Sebagaimana dibahas sebelumnya, kita harus memiliki semangat dan optimisme yang kuat pada diri kita masing-masing, agar kita bisa menyikapi secara positif terhadap segala yang terjadi saat ini dengan persangkaan baik kepada Allah SWT.
Selanjutnya, jika kita ingin mendapatkan pertolongan Allah dan keluar dari berbagai macam krisis saat ini, kita harus memiliki empat kekuatan sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir”. [HR Abu Daud].
Pertama, ilmunya para ulama, yaitu para ulama yang senantiasa takut dan mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. [QS Faathir (35): 28].
Takut para ulama kepada Allah adalah takut dalam arti bertanggungjawab dan bisa menjadi contoh kebaikan bagi ummat atau masyarakatnya, yaitu tanggungjawab akan terwujudnya masyarakat yang benar-benar Islami. Bukan ulama yang hanya pandai memperjualbelikan ayat-ayat Allah demi kepentingan dunia yang sesaat, seperti yang sekarang banyak terjadi. Selesai berdakwah terima duit, tidak peduli masyarakat kelak akan menjadi apa dan bagaimana. Betapa banyak ulama yang mengatakan; “Kami hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, selanjutnya tergantung kepada ummat yang melaksanakan”. Sangat disayangkan dan tidak bertanggungjawab ulama seperti ini.
Allah SWT memperingatkan kita semua: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [QS Ash Shaaf (61): 3]
Jadi apa manfaatnya ulama yang hanya berdakwah tanpa memberikan teladan kebajikan. Pantas saja bangsa dan negara kita tetap terpuruk dan tak bisa bangkit, meskipun kita sudah 63 tahun merdeka, telah merayakan 80 tahun sumpah pemuda, dan 100 tahun kebangkitan bangsa.
Sudah sewajarnya jika para ulama itu menjadi guru bangsa termasuk bagi para umara, bukan sebaliknya para ulama hanya sekedar menuruti kebijakan para umara.
Kedua, keadilan para pemimpin (umara). Hendaknya para pemimpin tidak bermain-main dengan ajaran Allah apalagi dengan melakukan kedzaliman dan ketidakadilan. Tentang keadilan Allah SWT berfirman; “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu”. [QS Ar Rahman (55): 9].
Para pemimpin hendaknya lebih bertanggungjawab terhadap amanah kepemimpinannya secara adil, dan mempersembahkan yang terbaik pada saat memegang jabatannya. Jangan ketika sedang memimpin, tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik seperti apa yang diucapkan ketika kampanye.
Peringatan Allah dalam [QS Ash Shaaf (61): 3], juga berlaku bagi para umara yang berambisi menjadi pemimpin, tiba-tiba muncul seolah-olah paling peduli dan paling mampu mengemban amanat rakyat. Hal yang sama juga dilakukan para umara yang telah lengser, padahal ketika masih menjabat tidak mampu berbuat yang terbaik.
Berbeda dengan apa yang pernah dikemukakan seorang aktor senior dalam suatu wawancara TV, yang mengatakan rasa takutnya menerima tawaran dari partai-partai politik untuk tampil dalam Pilkada dan bahkan dalam Pemilu sebagai Caleg. Dia menyadari bahwa mengemban amanah adalah beban yang paling berat pertanggungjawabannya di akhirat. Memang seharusnya mereka yang terkenal di masyarakat bukan sekedar memanfaatkan kepopulerannya untuk meraih kekuasaan atau jabatan demi memperoleh harta, melainkan menyadari arti dan tanggungjawab mengemban amanah.
Ketiga, kepemurahan orang-orang kaya. Inilah momentum yang tepat bagi mereka yang berada untuk berbagi rizki Allah dengan mereka yang kurang beruntung. Harus disadari bahwa kekayaan yang akan menemani kita di akhirat kelak, adalah kekayaan diinfaqkan untuk kepentingan dan kemaslahatan agama dan masyarakat. Firman Allah tentang hal ini, sudah banyak dijelaskan dalam pelbagai penerbitan dan ceramah.
Keempat, do’anya kaum fakir miskin. Tentu kita pernah mendengar ucapan pengemis ketika dia menerima pemberian kita, dengan mengatakan “terimakasih Pak/Bu, saya do’akan”. Itulah ucapan seorang hamba Allah, yang dilandasi kecintaan dan penghargaan kepada sesamanya yang telah menolongnya. Maka marilah kita perbanyak berinfaq dan shadaqah dan amalan lainnya kepada kaum fuqara dan masakin agar supaya mereka bergembira menerima pemberian kita dan berdo’a untuk kita semua, bukan sekedar menerima dengan sinis karena pemberian kita yang dianggapnya hanya sedikit.
Demikianlah, jika keempat elemen ini terbangun dengan baik, insya Allah berbagai krisis dan kesulitan, yang terjadi, akan dapat diatasi dengan baik. Maka marilah kita memperbanyak amar ma’ruf nahi munkar, dan yakin serta optimis bahwa pertolongan Allah akan datang menghampiri kita.
Marilah kita semua bermuhasabah untuk memperbaiki diri. Kita sudah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 63 kali sejak bangsa kita merdeka dari penjajahan bangsa asing. Ramadhan, bukan sekedar rutinitas ritual keagamaan belaka. Kita berharap ada sesuatu yang lebih, yakni menjadi inspirasi terbaik bagaimana meningkatkan kepedulian ummat terhadap masyarakat secara keseluruhan. Memperbaiki diri tidak terbatas pada bulan Ramadhan melainkan juga pada bulan-bulan lainnya sampai hari-hari kemenangan yang sesungguhnya tiba, yaitu awal bulan Ramadhan berikutnya.
Dengan modal itu, seharusnya moral dan etika kita makin baik, kita makin jujur, makin bertanggungjawab, makin tinggi kepedulian sosialnya, hidup sederhana, tidak bermewah-mewah, makin bersungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja, makin rajin belajar terutama bagi kaum muda, makin berdisiplin, dan serba lebih baik dalam segalanya.
Diwajibkannya berpuasa setiap tahun itu untuk memperbaiki amalan yang kurang sempurna selama hidup dengan amalan baik dan nilai pahala yang tinggi dari Allah SWT selama bulan Ramadhan. Tanpa bisa terjadi perbaikan seperti itu, maka yang terjadi di bulan Ramadhan hanya sekedar lulus dari exersise tidak makan dan minum dan menahan larangan lainnya di siang hari, maka puasa kita, buka bersama kita, shalat tarawih berjamaah kita hanya meningkatkan keriyaan dalam beribadah yang tiada pahalanya.
Logikanya, jika kita melaksanakan ibadah puasa setiap tahun dengan baik sebagaimana diajarkan Islam, maka seharusnya setiap manusia, setiap tahun amal shalehnya juga meningkat, Marilah kita bermuhasabah untuk bangkit dari keterpurukan. Kebangkitan yang sesungguhnya adalah apabila kita bersungguh-sungguh dalam berjihad dan berijtihad di jalan Allah. [Hermanto]
Selanjutnya, jika kita ingin mendapatkan pertolongan Allah dan keluar dari berbagai macam krisis saat ini, kita harus memiliki empat kekuatan sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir”. [HR Abu Daud].
Pertama, ilmunya para ulama, yaitu para ulama yang senantiasa takut dan mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. [QS Faathir (35): 28].
Takut para ulama kepada Allah adalah takut dalam arti bertanggungjawab dan bisa menjadi contoh kebaikan bagi ummat atau masyarakatnya, yaitu tanggungjawab akan terwujudnya masyarakat yang benar-benar Islami. Bukan ulama yang hanya pandai memperjualbelikan ayat-ayat Allah demi kepentingan dunia yang sesaat, seperti yang sekarang banyak terjadi. Selesai berdakwah terima duit, tidak peduli masyarakat kelak akan menjadi apa dan bagaimana. Betapa banyak ulama yang mengatakan; “Kami hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, selanjutnya tergantung kepada ummat yang melaksanakan”. Sangat disayangkan dan tidak bertanggungjawab ulama seperti ini.
Allah SWT memperingatkan kita semua: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [QS Ash Shaaf (61): 3]
Jadi apa manfaatnya ulama yang hanya berdakwah tanpa memberikan teladan kebajikan. Pantas saja bangsa dan negara kita tetap terpuruk dan tak bisa bangkit, meskipun kita sudah 63 tahun merdeka, telah merayakan 80 tahun sumpah pemuda, dan 100 tahun kebangkitan bangsa.
Sudah sewajarnya jika para ulama itu menjadi guru bangsa termasuk bagi para umara, bukan sebaliknya para ulama hanya sekedar menuruti kebijakan para umara.
Kedua, keadilan para pemimpin (umara). Hendaknya para pemimpin tidak bermain-main dengan ajaran Allah apalagi dengan melakukan kedzaliman dan ketidakadilan. Tentang keadilan Allah SWT berfirman; “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu”. [QS Ar Rahman (55): 9].
Para pemimpin hendaknya lebih bertanggungjawab terhadap amanah kepemimpinannya secara adil, dan mempersembahkan yang terbaik pada saat memegang jabatannya. Jangan ketika sedang memimpin, tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik seperti apa yang diucapkan ketika kampanye.
Peringatan Allah dalam [QS Ash Shaaf (61): 3], juga berlaku bagi para umara yang berambisi menjadi pemimpin, tiba-tiba muncul seolah-olah paling peduli dan paling mampu mengemban amanat rakyat. Hal yang sama juga dilakukan para umara yang telah lengser, padahal ketika masih menjabat tidak mampu berbuat yang terbaik.
Berbeda dengan apa yang pernah dikemukakan seorang aktor senior dalam suatu wawancara TV, yang mengatakan rasa takutnya menerima tawaran dari partai-partai politik untuk tampil dalam Pilkada dan bahkan dalam Pemilu sebagai Caleg. Dia menyadari bahwa mengemban amanah adalah beban yang paling berat pertanggungjawabannya di akhirat. Memang seharusnya mereka yang terkenal di masyarakat bukan sekedar memanfaatkan kepopulerannya untuk meraih kekuasaan atau jabatan demi memperoleh harta, melainkan menyadari arti dan tanggungjawab mengemban amanah.
Ketiga, kepemurahan orang-orang kaya. Inilah momentum yang tepat bagi mereka yang berada untuk berbagi rizki Allah dengan mereka yang kurang beruntung. Harus disadari bahwa kekayaan yang akan menemani kita di akhirat kelak, adalah kekayaan diinfaqkan untuk kepentingan dan kemaslahatan agama dan masyarakat. Firman Allah tentang hal ini, sudah banyak dijelaskan dalam pelbagai penerbitan dan ceramah.
Keempat, do’anya kaum fakir miskin. Tentu kita pernah mendengar ucapan pengemis ketika dia menerima pemberian kita, dengan mengatakan “terimakasih Pak/Bu, saya do’akan”. Itulah ucapan seorang hamba Allah, yang dilandasi kecintaan dan penghargaan kepada sesamanya yang telah menolongnya. Maka marilah kita perbanyak berinfaq dan shadaqah dan amalan lainnya kepada kaum fuqara dan masakin agar supaya mereka bergembira menerima pemberian kita dan berdo’a untuk kita semua, bukan sekedar menerima dengan sinis karena pemberian kita yang dianggapnya hanya sedikit.
Demikianlah, jika keempat elemen ini terbangun dengan baik, insya Allah berbagai krisis dan kesulitan, yang terjadi, akan dapat diatasi dengan baik. Maka marilah kita memperbanyak amar ma’ruf nahi munkar, dan yakin serta optimis bahwa pertolongan Allah akan datang menghampiri kita.
Marilah kita semua bermuhasabah untuk memperbaiki diri. Kita sudah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 63 kali sejak bangsa kita merdeka dari penjajahan bangsa asing. Ramadhan, bukan sekedar rutinitas ritual keagamaan belaka. Kita berharap ada sesuatu yang lebih, yakni menjadi inspirasi terbaik bagaimana meningkatkan kepedulian ummat terhadap masyarakat secara keseluruhan. Memperbaiki diri tidak terbatas pada bulan Ramadhan melainkan juga pada bulan-bulan lainnya sampai hari-hari kemenangan yang sesungguhnya tiba, yaitu awal bulan Ramadhan berikutnya.
Dengan modal itu, seharusnya moral dan etika kita makin baik, kita makin jujur, makin bertanggungjawab, makin tinggi kepedulian sosialnya, hidup sederhana, tidak bermewah-mewah, makin bersungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja, makin rajin belajar terutama bagi kaum muda, makin berdisiplin, dan serba lebih baik dalam segalanya.
Diwajibkannya berpuasa setiap tahun itu untuk memperbaiki amalan yang kurang sempurna selama hidup dengan amalan baik dan nilai pahala yang tinggi dari Allah SWT selama bulan Ramadhan. Tanpa bisa terjadi perbaikan seperti itu, maka yang terjadi di bulan Ramadhan hanya sekedar lulus dari exersise tidak makan dan minum dan menahan larangan lainnya di siang hari, maka puasa kita, buka bersama kita, shalat tarawih berjamaah kita hanya meningkatkan keriyaan dalam beribadah yang tiada pahalanya.
Logikanya, jika kita melaksanakan ibadah puasa setiap tahun dengan baik sebagaimana diajarkan Islam, maka seharusnya setiap manusia, setiap tahun amal shalehnya juga meningkat, Marilah kita bermuhasabah untuk bangkit dari keterpurukan. Kebangkitan yang sesungguhnya adalah apabila kita bersungguh-sungguh dalam berjihad dan berijtihad di jalan Allah. [Hermanto]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar