Jumat, 25 Februari 2011

104. MENGULAS KRISIS POLITIK MESIR

Mesir adalah negara yang dikenal dengan musium dan sejarah peradaban yang membentang lama sejak tahun 3200 SM, melewati lima zaman, yaitu:

1. Zaman Fir’aun (3200 SM – 332 SM). Melalui 30 dinasti. Pada zaman itu didirikan piramid-piramid yang digunakan sebagai makam raja-raja Mesir dan sarana ibadah (pemujaan). Salah satunya dibangun di Giza di mana terdapat patung Sphinx – berbadan singa berkepala manusia, yang diduga dibangun sebelum peradaban Mesir. Ada yang mengatakan bahwa Shpinx yang sekarang berdiri adalah palsu.

2. Zaman Yunanl (332 SM – 30 SM). Tahun 323 SM, kota Iskandariah dibangun. Tahun 282 SM – 246 SM dibangun mercusuar pertama di dunia di pulau Pharos yang juga merupakan bangunan tertinggi di dunia saat itu, diperkirakan sekitar 115 – 135 meter. Namun bangunan itu hancur akibat gempa bumi. Gambar di sebelah kiri adalah bentuk prakiraan.

3. Zaman Romawi (30 SM – 642 M). Pada zaman itu ditemukan kuburan Mumi (mayat yang diawetkan) di Bahariya Oasis sebanyak 14 kuburan.


4. Zaman Islam (642 M – 1914 M). Melalui beberapa dinasti yairu: Dinasti Thoulouniyah (868 M – 905 M). Dinasti Ikhshids (935 M – 969 M). Dinasti Fathimiah (969 M – 1171 M). Di masa itui didirikan Universitas AI-Azhar (tahun 972 M) di Kairo (Gambar Kanan). Dinasti Ayyubiyah (1171 M – 1250 M). Dinasti Mamalik (1250 M ­– 1517 M). Dinasti Osmani (1517 M – 1914 M). Di masa itu Terusan Suez dibuka (17 November 1869 M).

5. Zaman Mesir Modern (1914 M – sekarang).. Gambar di bawah adalah Istana Presiden Mesir.

Zaman Mesir Modern

Pada tahun 1914, Mesir menjadi propinsi Kekaisaran Osmani di bawah protektorat Inggris. Tahun 1922, Mesir memperoleh kemerdekaan dari Inggris, menjadi Kerajaan Konstitusional dengan Farouk al-Awwal sebagai rajanya. Pada tahun 1952, Raja Farouk digulingkan oleh Jenderal Mohammed Najib yang didukung Al-Ikhwanul-Muslimun Peristiwa tersebut dikenal sebagai Revolusi 23 Juli, dan kemudian dijadikan Hari Nasional Mesir. Saat itulah Al-Ikhwanul-Muslimun mulai berjuang melawan Raja Farouk dan rezim-rezim militer sesudahnya.

Al-Ikhwanul-Muslimun – Persaudaraan Islam (disingkat Al-Ikhwan) didirikan tahun 1928 oleh Syeikh Hasan al-Banna, dengan misi dan tujuan membebaskan negeri-negeri Muslim yang terjajah. Al-Ikhwan adalah Ormas Islam terbesar di Mesir, yang mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Islam. Al-Ikhwan mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan politik di Mesir dalam membela Islam dan menentang penindasan dan penjajahan.

Pada tgl 18 Juli 1953, Mesir menjadi Negara Republik dengan Jenderal Mohammed Najib sebagai presiden pertama. Namun Presiden Najib pada 14 Nopember 1954, digulingkan oleh Jenderal Gamal Abdul Nasser dan kemudian Najib dikenakan tahanan rumah selama 18 tahun.

Raja Farouk membubarkan Al-Ikhwan pada tahun 1948, dan memenjarakan ribuan anggotanya, membunuh dan menggantung tokoh-tokohnya termasuk Sayyid Qutb, Ali Audah, dan lainnya. Dr. Yusuf al-Qardawi yang pernah dipenjarakan bersama dengan tokoh-tokoh Al-Ikhwan lainnya, menceritakan bahwa penjara-penjara itu telah berubah menjadi tempat ibadah yang sangat teduh, indah, dan penuh kenikmatan. Pagi, siang, dan malam, senantiasa terdengar suara dzikir, dan alunan ayat-ayat Al-Qur’an tak henti-hentinya. Sungguh sangat indah. Mereka orang-orang yang sangat sabar.

Hasan al-Banna 20 tahun kemudian menyerukan jihad untuk mengusir Israel dan Yahudi dari tanah Palestina. Maka pada tahun 1948, ribuan sukarelawan Mesir pergi ke Palestina berjihad untuk membebaskan Palestina dari jajahan Israel, meskipun perlawanan itu gagal – karena pengkhianatan para pemimpin Arab yang menjadi alat AS dan sekutunya. Meskipun Al-Ikhwan dibubarkan, Sampai sekarang tujuan Al-Ikhwan tidak pernah berubah, yaitu membebaskan Mesir dan negara-negara Arab dari penjajah Barat. Karena itu, Al-Ikhwan selalu bertabrakan dengan para penguasa Mesir.

Pada tahun 1949, Hasan al-Banna wafat dalam usia muda (42 tahun) dibunuh oleh kaki tangan Raja Farouk. Hasan al-Banna digantikan oleh Hasan al-Hudaibi yang menyerukan kepada jama’ah Al-Ikhwan agar perjuangan mereka tidak terjebak dalam kekerasan, dan lebih menekankan ke jalur hukum, dan konstitusi. Saat ini Al-Ikhwan dipimpin oleh Mohammed Badie sebagai Musryid Aam kedelapan.

Presiden Nasser yang ketika itu menjadi alat Uni Soviet wafat karena sakit jantung (?) pada tahun 1970, dan kemudian digantikan oleh Jenderal Mohammed Anwar Sadat yang menjadi alat AS. Anwar Sadat membuat perjanjian damai (Perjanjian Camp David) dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada tahun 1978. Sejak itu, Mesir sebagai negara yang paling strategis di Timur Tengah, telah masuk ke dalam perangkap Israel. Tidak ada lagi perang melawan Israel, bahkan Mesir mengakali PLO, yang dipimpin Yasser Arafat untuk meninggalkan perjuangan militernya melawan penjajah Israel.

Ujung kisah, Anwar Sadat tewas oleh berondongan peluru Letnan Khaled Islambouli, saat parade militer memperingati hari Angkatan Perang Mesir pada tahun 1981. Marsekal Hosni Mubarak yang menggantikannya bertindak lebih jauh lagi terhadap Israel, seakan-akan Mubarak bukan lagi pemimpin Mesir, melainkan sudah seperti pemimpin Israel, karena pembelaannya terhadap Israel yang sangat berlebihan. Mubarak benar-benar menjadi penjaga Israel di Timur-Tengah. Bukan penjaga bangsa-bangsa Arab dan Islam.

Meskipun Al-Ikhwan dibubarkan sejak tahun 1948, para pemimpin Al-Ikhwan begitu sabar dan teguh. Mereka tidak pernah menyerah kepada para penguasa yang zhalim, dan terus melakukan dakwah mengajak rakyat Mesir tetap berpegang ajaran Islam dengan semboyan Islam huwal hal – Islam adalah solusi. Sampai sekarang Al-Ikhwan tidak pernah berubah pendirian dalam menyakini keagungan Islam, tidak mau menukar dan menggadaikan Islam dengan kekuasaan. Hidup pemimpin Al-Ikhwan benar-benar menjadi teladan.

Dampak Domino Unjuk Rasa di Mesir

Dalam kehidupan demokrasi, unjuk rasa terhadap suatu pemerintahan negara tidak dilarang, terutama apabila Parlemen tidak berfungsi dengan baik. Dalam wacana Islam unjuk rasa disebut mudzaharah, yaitu sarana penyampaian gagasan atau keinginan yang baik dan mensyi’arkannya dalam bentuk pengerahan massa. Karena yang disampaikan adalah sesuatu yang baik dan demi kemaslahatan umum, maka cara yang ditempuh hasus dilakukan dengan baik pula, bukan dengan cara kekerasan secara agresif.

Unjuk rasa di Mesir yang berlangsung selama tgl 28 Januari – 11 Pebruari 2011 dan berhasil mendesak Presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya, adalah salah satu mudzaharah yang baik, meskipun diikuti oleh jutaan orang. Kekerasan yang terjadi lebih bersifat defensif membalas tekanan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan serangan dari kelompok pro-Mubarak.

Unjuk rasa di Mesir disebabkan karena Parlemen tidak bisa menyampaikan aspirasi rakyat yang kecewa atas pemerintahan Presiden Mubarak yang dipicu meluasnya kemiskinan, tingginya tingkat pengangguran, dan inflasi harga pangan. Sekitar 40% atau 33 juta dari 83 juta penduduk Mesir hidup di bawah garis kemiskinan, yang menurut standar PBB adalah US$ 2 per hari – biaya hidup satu keluarga dengan dua anak. Dibandingkan dengan kemiskinan di Indonesia sebanyak 31,5 juta orang atau 13,3% dari 237 juta penduduk, kemiskinan di Mesir sangat parah. Sementara itu Mubarak dan keluarganya telah memperkaya diri yang konon nilainya mencapai US$ 40 milyar atau Rp. 357,4 triliun.

Nampaknya Mubarak tidak memprediksi bahwa unjuk rasa massal di Mesir itu terinspirasi oleh krisis politik di Tunisia, yang membuat Presiden Zine Abidine Ben Ali mundur dari jabatannya dan meminta suaka politik di Arab Saudi. Peristiwa yang terjadi di Tunisia itu dengan sangat cepat menyulut ke beberapa negara Muslim di Timur Tengah seperti Yaman, Yordania, Maroko, Aljazair, Bahrain, bahkan sampai Arab Saudi di mana rakyat menuntut diizinkannya membentuk partai politik di negeri monarki absolut tersebut.

Perlu kita cermati bahwa krisis politik di negara-negara tersebut terjadi selain karena tirani para pemimpinnya, juga karena dari para pemimpin itu menjadi alat AS dan sekutunya. Tetapi unjuk rasa di Libiya dan Iran justru didukung oleh AS dan sekutunya karena pemimpin kedua negara itu adalah musuh-musuhnya. Kebetulan pemimpin Libiya memang seorang tiran, tetapi pemimpin Iran bukan tiran.

Lengsernya Presiden Hosni Mubarak

Mubarak telah memerintah Mesir selama 30 tahun sejak 1981 dan kini sudah berusia 82 tahun, selain tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya, juga tidak lagi mendapat dukungan dari sekutunya yang selama ini melindunginya. AS dan sekutunya yang semula berharap Mubarak bisa mengatasi unjuk rasa, kemudian terpaksa mendukung Mubarak mundur.

Israel adalah satu-satu negara yang terus berharap Mubarak atau pengganti yang dicalonkannya tetap memegang kekuasaan, karena, selama ini Mubarak bagaikan perisai, dan penyelamat Israel dari bahaya kehancuran. Mubarak juga merupakan pengawal Israel menghadapi gerakan Islam, dan negara-negara Muslim lainnya yang selalu mengancam negara Zionis itu.

Pada tahun 2005, Al-Ikhwan ikut dalam Pemilu Parlemen, melalui calon-calon independen, dan mendapatkan suara 20 persen, suatu perolehan tertinggi di antara kelompok oposisi di Mesir, dan menduduki urutan kedua sesudah Partai Nasional Demokrat yang berkuasa, sehingga Al-Ikhwan menjadi kekuatan oposisi terbesar. Tetapi, pada pemilu tahun 2010, Al-Ikhwan hanya mendapatkan 2 kursi dan kemudian memboikot Pemilu putaran kedua akibat kecurangan dalam Pemilu yang dilakukan rezim Mubarak, yang menangkap 1000 orang anggota Al-Ikhwan. Dengan sendirnya perolehan 2 kursi Al-Ikhwan di Parlemen dibatalkan.

Al-Ikhwan bukanlah organisasi politik, tetapi jika keadaan memaksa, mereka akan mendirikan partai politik. Mereka hanya mendidik pribadi yang diinginkan menjadi orang-orang yang shaleh, dan memiliki komitmen untuk menegakkan agama Islam. Meskipun perjuangan Al-Ikhwan mencakup perjuangan politik, tetapi Al-Ikhwan tidak terlalu berambisi merebut kekuasaan di Mesir, kecuali jika untuk mencapai tujuannya jalan itu harus ditempuh.

Al-Ikhwan berkeyakinan bahwa penjajahan suatu negeri tidak akan selesai kecuali dengan mengangkat bendera Islam dan mengikrarkan jihad. Bahwa persatuan negara-negara Arab tidak akan terwujud kecuali dengan Islam. Demikian pula halnya dengan persatuan kaum Muslimin tidak akan sempurna kecuali dengan Islam. Dan perubahan neraca demi kebaikan kaum Muslimin bukan perkara mustahil jika ada komitmen dengan Islam.

Bagi Al-Ikhwan, mendirikan pemerintahan Islami adalah kewajiban, persatuan berdasarkan asas Islam adalah kewajiban, dan setiap persatuan yang mengarah pada diskriminasi tidak dibolehkan, karena itu harus ditolak dalam pemahaman dan ideologi insan Muslim.

Al-Ikhwan berjuang dengan segala kemampuan ingin metranformasikan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan bangsa Mesir secara menyeluruh. Sementara itu, para penguasa Mesir sudah menjadi bagian kepentingan penjajah, menolak dan menentangnya. Karena itu dari rezim ke rezim lainnya, Al-Ikhwan selalu dimusuhi para penguasa Mesir.

Di tengah-tengah krisis politik yang begitu hebat, para pemimpin dan gerakan Al-Ikhwan telah menunjukkan karakter dan jatidirinya yang mulia. Para pengunjuk rasa menyebut unjuk rasa massal itu sebagai hari revolusi atas kemiskinan, korupsi, dan pengangguran.

Unjuk rasa yang telah menimbulkan korban 365 orang tewas dan 5.500 orang cedera akibat bentrokan dengan aparat keamanan dan kelompok pro-Mubarak – konon adalah angota kepolisian yang menyamar, akhirnya telah berhasil mendesak Presiden Mubarak mundur dari jabatannya. Unjuk rasa tersebut telah memperlihatkan bagaimana rakyat Mesir yang sudah terwarnai dengan nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh Al-Ikhwan itu tidak melupakan ibadah shalat. Sungguh indah nilai-nilai Islam yang ditanamkan Al-Ikhwan.

Dengan berakhirnya era Mubarak, berbagai spekulasi muncul. Apakah Al-Ikhwan akan mendominasi wajah politik baru Mesir? Yang pasti Al-Ikhwan akan mencari peran menciptakan pemerintahan baru, dan keinginan terus melakukan perubahan untuk perbaikan tak dapat dipungkiri, meskipun tokoh Al-Ikhwan tidak harus berada di kekuasaan, karena itu bukan tujuan utamanya. Segera setelah mundurnya Presiden Mubarak, Menlu AS Hillary Clinton menghawatirkan bakal berkuasanya Al-Ikhwan.

Meskipun Al-Ikhwan dikenal sebagai pendukung gerakan Hamas di Palestina dan anti-Israel, Al-Ikhwan menjamin tidak akan mengganggu perjanjian damai Mesir – Israel tahun 1978, seperti yang dijanjikan oleh pemimpin tertinggi militer Jenderal Mohammed Hossein Tantawi, yang mengambil alih kekuasaan pasca Mubarak lengser.

Siapakah yang akan memimpin Mesir pasca Mubarak lengser? Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan Hossein Tantawi bukan penerus rezim-rezim militer terdahulu yang tiran.

Konflik Di Mesir Adalah Sunatullah

Salah satu berkah dan rahmat Allah SWT kepada kita adalah Dia menakdirkan tertentu atas kita. Salah satunya adalah sunnah tadafu’. Ini adalah ketentuan Allah berupa pergolakan antar manusia, di mana orang beriman harus melawan kebatilan, karena hal itu adalah sunatullah.

Allah SWT berfirman: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat Mahaperkasa. (QS Al-Hajj 22: 40).

Artinya, jika Allah tidak memenangkan yang haq terhadap yang batil maka akan ada kerusakan di muka bumi. Ini adalah sunatullah dalam setiap waktu. Saat ini kaum Muslimin mulai bangkit. Ketika kaum Muslimin berdiri maka semua orang akan menyadari bahwa perubahan menuju kembalinya kejayaan Islam hanyalah masalah waktu.

Para penguasa AS dan sekutunya telah membantu rezim korup di negara-negara Muslim untuk menaruh pisau di punggung kita. Kekuatan AS dan sekutunya adalah sumber utama dari penghinaan ummat Islam, menjaga mereka untuk diperbudak dan juga bersekongkol melawan ummat Islam karena mereka tahu tentang sejarah ummat Islam. Kita harus menyadari bahwa kita semua memiliki peran untuk berdakwah dan jihad, baik secara lisan, fisik, atau finansial, dan bahwa semua ini akan menjadi awal dari kehancuran kaum kafir.

Mereka yang telah bangkit dari kalangan ummat Islam akan membangunkan mereka yang masih tidur nyenyak. Peristiwa yang terjadi saat ini akan menuju satu takdir yang merupakan konfrontasi antara yang haq dan batil, Islam dan kekufuran.

Kini adalah saatnya untuk mulai mengganti rezim yang rusak dengan Islam. Ini adalah akhir dari musuh-musuh Islam dan awal bagi kaum Muslimin. Hari ini, kita bisa menyaksikan buah dari benih yang ditanam Rasulullah SAW, dan disirami darah kaum Muslimin hingga hari ini. Insya Allah kita akan segera melihat pembebasan total ummat Islam dari segala bentuk kekufuran dan syirik serta kembalinya kehormatan kaum Muslimin. Kaum Muslimin harus memilih di antara hidup secara terhormat atau mereka binasa. Kaum Muslimin harus berdakwah dan berjihad, amar ma’ruf nahi munkar, dan menolak orang-orang kafir.

(Hermanto Hs)

3 komentar:

  1. Mesir memiliki Universitas Al-Azhar yang tersohor di dunia dan dibanggakan ummat muslim di mana banyak pemuda muslim Indonesia menuntut ilmu di sana. Semoga dengan rintisan para pejuang Ikhwanul Muslimin dan ratusan syuhada serta ribuan para korban lainnya dalam demostrasi baru-baru ini Mesir akan menjadi negara Muslim yang diridhoi Allah Swt Amiin.

    BalasHapus
  2. Sayangnya di zaman modern ini masih ada monarki absolut di Arab Saudi dan Brunei Darussalam yang keduanya adalah negara muslim. Saya khawatir suatu ketika rakyat akan berontak. Semoga para raja itu selalu dalam petunjuk Allah SWT agar tidak terjerumus menjadi tiran.

    BalasHapus