BANTUAN YANG TAK DISANGKA-SANGKA MENGHADAPI KESULITAN DALAM BEPERGIAN
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha Suci Dzat yang telah manjalankan ini untuk kami padahal kami tidak mampu mangadakannya, dan sesungguhnya kepada Tuhan kami akan kembali. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan dan taqwa didalam perjalanan kami ini, dan memohon amal yang Engkau ridhoi. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah yang jauh dari kami. Ya Allah Engkaulah teman kami dalam perjalanan dan khalifah dalam keluarga. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan tempat kembali dalam harta dan keluarga.” (HR Muslim).
Dalam suatu perjalanan menunaikan ibadah haji dalam tahun 1997, penulis bersama dengan isteri dan seorang sahabat yang juga bersama isteri, berniat melanjutkan perjalanan ziarah ke Masjidil Aqsa. Suatu kesempatan emas yang membuat kami sangat bersyukur karena berkesempatan mengunjungi tempat suci ketiga yang penting disebutkan dalam Al Quran setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, berkat bantuan seorang sahabat yang membantu menguruskan perjalanan ini.
Setelah menyelesaikan proses imigrasi dan check in di Bandara Jedah, boarding pass sudah ditangan baik kami beserta isteri maupun sahabat, kami bersiap menuju ruang tunggu keberangkatan di Terminal, dimana sejak proses pemeriksaan tiket dan security check para calon penumpang laki-laki dipisah dengan calon penumpang wanita. Sebelum berpisah kami saling berpesan nanti kita ketemu lagi di pesawat Air Jordan yang akan membawa kami berempat ke Amman Yordania, sebagai tujuan penerbangan sebelum nantinya diteruskan melalui Biro Tour setempat ke Yerusalem. Dengan membawa boarding pass masing-masing di tangan kedua ibu memasuki ruang tunggu dengan terlebih dulu menunjukkan boarding pass kepada petugas bandara yang memeriksa satu persatu penumpang sebagaimana prosedur.
Kami bersama sahabat juga menuju ruang tunggu untuk laki-laki dengan menunjukkan boarding pass yang kami bawa, namun petugas menolak kerena sesuai nomor penerbangan yang tertera pada boarding pass, penerbangan yang akan kami tumpangi belum saatnya masuk ke ruang tunggu. Kami menjelaskan kepada petugas disana bahwa dua orang wanita isteri kami dan sahabat telah diproses masuk ke ruang tunggu di sebelah sana. Namun petugas tidak ambil pusing, selain karena melayani penumpang yang sangat banyak, juga kerena masalah bahasa. Kami melihat dalam daftar penerbangan saat itu banyak penerbangan Air Jordan ke beberapa tujuan baik ke Asia, Timur tengah, atau negara lain, sementara suasana gedung terminal sangat ramai para calon penumpang dari berbagai macam kebangsaan.
Upaya kami untuk menjelaskan kepada petugas yang berada disekitar area tersebut tidak membawa hasil, sementara waktu terus berjalan dan kami hampir putus asa, sedangkan ingin menuju hall untuk wanita tidak diperkenankan. Tanpa mengurangi penghargaan pada petugas terminal, perasaan kawatir timbul karena melihat cara menangani penumpang dan kurang telitinya mencek boarding pass, sementara kedua ibu-ibu dengan dokumen yang tidak semuanya dipegang karena kami yang memegang. Kekawatiran muncul kalau para ibu-ibu yang terpisah itu terangkut penerbangan ke bandara lain, bisa dibayangkan kerepotan apa yang akan terjadi, setidak-tidaknya mengalami permasalahan yang mengganggu jadwal pemberangkatan kami.
Dengan selalu istighfar kami berjalan berputar-putar di sekitar area itu sambil memasang mata terus, dengan harapan ada petunjuk yang dapat membantu memberikan solusi. Waktu terus berjalan dan kami semakin was-was, maka sambil terus menajamkan pandangan kesegala arah, sementara dalam hati tidak lepas istighfar dan berdoa memohon petunjukNya agar memberi jalan keluar dan melancarkan urusan dan perjalanan kami, serta diberikan kepada kami kesabaran.
Dengan selalu istighfar kami berjalan berputar-putar di sekitar area itu sambil memasang mata terus, dengan harapan ada petunjuk yang dapat membantu memberikan solusi. Waktu terus berjalan dan kami semakin was-was, maka sambil terus menajamkan pandangan kesegala arah, sementara dalam hati tidak lepas istighfar dan berdoa memohon petunjukNya agar memberi jalan keluar dan melancarkan urusan dan perjalanan kami, serta diberikan kepada kami kesabaran.
Tiba-tiba terlihat serombongan crew pesawat Air Jordan terdiri dari pilot dan para awak kabin melintasi pintu dimana kami berdiri, maka tanpa mensia-siakan kesempatan kami tahan sebentar dan kami sampaikan masalah kami dengan menggunakan bahasa inggris. Dengan tidak terduga pilot cepat memahami dan langsung menjawab: “baik, tunggu disini saya bantu” Singkat kata, semuanya dapat diselesaikan setelah kedua ibu tadi dijemput kembali keruang tunggu setelah duduk di kursi pesawat dengan nomor penerbangan yang lain, di mana beberapa saat kemudian pesawat tersebut berangkat menuju Thailand. Dan ternyata kami masih harus menunggu agak lama keberangkatan pesawat kami. Ahamdulillah, dengan perasaan lega kami bersyukur Allah telah memberikan pertolongan melancarkan perjalanan kami, karena kami yakin bahwa niat kami baik sejak berangkat.
Kisah dalam perjalanan diatas memberikan ilustrasi betapa pada saat tiada lagi harapan kita menghadapi situasi ‘menthok’, biarpun upaya telah maksimal, dan segalanya diserahkan kepadaNya, maka ada ‘tangan Allah’ yang membantu kalau memang dikehendakiNya.
Janji Allah akan mengingat hamba-Nya, terutama pada saat mengalami kesempitan, apabila ia selalu mengingat akan Allah: “Ingatlah kepada Ku, maka Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kufur kepada-Ku” (QS Al-Baqarah: 152).
Firman Allah dalam Hadits Qudsi: “Aku adalah menurut sangkaan hamba-Ku terhadap Aku; dan Aku akan selalu bersama dia ketika ia mengingat Aku, maka apabila ia mengingat Aku dalam dirinya, Aku akan mngingat dia dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat Aku di(tengah-tengah) orang banyak, Aku akan mengingatnya di (tengah-tengah) kelompok yang lebih baik daripada kelompok manusia tadi, dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan lari-lari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjaga Diri Saat Berada Dalam Perjalanan Atau Bepergian
Kalau seseorang hendak keluar rumah, karena mau bepergian, maka bacalah doa berikut ini: “Bismillaahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula walaa quwwata illaa billaah (Dengan nama Allah aku berserah diri, tiada daya kekuatan melainkan dengan ‘pertolongan’ Allah)”.
Rasulullah Saw menerangkan, siapa saja yang membaca doa tersebut, maka dia akan dicukupi, dilindungi dan dipimpin serta diselamatkan dari gangguan syeitan. (HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasai, Tirmidzi berkata, hadits ini hasan shahih).
Kalau hendak bepergian, supaya keluarga dan harta yang ditinggal dirumah itu tetap dilindungi Allah, maka sebaiknya membaca do’a Safar di bawah ini: “Ya Allah , Ya Tuhanku, Engkau adalah teman dalam beperian dan menjadi penjaga keluarga; karena itu Ya Allah, Ya Tuhanku, Kawanilah aku ini dengan nasehat-Mu, dan kembaikanlah aku dengan penuh perlindungan; Ya Allah, Ya Tuhanku, Jinakkanlah bumi ini bagiku dan mudahkanlah perjalananku; ya Allah, ya Tuhanku, Aku minta perlindungan kepada-Mu dari gangguan bepergian dan kesukaran untuk kembali” Do’a ini dibaca sesudah naik di atas kendaraan." (HR Tirmidzi, Nasai, Abu Ya’la)
Dalam suatu perjalanan yang menggunakan kendaraan, baik di darat, laut maupun pesawat udara, maka pada saat itu seseorang telah menggantungkan keselamatan dirinya pada sistem dan peralatan. Dalam hal keselamatan penerbangan, maka sejak pesawat lepas landas, selama penerbangan, sampai dengan pesawat mendarat di bandara tujuan, keselamatan penerbangan ditunjang oleh Sistem Pengendali Lalu lintas penerbangan (Air Traffic Control Services), baik di bandara, di zona pengendalian disekitar bandara, maupun di area pengendalian yang lebih luas ( Area Control Service), yang pada dasarnya melaksanakan pengendalian untuk mencegah tabrakan antar pesawat dan memelihara keteraturan arus lalu lintas udara. Keselamatan didalam pesawat mengandalkan mesin dan seluruh sistem dari pesawat tersebut.
Ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan manusia dapat melakukan perjalanan semakin cepat dan nyaman. Namun di balik peralatan dan sistem keselamatan yang canggih itu, ada celah-celah yang memungkinkan terjadinya kondisi di luar kendali, antara lain oleh faktor manusia (human factor) akibat kelalaian, kelelahan, atau oleh faktor alam, seperti cuaca, bencana alam dsb. Dalam hal ini kadang-kadang kita dihadapkan pada kondisi yang di mana upaya manusia menghadapi masalah sudah maksimal atau ‘menthok’, maka satu-satunya yang diharapkan adalah adanya keajaiban atau ‘tangan Tuhan’ (istilah populer penulis pinjam untuk maksud ini).
Kisah dramatis pernah dialami dari maskapai penerbangan British Airways dalam suatu penerbangan dari Singapura menuju Australia pada sekitar awal tahun delapan puluhan. Beberapa menit setelah lepas landas dari Bandar udara Singapura, pesawat mulai memasuki wilayah udara Jakarta sebagaimana diumumkan oleh pilot kepada para penumpang melalui mikropon, sambil mengucapkan ‘selamat menikmati penerbangan menuju tujuan Australia’. Mendadak pilot dikejutkan oleh matinya salah satu mesin pesawat Jumbo Boeing 747 yang terkenal canggih itu. Hal tersebut segera disusul dengan matinya mesin kedua, selanjutnya mesin ketiga, dan akhirnya keempat-empatnya mesin mati, maka pesawat dengan ratusan penumpang itu melayang dari ketinggian 30 ribu kaki di atas permukaan laut dan menunggu saat menyentuh bumi atau laut.
Kejadian dramatis beberapa menit diatas pesawat dialami pilot dan seluruh awak pesawat mengendalikan kondisi tanpa mesin dan upaya terbaik mengatasinya mengusahakan meminimalkan korban, sementara penyebab matinya mesin belum diketahui. Suasana panik dialami para penumpang meskipun awak kabin meminta tetap tenang, karena pilot akan mengusahakan langkah terbaik untuk mengatasinya. Sebagian penumpang histeris membayangkan apa yang akan terjadi, sebagian yang lain pasrah dan berdoa mohon keselamatan dari Tuhan. Petugas menara pengawas Jakarta mengikuti dengan seksama sambil mempersiapkan langkah-langkah untuk menindaklanjuti kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sesuai prosedur penerbangan. Bagi pilot dan awak kabin serta penumpang di pesawat, keadaan tersebut seolah-olah berada pada menit-menit yang semakin dekat menjelang pesawat menyentuh bumi dan hancur berkeping-keping. Namun pilot tetap berusaha menghidupkan mesin berulang kali setelah selalu gagal, dan mengulang-ulang kembali dari proses awal.
Kejadian aneh terjadi pada menit-menit yang kritis pesawat tanpa tenaga itu, mendadak salah satu mesin berhasil dihidupkan, kemudian disusul mesin kedua, selanjutnya mesin ketiga mengikutinya sebelum keempat-empatnya mesin berhasil hidup kembali. Singkat kata pesawat berhasil mendarat darurat dengan selamat di bandar udara Halim Perdanakusumah Jakarta. Selanjutnya diketahui penyebab musibah di atas adalah akibat semburan abu vulkanik dari Gunung Galunggung yang meletus tepat pada malam penerbangan pesawat British Airways itu melewati wilayah udara Jakarta.
Sekali lagi, pada saat-saat manusia sudah tidak ada kekuatan lagi menghadapi musibah dengan upaya yang sudah maksimal namun tidak berhenti berupaya, maka hanya kehendak Allah yang menyelamatkan hamba-Nya.
Untuk itu tidaklah berkelebihan kita selalu ingat dan berdoa kepada Allah pada saat akan bepergian menggunakan kendaraan termasuk dengan pesawat udara: “Bismillaahi majriihaa wa mursaahaa inna rabbii laghafuurur rahiim / Dengan nama Allah (semoga) menyertai perjalanan dan mendaratnya (pesawat ini). Sungguh, Tuhanku, benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Hud 11: 41).
Selanjutnya kalau sudah pulang dari bepergian, sebelum masuk rumah, sempatkan dulu membaca do’a berikut ini: “Allaahumma innii as-aluka khairal mauliji wa khairal makhraji bismillaahi walajna wabismillaahi kharajnaa wa ‘alallaahu rabbinaa tawakkalna”. (Ya Allah, Ya Tuhanku, Aku memohon kepada-Mu kebaikan rumah ini dan kebaikan tempat keluar. Dengan nama Allah kami keluar, dan dengan nama Allah Tuhan kami, kami pasrah).
Semoga anda selamat dalam perjalanan dan sukses menyelesaikan maksud dan tujuan dalam bepergian, dan kembali dengan selamat ke rumah serta mendapat ridho dari Allah Swt. Amien.
Moh. Kamal Harsolumakso
No. 121
No. 121
Tidak ada komentar:
Posting Komentar