Allah SWT mengawali QS Al ‘Ashr (103) dengan sumpah: “Demi waktu!” Yaitu waktu yang terus berjalan tanpa istirahat walau sekejap, waktu yang dikaruniakan Allah kepada manusia untuk mengerjakan kebaikan sebagai penjemput ridha beserta surga Allah yang luar biasa nikmatnya. Maka sungguh rugi orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan pantas, dan beruntunglah mereka yang mengisi masa hidupnya dengan iman, merealisasikan imannya itu dengan amal saleh, dan saling menasihati tentang kebenaran dan dengan kesabaran.
Aktivitas terakhir itu sejalan dengan kedudukan manusia sebagai ummat yang satu [QS Al Baqarah (2): 113]. Sebagai sesama keturunan Adam [QS An Nisaa’ (4): 1], orang perlu dan harus saling membantu dengan penuh kasih sayang. Yang mesti diberikan kepada sesama manusia tidak hanya bantuan fisik seperti harta dan tenaga, tetapi juga informasi, petunjuk, jalan ke luar, agar orang-orang lain dapat memperoleh kebenaran. Orang yang beriman dan menikmati imannya itu tidak sepantasnya merasa puas dengan kondisinya sendiri, tetapi harus membawa serta lingkungan sosialnya merasakan kenikmatan serupa.
Kegiatan memanggil, mengajak dan menyeru orang untuk beriman dan melaksanakan konsekuensi imannya disebut Dakwah (da’wah). Aktivitas tersebut pertama-tama dilakukan oleh Rasul Allah, lalu diikuti para sahabat, dan selanjutnya seluruh ummat beliau. Al Qur’an menurunkan perintah Allah: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” QS Ali ‘Imran (3): 104].
Ayat Allah yang kita tuliskan terjemahannya di atas, adalah sebuah perintah yang tegas, bukan sekedar sebuah anjuran. Maka para ulama menyatakan bahwa hukum dakwah adalah fardlu atau wajib. Hanya saja di antara mereka ada yang menetapkannya sebagai fardlu ‘ain – kewajiban setiap individu, dan ada pula yang menganggapnya fardlu kifayah – kewajiban komunal, sehingga bila sudah ada yang melakukannya dan sudah mencukupi kebutuhan, yang tidak melakukannya tidak berdosa. Mengajak orang kepada kebaikan dan kebenaran tidak hanya dilakukan dengan perkataan, tetapi juga dengan tulisan dan perbuatan.
Dakwah dengan perkataan dilakukan dalam komunikasi antar persona yaitu pembicaraan antara dua orang, atau komunikasi kelompok yakni komunikasi di dalam kumpulan orang yang terbatas, dan komunikasi
Karena itu Da’wah Islamiyah harus ditingkatkan di segala bidang. Dakwah bukan hanya khutbah dan ceramah. Setiap Mukmin dengan posisi dan kemampuannya masing-masing, wajib berdakwah, dengan kesungguhan dan kecermatan. (Sakib Machmud).Dari uraian tadi, kita lebih cenderung kepada pendapat bahwa nilai hukum dakwah adalah fardlu ‘ain. Ceramah atau tabligh, juga membuat tulisan, memang hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan, tetapi dakwah secara umum harus dilakukan oleh setiap orang yang beriman. Jadi Mukmin adalah da’i yang berkewajiban menyampaikan ajaran agama kepada orang lain.
Dakwah merupakan perintah Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka sebagaimana perintah-perintah yang lain, ada sejumlah norma yang harus dipatuhi oleh setiap da’i. Ketentuan tersebut antara lain dikemukakan dalam firman Allah SWT: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. [QS An Nahl (16): 125]
Norma pertama yang diterangkan pada ayat tersebut adalah berdakwah dengan hikmah – kebijaksanaan; karena seruan yang disampaikan secara tidak arif, justru dapat menimbulkan antipati pada orang yang diajak. Da’i mesti menyadari bahwa orang yang dihadapinya itu memiliki harga diri, sehingga tidak suka diajari di depan orang banyak, apa lagi disalahkan di depan khalayak. Orang juga mempunyai sense of belonging terhadap kepercayaan atau ide-ide yang selama ini dianutnya; maka dia secara spontan akan menolak sesuatu yang baru. Da’i harus memahami kenyataan tersebut sehingga dia melakukan dakwah dengan cara yang simpatik. Selain itu pendekatannya harus sesuai untuk orang yang dihadapi. Karena itu da’i harus mempelajari dengan baik orang-orang yang menjadi sasaran dakwahnya, dalam hal intelektualitasnya, budayanya, tradisi lingkungannya, dan sebagainya. Rasulullah SAW menyatakan: “Bicaralah kepada manusia menurut kadar akalnya”.
Norma yang kedua bagi da’i ialah menyampaikan kebenaran dengan pengajaran yang baik. Kebenaran agama memang harus diajarkan kepada manusia, bukan dipaksakan, karena perbuatan yang dilakukan karena terpaksa itu tidak berguna, tidak rewarding bagi pelakunya. Allah menerangkan kepada Rasul-Nya: “Tidak boleh ada paksaan untuk beragama, karena sungguh telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dari jalan yang sesat”. [QS Al Baqarah (2): 256]. Dalam ayat lain Allah menegaskan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW: “Katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa mau silakan beriman dan barangsiapa mau silakan menjadi kafir” [QS Al Kahfi (18): 29].
Ayat-ayat ini menjadi pedoman bagi para da’i agar tidak mendesakkan keinginannya kepada orang lain, karena manusia itu berproses, dan dalam proses itu ada hidayah Allah yang sangat berperan. Memang keinginan untuk berhasil meyakinkan orang dalam waktu singkat itu manusiawi. Rasulullah SAW sendiri juga seperti itu. Maka Allah SWT mengingatkan beliau: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [QS Al Qashash (28): 56].
Norma yang ketiga untuk da’i adalah pada saat berdikussi dengan orang yang tidak atau belum sependapat, dia harus menyampaikan argumen yang lebih baik, sehingga dapat meyakinkan orang yang diajak bicara dan yang menyaksikan pembicaraan itu. Al Qur’an banyak sekali memberi contoh pengajaran yang disertai argumen yang sangat kuat. Ketika menerangkan keagungan Allah SWT, Kitab ini menggambarkan bumi yang menjadi subur sehingga tumbuh padanya aneka tanaman, dan manusia menikmati hasilnya. Makhluk dan kejadian di alam raya ini berpasangan: malam berpasangan dengan siang, kondisi gelap berpasangan dengan terang. Semua itu bermanfaat bagi manusia [QS Yaasiin (36): 33-37]. Ini hanya satu contoh saja dari sangat banyak keterangan yang dapat kita baca di dalam Al Qur’an.
Namun faktor terpenting untuk meyakinkan orang akan kebenaran Islam, adalah sikap dan perilaku terpuji pada orang-orang yang menyampaikannya. Dakwah dengan lisan dan tulisan harus disertai oleh da’wah bil hal – dakwah dengan melakukan kebaikan. Rasulullah SAW menampilkan dirinya sebagai uswatun hasanah – suri teladan kebaikan [QS Al Ahzaab (33): 21], maka ummat Rasul harus mengikuti beliau.
Tetapi sayang, keadaan yang sangat baik itu berubah seiring perjalanan waktu. Bahkan da’i pun tidak berperilaku sebagaimana yang mereka serukan. Al Qur’an mengantispasi hal itu dengan menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sungguh besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. [QS Ash Shaff (61): 2-3]. Lebih dari satu abad yang lalu para ulama telah menyatakan: “Cahaya Islam terhalang oleh pekerti kaum Muslimin”. Bagaimana orang tertarik kepada Islam, bila penyampainya tidak mampu memperlihatkan Islam in action, dan hanya dapat mengemukakan teori-teori yang tidak wujud dalam kenyataan?
Sebagaimana yang dikemukakan dalam QS Ali ‘Imran (3): 104, yang telah kita bicarakan terdahulu, tugas seorang da’i adalah amar ma’ruf nahyi munkar – menyuruh orang kepada kebaikan dan mencegah mereka dari melakukan perbuatan buruk. Ajakan tersebut hanya akan memperoleh respons yang positif bila dinyatakan dengan santun. Da’i memang harus menyampaikan pesannya dengan tegas, tidak ragu dan tidak abu-abu. Tetapi tegas tidak berarti keras, apa lagi kasar. Iblis saja mengajak orang kepada kesesatan dengan simpatik, maka da’i yang menyeru kepada kebenaran seharusnya bersikap yang jauh lebih baik lagi. Mukmin yang mengajak kebaikan perlu muhasabah – introspeksi secara terus menerus, agar tidak melenceng dari tujuannya. Agar keinginannya untuk berhasil tidak dikotori oleh harapan menjadi pengajak yang sukses dan dikagumi masyarakat. Agar dia mampu bekerja sama dengan semua kelompok yang sepaham, tidak bersaing berebut pengaruh dengan orang-orang yang sehaluan. Agar kesabaran dalam menyampaikan kebenaran tidak dihancurkan oleh kejengkelannya kepada orang-orang yang tidak bersedia mengikuti dia.
Dakwah pada masa sekarang tidak dapat diabaikan tetapi justru harus ditingkatkan, baik intensitas maupun kualitasnya. Banyak sekali tantangan yang dihadapi ummat, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Di antara tantangan itu ialah pengaruh berbagai pemikiran, persepsi, budaya, yang menjadikan agama secara substansial menjauh dari kehidupan.
Banyak Muslimin yang dikotomik – memisahkan secara tajam antara ibadah dengan mu’amalah. Aktivitas ritual diakui sebagai ketentuan agama yang harus ditunaikan dengan patuh, tetapi perilaku sosial dalam hal cara berpakaian, norma pergaulan, sistem ekonomi, tata cara berpolitik, mengacu sepenuhnya kepada pikiran manusia sendiri.
Dalam kenyataannya, mereka mengikuti orang-orang lain yang menjadi idolanya karena dianggap mampu mencapai kemajuan besar. Muslim mengikuti orang-orang yang dikaguminya itu sehingga seperti yang dikonstatasi Rasul: “.. ketika orang yang kamu idolakan itu masuk liang landak, kamu tetap mengikutinya juga”.
Tantangan lain adalah kelemahan ummat dalam pengetahuan dan kemampuan ekonomi. Rasulullah SAW telah memberi contoh yang nyata dalam meletakkan landasan atau pondasi bagi pembangunan kedua bidang tersebut. Di atas pondasi yang kukuh itu ummat Islam selama lebih dari enam abad menjadi imam bagi peradaban dunia. Tetapi akibat kemalasan dan surutnya iman, kekuatan yang bermanfaat itu meredup digantikan oleh kekuatan lain yang bermudharat.
Karena itu Da’wah Islamiyah harus ditingkatkan di segala bidang. Dakwah bukan hanya khutbah dan ceramah. Setiap Mukmin dengan posisi dan kemampuannya masing-masing, wajib berdakwah, dengan kesungguhan dan kecermatan.
(Sakib Machmud).
Dakwah di negeri ini, sudah sangat marak, baik langsung maupun melalui media massa. Namun mengapa akhlak bangsa masih saja bejat? Apa yang salah dan siapa yang salah?
BalasHapusDakwah dengan lisan yang disebut tabligh sudah marak, tetapi dakwah dengan contoh perbuatan masih sangat sedikit.
BalasHapus