Rabu, 21 Maret 2012

TINJAUAN TENTANG KEISLAMAN INDONESIA



Djokolono, seorang pembaca pada tgl 21-03-12, telah mengirimkan kepada kami tulisan Rektor UIN Prof. Komaruddin Hidayat berjudul ‘KeIslaman Indonesia’ di Harian Kompas (5-11-2011), sebagai resonansi dari tulisan AM No. 142 berjudul ‘Realitas Masyarakat Islam’ tgl 15-03-12. Berikut ini adalah kutipan bebas tulisan rektor tersebut.   
Sebuah penelitian sosial bertema ‘How Islamic are Islamic Countries’ menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling Islami di antara 208 negara yang diteliti, diikuti Luxemburg di urutan kedua. Sementara itu Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan negara Muslim terbesar di dunia berada di urutan 140.
Adalah Scheherazade Rehman dan Hossein Askari dari George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan mempengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan ber,asyarakat?
Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator yang dimaksud diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam tentang hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.
Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keIslaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang diteliti.
Pengalaman UIN Jakarta
Kesimpulan penelitian di atas tidak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustadz dan kiai sepulang dari kunjungan selama dua minggu dari Jepang. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama UIN dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Para ustadz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba kembali di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam daripada yang mereka jumpai, di Indonesia dan Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia. Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, Ulama besar Mesir setelah berkunjung ke Eropa. ”Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di Dunia Arab.”
Kalau saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keIslaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, maka Indonesia menduduki peringkat pertama. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak di mana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama bulan Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan. Namun, pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk keshalehan sosial berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits.Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tidak merata, persamaan hak bagi setiap warga untuk memperoleh pelayanan negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim daripada negara-negara Barat.
Kedua peneliti itu menyimpulkan: “….it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings - at least when it comes to economic, financial, political, legal, social and governance policies.”.
Dari 56 negara OKI, yang masyarakatnya berperilaku Islami nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), diikuti oleh Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indone-sia (140), Pakistan (147), Yaman (198), dan yang terburuk adalah Somalia (206). Sedangkan masyarakat negara Barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah: Selandia Baru (1), Luxemburg (2),  Kanada (7), Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).
Penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya ataukah pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI jusru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibanding negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.
Semarak Dakwah dan Ritual
Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar, mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tidak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, tetapi justru dipraktikkan di negara-negara non Muslim?
Tampaknya dalam keberagamaan kita lebih senang pada semarak ritual untuk mengejar keshalehan individual, tetapi menyepelekan keshalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam - syahadat, shalat, puasa, zakat, haji - ia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keIslamannya. Padahal misi Rasulullah Saw itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama, yaitu; keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah yang menurut penelitian Rehmen dan Askari, dunia Islam akan mengalami krisis.
Kita boleh setuju atau menolak hasil penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi, jika ada pertanyaan: “How Islamic are Islamic Political Parties? menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kemudian diproyeksikan untuk menakar keIslaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya. Demikian dikemukakan oleh Prof. Komaruddin Hidayat.
Komentar
Terhadap tulisan tersebut ada sebagian pembaca yang tidak setuju jika orang non Muslim dikatakan berperilaku Islami, karena mereka tidak beriman dan melaksanakan ibadah mahdah - ritual ­- sebagaimana diajarkan Islam, meskipun mereka berperilaku baik di bidang muamalah. Sehingga hasil penelitian itu tidak relevan.
Komentar lain mengungkapkan tindak kriminal yang terjadi di negara-negara Barat, jauh lebih banyak dibanding negara-negara Muslim. Data statistik kasus kriminal itu meliputi perkosaan, pencurian perampokan, penyerangan, narkoba per 100,000 penduduk. Berdasarkan data statistik kriminal di dunia diperoleh peringkat dari yang terbanyak kasus kriminalnya adalah Amerika Serikat (urutan 1) Inggris (2), Kanada (8), Selandia Baru (35), Arab Saudi (48), Kuwait (67), Qatar (79) - data ini tidak  termasuk peperangan. Sehingga penelitian ‘How Islamic are Islamic Countries’ itu kurang relevan dengan hukum Islam dan penilaian tentang negara Islami. Demikian komentar seorang pembaca lainnya. (http://jejakrina.wordpress.com)
Pandangan Jama’atush-Shirathal-Mustaqiim
Dalam dakwah Islam, kami Jama’atush-Shirathal-Mustaqiim (JSM) menetapkan Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SPMMI) sebagai pokok materi dakwah dalam membangun masyarakat Islami. Bagi mereka yang belum beriman secara Islam atau belum menjadi Muslim, kami memperkenalkan ajaran Islam secara populer.
Prinsip pertama SPMMI Iman dan Takwa Kepada Allah Swt bukan hanya bagi ummat Islam, melainkan bersifat universal, karena menurut fitrahnya manusia adalah mahluk beragama. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya, karena itu adalah naluri alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek atau wujud yang dipandangnya lebih tinggi, atau yang menguasai dirinya. Dalam kaitan ini JSM tidak membedakan perilaku Islami yang dilakukan oleh Muslim atau non Muslim. Misalnya antre dengan tertib, jujur, peduli dan suka menolong orang lain, bertanggungjawab, dan sebagainya yang merupakan pengejawantahan dari SPMMI itu adalah perilaku Islami yang sifatnya universal, sedangkan perilaku yang berlawanan dengan itu adalah perilaku buruk yang tidak Islami.
Terhadap penelitian bahwa negara-negara non Muslim lebih banyak terjadi tindal kriminal daripada negara-negara Muslim, bagi JSM tidak menjadi kendala untuk sependapat bahwa  penelitian ‘How Islamic are Islamic Countries’ cukup relevan, karena setidaknya kita bisa mengambil hikmah terutama dalam rangka pemberantasan korupsi, mencegah kekerasan dan anarkisme, pembunuhan dan mutilasi, pencurian dan perampokan, kejahatan narkoba, dan kejahatan lainnya yang masih menjadi masalah besar di Indonesia.
Penulis pribadi yang pernah lama bermukim di Jepang, juga sependapat dengan pengakuan para ulama UIN Jakarta sekembalinya dari kunjungan mereka selama dua minggu di Jepang bahwa kehidupan bermasyarakat di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam daripada yang mereka jumpai di Indonesia dan Timur Tengah. Kita tidak perlu terlalu risau dengan lebih banyaknya kejahatan di negara-negara Barat daripada negara-negara Muslim, melainkan kita harus memacu diri kita agar lebih baik daripada mereka dalam akhlak, moral dan etika.
Hermanto Hs

2 komentar:

  1. Terimakasih kepada Sdr. Djokolono yang telah mengirimkan tulisan Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah berjudul ‘Keislaman Indonesia’. Ini merupakan ‘resonansi’ atas tulisan No. 142 berjudul 'Realitas Masyarakat Islam'. Wassalam.

    BalasHapus
  2. Jika para pengelola media televisi umum gratis berniat baik demi kepentingan bangsa dan negara, sebaiknya diskusi dan debat tentang pro-kontra kenaikan BBM itu dibatasi, bukan malahan di ulang-ulang, karena tidak memberikan solusi apapun bagi masyarakat, kecuali menjadikan rakyat makin resah. Demo-demo yang dilakukan sebagian mahasiswa dan buruh menunjukkan mereka adalah orang-orang yang kurang prihatin atas kesulitan yang dihadapi negara. Maka wajarlah jika keIslaman Indonesia hanya diperingkat 140 di antara 208 negara yang disurvei seperti disebutkan dalam tulisan Prof. Komaruddin Hidayat. Salut untuk Al Mustaqiim yang terus istiqamah berikhtiar melakukan perbaikan. Maju terus Al Mustaqiim kami mendukung. Amiin. Wassalamu’alaikum wr.wb.

    BalasHapus