliau kaya raya sehingga memiliki istana yang luar biasa megah dan indah. Beliau berkuasa besar sehingga bukan hanya memerintah manusia tetapi juga jin. Beliau sangat pandai sampai dapat memehami bahasa semut. Tetapi dalam kondisi serba punya itu tidak sebersit kesombongan menyentuh hatinya. Beliau menyatakan isi hatinya dengan tulus: “Semua ini adalah karunia Tuhanku, untuk menguji aku apakah aku menjadi bersyukur atau justru mengingkari nikmat-Nya” (QS An-Naml 27: 40). Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw juga menyampaikan keteguhan hati Nabi Isma’il As, bahkan ketika masih remaja. Ketika ayahandanya, Ibrahim As, menanyakan pendapat beliau mengenai perintah Allah untuk menyembelih anak muda itu dengan tangannya sendiri, Isma’ik menjawab mantap: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS As-Shaffaat 37: 102).
Ujian demi ujian akan terus menerus dihadapkan Allah kepada semua orang sampai hari Kiamat. Yang lulus adalah yang bersyukur ketika memperoleh kegembiraan, dan sabar tatkala ditimpa musibah. Kita mesti selalu bersiap diri untuk menghadapi ujian-ujian hidup tersebut, akan tetapi toh kita memohon keringanan kepada Allah Swt: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (QS Al-Baqarah 2: 286)
Setelah sembuh saya mengingat dan merenungkan kembali peristiwa pembiusan tersebut. Saya berpikir, barangkali sakaratul maut bagi orang yang diwafatkan Allah dalam keadaan husnul khatimah - akhir kehidupan yang baik, mirip dengan keadaan saya ketika dibius total itu. Kesadaran menghilang dengan cepat, mudah, tanpa derita sama sekali baik lahir maupun batin. Mestinya sakaratul maut bagi orang yang baik bahkan jauh lebih nikmat lagi. Rasulullah Saw menerangkan hal ini: “Beberapa malaikat menyambutnya dengan membawakain dan wewangian surga. Wajah mereka ramah. ‘Izrail sang malaikat maut duduk di dekat kepala orang itu dan berkata: “Wahai jiwa yang tenteram, keluarlah menuju ampunan Allah serta ridha-Nya”. Maka nyawa orang itu berpisah dari tubuhnya dengan tenang, seperti kucuran air dari mulut sebuah kantong kulit.” (HR Ahmad).
Kalau proses kematian saja begitu nikmat, apa lagi ketika orang yang wafat dalam keadaan husnul khatimah itu dibangunkan pada hari Kiamat. Dia akan menghadap Allah Swt di padang Mahsyar dalam keadaan Allah senyum kepadanya. Allah berfirman dengan nada yang ramah: “Aku sudah menutupi dosa-dosamu yang kamu lakukan di dunia, dan sudah Aku ampuni semua itu pada hari ini”. (HR Al-Bukhari-Muslim). Maka prosedur pemeriksaan dan penimbangan amal dijalaninya dengan lancar kemudian dia diantarkan malaikat memasuki surga yang penuh kenikmatan. Yang akan diperolehnya adalah segala yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati seorangpun (HR Al-Bukhari). Dia berada di sana untuk selama-lamanya, menikmati segala karunia yang menyertai ridha Allah yang agung (QS Al-Bayyinah 98: 8).
Kondisi yang digambarkan tadi bertolak belakang dengan yang dialami orang-orang kafir, yang karena kekufurannya mati dalam keadaan su-ul khatimah - akhir kehidupan yang buruk. Al-Qur'an menggambarkan situasi ketika mereka mengalami sakaratul maut: Alangkah ngerinya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil membentak kasar): "Lepaskan nyawamu." (QS Al-An’aam 6: 93). Keterangan ini ditegaskan lagi pada ayat lain: “Seandainya kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul wajah dan belakang kepala mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (QS Al-Anfaal: 8: 50). Mati dalam kondisi itu seperti pasti sangat menyakitkan, sehingga Rasulullah menggambarkan, sakitnya sakaratul maut bagi orang-orang kafir itu setara dengan sakitnya dipukuli dengan tiga ratus pedang (HR Ibnu Abu Dunya).
Saya, Anda, dan semua orang beriman tentu tidak ingin mengalami kematian dan kebangkitan kembali dalam kondisi sangat buruk seperti digambarkan tadi. Semua kita mengharapkan untuk diwafatkan Allah dalam kondisi terbaik. Untuk itu orang harus melakukan ikhtiar di sepanjang hayatnya. Apa yang harus dilakukan? Allah berfirman tentang hal ini: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan menyatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushshilat 41: 30). Ayat ini mengemukakan dua hal sebagai syarat untuk memperoleh kegembiraan yang hakiki beserta surga yang dijanjikan Allah kepada semua orang.
Syarat yang pertama adalah iman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang mencipta, mengatur, dan menentukan segala sesuatu, dan karena itu Allah adalah satu-satunya yang disembah dan tujuan berserah diri. Orang beriman sudah tentu tidak hanya menyimpan imannnya di dalam hati. Dia merealisasikan iman itu sebagai ibadah - pengabdian diri seutuhnya kepada Allah Swt. Agama mengajarkan pengabdian diri langsung kepada Allah (ibadah mahdhah), dan pengabdian diri kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan kepada sesama makhluk. (ibadah mu’amalah). Mengenai hal ini Allah berfirman dengan jelas: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu lagi dengan imannya itu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (dalam pernyataan imannya).
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang diwafatkan dalam kondisi husnul khatimah dan memperoleh surga adalah istiqamah - konsisten dalam imannya. Keharusan istiqamah di dalam kebenaran dan kebaikan ini berkenaan dengan ujian-ujian yang selalu dihadapi setiap orang di sepanjang hidupnya. Ada ungkapan dalam bahasa Arab yang menyatakan: Alhayatu silsilatun minal imtihan - hidup itu merupakan untaian dari ujian demi ujian. Ada ujian yang berupa kesulitan, kemiskinan, sakit, wafatnya orang-orang yang dicintai, dan sebagainya. Ada pula ujian yang justru berupa kemudahan, kekayaan yang banyak, kedudukan sosial yang tinggi, dan sebagainya. Ujian adalah prosedur yang niscaya, untuk mengangkat posisi seseorang di hadapan Allah Swt. Al-Qur’an menegaskan: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi (tentang pernyataannya itu)? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Orang yang benar ialah yang ketika menghadapi kesulitan dia bersabar. Dia terus menerus mengerahkan potensi yang ada pada dirinya untuk mendapat-kan apa yang diperlukannya, sedangkan jiwanya berserah diri kepada Allah, karena yakin bahwa hasil usahanya ditentukan oleh Allah Swt. Al-Qur’an menceriterakan kisah Nabi Ayyub As yang dihadapkan kepada beberapa musibah berturut-turut. Mula-mula kekayaan beliau lenyap, tetapi Nabi Allah itu berserah diri sepenuhnya. Beliau meyakini bahwa harta yang ada padanya adalah titipan dari Allah, maka ketika titipan tersebut diambil kembali oleh Pemilik, beliau mengikhlaskan tanpa keberatan sedikitpun. Kemudian putera-putera beliau wafat seorang demi seorang. Tetapi Ayyub As tidak bersedih hati sama sekali. Seperti halnya harta, anak juga amanah Allah, yang pada suatu ketika diambil kembali oleh Penitipnya. Sesudah itu kesegatan beliau yang diambil, sehingga Ayyub merasakan sakit yang tenat. Pada saat itu beliau menyatakan: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sedang menderita sakit, dan Engkau adalah Tuhan yang paling Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiyaa’ 21: 83).
Al-Qur’an mengisahkan pula sikap Nabi Sulaiman As yang mendapatkan segala karunia idaman setiap orang. Beliau kaya raya sehingga memiliki istana yang luar biasa megah dan indah. Beliau berkuasa besar sehingga bukan hanya memerintah manusia tetapi juga jin. Beliau sangat pandai sampai dapat memehami bahasa semut. Tetapi dalam kondisi serba punya itu tidak sebersit kesombongan menyentuh hatinya. Beliau menyatakan isi hatinya dengan tulus: “Semua ini adalah karunia Tuhanku, untuk menguji aku apakah aku menjadi bersyukur atau justru mengingkari nikmat-Nya” (QS An-Naml 27: 40). Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw juga menyampaikan keteguhan hati Nabi Isma’il As, bahkan ketika masih remaja. Ketika ayahandanya, Ibrahim As, menanyakan pendapat beliau mengenai perintah Allah untuk menyembelih anak muda itu dengan tangannya sendiri, Isma’ik menjawab mantap: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS As-Shaffaat 37: 102).
Ujian demi ujian akan terus menerus dihadapkan Allah kepada semua orang sampai hari Kiamat. Yang lulus adalah yang bersyukur ketika memperoleh kegembiraan, dan sabar tatkala ditimpa musibah. Kita mesti selalu bersiap diri untuk menghadapi ujian-ujian hidup tersebut, akan tetapi toh kita memohon keringanan kepada Allah Swt: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (QS Al-Baqarah 2: 286)
Sakib Machmud
No. 131
Tidak ada komentar:
Posting Komentar