Minggu, 23 November 2008

9. MEMBANGUN KEKUATAN UMMAT

Kita telah membahas tentang Membangun Optimisme, Bangkit Dari Krisis, dan Makna Jihad dan Ijtihad. Maka tiba saatnya kita Membangun Kekuatan Ummat. Untuk itu, kita harus melakukan dua hal.

Pertama, mewujudkan ukhuwah Islamiyah melalui silaturahim. Rasulullah SAW bersabda: ”Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus”.[HR Bukhari]. Kata ’menyambungkan’ adalah proses aktif, karena itu kita harus pro aktif melaksanakannya.

Silaturahim ini penting karena merupakan perintah Allah SWT yang kedua setelah perimtah taqwa.sebagaimana firman-Nya dalam [QS An Nisaa’ (4): 1]: ”Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim”.

Dengan semangat ukhuwah Islamiyah, kita akan lebih intensif dan efektif menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan sosial ummat. Dalam bahasa modern, amar ma’ruf juga dapat dipahami sebagai humanisasi, yaitu pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sedangkan nahi munkar dipahami sebagai liberasi, yaitu ikhtiar membebaskan ummat dari kedzhaliman dan berbagai pelanggaran moral. Sementara itu iman bermakna seruan agar manusia tidak melupakan komitmen primordialnya dengan Tuhan.

Pada humanisasi terkandung penguatan intelektual, pada liberasi terkandung penguatan moral. Sedangkan pada iman terkandung penguatan spiritual. Inilah tiga hal, yang harus kita manfaatkan dalam membangun kekuatan ummat.

Dengan tiga kekuatan ini (intelektual. moral dan spiritual), manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat akan bertahan hidup, bahkan menjadi panjang umur dalam arti maju dan beradab. Bayangkan betapa dalam dan kaaffah makna kalimat amar ma’ruf nahi munkar

Kedua, melakukan pembenahan kualitas ummat dan organisasi ummat. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan atas kelemahan-kelemahannya, supaya potensi yang ada, layak dan mudah untuk dikembangkan. Dengan demikian dapat dilakukan optimalisasi kekuatan yang ada.

Untuk merealisasikan hal tersebut, antara lain kita harus bisa memilih sahabat (dalam organisasi lazim disebut anggota dan kader) dan pemimpin yang tepat, jangan memilih sahabat dan pemimpin yang aspek operasionalnya hanya berada pada kategori tingkatan Muslim saja, melainkan tingkatan Mukmin atau Mujahid.

Dalam bahasan ini pengertian sahabat dibedakan dari teman atau kenalan biasa. Sahabat adalah orang yang jika kita memperoleh kesulitan akan secara terbuka dan mudah kita dapat meminta tolong kepadanya, sedangkan apabila kita memperoleh kesenangan atau keuntungan atau kelebihan, dia merupakan orang yang sering kita ingat untuk membagi bersama kesenangan atau keuntungan tersebut.

Adapun teman atau kenalan adalah orang yang berkomunikasi dengan baik untuk berbagai masalah kehidupan tanpa suatu ikatan emosional yang berkesinambungan.

Siapakah Muslim, Mukmin dan Mujahid? Muslim adalah orang yang sudah memahami esensi Islam yang mendasar, khususnya ritual Islam. Mereka sudah Islam (melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji), namun baru sampai batas patuh melakukan ritual saja. Sedangkan tindakan operasionalnya hanya mengikuti apa yang terjadi di masyarakat, bahkan sering kali ‘hanyut’ dalam ‘arus yang mengalir.’

Seseorang pada tingkatan Mukmin, adalah Muslim yang hatinya benar-benar telah tertancap pada keyakinan bahwa Allah SWT adalah Tuhannya dan Muhammad SAW adalah Rasul-Nya, dan senantiasa menunjukkan kebenaran akan Islam dalam tindakan-tindakan operasional sehari-harinya.

Jika seorang Mukmin mampu mensyi’arkan Islam dan berjihad, dan apabila jihad yang dilakukan sampai dengan mengorbankan harta dan nyawanya di jalan Allah, maka tingkatan Mukmin itu disebut Mujahid.

Istilah Muslim dan tingkatan-tingkatannya yang disebutkan di atas, hanyalah bersifat ‘internal’, yang dimaksudkan untuk melakukan pembahasan dalam rangka melakukan konsolidasi potensi ummat Islam. Ketiga tingkatan tersebut tetap relevan disebut sebagai Muslim saja, untuk membedakan antara ummat Islam dengan non-Islam.

Pembedaan tingkatan seperti tersebut di atas, tidak dimaksudkan untuk merendahkan atau meninggikan derajat seseorang, melainkan untuk melakukan konsolidasi potensi ummat. Pemahaman dan keberanian kita untuk menentukan apakah seseorang itu Muslim, Mukmin, Mujahid, akan besar manfaatnya bagi sikap operasional kita selanjutnya pada orang tersebut.

Terhadap mereka yang dalam tingkatan Muslim, setidaknya ini harus dipertahankan untuk selanjutnya ditingkatkan ke tingkatan Mukmin. Pada dasarnya hanya perlu dimantapkan akidahnya sehingga memiliki motivasi yang lebih kuat untuk memahami Islam secara menyeluruh (kaaffah) dan terjun ke dalam kegiatan dakwah Islam.

Kepada mereka ini sikap yang terbaik tentulah bimbingan, pengarahan dan motivasi. insya Allah bila seseorang sudah menjalankan rukun Islam secara teratur, Allah SWT akan lebih membuka pintu hatinya untuk menjadi pejuang Islam yang kokoh ideologinya, jika secara tekun dan sabar diberi pengarahan dan petunjuk.

Pada tingkatan Mukmin dan Mujahid, orang tersebut sudah yakin benar akan baiknya Islam sebagai tuntunan hidup secara kaaffah tanpa keraguan sedikitpun, yang secara konsisten ditunjukkan dari sikap dan aktivitasnya dalam mendakwahkan Islam secara ikhlas, yang memiliki kualitas untuk dijadikan sahabat sejati dalam hidup di dunia yang heterogen ini.

Dalam memilih pemimpin, kita ummat Islam dianjurkan agar memilih mereka yang pada tingkatan Mukmin atau Mujahid sebagaimana fiman Allah SWT dalam [QS Al Maaidah (5): 55-57]: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka yang tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolong, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang menang. Janganlah kamu angkat sebagai penolong dan pembela, orang-orang yang menjadikan agamamu menjadi sasaran ejekan dan permainan”.

Maka hendaknya kita hanya memilih penolong dan pembela (pemimpin) pada tingkatan Mukmin atau Mujahid dan diharapkan sanggup menghadapi dengan bijak orang-orang yang melecehkan Islam dengan kepemimpinan yang kuat dan amanah, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat sebagai ulil amri dan khadimul ummah.

Ulil amri atau umara adalah orang yang mendapatkan amanah dan kepercayaan untuk menangani segala urusan masyarakat. Ia bertanggungjawab penuh terhadap segala persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin yang memahami makna ulil amri akan memiliki kesadaran bahwa amanah jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya harus digunakan sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia akan berusaha untuk melindungi kepentingan masyarakat, terutama kaum yang lemah.

Karena itulah, ketika diangkat menjadi khalifah, Abubakar menyatakan dengan tegas; “Aku adalah pemimpin yang berkeinginan agar orang kuat menjadi lemah di hadapanku, dan sebaliknya yang lemah menjadi kuat di hadapanku”.

Terhadap pemimpin yang demikianlah Allah SWT menegaskan pentingnya untuk memiliki ketaatan dan loyalitas sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. [QS An Nisaa’ (4): 59].

Khadimul ummah atau pelayan masyarakat, adalah pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat yang akan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kepedulian terhadap kondisi masyarakat harus tercermin pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Maka jelaslah bahwa tidak ada loyalitas dan ketaatan terhadap pemimpin yang mengkhianati amanah yang telah diberikan Allah kepadanya, apalagi pemimpin yang hanya ingin mencari kekuasaan.

Dengan kategori Mukmin ini, khususnya Mukmin / Mujahid yang perjuangan Islamnya profesional dan berkualitaslah yang layak dijadikan pemimpin. Ukuran profesionalisme bukan hanya di bidang ilmu saja, melainkan lebih utama dan terutama adalah keimanannya. Tingkah laku manusia, betapapun keahliannya dalam suatu bidang, bahkan bidang manajemen sekalipun, yang menentukan hasilnya adalah hati nurani yang digerakkan oleh imannya. Profesional di sini dimaksudkan dalam pengertian kesungguhan dan kekhusyukan.

Demikianlah kita hendaknya terlebih dahulu memperbaiki keIslaman kita masing-masing, baik secara individual maupun berkelompok (dalam organisasi) untuk kemudian menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan menyadari hal ini, kita harus segera bangkit dari posisi sebagai ummat Islam yang mayoritas namun hanya berperan kecil dalam kehidupan sosial, insya Allah akan menjadi ummat Islam yang mayoritas dan berperan besar dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Untuk itu kita harus melakukan perbaikan yang meliputi tiga hal.

Pertama: Menunjukkan identitas Islam secara terbuka. Sebagai Muslim kita masih berada dalam status krisis identitas, meskipun sekarang tidak separah dibandingkan tiga empat dasawarsa yang lalu. Sepanjang sejarah dakwah Rasulullah SAW, tidak ada sikap-sikap menyembunyikan identitas dalam berhadapan dengan kaum yang lain.

Maka seorang Muslim jangan ragu untuk mengatakan bahwa dirinya Muslim dengan penuh kebanggaan, demikian pula jangan ragu bahwa dirinya akan mendakwahkan Islam dalam segala dimensi kehidupannya. Usaha-usaha sosial kemasyarakatan termasuk mengajukan konsep-konsep politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan sebagainya, hendaknya tidak disamarkan identitas Islamnya.

Kedua: Memprioritaskan pembenahan masalah sosial kemasyarakatan, yang meliputi konsep Islam tentang pembangunan ekonomi, politik, hukum, keamanan dan ketertiban sosial, pengembangan kebudayaan, pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan, narkoba, dan sebagainya, sebagai. Bukan sekedar melakukan kegiatan yang bersifat ritual individual, seperti melakukan shalat, berpuasa, berhaji dan sebagainya.

Dana ummat Islam yang dikumpulkan hendaknya tidak diprioritaskan untuk menambah jumlah masjid atau merenovasi masjid, kecuali pada tempat-tempat yang benar-benar memerlukan, namun lebih ditekankan pada kegiatan sosial kemasyarakatan yang bisa membuat ummat bergerak dinamis, dan sekaligus memanfaatkan fasilitas masjid agar tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah ritual saja, melainkan juga untuk melakukan pengkajian masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dakwah, dan kegiatan lainnya, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan fungsi masjid.

Ketiga: Keberanian mengajukan konsep kesejahteraan sosial. Untuk itu diperlukan konsolidasi organisasi ummat agar menjadi kokoh dan profesional. Organisasi Islam yang ada hendaknya lebih menyadari peran mereka sebagai kelompok sosial yang mampu berkompetisi dengan kelompok non-Muslim. Jangan berlaku sebagai organisasi amal saja, bila ada banjir atau gunung meletus, dan bencana lainnya beramai-ramai mengumpulkan sumbangan. Organisasi Islam harus berpikir, bersikap dan bertindak sebagai kelompok sosial yang mempunyai cita-cita Islami.

Dengan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan tersebut, diharapkan setidaknya kita bisa melakukan konsolidasi potensi ummat yang ada dan layak untuk dikembangkan. Dengan demikian optimalisasi kekuatan yang ada dapat lebih mudah dilakukan. Kita hendaknya bisa memanfaatkan momen ketika konsep ekonomi syariah menjadi wacana di negeri kita ini, dan bank-bank syariah sudah banyak diterapkan dan makin berkembang. [Hermanto]

2 komentar:

  1. Assalamu’alakum Dik Manto.
    Saya kaget menerima pemberitahuan pembukaan website dari Anda. Tulisan-tulisan bagus, ciri khas tulisan tetap kelihatan ditambah kematangan di bidang agama. Salut Dik. Saya bingung komentar ini mau dikirim di bab apa, karena tahu-tahu tulisan sudah banyak. Saya berdo’a semoga kita semua bisa menjadi muslim yang mukmin sejati, seperti yang Anda tuliskan di bab ini. Maju terus Dik. Amien,
    Salam untuk anak-anak dan keluarga di Tokyo.
    Wassalam,
    Prawiradirja, Bandung.

    BalasHapus
  2. Alaikumsalam wr.wb. Saya menyesal, ketika di Tokyo kurang belajar agama, Baru-baru ini sebisa-bisanya mengejar ketinggalan itu. Terimakasih atas dorongan Bapak Semoga Bapak bersama keluarga tetap sehat dan selalu dalam lindunganNya. Amiiin. Wassalam. Hermanto.

    BalasHapus