Minggu, 05 Februari 2012

PERBUATAN KECIL YANG BERDAMPAK BESAR

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar debu, niscaya ia akan dapat ganjarannya (kebaikan). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar debu, niscaya ia akan dapat ganjarannya (keburukan).” (QS Az- Zalzalah 99: 7-8).
Amal perbuatan seseorang dalam satu hari merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan sejak bangun pagi, mempersiapkan diri, menyusun rencana dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan hari itu serta memulainya. Selanjutnya melakukan kegiatan dengan jadwal dan urutan prioritas untuk menggunakan waktu yang terbatas ini agar semuanya dapat diselesaikan dengan berhasil guna, sampai batas waktu harus dipenuhi pada sore atau malam hari, dan akhirnya menutup kegiatan hari itu dengan beristirahat tidur pada malam hari.
Kegiatan rutin yang berlangsung setiap hari ini dilakukan oleh semua orang mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai, pedagang, pelaku bisnis, seniman, sampai direktur, pejabat, pemimpin perusahaan, dan banyak lagi sebagai pelaku kegiatan sesuai profesi dan lingkup kerjanya. Yang berbeda dari mereka masing-masing dalam melakukan kegiatan adalah cara mereka memahami dan menyikapi apa yang dilakukannya, mengatur waktu, menyelesaikan pekerjaan tersebut, dan akhirnya menyadari hasil atau manfaat apa yang akan diperoleh. Orang dapat berlaku cuek, bodoh, tidak peduli, asal-asalan, terserah, dan tidak bertanggung jawab, atau berlaku tanggap, cerdas, peduli, selesai sempurna, perhatian, dan bertanggung jawab.
Dari semua kegiatan yang dilakukan seseorang, selalu ada hal-hal yang mendasar atau sangat kecil, namun berdampak besar bagi keseluruhan kegiatan atau lingkungan terkait dengan kegiatan itu. Dampak yang timbul dapat bersifat ‘positif’ (bermanfaat) atau ‘negatif’ (menimbulkan kerusakan).
Pesan dan catatan disini adalah: ‘Jangan mengabaikan hal-hal yang kecil, kalau kau sadari dampak yang akan terjadi’. Sebagai contoh dapat disimak dari beberapa kisah berikut ini.
Perkara Kecil yang Berdampak Besar
Belum lama kita membaca di koran (Kompas 25 Januari 2012) berupa kejadian yang memilukan, yaitu tawuran antar warga di Desa Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Dalam kerusuhan yang diwarnai isu suku, agama, ras, dan antar golongan ini, 48 rumah warga pendatang di desa itu hangus dibakar dan 27 rumah dirusak massa. Termasuk bangunan yang terbakar adalah gedung sekolah yang ludes berikut peralatan kantor, dokumen-dokumen penting dan komputer. Akibat dari kerusuhan itu sekitar 75 keluarga kehilangan tempat tinggal, dan ratusan lainnya mengungsi.
Menurut penelusuran, kejadian di atas dipicu oleh persoalan ‘kecil’ (sepele), yaitu keributan antar pemuda di lahan parkir di Pasar Sidomulyo pada hari Minggu 23 Januari 2012. Seorang pemuda membunyikan mesin sepeda motor dengan meraung-raung, lalu ditegur oleh tukang parkir yang warga Kota Dalam, dan akhirnya berujung terjadinya perkelahian. Selanjutnya warga Sidowaluyo yang ditegur marah dan membawa temannya sehingga keributan makin meluas. Kejadian berkembang menjadi tawuran yang melibatkan antar kelompok warga yang mengakibatkan kerugian tidak sedikit pada kedua belah pihak.
Perkara ‘kecil’ (perselisihan di tempat parkir) itu hanya pemicu, sedang yang menyebabkan meledaknya kerusuhan adalah adanya ‘potensi konflik’ berupa SARA (suku, agama, ras, antar golongan) yang mungkin sudah ada di lokasi tersebut. Potensi konflik seperti adanya rasa irihati dan saling curiga antara warga dari kelompok satu dengan lainnya, kurangnya komunikasi antar warga atau setidak-tidaknya hal tersebut tidak terbina dengan baik.
Dampak kerusuhan tidak akan terjadi, jika pelaku yang terlibat perselisihan menyelesaikan perkelahian antar mereka, tidak mengajak teman (yang tidak tahu permasalahannya), tidak ada yang mengaitkan isu SARA, dan masyarakat tidak gampang terpancing atau terprovokasi karena mempunyai kesadaran akan pentingnya saling menghormati dan menjaga ketenteraman demi kepentingan sesama warga negara.
Perkataan Kecil yang Berdampak Besar
Adalah kisah yang pernah dialami seorang mahasiswa dari perguruan tinggi di Yogyakarta pada sekitar tahun tujuh puluhan, yang mengalami stress berat, karena kecewa, menyesal dan malu di hadapan teman-temannya seangkatan, karena pada akhir semester enam hanya ia satu-satunya yang gagal melanjutkan ke tingkat di atasnya gara-gara masih ada satu mata kuliah yang tidak lulus, dan sesuai peraturan yang berlaku waktu itu, tidak dapat mengikuti program pada tingkat di atasnya termasuk mengikuti ujian. Dalam benaknya terlintas teman-temannya akan melenggang dan mengikuti kuliah dan ujian di tingkat lanjutannya, sementara ia akan tinggal sendiri menunggu satu mata kuliah untuk ujian setahun lagi, dan akan terus ketinggalan dari teman-temannya.
Dalam keputusasaannya ia pulang ke kampung mencurahkan penyesalan kepada ibunya, seakan-akan tidak ada tempat dan gairah lagi di kota Yogya melanjutkan kuliah menempuh cita-cita yang pernah didambakan semula.
Rupanya sang ibu yang sangat mencintai dan selalu mendoakan pada puteranya, tidak marah atau menunjukkan sikap menyesal akan apa yang dialami sang anak. Ibu yang bijaksana itu hanya memberikan dorongan dengan kata-kata: “Kembalilah kau ke Yogya besok atau lusa kalau pikiranmu sudah tenang dan bicaralah pada dosenmu.”
Sepenggal kalimat tersebut telah memberikan kekuatan dan semangat baru bagi si mahasiswa. Singkat kata, setelah itu si anak akhirnya kembali ke Yogya melaksanakan nasehat dengan membawa ‘semangat’ dari ibunda, dan kembali bergaul dan mengikuti program kuliah serta ujian di kampus. Meskipun satu periode tidak bersama-sama dalam kegiatan kuliah dengan teman-teman seangkatan, namun akhirnya berhasil lulus sarjana pada masa yang bersamaan dengan teman-teman seangkatannya.
Kata-kata yang singkat (kecil) telah berdampak besar mengembalikan semangat hidup yang menentukan masa depan seorang yang hampir patah semangat dan putus asa. Kisah di atas adalah pengalaman yang tak terlupakan, karena telah menjadi bagian dari perjalanan hidup penulis.
Pekerjaan Kecil Yang Berkelanjutan
Pada waktu penulis mengikuti salah satu training di Eropa, berkesampatan juga mengikuti kegiatan dan menyaksikan kehidupan sehari-hari di sana. Suatu sore, sambil menikmati udara cerah pada musim panas di Paris, penulis berjalan di area pejalan kaki di bawah bayang-bayang Menara Eiffel yang sangat ramai pengunjung baik oleh turis-turis asing maupun domestik. Tempat yang sangat ramai itu terkesan bersih dengan taman di sekitarnya yang ditata apik, sementara pengunjung dari berbagai kebangsaan, mulai yang berkulit putih dari Eropa, kulit berwarna dari Asia, sampai yang berkulit hitam dari Afrika. Sempat terlihat juga beberapa pedagang kaki lima berkulit hitam dari Afrika, menggelar dagangannya yaitu barang-barang souvenir berupa batu akik, perhiasan, kalung manik-manik dan boneka serta hiasan dari kulit binatang.
Di tempat lain terlihat polisi dengan seragam rapi berwarna biru muda dengan celana biru tua, berdua berpatroli menjaga keamanan dan ketertiban. Begitu melihat pedagang kaki lima menggelar dagangannya, polisi segera mengejar dan mengusir mereka, karena sesuai peraturan keamanan dan ketertiban tidak diperkenankan berdagang di tempat tersebut kecuali di tempat yang ditentukan. Mengetahui ada polisi, pedagang Afrika itu dengan cepat mengangkat barang-barang dagangannya yang memang ditaruh di atas kain taplak lebar yang sudah diikat tali pada keempat ujungnya, sehingga bila ada petugas mendekati lokasi tersebut dengan cepat barang-barang dagangannya dapat diangkat dan lari meninggalkan tempat menghindari ‘hukuman’ dari polisi yang dapat berupa denda atau sangsi lainnya. Alhasil, area pejalan kaki tetap ramai, namun rapi dan bersih, menimbulkan kesan nyaman. Namun yang menggelikan, pada kesempatan lain penulis menyaksikan kejadian serupa terjadi di tempat tidak jauh dari lokasi sebelumnya.
Kesan yang dapat diambil dari contoh di atas adalah, dengan adanya peraturan bahwa pedagang kaki lima dilarang di tempat umum, polisi melakukan tugas untuk menertibkannya meskipun hanya terhadap satu pedagang, sementara si pedagang maklum kalau pekerjaannya dilarang sehinga ia lari, meskipun ia mencoba waktu lain di tempat berbeda. Biarpun terjadi berkali-kali polisi tidak bosan menertibkan karena itu memang tugasnya, tidak perlu harus menunggu banyak pedagang kakilima untuk mengusirnya atau melakukan operasi penertiban. Alhasil, pedagang ilegal itu tidak berkembang semakin banyak dan area pejalan kaki terkesan rapi dan bersih.
Barangkali sikap dan rasa tanggung jawab ini yang masih kurang melekat pada sebagian para pengemban amanah peraturan dan pengguna area umum di negeri kita ini. Demi ‘atas nama’ ketertiban dan kebersihan, kita sering menyaksikan operasi penertiban, bahkan penggusuran bangunan ilegal dengan mengerahkan sepasukan petugas yang terkesan represif, kadang-kadang terjadi bentrokan fisik. Mengapa tidak dilakukan penertiban atas pedagang atau bangunan ilegal pada waktu mereka baru muncul satu atau dua? Sementara dengan penataan yang adil bagi mereka disediakan lokasi yang memadai.
Kesimpulan, pekerjaan ‘kecil’ (sederhana) tapi dilakukan berkelanjutan secara konsisten, lebih baik dari pada yang pekerjaan ‘besar’ (operasi penertiban, dalam arti skala maupun publikasinya) namun hanya sekali-sekali.
Amalan Kecil Pahala Berlipatganda
Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan (sedekah / nafkah yang dikeluarkan oleh) orang - orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya menghasilkan seratus butir benih. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2: 261).
Banyak kisah cerita, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits, yang menunjukkan bahwa barangsiapa membelanjakan hartanya di jalan Allah, atau barang siapa gemar berinfak dan bersedekah, maka sesungguhnya Allah Swt akan mengganti harta yang disedekahkan itu berlipat-lipat, tidak hanya kelak kala hidup di akhirat, tapi ketika juga masih hidup di dunia ini.
Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan di jalan Allah), maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ 34: 39).
“Setiap orang mukmin yang memberi makan kepada orang yang lapar, maka Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga (kelak) di hari kiamat. Dan setiap orang mukmin yang memberi minum bagi yang haus, maka Allah akan memberinya minum di hari Kiamat. Dan setiap mukmin yang memberi pakaian pada mukmin yang tak memiliki pakaian yang layak, maka Allah akan membalasnya dengan pakaian dari perhiasan surga kelak di hari Kiamat. (HR Abu Daud dan Turmidzi)
Ayat di atas menjadikan motivasi bagi kita agar bersegera mengeluarkan sedekah / infak, karena dengan begitu Allah sendiri yang akan menjamin kita dengan ganti yang lebih besar dari harta yang kita sedekahkan / infaqkan.
Amalan sedekah mengandung sepuluh kebaikan, diantaranya adalah lima kebaikan di dunia, dan lima di akhirat. Adapun lima kebaikan di dunia adalah: 1. Membersihkan harta kekayaan. 2. Membersihkan diri dari dosa. 3. Menolak bencana dan penyakit. 4. Menyenangkan sesama manusia muslim dan mukmin. 5. Menjadikan berkah atas harta dan menjadikan banyak rizki. Sedangkan lima kebaikan di akhirat adalah: 1. Sedekah akan melahirkan pahala yang dapat menjadi naungan baginya pada hari Kiamat. 2. Dapat meringankan hisab saat penghitungan amal. 3. Memberatkan timbangan amal kebaikan. 4. Memudahkan menyeberang jembatan (shiraatal mustaqiim). 5. Menambah derajat di surga.
Amalan yang Tak Ikhlas Adalah Sia-sia
“Barangsiapa takut kepada Tuhannya dan mengharap pahala dari-Nya, maka kerjakanlah amalan yang baik dengan penuh ikhlas, jangan menyekutukan seorang pun dalam beribadah (beramal shalih) kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi 18: 110)
Dari semua amal perbuatan yang kita lakukan, kalau tidak disertai dengan ‘ikhlas’ akan sia-sia di hadapan Allah. Percuma seseorang mengeluarkan sedekah berjuta-juta rupiah jika hatinya tercemar oleh riya’ (pamer), yaitu amalan yang dikerjakan bukan semata-mata karena Allah, tapi mengharapkan pujian dari manusia atau hanya mengharapkan kesenangan di dunia. Sebaliknya, amal ibadah yang tampak ringan atau sepele, tetapi dikerjakan dengan penuh ikhlas karena Allah, maka hal itu lebih utama, karena Allah akan membalas dengan pahala yang besar.
“Dan barangsiapa menghendaki kesenangan di akhirat (dari pahala amalnya) dengan sepenuh hati melakukannya secara ikhlas dan beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya diterima (amalnya memperoleh pahala).” (QS Al-Israa’ 17: 19).
Ikhlas memilki kedudukan yang sangat penting di sisi Allah, karena itu keikhlasan mutlak dihadirkan dalam hati bagi orang yang mengerjakan amal shalih.
“Dan ceritakan (wahai Muhammad) kisah Musa dalam Al-Qur’an, sesungguhnya ia adalah hamba yang dipilih (ikhlas) dan seorang Rasul dan Nabi.” (QS Maryam 19: 51).
Dampak yang sebenarnya bagi seseorang yang melakukan perbuatan (amal shalih) biarpun sedikit adalah pahala yang besar, asalkan dilakukan dengan ikhlas. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar dan beramal shalih, serta ikhlas.
Moh Kamal Hs
No: 138

3 komentar:

  1. Tulisan menarik tentang Jepang dan Islam. Ada yang saya tanyakan, di bagian awal disebutkan pemeluk agama Shinto 107 juta, usai PD II bangsa Jepang telah meninggalkan agama Shinto. Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalam.

    BalasHapus
  2. @priyono. Secara pribadi mayoritas orang Jepang masih tetap ingin mempertahankan Shinto sebagai tradisi / budaya. Sebagai suatu bangsa yang biasanya dikaitkan dengan negara, mereka sudah meninggalkan agama Shinto. Jadi ada perbedaan sikap orang Jepang sebagai pribadi dan sebagai bangsa. Yang repot adalah perdana menteri. Sebagai negarawan, setiap perdana menteri baru merasa perlu berziarah ke makam para pahlawan PD II yang berada di area kuil Shinto bernama Yasukuni di Tokyo. Media massa selalu mengecam ziarah itu karena dianggap sebagai mengakui agama Shinto dalam urusan kenegaraan. Lalu perdana menteri biasanya menjawab “kunjungan itu sebagai pribadi”. Sebenarnya argumentasi itu sekedar asal bunyi, tanpa menjelaskan mengapa berziarah waktu menjabat perdana menteri. Tetapi polemik itu biasanya hanya berlangsung sehari saja. Tidak ada unjuk rasa, tidak ada kekerasan. Jadi lenyap begitu saja. Bagi mereka ribut masalah agama tidak ada gunanya. Semoga lebih jelas. Wassalamu’alaikum wr.wb.

    BalasHapus
  3. Memang menarik orang Jepang itu, agamanya banyak, gak beragama juga boleh, mau murtad silakan, nanti masuk lagi kalo perlu. Pripun niki….

    BalasHapus