Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan untuk bisa menjadi Muslim yang Islami, hendaknya kita lebih mengenal Allah SWT, mengenal Rasulullah SAW dengan suri teladannya, mengenal diri kita sendiri dan mengenal nafsu yang terkandung dalam diri kita masing-masing. Siapa Allah SWT dan siapa Rasulullah SAW kiranya para pembaca sudah banyak mempelajari.
Ada baiknya kita sejenak mempelajari tentang nafsu. Manusia perlu mengenal dirinya sendiri, jika tidak maka kita tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri. Untuk itu kita perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah SWT.
Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Akan tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan, yakni untuk membangun dunia sesuai kehendak dan tuntunan Ilahi.
Nafsu dari sisi dzatnya adalah satu, sedangkan sifatnya ada tiga. 1) Jika nafsu memerintahkan keburukan dan maksiat, maka dinamakan amaratun bissuu', 2) jika memerintahkan kebaikan dan ketaatan, maka dinamakan muthmainnah, dan 3) Jika memerintahkan sesuatu lalu mencelanya, itu disebut lawwamah. Jika yang dicela itu perbuatan buruk, maka ia terpuji, dan jika yang dicela perbuatan baik, maka ia tercela. Meskipun demikian, secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan kemaksiatan.
Nafsu pada umumnya menyuruh melakukan apa-apa yang enak dan menyenangkan. Ini merupakan salah satu tipu dayanya. Andaikan kita memberi keleluasaan kepadanya, maka dia akan menyelipkan keburukan, dan tidak akan berhenti memerintahkan keburukan kepada kita. Namun dengan kecerdasan emosional, manusia mampu mengendalikan nafsunya ke arah positif, agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan negatif.
Nafsu tidak akan mampu berubah dengan sendirinya tanpa perjuangan serta usaha yang sungguh-sungguh dari kita sendiri (manusia) dan pertolongan Allah SWT. Nafsu menghiasi kita dengan kemaksiatan seakan-akan baik dan indah, menganjurkan melakukan dan membiasakannya.
Firman Allah SWT dalam [QS Yuusuf (12): 53] menyebutkan pengakuan Nabi Yuusuf AS sbb: ”Aku tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.
Faktor pendorong terbesar gejolak nafsu buruk adalah kebodohan (aj jahl) dan kezhaliman (az zhulm). Dari dua faktor ini muncul perilaku dan perkataan yang buruk. Tetapi, dengan pertolongan Allah SWT nafsu dapat berubah. Yaitu dengan cara menggunakan ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh.
Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sedangkan amal shaleh adalah amal yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti apa saja yang telah diajarkan Rasulullah SAW). Sedangkan yang tidak mencontoh Rasulullah SAW dinamakan bid'ah.
Namun ada pula perbuatan yang tidak mencontoh Rasulullah tetapi terpuji, yang dinamakan bid’ah hasanah. Kebanyakan orang yang suka membid’ahkan orang lain, biasanya ilmu agamanya dangkal, asal mengenal salah satu hadis tentang bid’ah, semuanya disalahkan dan disesatkan. Bid’ah semacam ini disebut bid’ah dholalah (sesat)
Dalam kaitan kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, kita harus bisa mengendalikan nafsu yang meliputi diri kita masing-masing, agar menjadi suatu kekuatan yang dahsyat untuk melawan kemungkaran. Jika berhasil, maka baru bisa kita katakan bahwa kita telah melaksanakan shalat dengan khusyuk, yang tercermin dalam keshalehan kita, baik secara individu maupun sosial.
Jika kita tinjau lebih lanjut tentang kondisi ummat Islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia, betapa negeri kita ini terus menerus dalam keterpurukan, sebenarnya terlalu membosankan untuk diungkapkan, karena begitu jelas kondisinya sudah sangat menyedihkan dan memalukan.
Dari sekian banyak parameter kekurangan dan kelemahan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, salah satu yang sangat menyedihkan, adalah pudarnya keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT adalah suatu keniscayaan. Padahal Allah tidak akan membiarkan hambaNya yang beriman, berada dalam kesulitan.
Sebagai Muslim tentu kita beriman kepada Allah SWT dan karena itu kita wajib menegakkan agama Allah, sebagaimana firmanNya: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Demikian sabda Nabi Nuhammad Rasulullah SAW yang termuat dalam [QS Muhammad (47): 7]. Jadi hanya jika kita menolong atau menegakkan agama Allah, maka Allah akan menolong kita.
Namun demikian, kita hendaknya juga jangan lupa bahwa, janji Allah tersebut hanya akan datang apabila kita memiliki optimisme dan prasangka yang baik kepada Allah. Optimisme dan prasangka baik kepada Allah itu bisa kita lihat sendiri, antara lain dari sejauh mana kita telah melakukan perbuatan amal shaleh secara berkesinambungan, tidak melakukan kejahatan dan perbuatan mungkar lainnya yang bertentangan secara diametral dengan ajaran Allah.
Dalam peristiwa pembunuhan berantai yang terungkap beberapa waktu yang lalu, dan mutilasi lainnya yang banyak terjadi di Indonesia, ada beberapa kualifikasi penyebab yang muncul dalam kasus-kasus itu. yakni: 1) Nafsu yang mencapai tingkat penyimpangan luar biasa dalam diri manusia. 2) Unsur syaithaniyah yang menempel dalam diri manusia maupun jin yang berposisi di antara karakter, sifat dan nafsu itu sendiri. 3) Ilmu yang berkolaborasi dengan jin dan syeitan, sangat berpengaruh pada kepribadian orang itu. 4) Tradisi bermaksiat, memanjakan kesenangan, meremehkan perintah dan larangan agama. 5) Lingkungan keluarga, konflik sejak dalam kandungan, juga bisa menjadi pemicu tumbuhnya watak konflik dan kepribadian ganda.
Namun, apapun motivasi dan klasifikasi penyebabnya, penyebab utama adalah karena pelakunya tidak memiliki optimisme dan berprasangka buruk kepada Allah Yang Maha Pencipta, sehingga mereka mengambil tindakan keji dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Dalam sebuah Hadis quds, Allah SWT menyatakan dengan tegas: Aku adalah bersama dengan persangkaan baik hamba-Ku. Ini berarti, jika kita berburuk sangka kepada Allah SWT, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan persangkaan kita, yaitu hasil yang buruk. Tetapi, jika kita memiliki prasangka yang baik, maka insya Allah, kebaikan dan kemenangan akan kita dapatkan.
Betapa kemenangan dan ketegaran yang diperoleh seseorang yang kakinya terpaksa diamputasi akibat sakit yang dideritanya, Itu adalah karena optimisme dan persangkaan baikmya kepada Allah. Dia telah lulus menghadapi ujian yang berat dari Allah, dan naik tingkat keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah.Karena itulah, kita harus memiliki semangat dan optimisme yang kuat, yang harus melekat pada diri kita masing-masing. Semuanya harus menyikapi secara positif terhadap segala yang terjadi saat ini dengan persangkaan baik kepada Allah SWT. [Hermanto]
Ada baiknya kita sejenak mempelajari tentang nafsu. Manusia perlu mengenal dirinya sendiri, jika tidak maka kita tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri. Untuk itu kita perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah SWT.
Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Akan tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan, yakni untuk membangun dunia sesuai kehendak dan tuntunan Ilahi.
Nafsu dari sisi dzatnya adalah satu, sedangkan sifatnya ada tiga. 1) Jika nafsu memerintahkan keburukan dan maksiat, maka dinamakan amaratun bissuu', 2) jika memerintahkan kebaikan dan ketaatan, maka dinamakan muthmainnah, dan 3) Jika memerintahkan sesuatu lalu mencelanya, itu disebut lawwamah. Jika yang dicela itu perbuatan buruk, maka ia terpuji, dan jika yang dicela perbuatan baik, maka ia tercela. Meskipun demikian, secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan kemaksiatan.
Nafsu pada umumnya menyuruh melakukan apa-apa yang enak dan menyenangkan. Ini merupakan salah satu tipu dayanya. Andaikan kita memberi keleluasaan kepadanya, maka dia akan menyelipkan keburukan, dan tidak akan berhenti memerintahkan keburukan kepada kita. Namun dengan kecerdasan emosional, manusia mampu mengendalikan nafsunya ke arah positif, agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan negatif.
Nafsu tidak akan mampu berubah dengan sendirinya tanpa perjuangan serta usaha yang sungguh-sungguh dari kita sendiri (manusia) dan pertolongan Allah SWT. Nafsu menghiasi kita dengan kemaksiatan seakan-akan baik dan indah, menganjurkan melakukan dan membiasakannya.
Firman Allah SWT dalam [QS Yuusuf (12): 53] menyebutkan pengakuan Nabi Yuusuf AS sbb: ”Aku tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.
Faktor pendorong terbesar gejolak nafsu buruk adalah kebodohan (aj jahl) dan kezhaliman (az zhulm). Dari dua faktor ini muncul perilaku dan perkataan yang buruk. Tetapi, dengan pertolongan Allah SWT nafsu dapat berubah. Yaitu dengan cara menggunakan ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh.
Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sedangkan amal shaleh adalah amal yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti apa saja yang telah diajarkan Rasulullah SAW). Sedangkan yang tidak mencontoh Rasulullah SAW dinamakan bid'ah.
Namun ada pula perbuatan yang tidak mencontoh Rasulullah tetapi terpuji, yang dinamakan bid’ah hasanah. Kebanyakan orang yang suka membid’ahkan orang lain, biasanya ilmu agamanya dangkal, asal mengenal salah satu hadis tentang bid’ah, semuanya disalahkan dan disesatkan. Bid’ah semacam ini disebut bid’ah dholalah (sesat)
Dalam kaitan kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, kita harus bisa mengendalikan nafsu yang meliputi diri kita masing-masing, agar menjadi suatu kekuatan yang dahsyat untuk melawan kemungkaran. Jika berhasil, maka baru bisa kita katakan bahwa kita telah melaksanakan shalat dengan khusyuk, yang tercermin dalam keshalehan kita, baik secara individu maupun sosial.
Jika kita tinjau lebih lanjut tentang kondisi ummat Islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia, betapa negeri kita ini terus menerus dalam keterpurukan, sebenarnya terlalu membosankan untuk diungkapkan, karena begitu jelas kondisinya sudah sangat menyedihkan dan memalukan.
Dari sekian banyak parameter kekurangan dan kelemahan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, salah satu yang sangat menyedihkan, adalah pudarnya keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT adalah suatu keniscayaan. Padahal Allah tidak akan membiarkan hambaNya yang beriman, berada dalam kesulitan.
Sebagai Muslim tentu kita beriman kepada Allah SWT dan karena itu kita wajib menegakkan agama Allah, sebagaimana firmanNya: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Demikian sabda Nabi Nuhammad Rasulullah SAW yang termuat dalam [QS Muhammad (47): 7]. Jadi hanya jika kita menolong atau menegakkan agama Allah, maka Allah akan menolong kita.
Namun demikian, kita hendaknya juga jangan lupa bahwa, janji Allah tersebut hanya akan datang apabila kita memiliki optimisme dan prasangka yang baik kepada Allah. Optimisme dan prasangka baik kepada Allah itu bisa kita lihat sendiri, antara lain dari sejauh mana kita telah melakukan perbuatan amal shaleh secara berkesinambungan, tidak melakukan kejahatan dan perbuatan mungkar lainnya yang bertentangan secara diametral dengan ajaran Allah.
Dalam peristiwa pembunuhan berantai yang terungkap beberapa waktu yang lalu, dan mutilasi lainnya yang banyak terjadi di Indonesia, ada beberapa kualifikasi penyebab yang muncul dalam kasus-kasus itu. yakni: 1) Nafsu yang mencapai tingkat penyimpangan luar biasa dalam diri manusia. 2) Unsur syaithaniyah yang menempel dalam diri manusia maupun jin yang berposisi di antara karakter, sifat dan nafsu itu sendiri. 3) Ilmu yang berkolaborasi dengan jin dan syeitan, sangat berpengaruh pada kepribadian orang itu. 4) Tradisi bermaksiat, memanjakan kesenangan, meremehkan perintah dan larangan agama. 5) Lingkungan keluarga, konflik sejak dalam kandungan, juga bisa menjadi pemicu tumbuhnya watak konflik dan kepribadian ganda.
Namun, apapun motivasi dan klasifikasi penyebabnya, penyebab utama adalah karena pelakunya tidak memiliki optimisme dan berprasangka buruk kepada Allah Yang Maha Pencipta, sehingga mereka mengambil tindakan keji dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Dalam sebuah Hadis quds, Allah SWT menyatakan dengan tegas: Aku adalah bersama dengan persangkaan baik hamba-Ku. Ini berarti, jika kita berburuk sangka kepada Allah SWT, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan persangkaan kita, yaitu hasil yang buruk. Tetapi, jika kita memiliki prasangka yang baik, maka insya Allah, kebaikan dan kemenangan akan kita dapatkan.
Betapa kemenangan dan ketegaran yang diperoleh seseorang yang kakinya terpaksa diamputasi akibat sakit yang dideritanya, Itu adalah karena optimisme dan persangkaan baikmya kepada Allah. Dia telah lulus menghadapi ujian yang berat dari Allah, dan naik tingkat keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah.Karena itulah, kita harus memiliki semangat dan optimisme yang kuat, yang harus melekat pada diri kita masing-masing. Semuanya harus menyikapi secara positif terhadap segala yang terjadi saat ini dengan persangkaan baik kepada Allah SWT. [Hermanto]
assalamualaikum wr., wb.,
BalasHapusbung hermanto harsolumakso niki kulo tiyang sae. tulisan sampeyan hebat. terusin yaa. mudah2an krisis yang melanda dunia ini dapat segera diatasi. amiin.