Kita memerlukan waktu yang panjang untuk mampu merenungi hidup kita selama ini dan masa depan keakhiratan, terutama bagi mereka yang pandangannya terhalang tembok dunia, tertimbun rupiah dan dollar, bertabirkan nafsu, sementara orang lain telah berusaha menjumpai Tuhannya, ‘bercakap’ dengan-Nya, melalui wahyu yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Sesungguhnya kita dikaruniai Allah SWT otak sebagai sarana berpikir yang berfungsi untuk menjadikan manusia itu makhluk berakal sehat. Kita masih memerlukan waktu yang panjang untuk menikmati peribadatan, shalat berjamaah tepat waktu, menghadiri taklim, lekatnya hati pada masjid, berhati-hati dalam bicara supaya tidak menyinggung perasaan orang lain, berakhlak mulia seperti yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Memerlukan waktu yang panjang untuk menegakkan yang ma’ruf dan menjauhi hal-hal yang munkar, mengubah jiwa ‘kaleng’ menjadi berjiwa ‘emas’ untuk suatu persiapan prosesi menerima hidayah di atas kepala kita.
Meskipun di antara kita waktu semakin sempit karena usia terus menerus digerogoti masa disamping ‘kemalasan’, sesungguhnya dunia belumlah kiamat untuk memberi kesempatan kepada kita untuk menerima ilmu dan hidayah dari Allah SWT. Itulah yang harus kita manfaatkan jika kita hendak menjadi orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk-Nya.
Jika kita berbicara tentang agama dan keIslaman kita, maka mau tak mau akan dilibatkan pada kesibukan yang tiada nilai ibadahnya di sisi Allah SWT, malahan suatu kesibukan yang cenderung menjauhi dan memusuhi Allah. Betapa tidak, marilah kita tengok apa yang kita kerjakan setelah bangun dari tidur di pagi hari hingga kembali tidur di malam hari. Hanya ada dua pilihan: beribadah atau bermaksiat, tidak ada pilihan ketiga.
Ketika bangun tidur jam 04.00 (jika diprogramkan) apakah kita akan mengambil air wudhu atau menarik kembali selimut, lalu pergi ke masjid atau ke warung kopi, membaca Qu’ran atau membaca Koran. Sadarlah kita bahwa selanjutnya dua ‘kamerawan’ yang tidak pernah tidur yaitu malaikat Rakib dan Atid selalu setia mendampingi di kanan dan kiri kita untuk merekam ‘video’ yang siap bergerak dari berbagai sudut. Berhati-hatilah kita dengan kesenangan duniawi, manusia-manusia ‘kelas dunia’ pun bisa tak terselamatkan jika menafsirkan keindahan secara keliru, semata-mata mengikuti nafsu yang tak terkendali.
Perhatikan firman-firman Allah berikut ini:
1) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. [QS Qaaf (50): 16-17].
2) Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS Al Hadid (57): 20].
Sebagai contoh, adalah rekaman perselingkuhan manusia yang bisa mengungkap perbuatan, bukan hanya berdampak besar bagi pelaku, melainkan juga bagi keluarganya, institusi dan masyarakat, dan seketika itu juga jabatan yang tinggi bisa copot, harga diri, pamor bisa ternoda. Dan bagaimana mah-kamah Allah kelak akan memberikan vonis kepada manusia, jika rekaman video oleh para malaikat itu juga akan diputar ulang itu menunjukkan kejahatan, dan kemungkaran lainnya? Waspadalah!
Tetapi, manusia relatif sedikit membicarakan akhirat, jarang melakukan diskusi tentang kubur, tentang nikmat dan adzab Allah SWT, karena berbicara tentang hal ini dianggap mengerikan, bernuansa takabur, dan tidak keren, walaupun hari demi hari langkah manusia sedang menuju ke
Apabila kita pancing mereka berbicara tentang topik non agamis, misalnya tentang pekerjaan, karir, rumah, tanah, bunga deposito, permadani, mobil, perkutut, batu giok, lukisan, pertandingan sepakbola Eropa dan Amerika Latin, kuis berhadiah, kehidupan kaum selebriti, acara televisi, dan sebagainya, mereka sangat fasih di luar kepala dalam pemaparannya, termasuk istilah- istilahnya hingga hal-hal yang sangat rinci.
Cobalah tanyakan kepada mereka siapakah Phil Collins, Michael Jackson, Chuck Norris, David Copperfield, Steven Spielberg dan karyanya, niscaya mereka lancar-lancar saja menjawabnya, jauh lebih fasih daripada menjawab siapakah Iman Al Ghazali, Ibnul Qayum, Ibnu Taimiyah, Sheikh Nashirudin Al Albani, Abdullah bin Baz, Yusuf Qardhawi, Sayyid Qutub, dan lainnya.
Sebenarnya tidak apa-apa kalau memang maunya demikian, tetapi janganlah merendahkan orang-orang yang dengan serius mencoba menimba ilmu dari tokoh-tokoh Islam yang disebut di atas.
Kehidupan mereka bagaikan lembu yang berputar-putar mengitari batu penggilingan, yang manfaatnya takkan pernah mereka cicipi. Lembu itu tidak pernah menikmati roti dan gandum yang dia giling, juga tidak pernah merasakan manisnya gula tebu, yang dengan tenaganya air gula mengucur.
Dalam Al Qur’an banyak dijelaskan bahwa di akhirat nanti banyak ‘jerih payah’ manusia yang sia-sia, di antaranya adalah: "Pada hari emas dan perak dibakar di neraka jahanam, lalu dengannya dibakar juga dahi, lambung dan punggung mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Inilah hasil harta yang kamu simpan dahulu, maka rasakanlah akibat simpananmu." [At Taubah (9): 35].
Betapa ayat yang demikian itu tidak pernah diketahui oleh mereka, manusia pekerja keras yang melupakan Tuhannya, yang menjadikan dirinya sekerup dan baut dari mesin kehidupan yang digerakkan oleh nafsu cinta dunia (hubuddunya). Kebanyakan di antara kita, tidak mengendalikan kehidupan ini, melainkan dalam kenyataannya dikendalikan oleh pikiran ‘orang lain’, yang di antaranya ‘orang lain’ itu adalah musuh-musuh Allah juga, karena mereka tidak seakidah dengan kita, dan mencocokkan pola hidupnya dengan pola ‘investor baru’ tersebut.
Pola hidup ‘Pergi Pagi Pulang Petang (P4)’, hanya menghabiskan usia di perjalanan, apalagi kalau saat demi saat tidak diisi dengan dzikrullah, sungguh suatu perjalanan tanpa diberati oleh timbangan Allah. Hari, bulan tahun meninggalkan kita sedemikian cepat dikarenakan kita teramat dan betah hidup di dunia yang penuh dengan keasyikkan menggapai kesenangan, padahal dunia ini hanya mempunyai dua tabiat; kalau dunia tidak meninggalkan kita, maka kitalah yang akan meninggalkan dunia.
Maka berhati-hatilah kita terhadap kesenangan duniawi, yang menyilau-kan mata, menyesatkan hati, sehingga kita lepas kendali menikmatinya, sementara dua ‘kamerawan’ selalu merekam, tingkah polah kita. Apakah kita tidak malu seandainya rekaman itu video kehidupan kita yang jelek diputar dan diperlihatkan kepada Allah SWT kelak?
Dengan demikian, kita bisa melakukan introspeksi, sejauh mana kita sudah Islami. Selain memperhatikan hal-hal tersebut di atas, kita perlu pula memperhatikan hal-hal yang nampaknya sepele. Misalnya, jika kita tinggal di kota-kota besar dan padat penduduknya, tentu kita akan menghadapi kemacetan lalu lintas. Sadarkah kita bahwa kemacetan itu akibat tidak disiplin dalam mengemudikan kendaraan, tidak saling memberi kesempatan dan mendahulukan siapa yang harus didahulukan, sebagaimana diajarkan ketika mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) untuk pertama kali, sesuai ketentuan lalu-lintas?
Jika kita naik bus, ada orang duduk di sebelah koridor di dalam bus apakah dia bersedia menggeser ke arah jendela untuk memberikan tempat duduk kepada kita? Dari situ saja sudah terlihat bahwa di antara kita tidak ada tenggang rasa satu sama lain. Orang maunya enak sendiri, tetap ingin duduk di sebelah koridor supaya bisa mudah keluar untuk turun. Untuk itu dia rela kakinya dilangkahi orang lain yang mau menuju ke arah jendela mencari tempat duduk. Perlukah kita bersaing hanya untuk memperebutkan tempat duduk di bus? Kapan kita bisa menerapkan kepedulian sosial? Di mana letak kebersamaan kita?
Jika kita berada di tempat umum, sudah seharusnya kita saling peduli satu sama lain, saling bekerjasama. Kita hendaknya bersaing dalam berbuat kebajikan, bersaing untuk meningkatkan kemampuan kita secara individual, kemudian berpartisipasi secara baik dalam hidup bermasyarakat.
Kebiasaan memenuhi pungutan liar atau memberikan hadiah atas layanan kepada aparat kantor pemerintah, meskipun hanya melibatkan uang dalam jumlah kecil, adalah ‘benih’ yang bisa tumbuh menjadi korupsi, kolusi dan penyimpangan lainnya. Korupsi dan kolusi yang sudah merajalela sejak tiga dasawarsa yang lalu, nampaknya makin meningkat kualitas dan kuantitasnya. Bahkan tak sedikit korupsi yang melibatkan para petinggi negara, baik di kalangan wakil rakyat, penegak hukum, pemerintahan, dan tak ketinggalan para pengusaha yang berkolusi dengan aparat negara.
Berapa banyak kasus kehilangan barang yang bisa ditemukan kembali di negeri kita? Mengapa di negeri kita tidak ada tempat penitipan barang temuan milik orang yang kehilangan, karena kelupaan atau terjatuh? Di negara-negara maju banyak tempat bertuliskan ‘Lost and found’, atau ditulis dalam bahasa negara bersangkutan, yang merupakan tempat menitipkan barang temuan yang bukan miliknya, dan juga merupakan tempat menanyakan atau mengambil barang-barang yang hilang, siapa tahu barangnya ditemukan orang lain dan dititipkan di situ.
Tidak sadarkah kita bahwa meskipun bukan mencuri, barang temuan itu bukanlah milik kita, bukan hak kita untuk memilikinya. Bagaimana rasanya jika barang milik kita hilang dan tak bisa kembali? Sikap diam-diam memiliki sesuatu yang bukan haknya seperti itu pulalah salah satu benih korupsi yang dilakukan oleh banyak orang yang berpendirian “barang sudah ‘ditakdirkan’ jatuh, maka itu rezekiku”. Mereka berpikir, itu rezeki dari Allah, padahal dari syeitan. Mereka lupa bahwa di mana mereka berada, di situ ada dua ‘kame-rawan’ Malaikat yang sangat profesional, yang siap membidik perbuatan kita dari pelbagai sudut.
Begitulah kenyataannya, Islam tidak kurang hanya sebagai identitas belaka daripada sebagai kebenaran yang harus diikuti. Pada umumnya, kita lebih peka pada masalah-masalah seperti korupsi, perdagangan narkoba, per-judian, pergaulan bebas dengan yang bukan muhrim, dan sebagainya. Tetapi, kita tidak peka dengan bagaimana memperbaiki kerusakan moral ummat Islam yang sudah sangat parah itu, yang meliputi hampir semua segi kehidupan. Itu-lah tantangan bagi kita ummat Islam, untuk memperbaiki diri di tengah-tengah martabat ummat Islam dan bangsa
Untuk menjawab tantangan itu, kita harus mempunyai rasa malu atas keburukan kita. Rasa malu itu tidak begitu saja bisa diatur dengan undang-undang, apalagi undang-undang di negeri kita dengan mudahnya dilanggar, karena hukum belum ditegakkan sepenuhnya oleh hampir semua pihak.
Untuk bisa senantiasa melakukan perbuatan baik, kita memerlukan pendidikan dan sosialisasi moral dan etika yang baik dari kalangan pendidikan, termasuk ulama. Apalagi kita mempunyai Departemen Agama, yang mengurusi pendidikan agama, moral dan budi pekerti. Tetapi ironisnya, departemen itu yang mestinya dihuni orang-orang berilmu agama di atas rata-rata, shalih dan tawadhu, justru mempunyai reputasi buruk dan memalukan, yakni menjadi sarang korupsi, penuh dengan percaloan, dan dari tahun ke tahun ada saja penyimpangan yang terjadi dalam penyelenggaraan perjalanan haji, akibat kolusi dengan pejabatnya.
Demikian pula tak sedikit para ulama dan umara yang belum bersih dari perbuatan yang dilarang oleh agama kita, baik mereka yang duduk di badan legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun pemuka masyarakat. Apalagi jika dalam profesinya sebagai ulama, dia tidak memberikan teladan yang selayaknya kepada para jamaah yang selama ini ‘setia’ mendengarkan khotbah, terlebih-lebih jika yang dilakukan ulama itu ternyata bertentangan dengan apa yang pernah dianjurkan kepada jamaahnya.
Hendaknya kita lebih mengenal Allah SWT, mengenal Rasulullah SAW dengan suri teladannya, kita perlu mengenal diri kita sendiri dan mengenal nafsu yang terkandung dalam diri kita masing-masing. Dan lebih daripada itu, kita harus bisa mengendalikan nafsu itu agar menjadi suatu kekuatan yang dahsyat untuk melawan kemungkaran yang menjadi karakter nafsu itu. Jika berhasil, maka dapatlah dikatakan bahwa kita telah melaksanakan shalat dengan khusyuk, yang tercermin dalam keshalihan sosial kita.
Nafsu yang tak terkendali itu pulalah yang kita lihat sehari-hari dalam bentuk unjuk rasa yang anarkistis. Mengapa kita menjadi bangsa pemarah, bangsa yang tidak bisa mengambil jalan keluar pelbagai masalah melalui musyawarah. Terlepas dari materi yang menjadi tuntutan atau protes para pengunjuk rasa, tidak sepantasnya mereka melampiaskan kekesalan dengan cara merusak, membakar fasilitas umum, dan bahkan membunuh aparat yang melaksanakan tugasnya.
Kesulitan ekonomi yang dialami rakyat kecil bisa kita maklumi. Hati nurani kita bisa berbicara tentang hal itu, karena hati nurani itu jujur. Namun jika ada ummat Islam yang sampai melakukan perbuatan memotong rel kereta api (untuk dijual sebagai besi bekas) yang mengakibatkan kecelakaan, dan bisa membahayakan nyawa orang lain, maka dapatkah dia dikatakan memiliki hati nurani? Belum lagi memotong tubuh manusia. Apa yang hendak kita katakan?
Sebagai manusia yang bertaqwa, sudah seharusnya kita memperbanyak mengingat kematian, bertafakkur merenung sudah berapa banyak kita melanggar aturan atau perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, seberapa banyak kesalahan atau dosa yang kita lakukan di selama ini, agar kita bisa memperbaiki diri kita. [Hermanto]
wah wah wah napsu inu memang uenaak, uenaax, inyak tenaan lho. tetapi namun ya itu bisa menjerumusken daripada manungsa, bisa turun martabaknya seakan-akan manjadi haywan. mangkanya, gunaken napsu untuk mencapai kehidupan akhir yang baik. wa Allahu a'lam bishshawab. wassalam
BalasHapus