Sejak awal bulan yang lalu, di Afrika Selatan sedang berlangsung pertandingan sepak bola memperebutkan Piala Dunia 2010, yang diikuti 32 tim terbaik di dunia, dan saat ini telah sampai pada babak semi final. Sepak bola adalah sebuah permainan spektakuler, dan paling banyak menarik perhatian masyarakat, dan disaksikan di seluruh dunia, baik langsung maupun melalui televisi, tidak terkecuali di
Dalam permainan sepakbola, selain dibutuhkan keakhlian dan keterampilan dari setiap pemain, juga perlu kerjasama tim yang baik dan rapi, dan adu strategi yang tepat untuk memperoleh sukses dalam setiap permainan menghadapi lawan main yang berbeda-beda. Dalam tulisan ini kita tidak membahas tim mana yang akan menjadi pemenang, tetapi bagaimana menjadikan permainan itu cantik dan menarik.
Dalam Al Qur’an ada beberapa ayat yang menyebutkan tentang ‘permainan’ (la’ibun). Salah satu di antaranya menyebutkan sbb: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [QS Al Hadiid (57): 20].
Mengapa Allah SWT membuat perumpamaan kehidupan ini bagaikan permainan? Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” [QS Al Baqarah (2): 26].
Selanjutnya petunjuk seperti apa yang kita peroleh dari suatu permainan? Kiranya ada baiknya kita menjadikan momentum kejuaraan sepak bola dunia itu untuk memahami apakah hakikat hidup manusia dilihat dari sisi permainan sepakbola. Dalam permainan sepakbola ini, diperlukan
Pertama. Unsur utama dalam sebuah permainan adalah Pemain. Tidak ada permainan tanpa pemain. Sesuai aturan jenis permainan, sepak bola, terdiri dari 11 pemain, bulu tangkis 2 atau 4 pemain, bola voli 6 pemain, demikian seterusnya. Untuk meraih sukses dibutuhkan pemain-pemain terbaik, yang menguasai ilmu permainan, memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan pemain terbaik, tidak jarang sebuah klub sepak bola rela membayar pemain milyaran rupiah.
Demikian pula kehidupan dunia, manusia adalah pemainnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” [QS Muhammad (47): 36]. Manusia yang beriman dan bertakwa adalah pemain terbaik yang diperlukan dalam suatu permainan hidup di dunia.
Di samping itu kita dituntut untuk memiliki ilmu dan keakhlian agar meraih hidup sukses di bidang masing-masing. Allah SWT berfirman: “Katakan )Muhammad:( ‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84].
Kedua. Lapangan permainan. Setiap permainan membutuhkan tempat atau lapangan.
Demikian pula dengan permainan hidup di dunia ini. Setiap manusia dalam kehidupan baik pribadi maupun bermasyarakat, harus mencari lahan hidup yang baik dan nyaman. Misalnya pekerjaan yang menyenangkan dan gaji yang cukup, rumah yang nyaman, keluarga yang sakinah, tempat ibadah yang bagus dan bersih, tempat rekreasi yang sehat dan menyenangkan, dan sebagainya. Lahan hidup yang ideal adalah yang luas (silaturahim), bersih (halal), dan bermanfaat bagi ummat (berkah). Dengan demikian memberi peluang untuk bisa berbuat kebaikan dan kebajikan (fastabiqul khairat) [QS Al Maaidah (5): 48] dan berbagi kenikmatan kepada orang lain. Berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah berbuat baik kepada kita (ahsin kamaa ahsanallah). [QS Al Qashash (28): 77]
Ketiga. Dalam suatu permainan seperti sepakbola, diperlukan seorang Wasit dan dibantu para penjaga garis untuk memimpin; mengatur dan mengendalikan permainan. Wasit memiliki kewenangan penuh di lapangan. Wasit yang meniup peluit dimulai dan diakhirinya permainan, wasit yang mengijinkan masuk dan keluarnya pemain. Permainan akan berlangsung dengan menyenangkan bila dipimpin seorang wasit yang akhli, memiliki integritas dan moral tinggi serta adil. Namun wasit juga tidak luput dari konflik kepentingan, sehingga bisa menimbulkan kericuhan seperti yang sering kita saksikan dalam pertandingan sepakbola.
Demikian pula dalam kehidupan ini, ada Wasit yang mengatur hidup kita. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan…… [Al Maaidah (5): 57]. Karena itu harus kita pilih pemimpin atau imam yang berwibawa, bijak dan adil supaya tidak dilecehkan oleh rakyat atau ummat. Namun harus kita sadari bahwa sehebat apapun seorang pemimpin atau imam, jika yang mengatur hidup ini adalah manusia, akan selalu muncul konflik kepentingan. Tetapi yang mengatur hidup kita ini adalah Zat Yang Maha Sempurna dan tidak memiliki kepentingan, yakni Allah SWT. Dia lah Maha Wasit, dengan para Nabi dan Rasul-Nya, yang mengendalikan dan mengatur jalannya permainan hidup manusia di muka bumi ini. Sehingga siapapun, yang taat melaksanakan perintah-Nya, yang memperhatikan teguran dan ancaman hukuman-Nya jika melanggar ketentuan-Nya, maka ia akan berhasil meraih sukses dalam hidupnya, yaitu sukses di dunia untuk bekal hidup di akhirat.
Keempat. Aturan permainan. Setiap permainan memiliki aturan permainan sendiri. Aturan dibuat oleh para akhli dan pecinta permainan. Permainan akan menjadi kacau jika aturannya tidak dipatuhi. Sehingga yang kuatlah yang menang, tidak peduli permainan itu akan berlangsung cantik dan menarik. Dalam permainan sepakbola misalnya, jika melakukan pelanggaran akan mendapat teguran kartu kuning sampai kartu merah dari wasit. Jika pemain terlalu cepat menembus garis pertahanan lawan berarti off side. Jika melakukan pelanggaran di daerah gawang sendiri, akan dikenakan tendangan penalti. Aturan ini maksudnya adalah supaya permainan dapat diarahkan dan dikendalikan menjadi cantik dan menarik.
Demikian kehidupan kita di dunia ini, ada aturan main yang dibuat Sang Wasit Yang Maha Adil. Siapa saja yang mengikuti aturan main, ia akan selamat dan sukses hidup di dunia hingga akhirat. Sebuah aturan yang sangat lengkap terpadu dan menyeluruh, seperti yang dipesankan Rasulullah SAW: “Aku tinggalkan dua hal untuk kamu sekalian; maka kamu tidak akan tersesat apabila berpegang kepada keduanya. Dua hal itu adalah Al Qur’an dan Sunnahku”. Bila dalam kedua aturan tersebut belum ditemukan hal-hal yang rinci, tersedia aturan teknis dalam kitab-kitab Fiqh, hasil karya para ulama Mujtahid.
Namun kebanyakan manusia mengabaikannya. Akibatnya, kehidupan mereka di dunia ini dalam kehancuran; saling menindas dan membunuh, melakukan kerusakan lingkungan di darat, laut dan udara, dan melakukan kemungkaran sosial yang meraja lela seperti yang terjadi di kalangan ummat Islam
Kelima. Waktu merupakan unsur penting dalam suatu permainan. Waktu tak pernah berhenti, tetapi setiap permainan akan selesai jika waktu yang ditentukan habis.
Begitu juga dalam permainan hidup, sebagai manusia yang beriman, kita harus menyadari bahwa kehidupan dunia ini ada batasan waktunya. Allah SWT berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ.
“Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu (ajal); maka apabila datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. [QS Al A’raaf (7): 34]. Karena itu selama permainan berlangsung, kita harus manfaatkan waktu yang ditetapkan dengan baik untuk melakukan kebaikan dan kemashlahatan baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat, agar ketika permainan berakhir, kita sedang melakukan kebaikan, di tengah orang-orang baik, dan di tempat-tempat baik. Dengan demikian kita bisa memulai kehidupan baru (alam barzakh) yang lebih baik. Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? [QS Al An’aam (6): 32]
Demikianlah
Uraian yang cantik dan menarik pada momen yang tepat. Salut untuk Al Mustaqiim.
BalasHapusPerumpamaan yang bagus.
BalasHapusAssalamu’alaikum wr.wb. Dalam QS Al Israa’ (17): 84 di atas disebutkan agar kita masing-masing bekerja menurut jalan yang dipilih. Itu maksudnya supaya kita masing-masing bekerja secara profesional. Tapi sayangnya orang-orang Indonesia yang memilih profesi sebagai pemain sepak bola tidak bisa memanfaatkan kemampuannya secara maksimal. Jadi juara SEAG saja tidak bisa, bagaimana mungkin PSSI bisa menyelenggarakan Piala Dunia. Alhamdulillah niat itu sudah dibatalkan. Kalau tidak, maka martabat bangsa akan makin terpuruk. Mungkin Al Mustaqiim perlu membahas mengapa manusia Indonesia yang jumlahnya 237 jiwa dan merupakan masyarakat Muslim terbesar di dunia ini kekurangan kader-kader profesional? Mohon maaf jika permohonan saya ini kurang berkenan. Wassalamu’alaikum wr.wb.
BalasHapus