Rabu, 15 Februari 2012

HIKMAH DI BALIK SAKIT

Seperti telah dibahas pada tulisan 72 (5-4-10), musibah ada yang menimpa seseorang atau sekelompok orang tertentu berupa sakit, meninggal dunia, kerugian dalam usaha, kehilangan barang, yaitu musibah yang bersifat individual. Di sampng itu ada pula musibah bersifat sosial, misalnya bencana alam, wabah penyakit, hujan dan kekeringan yang panjang, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, semburan lumpur / gas, kekalahan dalam peperangan, dan sebagainya. Pada kesermpatan ini kita akan membahas tentang salah satu musibah individual, yaitu sakit.
Bukit Uhud menjadi saksi sejarah yang menceritakan bukti kepahitan dan kepedihan yang diderita kaum Muslimin dalam peperangan menghadapi kaum kafir. Tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Puluhan sahabat gugur sebagai syuhada. Puluhan lainnya terluka parah. Bahkan Rasulullah Saw sendiri mengalami banyak luka yang sangat memilukan. Untuk shalat berjamaah Rasulullah dan kaum Muslimin harus duduk, karena begitu banyaknya luka-luka pada tubuh mereka. Peristiwa itu telah meninggalkan duka bagi kaum Muslimin. Tetapi ada hikmah besar yang yang bisa dapat diambil dari peristiwa itu, karena bagaimanapun juga, pengalaman hidup adalah guru yang paling bijak dalam mengajarkan sesuau kepada kita.
Dalam perang itu, sebenarnya kaum Muslimin pada awalnya tidak berada pada posisi kalah, karena Rasulullah Saw telah membentuk benteng pertahanan dari pasukan pemanah. Ketaatan mereka kepada kepemimpinan Rasulullah Saw memudar ketika barisan pemanah itu melihat kaum Muslimin yang lain sibuk memperebutkan harta rampasan perang. Mereka meninggalkan bukit pertahanan untuk ikut ambil bagian dalam harta rampasan perang tersebut. Kesempatan ini adalah momentum yang ditunggu-tunggu oleh kaum musyrikin. Mereka mengambil alih posisi pasukan pemanah dan melakukan serangan balasan yang tak mampu dihalangi oleh kaum Muslimin.
Peristiwa Uhud setidaknya mengajarkan kaum Muslimin tentang konsekuensi yang harus diterima oleh seseorang ketika ia mencoba untuk melanggar perintah Rasulullah Saw, karena bagaimanapun juga kesalahan dari perisiwa itu adalah sikap merasa tidak dalam bahaya karena tindakan meninggalkan posisi pasukan pemanah. Tetapi sakit tidak selalu meninggalkan kesan kesedihan dan penderitaan bagi seseorang, tetapi menjadi momentum untuk mengumpulkan kebaikan. Sakit merupakan momentum untuk melakukan muhasabah terhadap nikmat kesehatan yang selama ini kita nikmati. Di sini sakit berfungsi sebagai pengontrol terhadap nikmat kesehatan dan kesenangan yang telah kita habiskan.
Sakit merupakan momentum pengumpulan semangat baru terhadap perjuangan hidup yang sedang kita lakukan. Di sisi lain sakit juga merupakan momentum untuk pencapaian sebuah cita-cita, bahkan sakit adalah jejak-jejak untuk mengukir suatu keberhasilan. Sesungguhnya sakit bukan pemberian Allah yang buruk, karena Allah tidak pernah memberikan yang buruk kepada hamba-Nya. Sakit yang menurut kita buruk, belum tentu buruk dalam pandangan Allah sebagaimana firman-Nya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui." (QS Al-Baqarah 2: 216). Begitulah Allah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bersikap positif terhadap sesuatu.
Sakit adalah bagian dari kasih sayang Allah yang sangat besar bagi hamba-Nya. Justru karena sakitlah Umar Bin Khattab semakin merasa bersyukur kepada Allah karena diberi kesempatan untuk menghapuskan dosa-dosa kecil. Sakit bisa membuat kita mendapatkan kesabaran yang penuh dengan keindahan. “Bersabarlah kamu dengan sabar yang baik." (QS Al-Ma’arij 70: 5 ). Rasulullah Saw sangat mewanti-wanti agar kita berhati-hati dengan sakit, karena tidak semua orang mempunyai kemampuan menjadikan masa sakit itu menjadi lahan kebaikan. "Pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu," demikian Rasulullah mewasiatkan. Beliau pernah mengatakan: “Aku mengagumi seorang Mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim).
Itulah gambaran seorang Mukmin. Setiap aktivitas dalam hidupnya selalu mendatangkan kebaikan. Dalam hadits itu Rasulullah Saw menjelaskan dua keadaan yang ada dalam diri manusia yaitu kesenangan dan kesedihan. Dua keadaan itu dapat membedakan mana yang termasuk Mukmin dan orang yang tidak beriman. Mukmin selalu besyukur ketika mendapatkan kesenangan dan selalu bersabar ketika mendapatkan musibah.
Bersyukur ketika mendapatkan kebaika kesenangan adalah sesuatu mudah untuk dilakukan, tetapi bersabar ketika menghadapi musibah adalah bukan hal mudah, tetapi sulit untuk dilakukan. Hal itu akan membedakan tingkat keimanan seseorang. Semakin besar ujian yang diterima dan dia dapat bersabar maka semakin tinggi pula derajat seseorang.
Dalam kaitan musibah individual - seperti halnya musibah sosial - dalam hidup ini manusia tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS Al-Anbiyaa’ 21: 35). Makna dari ayat ini adalah bahwa Allah Swt akan menguji manusia dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.
Dari ayat tersebut, kita mengetahui bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah Swt dan ujian yang diberikan kepada hamba-Nya. Salah satu cobaan dan ujian kesabaran bagi seorang muslim adalah sakit. Namun di balik cobaan dan ujian ini, terdapat berbagai hikmah. Beberapa hikmah tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama: Sakit akan menjadi kebaikan bagi seorang Muslim jika dia bersabar. Benarkah bisa begitu? Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang Mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang Mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim). Orang sakit yang mau bersabar akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Pada hadits yang lain disebutkan:: “Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya.
Kedua: Sakit akan menghapuskan dosa. Bagaimana bisa semudah itu? Allah Swt berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syuura 42: 30). Jadi penyakit itu merupakan pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan penderitanya baik dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan bahkan dengan seluruh anggota tubuhnya. Di sisi lain, penyakit juga bisa merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Apalagi Rasulullah bersabda: *Tidaklah menimpa seorang Mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR Muslim). * “Setiap getaran pembuluh darah dan mata adalah karena dosa. Sedangkan yang dihilangkan Allah dari perbuatan itu lebih banyak lagi.” (HR At-Tabrani). Kita bersyukur bahwa Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalam keadaan sakitpun, kita masih bisa mendapatkan pengampunan atas dosa-sosa kita.
Ketiga: Sakit akan membawa keselamatan dari api neraka. Hikmah ini luar biasa. Tapi ada syaratnya. Yaitu seperti sabda Rasulullah Saw: ”Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR Muslim). Maka hendaknya seorang Mukmin tidak mencaci maki penyakit yang dideritanya, mengeluh, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah Swt atas musibah sakit yang dideritanya. Membaca syarat itu mudah, tetapi tidak sedikit orang sakit yang mengeluh. Jika kita sanggup tidak mengeluh, maka di balik sakit demam itu ada rahasianya, yaitu sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang Mukmin dari api neraka.” (HR Al-Bazzar). Berhati-hatilah kita, sakit demam bisa adalah gejala umum dari berbagai penyakit, dari penyakit flu biasa, sampai flu burung, flu babi, sakit infeksi saluran pernapasan dan lainnya, yang terkadang bisa menjadikan seseorang tak sadarkan diri.
Keempat: Penyakit dan musibah akan mengembalikan seseorang yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar supaya kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Tuhannya. Jka Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidak-mampuan di hadapan Tuhannya. Ia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada ummat-ummat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS Al-An’aam 6: 42). Ayat ini menegaskan agar supaya manusia mau tunduk kepada Allah Swt, memurnikan ibadah kepada-Nya, dan hanya mencintai-Nya, dengan cara taat dan pasrah kepada-Nya.
Kelima. Selalu mengingat nikmat Allah. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru ketika sakit. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai untuk ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh nikmat yang besar. Ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Ibnul Qayyim memberi nasihat berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.”
Hendaknya kita menyadari dan mengingat bahwa cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR At-Tirmidzi). Jadi karena cinta-Nya kepada hamba-Nya, maka Allah Swt memberikan cobaan bagi kita. Menghadapi musibah seperti itu selain istirja (berserah diri kepada Allah), hendaknya kita juga melakukan upaya penyembuhan. Hendaknya kita berdo’a agar musibah yang menimpa diri kita hanya bentuk ujian dari Allah Swt bagi hamba-Nya yang shalih, ikhlas dan lapang dada menghadapinya, agar kita mendapatkan rahmat dan pahala-Nya.
Keenam. Pembersihan hati dari penyakit. Pendapat Ibnul Qayyim: “Kalau manusia itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, maka ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan jiwanya beku. Karenanya, musibah dalam bentuk apapun adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya. Akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakit yang dideritanya, maka martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan. Pahalanya pun akan berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha.”
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hikmah sakit ini dan menjadikan momentum pengumpulan semangat baru terhadap perjuangan hidup yang sedang kita lakukan. Di sisi lain sakit bisa menjadi momentum untuk mencapai cita-cita, dan mengukir suatu keberhasilan. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
Hermanto Hs
No. 139

2 komentar:

  1. Betul betul betul. Sungguh luar biasa indah ajaran moral Islam. "Islam is not the state of being but the process of becoming" kata Bung Hatta seperti dikisahkan oleh Bang Imad. Mari kita berlomba mengamalkannya, agar negeri ini menjadi sehat - makmur - sejahtera - berdaulat, dijauhkan dari pertengkaran - fitnah - permusuhan - dan angkara murka. Selamat Berkarya untuk Al-Ust Hermanto dan kawan2. Wassalam.

    BalasHapus
  2. Allah Swt memang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hambanya dengan memberikan hikmah besar bagi yang sakit. Bersyukurlah kita berada di jalan hidup yang benar di dunia dan hidup kekal akhirat, yaitu jalan Islam. Subhanallah.

    BalasHapus