Senin, 05 Maret 2012

MUHAMMAD DI MASA MUDA


CERMIN PERILAKU REMAJA MUSLIM

“Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian.” (QS Al-Ahzaab 33: 21).

Masih dalam suasana memperingati Maulid Nabi besar Muhammad Saw, tepatnya pada 12 Rabi’ulawal 1433 H yang dalam tarikh Masehi bertepatan pada tanggal 5 Februari 2012. Secara tradisional peringatan Maulid tersebut dilaksanakan di masjid-masjid, sekolahan, dan majelis-majelis taklim, serta organisasi kemasyarakatan yang bernafaskan Islam, berupa pertemuan dengan diisi ceramah yang intinya mengambil hikmah melalui momentum hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Hal ini dimaksudkan untuk menggali khazanah Islam untuk mempertebal keimanan ummat Islam, serta sebagai sarana syiar sekaligus media dakwah Islamiyah. Peringatan Maulid Nabi bukan merupakan tradisi atau perintah Rasul pada masa hidupnya, juga bukan upacara kebiasaan yang dilakukan para Khulafaur Rasyidin, yaitu pada masa Kekhalifahan Abubakar Ash-Shidieq, Umar bin Chattab, Utsman bin Affan, maupun Ali bin Abi Thalib. 
 
Peringatan Maulid mulai diperkenalkan jauh setelah masa kehidupan Rasulullah, yaitu pada zaman Sultan Salahuddin Al Ayyubi di Syria, dimaksudkan untuk mengajak kaum Muslimin kembali mendalami agama Islam dengan keyakinan yang mendalam melalui momentum hari lahir Nabi Muhammad Saw, dan bukan hanya melaksanakan syariat secara tradisi, setelah selama ratusan tahun terlena menikmati kebesaran dan kejayaan Islam di seantero hampir tiga benua, Asia, Eropa dan Afrika.

Di dalam episode kali ini penulis mencoba menelaah peri hidup Muhammad semasa muda, tepatnya sebelum masa kenabian, untuk menjadi cermin perilaku para remaja Muslim, agar lebih dapat mengaktualisasi rasa cinta kepada Rasulullah Saw.

Tanda-tanda Manusia Agung

Seorang manusia  agung, selalu menjadi poros peradaban  di setiap tempat yang ia pijak. Apa yang dilakukannya senantiasa menarik perhatian, setiap kata yang  keluar dari mulutnya adalah sabda. Manusia agung adalah  manusia yang membuat zaman itu larut olehnya, dan bukan sebaliknya, ia larut oleh zaman. Dan orang yang paling pantas mendapat julukan ini adalah Muhammad Saw. Jejak-jejak keagungan Muhammad  sudah nampak sejak ia kecil. Kesabaran yang luar biasa ketika menghadapai cobaan secara beruntun, telah ia tunjukkan pada usia yang sangat belia.

Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang Muhammad Saw sebelum kenabian beliau, antara lain: “Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?” (QS Adh-Dhuhaa 93: 6-8).

Muhammad sanggup menjalani hidup dengan tabah walau orang-orang yang paling ia cintai, satu persatu meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dua bulan dalam kandungan ibunya, ayah tercinta Abdullah meninggal dunia. Umur 6 tahun ibunya meninggal dunia, dan selanjutnya ikut kakeknya Abdul Muthalib. Pada usia 8 tahun, kakeknyapun  meninggalkannya menyusul kedua orang tuanya. Muhammad kecil tanpa ayah dan ibu, belajar langsung dari kehidupan yang keras. Muhammad yang belia, telah mengerti menjadi orang dewasa. Dengan tekun, disiplin dengan semangat yang begitu tinggi, ulet dan penuh dedikas, Muhammad memiliki jiwa petualang. Dari satu tempat ke tempat yang lain, bersama pamannya Abu Thalib, Muhammad mendapat kan sejuta hikmah darinya.

Muhammad yang tampan dengan kepribadian menarik yang senantiasa memikat siapa saja. Jauh sebelum pengangkatan dirinya sebagai Rasul, Muhammad telah memperoleh kepercayaan dari masyarakat luas. Kejujuran dari sikapnya itu, telah meluluhkan hati seorang putri bangsawan yang sangat cantik, Siti Khadijah.

Selanjutnya Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah membaca satu kitab atau menulis satu kata sebelum datangnya wahyu Al-Qur’an.

“Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya (Al-Qura’an), tidak juga menuis satu tulisan dengan tanganmu, (andai kata kamu pernah membaca dan menulis) pasti akan benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS Al-‘Ankabuut 29: 48).

Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau adalah ummi - orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang memahami bahwa kendatipun kemudian Nabi Saw menganjurkan ummatnya belajar membaca dan menulis, namun beiau sendiri tidak melakukannya, karena Allah Swt ingin menjadikan beliau sebagai bukti bahwa informasi (wahyu) yang diperolehnya benar-benar bukan dari manusia, melainkan dari Allah Swt. Kata ummi ditemukan dua kali dalam Al-Qur’an (QS Al-A’raaf 7: 157-158), dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad Saw.

Sebagian ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau membaca hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. Namun setelah kebenaran Islam terbukti, setelah hijrah ke Madinah, beiau telah pandai membaca. Pendapat ini dikuatkan antara lain oleh kata “sebelumnya” yang terdapat pada ayat di atas.

Belajar Hidup Mandiri.

Bagaimana mungkin manusia mampu mengelola bumi, jika masih tergantung pada sesuatu yang seharusnya dipimpin. Bagaimana bisa seseorang menjadi pemimpin, jika dia tidak memiliki kemandirian dalam bersikap. Hanya dengan kemandirianlah seseorang bisa menjalankan fungsi sebagai khalifah (pemimpin). 

Mengamati perjalanan Muhammad, kita akan menemukan bagaimana sebuah kemandirian telah dipupuk semenjak usianya masih dini. Sebagaimana diketahui, pada usianya yang masih belia, Muhammad telah ditinggal oleh kedua orangtuanya. Ketika masa kanak-kanak pada umumnya sedang asyik-asyiknya dibawah naungan kasih sayang orangtua, ia justru berjuang menentang kerasnya kehidupan. Muhammad bukan tipe anak yang mudah menyerah. Atas segala rintangan yang menghadang, tak pernah ia menghindar, sebaliknya ia songsong masalah ini dengan solusi yang jernih. Muhammad adalah karakter yang memiliki semangat pertahanan hidup yang sangat tinggi. Dalam keadaan yang serba kekurangan, naluri pertahanan hidup tumbuh dengan subur dalam diri Muhammad.

Jujur dan Amanah

Kehidupan masa muda dimulai bersama putra Halima, ibu susuannya, ia menggembala kambing kepunyaan penduduk di kota Makkah. Meskipun ia memiiki seorang kakek yang terhormat, sebagai kepala suku yang memegang kekuasaan di Makkah, namun semuanya itu tidak membuatnya malu untuk melakukan pekerjaan itu.

Pada usia 12 tahun, Muhammad pertama kali mendapat pengalaman istimewa dalam berpetualang. Saat itu, ia mengikuti pamannya pergi berdagang ke Syria. Setelah itu, satu persatu pengalaman demi pengalaman,  hinggap dalam kehidupan Muhammad, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, pribadi yang tidak mudah menyerah, kuat dan selalu siap mengambil keputusan pada saat-saat yang sulit.

Selanjutnya ketika pamannya tdak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17 tahun Muhammad diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Untuk pertama kalinya Muhammad memimpin kafilah, atau misi dagang, menyusuri jalur perdagangan utama Yaman, Syam melalui Madyan, Wadil Qura dan banyak tempat lain  yang pernah ditempuhnya saat masih kecil. Muhammad meraup keuntungan yang  belum pernah mampu diraih misi-misi dagang sebelumnya. Apa yang membuat Muhammad meraup keuntungan yang luar biasa? Jawabnya adalah karena kejujuran beliau. Sifat jujur beliau inilah, yang juga mengantarkannya di waktu muda sehingga beliau dijuluki dengan Al-Amiin (dapat dipercaya) oleh penduduk Makkah. Sifat jujur beliau yang diakui dan disegani bahkan oleh musuh-musuh beliau kelak pada masa kenabian, antara lain An-Nashr bin Al-Harits, dan Abu Sufyan.

Seorang Entrepreneur yang Handal.

Muhammad bukan hanya memiliki skill berdagang, tetapi juga ketrampilan membangun sebuah jaringan (network) juga dimiliki olehnya. Pada masa mudanya, ia sudah membangun hubugan (jaringan) dengan kepala suku-suku Kabilah Arab yang sebenarnya adalah kawan-kawan kakeknya. Ini jugalah yang menentukan perkembangan bisnisnya dikemudian hari.

Dari pengajuan penawaran Muhammad kepada para saudagar kaya Makkah, sejarah mencatat, salah seorang di antara pemilik modal tersebut adalah janda kaya bernama Siti Khadijah, yang menawarkan satu kemitraan berdasarkan pada sistem bagi hasil (profit sharing). Dengan kemandirian yang telah ia miliki sejak kecil, Muhammad telah berhasil mengelola barang dagangan yang dipasrahkan Siti Khadijah kepadanya. Kecakapannya sebagai seorang entrepreneur telah mendatangkan keuntungan yang melimpah, sehingga membuat Siti Khadijah terkesan kepadanya.

Sebagai seorang entrepreneur, Muhammad  selalu memikirkan cara-cara baru dalam berdagang, sementara seorang pedagang biasa akan menganggap kegiatan berdagang sebagai kegiatan yang itu-itu saja. Seorang entrepreneur memiliki visi dan misi, sementara pedagang biasa hanya menganggap aktivitasnya sebagai rutinitas.

Atas dasar inilah, Muhammad Saw sangat menekankan pentingnya suatu riset dan pengembangan. Dalam salah satu Hadits beliau bersabda: “Barang siapa (melakukan inovasi sehingga) menemukan sesuatu  yang baru lagi baik, maka baginya pahala penemuan dan pahala orang yang mengambil manfaat daripadanya”.

Beliau juga memberikan jaminan bagi ummatnya yang berinovasi: “Barangsiapa berijtihad (optimalisasi kemampuan) dan benar, maka baginya dua pahala, dan apabila ijtihatnya salah ia mendapat satu pahala.”

Demikianlah apa yang terjadi atas diri Muhammad ketika dewasa, sangat tergantung dari apa yang ia lakukan di waktu kecil. Kemandirian yang ia miliki, pada hakikatnya akibat dari pembiasaannya di waktu kecil.

Kejujuran, kreativitas, dan luasnya jaringan kemanusiaan yang dibangun, telah ditransformasikan ke dalam dunia usaha yang sukses, melalui perpaduan antara cinta, bisnis, dan kemuliaan hidup bersama Khadijah. Selama lima belas tahun lamanya Muhammad bergelut dengan perdagangan, telah mengantarkannya menjadi salah satu keluarga kaya, dan terpandang di kota Makkah.

Pemimpin yang Rendah Hati

Pada masa kecil, Muhammad telah terbiasa untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain, bahkan kepada orangtuanya sendiri. Untuk meringankan beban pamannya, Muhammad kecil menggembala kambing milik Ibnu Abi Mu’ith dengan imbalan segenggam kurma. Dalam kisahnya sebagai seorang pengembala kambing, tidak pernah ada satupun citra buruk yang pernah menempel pada dirinya. Menurut para ulama, dengan menggembala kambing mengandung beberapa butir nilai, diantaranya: 1. Menggembala kambing dapat menumbuhkan sikap kelembutan, sabar dan rendah hati. Oleh karena tidak heran jika Muhammad adalah orang yang rendah hati (tawadhu). 2. Menggembala kambing mengandung pendidikan (simulasi) bagaimana mengatur manusia dan menata kehidupan mereka. Dan nantinya, dari menggembala ini, tertanamlah dalam jiwa Muhammad dasar-dasar dari tata kelola (management). Seolah-olah, Muhammad waktu itu adalah seorang manajer yang mempunyai tugas mengelola dan mengurus bawahannya. Walaupun hanya kambing, namun dari kambing inilah Muhammad kemudian bisa mengatur dan mengelola ummat Islam begitu dahsyatnya sampai saat ini.

Muhammad sangat rajin dan tekun, oleh karena itu pamannya lebih sering mengajaknya untuk berdagang keluar daerah, dibanding mengajak anak Abu Thalib sendiri. Tekun dalam bahasa agama sering kita mengartikan dengan istiqaamah, sebagai kelanjutan dari kesabaran. Istiqaamah berarti kesungguhan untuk menegakkan dan mempertahankan prinsip-prinsip yang benar. Orang yang istiqaamah tidak mudah terpengaruh oleh oleh keadaan.

Awal Masa Kenabian

Dalam usia 40 tahun, atau setelah 13 tahun sebagai kepala rumah tangga dan dikaruniai anak-anak yang saleh, rumah tangganya yang kokoh, bisnisnya pada puncak kejayaannya, jaringan usahanya telah meluas meliputi Jazirah Arab, dari Syam sampai Bahrain di Timur, dan di Barat membentang dari Azerbaijan di Utara sampai Yaman di Selatan.

Pada usia ini, seperti orang bilang: life is begin after fourty,  dan disebut oleh Al-Qur’an (QS Al-Ahqaaf 46: 15) sebagai “usia kesempurnaan”, setelah Muhammad menjadi manusia yang kuat secara fisik maupun keteguhan hatinya, pada saatnya Allah mengangkat menjadi utusan-Nya yang akan merubah dunia dengan ajaran Islam. Allah melantik Muhammad menjadi Rasul yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama kali berupa perintah membaca (iqra’) yang dibawa oleh malaikat Jibril di gua Hira, setelah beliau berhari-hari menyendiri di sana.

“Wahai seluruh manusia,  telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dari Tuhanmu (yakni Muhammad Saw), dan Kami telah pula menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an).” (QS An-Nisaa’ 4: 174).

Dialah Sang Nabi Agung yang diutus Allah ke bumi. Dialah idola yang sempurna, apa yang dilakukan pada usia mudanya, patutlah dijadikan pedoman, terlebih setelah masa kenabiannya. “Muhammad adalah manusia, namun bukan manusia biasa”. Sampai sekarang pancaran pribadi yang agung itu, sebagaimana mutiara yang berkilau,  tidak pernah pudar. Tidak ada contoh tauladan yang lebih baik daripada beliau. “Sesungguhnya engkau (Muhammad)  berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al-Qalam 68: 4)

Mohammd Kamal Hs
No. 141

Tidak ada komentar:

Posting Komentar