Sabtu, 05 Maret 2011

105. DOA DAN TAWAKKAL

Adalah sebuah kisah seorang pegawai negeri sipil Jumali (bukan nama sebenarnya), bekerja pada departemen (skr kementerian) perhubungan, pangkat golongan III, latar belakang pendidikan STM dan telah bekerja selama kurang lebih 20 tahun. Jumali adalah pegawai yang rajin, tekun dalam tugasnya menyiapkan bahan dan data teknis dalam urusan gudang peralatan dan sukucadang untuk mendukung kebutuhan operasi pelayanan transportasi.

Pergantian beberapa kali pimpinan (eselon 3), dari yang sabar, pengertian sampai yang judes maupun pemarah, diikutinya dengan baik dan tetap disiplin pada tugasnya. Pada suatu periode Jumali berada di bawah pimpinan yang menurutnya mudah marah, bahkan dia selalu menjadi tumpahan segala kemarahan pimpinannya itu. Namun itu semua diterima dengan baik sebagai bagian dari tugasnya yang baginya urusan peralatan dan sukucadang jangan sampai terhambat dan operasi berjalan lancar.

Pada suatu ketika di sela-sela melapor kegiatan tugasnya kepada atasan langsung (eselon 4), Jumali mengemukakan keinginannya bahwa sebelum pensiun ia ingin dapat naik haji ke tanah suci. Atasannya itu tersentak mendengar ucapan Jumali, ia tidak menyangka bahwa seorang Jumali mempunyai keinginan dan niat yang sangat tinggi karena ingin melaksanakan ibadah haji yang tentunya biaya cukup tinggi jika Jumali mengandalkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri dengan jabatannya itu.

Sementara itu kementerian sedang melakukan peningkatan fasilitas pendukung keselamatan transportasi dengan melakukan pemasangan peralatan baru melalui bantuan luar negeri. Untuk itu kementerian merencanakan pengiriman trainee untuk mempelajari pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tersebut sebagai bagian dari factory training selama satu bulan. Oleh atasannya Jumali diajukan ikut dalam rombongan peserta training karena memang sudah memenuhi syarat, baik lingkup tugas maupun lama pengabdiannya, dan syukur diterima.

Dan singkat kata, Jumali telah mengikuti training sesuai program. Dari uang saku harian selama di luar negeri oleh Jumali ditabung dengan berhemat pengeluaran selama hidup di luar negeri. Alhasil setelah pulang ke tanah air uang tabungannya (masih dalam valuta asing) terkumpul setara lebih kurang 20 juta rupiah, cukup untuk pembayaran ongkos naik haji pada waktu itu. Dengan tambahan dari tabungannya sendiri, Jumali akhirnya berhasil menunaikan ibadah haji bersama isterinya. Allahu akbar, Allah maha besar, kalau Allah berkehendak maka semua yang dianggap mustahil bisa terjadi

Sebagian dari masyarakat memandang hidup ini penuh misteri atau kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi, karena segala kepastian yang terjadi dalam hidup bukanlah berada di tangan manusia. Sepintar apapun manusia merencanakan sesuatu dalam hidupnya, kepastian akan terwujud atau tidaknya rencana itu bukan berada di tangan manusia. Hasil yang diperoleh bisa jadi lain atau jauh berbeda dengan yang pernah direncanakan. Sikap yang positif akan membawa seseorang optimis dan percaya diri bahwa Tuhan meridhoi dan memberi kekuatan dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Sikap yang memandang dari sisi negatifnya dapat menimbulkan dampak, timbulnya sikap apatis, patah semangat, atau nrimo (pasrah) dengan berlindung alasan, itu semua sudah kehendak Tuhan.

Namun sebagian masyarakat, terutama yang menganut pandangan yang ‘rasional’ dengan mendasarkan pada faham sebab dan akibat, memandang bahwa semua usaha akan dapat dicapai apabila direncanakan dengan perhitungan yang cermat dan matang, berdasarkan pertimbangan ilmiah dan menggunakan teknologi. Terbukti dengan dicapainya peradaban modern sampai saat ini di mana semua dicapai melalui proses yang terus menerus dan berkelanjutan dengan mengandalkan ‘ratio’ serta bersandar pada ilmu dan teknologi. Sikap yang ekstrim apabila suatu rencana tidak terlaksana sesuai yang diharapkan, dapat membuahkan stress, melampiaskan kekecewaan dengan melakukan tindakan yang tidak terpuji atau destruktif.

Barangkali semuanya benar bila dipandang sisi masing-masing karena memiliki tempat berpijak yang berlainan. Kisah di atas hanya merupakan ilustrasi atas kekuasaan Allah, bahwa segala sesuatu dapat terjadi atas ijin Allah. Barangkali Jumali telah berniat akan menunaikan ibadah haji jauh sebelum itu, dan sambil berdoa mulai menabung dengan sabar sebagai upaya kesungguhan atas niatnya, meskipun kalau dihitung secara ‘nalar’, mungkin sampai pensiun jumlah tabungan yang diperlukan untuk ongkos naik haji belum terwujud.

Islam, dengan berdasarkan tuntunan Allah SWT melalui Al- Qur’an, maupun sunnah Rasul, mempunyai cara sendiri menyikapi hal tersebut di atas dengan mendasari beberapa kunci.

Kunci pertama adalah Iman, dengan meyakini bahwa Allah yang menciptakan alam seisinya, dan hanya Allah satu-satunya yang berkuasa dan mengatur semua di alam ini. Allah SWT berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)” (QS Al-A’laa 87: 1-3).

Bahkan segala sesuatu ada takdir atau ketetapan Tuhan atasnya, “Dia (Allah) yang menciptakan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurnanya (QS Al-Furqaan 25: 2). Dari ayat yang lain, “Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kami lah khazanah (sumber)nya, dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran tertentu. (QS Al-Hijr 15: 21).

Kunci kedua adalah Amal atau berusaha, karena berusaha adalah merupakan kewajiban manusia. Manusia diberi akal, kemampuan untuk mencari ilmu dan mengembangkannya. Dengan akal dan kemampuan itu manusia dapat merencanakan dan melakukan segala upaya untuk mencukupi kebutuhan hidup, meningkatkan kesejahteraan dan kemulyaan. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya yang untuk mencukupi kebutuhannya, tetapi Al-Qur’an memerintahkan untuk mencari fadhl Allah (kelebihan yang bersumber dari Allah). Salah satu ayat yang menunjuk hal ini adalah: “Apabila kamu telah selesai sholat (Jumat) maka bertebaranlah di bumi, dan carilah fadhl (kelebihan / rezeki) dari Allah.” (QS Al-Jumu’ah 62: 10).

Kunci ketiga adalah Doa, sebagaimana anjuran keutamaan doa dalam firman Allah SWT: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan kamu, sesungguhnya orang-orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepadaKu itu nanti mereka akan masuk jahanam dengan hina-dina”. (QS Al-Mukmin 40: 60).

Ayat yang lainnya: “Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku akan mengabulkan doanya orang yang berdoa kepada Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 186).

Syarat-syarat terkabulnya doa adalah: 1. Makanan yang masuk kedalam tubuh harus halal, 2 Berdoa dengan sabar dan tidak minta untuk disegerakan, 3 Berdoa dengan hati yang merendah, 4. Selalu optimis dan penuh keyakinan, 5 Mempergunakan salah satu asma Allah: “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.” (QS Al-Araaf 7: 180), 6. Dengan penuh takut kepada Allah dan bersungguh-sungguh ingin dikabulkan. “Dan berdoalah kepada Allah dengan takut dan penuh harapan, sesungguhnya rahmat Allah itu dekat sekali kepada orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Al-A’raaf 7: 56).

Kunci keempat adalah Tawakkal, yang merupakan kunci yang terpenting yang harus dimiliki setiap Mukmin, yang mengandung arti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Orang yang bertawakkal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT dan berserah diri di bawah perlindunganNya pada waktu menghadapi kesukaran. Ibnul Qayyim pernah berkata bahwa tawakkal adalah faktor paling utama yang bisa mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan mahluk lainnya yang menindas serta memusuhinya.

Tawakkal menumbuhkan semangat berusaha, sebagaimana contoh diriwayatkan dari Umar RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka Allah SWT akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada seekor burung, di mana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Ibnu Majah).

Bila dipetik pelajaran dari hal-hal tersebut di atas: bahwa hasil atau rezeki tidaklah selalu berbanding lurus dengan usaha yang sudah dilakukan. Semua hasil, apapun bentuknya, sukses atau gagal, merupakan karunia dari Allah. Selain itu Allah memerintahkan kepada semua mahluknya untuk berusaha. Berusaha bukan saja karena hasil yang ingin didapatkan, tapi karena berusaha (bekerja) adalah merupakan tugas manusia.

Bagaimana meraih Tawakkal? Pertama. Harus yakin terhadap kekuasaan Allah SWT, kita harus meyakini segala urusan mahluk Allah SWT dan segala yang berhubungan dengan kehidupannya, sudah diatur dan ditentukan Allah. Kedua, menjauhkan diri dari sikap sombong, bahwa keberhasilan jangan sampai mengarah pada sikap seakan-akan keberhasilan itu berkat kecerdasan, kemampuan, dan kerja keras kita sendiri, bukan karena izin Allah. Ketiga, menghindari kecenderungan atau tergantung kepada sesama makhluk. Karena itu bergantunglah kepada yang memiliki kemampuan tanpa batas, yaitu sang Khalik, Allah SWT. Keempat, jangan mencintai dunia dengan berlebihan dan terperdaya olehnya. Dunia hanya dijadikan tempat menabur benih kebajikan sebanyak-banyaknya.

Tawakkal akan membawa kita selalu bersikap optimis dalam menghadapi hidup, karena segala urusan kehidupan sudah berada dalam genggaman. Tawakkal juga mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan dan keberhasilan hidup bukanlah segala-galanya, karena di balik kesuksesan dan keberhasilan, Allah lah yang mengizinkan semuanya itu terwujud.

(Muhammad Kamal Hs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar