DENGAN KEJUJURAN KITA BERPUASA
Seperti kita pahami, bepuasa adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh serta ucapan dan perbuatan yang tidak terpuji, mulai terbit fajar sampai maghrib, dengan tujuan supaya menjadi takwa (QS Al-Baqarah 2: 183). Puasa di samping merupakan sarana pendidikan Ilahi untuk menanamkan tanggungjawab pribadi, juga merupakan sarana pendidikan untuk menanamkan solidaritas atau tanggungjawab sosial.
Sehingga berpuasa harus kita manfaatkan untuk melakukan muhasabah dalam ibadah mahdah dan mu’amalah. Jika kita bicara tentang puasa, pada umumnya yang dimaksud adalah puasa wajib di bulan Ramadhan, sedangkan puasa di bulan lain merupakan puasa sunnah. Dari muhasabah itu dan perbaikan yang kita peroleh paling tidak harus kita pertahankan setelah bulan Ramadhan berlalu sampai Ramadhan berikutnya. Jika tidak, kita hanya melakukan badah ritual puasa tanpa makna perbaikan.
Puasa adalah ibadah yang sifatnya sangat pribadi, sehingga kita harus menjalani puasa dengan penuh kejujuran. Contoh ketidak-jujuran dalam diri seseorang, adalah; orang yang memulai harinya dengan makan sahur, kemudian di luar rumah dia secara bersembunyi makan atau minum, dan melakukan apa saja yang dilarang dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu tidak akan terjadi, karena kejujuran juga merupakan salah satu tujuan sekaligus kunci keberhasilan puasa kita. Demikianlah berpuasa itu merupakan sarana menguji kejujuran seseorang.
Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam hal makan, minum dan apa-apa saja yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita tidak bisa menjaga kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat praktik berbangsa dan bernegara, yang tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata. Dalam kasus korupsi misalnya, kendala melakukan pemberantasan korupsi adalah karena ketidak-jujuran mereka yang terlibat dalam kasus itu, yaitu para tersangka koruptor dan penegak hukum yang menangani masalah ini.
Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental, yang perlu kita pahami yaitu; 1) pendekatan diri kepada Tuhan, 2) penyucian diri, 3) membangun keshalehan sosial.
Dengan beribadah puasa, seseorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan ruhaninya kemudian berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin. Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri seseorang diharapkan akan terjadi bahwa apa yang selalu dipikirkan, dibayangkan, dan dirasakan oleh seseorang, akan mempengaruhi dan menggerakkan perilaku orang itu.
Jika hati dan pikiran selalu terikat dan tertuju kepada Allah Yang Maha Pengasih, maka kasih Allah akan merasuk ke dalam diri kita sehingga kita menjadi instrumen Allah sebagai penyebar kasih dan kebajikan. Namun, untuk meraih prestasi ini, kita harus membuka diri, membersihkan, dan membuang jauh-jauh berbagai pikiran, perasaan, serta perilaku kotor karena akan menghalangi cahaya dan energi ilahi untuk turun ke dalam diri kita.
Bagi sebagian orang, bulan berpuasa merupakan bulan untuk meningkatkan dan merevitalisasi diri sehingga hidup ini senantiasa dipandu kekuatan spiritual. Melalui puasa kita kembalikan dan perkokoh nurani untuk menjadi pemimpin kehidupan. Kita mesti bersikap positif karena yakin, bulan Ramadhan pasti mendatangkan berkat dan rahmat bagi kita semua.
Namun bagaimana kenyataannya? Kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagaimana memperbaikinya? Salah satu caranya ialah belajar bersungguh-sungguh menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejujuran adalah dasar kehidupan di dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah Saw oleh Allah Swt. Kejujuran tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran.
Pertama, akal yang wajib memandang bahwa berdusta itu buruk, apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan tidak mencegah bahaya. Kedua, agama dan syari’ah yang mengajarkan untuk mengikuti kebenaran dan kejujuran, serta memperingatkan bahaya kedustaan. Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran. Keempat, memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati kita dengan menjauhi sifat munafik dan dusta yang dapat menjauhkan kita dari sifat jujur, untuk kemudian setahap demi setahap kita tumbuhkan sifat jujur, agar kita dapat bersama-sama dengan para nabi, syuhada dan shalihin di akhirat kelak. Marilah kita tinggalkan segala bentuk kebohongan dan menggantikannya dengan kejujuran, karena itu adalah jalan yang lurus untuk menuju surga.
Allah Swt berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (jujur) imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 177).
Ayat tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa kejujuran merupakan hakikat kebaikan dengan dimensi luas bagi orang-orang yang jujur (benar) imannya dan yang takwa. Karena itulah, Allah Swt menasihati kita untuk senantiasa bersama-sama orang yang jujur sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS At-Taubah 9: 119).
Setelah kita mengetahui hakikat kejujuran, maka setidaknya muncul dalam hati kita keinginan untuk melengkapi diri dengan sifat jujur ini. Karena sifat ini benar-benar merupakan intisari dari kebaikan. Dan sifat ini pulalah yang dimiliki oleh sahabat yang paling dicintai Rasulullah Saw yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq.
DENGAN BERPUASA KITA LEBIH BERDISIPLIN
Demikian telah kita membahas pentingnya kejujuran dalam ibadah puasa. Tanpa kejujuran, puasa kita tidak akan memperoleh hasil maksimal. Kita semua tahu bahwa kewajiban berpuasa bagi kita dimaksudkan supaya kita menjadi orang-orang yang bertakwa QS Al-Baqarah 2: 183).
Orang yang takwa, adalah orang yang selalu ta’at kepada Allah Swt dan berusaha tidak akan berbuat yang dilarang agama. Dalam khazanah mu’amalah, hal ini merupakan kedisiplinan yang tinggi seseorang dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dia akan selalu berusaha untuk mematuhi apa yang diatur sesuai apa yang disepakati bersama dalam masyarakat.
Orang yang takwa selalu ingat kepada Allah, sehingga dalam khazanah mu’amalah, dia akan selalu ingat kepada aturan hidup bermasyarakat, selalu ingat kepada norma-normat dan nilai-nilai kehidupan.
Allah Swt menjanjikan kepada orang-orang yang takwa bahwa mereka akan selalu mendapatkan jalan keluar ketika menghadapi masalah (QS Ath-Thalaq 65: 2-3). Maka dalam khazanah mu’amalah dapat diartikan sebagai jalan menuju keberhasilan suatu ikhtiar.
Dari bahasan kita di atas, maka di samping puasa itu akan menjadikan seseorang menjadi takwa, puasa juga akan menjadikan seseorang hidup menjadi lebih berdisiplin dalam khazanah mu’amalah.
Beberapa dekade yang lalu, banyak pengusaha Indonesia yang mengeluh dalam menciptakan lingkungan kerja yang selalu bersih, teratur rapi, dan setiap orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Betapa mereka banyak membuang waktu hanya untuk mencari data dan atau sarana yang lupa penempatannya. Bukan hanya itu, seringkali mereka kurang nyaman dengan kondisi berkas kerja yang berantakan, dan tidak jarang memicu kondisi emosional mereka.
Ternyata kondisi tersebut kemudian dapat diatasi dengan menerapkan Konsep 5S, yaitu metode sederhana untuk melakukan penataan dan pembersihan tempat kerja yang yang merupakan adaptasi dari program 5S yang diterapkan sejak lama oleh banyak negara di seluruh penjuru dunia, yang dikenal sebagai Sorting, Straightening, Sweeping, Standardization, Self Dicipline, yang disingkat 5S. Dan kemudian konsep ini juga diformulasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Konsep 5R yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Secara ringkas konsep tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Ringkas, adalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak digunakan, mana yang akan disimpan, dan bagaimana cara menyimpan supaya dapat mudah diakses, terbukti sangat berguna bagi sebuah perusahaan.
Rapi, adalah menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian adalah hal mengenai seberapa cepat kita meletakkan barang dan mendapatkannya kembali pada saat diperlukan dengan mudah. Perusahaan tidak boleh asal-asalan dalam memutuskan di mana benda-benda harus diletakkan untuk mempercepat waktu untuk memperoleh barang tersebut.
Resik, adalah membersihkan tempat / lingkungan kerja, mesin / peralatan dan barang-barang agar tidak terdapat debu dan kotoran. Kebersihan harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh setiap orang dari pimpinan perusahaan hingga pesuruh.
Rawat, adalah mempertahankan hasil yang telah dicapai pada 3R sebelumnya dengan membakukan semuanya iru (standardisasi).
Rajin, adalah terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Rajin di tempat kerja berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang sudah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip Rajin di tempat kerja adalah; “Lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.”
Tentu saja penerapan dari masing-masing prinsip dari konsep 5R ini perlu diikuti langkah-langkah berikutnya. Misalnya, prinsip Ringkas, harus disertai dengan langkah-langkah selanjutnya seperti; 1) Melakukan cek barang yang berada di ara masing-masing. 2) Menetapkan kategori barang-barang yang digunakan dan yang tidak digunakan. 3) Memberi label warna merah untuk barang yang tidak digunakan. 4) Menyiapkan tempat untuk menyimpan, membuang, atau memusnahkan barang-barang yang tidak digunakan. 5) Memindahkan barang-barang yang berlabel merah ke tempat yang telah ditentukan, dan sebagainya. Hal yang sama juga diperlukan langkah lanjut terhadap 4 prinsip lainnya, Konsep 5 S ini merupakan inovasi besar yang menghasilkan disiplin dan efisiensi tinggi dalam kegiatan usaha terutama di bidang manufaktur.
Konsep tersebut kelihatannya sederhana, tetapi hal yang sedehana itu tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa disiplin tinggi. Perlu kita ketahui bahwa keberhasilan melaksanakan suatu ikhtiar, sangat tergantung pada bagaimana mematuhi disiplin dalam melaksanakannya, karena disiplin adalah awal dari keberhasilan suatu ikhtiar. Seperti halnya melakukan ibadah shalat, tanpa niat yang benar, maka ibadah shalat kita itu tidak akan berlangsung dengan tertib dan kyusyuk.
Sayangnya ummat Islam lebih sering ketinggalan dalam melakukan inovasi (ijtihad) dalam khazanah mu’amalah dibanding dengan ummat lain yang non Musim. Sesungguhnya Konsep 5S yang telah diterapkan di banyak negara itu adalah inovasi yang dikembangkan sejak lama di Jepang yang dalam bahasa asalnya dinamakan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke - disingkat 5S. Inilah salah satu tantangan yang harus kita hadapi dalam khazanah mu’amalah.
Demikian kita telah membahas salah satu hikmah puasa di antara sekian banyak hikmah lainnya selama bulan Ramadhan ini, yaitu menjadikan hidup lebih berdisiplin baik dalam hubungan ‘ubudiah maupun mu’amalah. Marilah kita terus ber-ijtihad membuat konsep terkait kedisiplinan. Jika di bulan Ramadhan ini, kita belum bisa melakukan perbaikan dalam hal antri pembagian zakat dan sembako tanpa menimbulkan kericuhan, maka ibadah puasa kita selama sebulan ini belum dapat menghasilkan hasil yang maksimal kecuali lapar dan dahaga.
Hermanto Hs
No. 122
Alhamdulillah
BalasHapusSiraman di bulan ramadhan
Selamat menjalankan Shaum
Wassalam
Dadi AR (via e-mail)
Alhamdulillah Mas Hermanto mulai tampil lagi dengan tulisan khasnya tentang Jepang. Semoga makin sehat kembali. Amien Donny (Via email)
BalasHapus