Pertandingan sepak bola menjadi ricuh, ketika terjadi baku hantam antar pemain, antara sekelompok pemain dengan wasit, bahkan pemain dengan suporter dan sekelompok suporter dengan kelompok suporter lain. Pertunjukan musik berujung ricuh, ketika sesama penonton bersenggolan kemudian adu jotos. Bahkan sidang pengadilan dan rapat di lembaga berhormat pun tidak lepas dari kericuhan, tatkala ada pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil sidang atau proses pembicaraan di dalam rapat.
Sebenarnya kericuhan tidak hanya berbentuk adu otot, tetapi juga adu kata yang tidak dilandasi argumen. Dalam tayangan diskusi di televisi sering kita tonton dua tiga nara sumber - yang jelas bukan orang bodoh, berbicara sendiri dalam waktu yang sama, tanpa memerhatikan pembicaraan orang lain. Ini juga ricuh,
Sebagian pakar ilmu sosial menyatakan, segala kericuhan itu terjadi sebagai akibat dari keresahan hati yang diidap banyak sekali orang. Yang resah bukan hanya orang miskin, tetapi juga yang kaya, bukan hanya rakyat jelata namun juga pemegang jabatan di banyak tingkatan, bukan hanya yang tidak sempat menuntut ilmu tetapi juga yang berpendidikan tinggi. Keresahan bukan hanya dialami orang Indonesia tetapi merupakan gejala umum pada manusia. Allah Swt menerangkan: "Sesungguhnya manusia itu dicipta dengan kecenderungan resah. Apabila ditimpa kesulitan dia gelisah dan berkeluh kesah. Dan tatkala mendapat kegembiraan dia menjadi sombong dan kikir". (QS Al-Ma'arij 70: 19-21). Rangkaian tiga ayat di atas merupakan konfirmasi dari Sang Pencipta, Allah Swt, bahwa manusia itu bersifat resah.
Perasaan resah itu dialami bukan hanya ketika seseorang dilanda kemiskinan sehingga cemas kalau-kalau besok tidak makan. Rasa resah juga dialami, tanpa disadari, oleh orang yang kaya raya, karena khawatir kekayaannya itu tidak meningkatkan penghormatan masyarakat kepadanya; maka dia bersikap sombong, menampilkan diri dengan memamerkan apa yang dimilikinya. Orang kaya juga khawatir kekayaannya berkurang, maka dia bersikap kikir kepada sesama manusia.
Sudah tentu keresahan mengganggu kenyamanan hidup, dan sebaliknya ketenteraman merupakan gerbang menuju kebahagiaan. Maka setiap orang ingin menghilangkan situasi resah itu dari hatinya. Karena itu Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pemberi petunjuk kepada manusia (QS Al-Baqarah 2: 185), memberikan cara efektif untuk memperoleh kondisi tenteram yang diidamkan setiap orang.
Resep yang diinformasikan Al-Qur’an kepada orang-orang yang mengharapkan ketenteraman adalah dzikrullah - mengingat Allah. QS Ar-Ra'd 13: 28 menerangkan: “Orang-orang yang beriman itu tenteram hatinya dengan mengingat Allah. “‘Camkanlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram". Kita mudah memahami kebenaran ayat di atas, baik dengan dasar iman yang teguh maupun dengan nalar yang runtut. Orang yang ingat Allah tentu ingat pula bahwa Allah itu Mahakuasa. Maka ketika seseorang menghadapi bahaya, sebesar apapun bahaya itu, dengan perlindungan Allah dia pasti selamat. Ketika dia harus menyelesaikan kesulitan, sepelik apapun kesulitan itu, dengan petunjuk Allah dia pasti dapat memecahkannya. Sebaliknya ketika seseorang memperoleh kenikmatan, dia tidak menganggap kenikmatan itu hasil usahanya sendiri, tetapi karunia Allah Swt. Maka dia senantiasa bersikap tawaddhu' - rendah hati, dan tidak sedikitpun qalbunya bergerak ke arah kesombongan.
Banyak cara untuk mengingat Allah, dan cara yang paling efektif adalah shalat. Maka untuk kebaikan manusia Allah memerintahkan hamba-Nya ini untuk menunaikan shalat, sekurang-kurangnya lima kali sehari. Dengan shalat orang beriman menyatakan pengakuan akan keagungan Allah yang tidak berbatas. Maka dia mengawali shalatnya dengan ucapan Allahu Akbar - Allah yang Mahabesar. Ucapan itu diulang-ulang hampir dalam setiap gerak yang mengubah posisi tubuhnya dalam menghadap Allah.
Seandainya orang hanya menunaikan shalat wajib saja, dalam sehari semalam dia bertakbir 83 kali. Bila dia juga menunaikan shalat sunnat rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib dan shalat dhuha, jumlah takbir yang diucapkannya menjadi dua kali lipat. Kalau setiap selesai shalat orang membaca wirid yang antara lain kalimat Allahu Akbar, maka takbirnya jauh lebih banyak lagi. Maka dengan takbir saja orang Mukmin menundukkan diri sedalam-dalamnya kepada Allah, yang mencipta dan menyediakan segala kebutuhan hidupnya, lahir maupun batin. Ketundukan diri itu dinyatakan pula dengan posisi tubuh ketika ruku' dan sujud. Bagian badan yang paling atas, tempat otak berada dan bekerja mengordinasi segala fungsi tubuh, diletakkan jauh ke bawah sambil bertasbih, mengungkapkan kesaksian akan ke-Mahasucian Allah dari kekurangan dan kelemahan.
Di dalam shalat orang beriman berulang kali mengajukan berbagai macam permohonan kepada Allah. Do'a yang sangat penting adalah memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Pada saat itu dia menyadari betapa banyak melakukan kesalahan, karena tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan karena melakukan apa yang Dia larang. Dosa demi dosa selalu ditumpuknya dari waktu ke waktu sehingga bila tidak memperoleh ampunan Allah, sangat sulit baginya untuk menghindari adzab neraka. Maka pada saat mengucapkan Rabbighfirli atau Allahummaghfirli, air mata Mushallin menitik satu-satu, didesak oleh kesadaran khauf dan raja', takut akan adzab Allah yang amat pedih dan berharap akan ridha beserta karunia surga-Nya yang agung.
Orang yang shalat, ketika dalam kondisi berdiri tegak mengucapkan kalimat Ihdinas shirathal mustaqim, memohon petunjuk Allah agar tidak hanya tahu jalan yang lurus tetapi hatinya cenderung mengikuti jalan lurus, yang diinformasikan Allah kepada manusia. Dia sadar benar, akan keberadaan setan-setan yang ramah dengan roman wajah manis, mengitari dirinya untuk membujuk, merayu dan menipunya sehingga masuk ke jalan hidup yang bengkok dan ujungnya berada di pintu Jahanam. Tanpa petunjuk Allah sangat sulit baginya untuk menepis godaan-godaan syeitan, dari golongan jin dan manusia (QS An-Naas 114: 5), yang amat menarik dan bertubi-tubi.
Shalat diakhiri dengan ucapan salam, memohon kepada Allah Swt agar berkenan mengaruniakan keselamatan dan kasih sayang kepada semua orang, yang berada di kanan maupun kirinya. Salam merupakan ungkapan kasih yang paling tulus di antara sesama manusia. Maka dengan shalat orang beriman mengingat Allah, mendekatkan diri kepada Allah, berserah diri kepada Allah, memohon kepada Allah, kemudian menyambung kasih sayang dengan sesama hamba Allah.
Dengan shalat dia mengusir jauh-jauh segala bentuk keresahan yang acap kali duduk nyaman di hatinya. QS Al-Ma'arij 70: 19-21 yang menerangkan bahwa resah adalah tabi'at manusia, disambung dengan ayat berikutnya; 22 dan 23, yang menyatakan: "Kecuali orang-orang yang shalat. Yang menunaikan shalatnya dengan mantap, lahir maupun batinnya." Orang-orang yang terhindar dari situasi kegelisahan adalah yang menghayati ucapan shalatnya, sehingga apa yang diucapkan dan dilakukan di dalam shalat, dikerjakannya pula di luar shalat. Ketika shalat dia mengagungkan Allah, sesudah itu tetap demikian. Di dalam shalat dia berdo'a, di luar shalat demikian pula. Di waktu shalat dia memohon kebaikan bagi sesama manusia, dalam kehidupan bermasyarakat dia menjalin silaturahim dan ta'awun - kerjasama yang harmonis.
Dengan uraian tadi orang memahami firman Allah: "..dan dirikanlah shalat; sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. (QS Al-'Ankabuut 29: 45). Shalat yang dihayati membersihkan hati manusia dari kegelisahan yang mewujud dalam sikap-sikap sombong, kikir, serakah, iri dan rdengki, putus asa. Maka orang-orang yang hatinya bersih itu tidak terbetik untuk durhaka kepada Allah dan berbuat buruk kepada orang lain.
Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat: “Menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian di mana dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah masih ada kotorannya yang tersisa sedikit pun?” Mereka menjawab,”Tidak ada kotoran yang tersisa sedikit pun.” Rasulullah bersabda, “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Hapusnya kesalahan itu bukan hanya karena dihilangkan dari catatan setelah dikerjakan tetapi juga tenggelam ke bawah sebelum dilakukan.
Kita pantas dan seharusnya berterima kasih kepada Allah, yang mewajibkan hamba-Nya menunaikan shalat lima waktu. Kewajiban tersebut sudah pasti Dia turunkan bukan untuk kepentingan-Nya tetapi demi kebaikan manusia sendiri. Kita yakin akan pernyataan-Nya: "Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Mahapemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS Adz-Dzaariyaat 51: 67-68). Kita meyakini janji Allah bahwa sabar dan shalat merupakan penolong manusia dalam mencapai tujuan hidupnya (QS Al-Baqarah 2: 153)
Tetapi kita juga mesti ingat bahwa tidak semua shalat menyelamatkan manusia dari kegundahan dan bujuk rayu syeitan. Allah justru menandaskan: "Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yang lalai tentang shalatnya." (QS Al-Ma'un 107: 4-5). Artinya, shalat yang memberi hikmah besar adalah yang ditunaikan dengan ikhlas, lillahi ta'ala, bukan karena pamrih-pamrih rendah, dan yang benar-benar dihayati oleh pelakunya. Allah Swt menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya dengan menyatakan bahwa mereka sungguh beruntung, yakni memperoleh ridha Allah, di dunia dan akhirat (QS Al-Mukminuun 23: 1-2). Mereka bahkan dikatakan sebagai pewaris surga Firdaus yang hidup kekal di dalamnya (QS Al-Mukminuun 23: 9-11). Semoga semua kita dimasukkan Allah ke dalam golongan orang yang beruntung ini. Aamiin ya Rabbal 'alamiin.
Sakib Machmud
No.140
No.140
Assalamu'alaikum ustadz. Hubungan kausalitas antara keresahan dan kericuhan saya agak kurang paham, mohon penjelasan lebih lanjut. Terima kasih. Wassalam.
BalasHapusOrang yang berbuat kericuhan, dalam segala bentuknya, adalah yang hatinya resah. Yang tawuran adalah yang resah. Yang korupsi juga yang hatinya resah. Terima kasih atas perhatian Anda. SM
BalasHapus