Gonjang-ganjing tentang Ahmadiyah sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang nasib organisasi itu, baik di kalangan pemerintah maupun organisasi-organisasi Islam, meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1980 telah memperkuat fatwanya dengan menyatakan Ahmadiyah bukan Islam, melainkan ajaran sesat dan menyesatkan. Di kalangan para cendekia Muslim ada yang menyatakan bahwa pelarangan Ahmadiyah oleh beberapa pemerintah daerah terhadap Ahmadiyah bertentangan dengan konstitusi. Dalam tulisan 103, Al-Mustaqiim berpendapat sebaiknya pemerintah bersama DPR secara tegas menetapkan Ahmadiyah sebagai organisasi non Islam atau organisasi terlarang alias dibubarkan. Berikut ini tulisan Dr. A. Luthfi Fathullah tentang Ahmadiyah sebagai referensi pembaca.
Salim A. Dimyati
AHMADIYAH
Ahmadiyah didirikan pada tahun 1889 di Qadian, suatu desa kecil di daerah
Memilih Sebagai Sekte Islam
Mirza Ghulam Ahmad mengklaim bahwa dirinya mendapat wahyu dari Allah dan diangkat menjadi rasul, oleh karenanya ia harus memberikan identitas kepada 'agamanya'. Persoalan muncul, bila agamanya itu berdiri sendiri, diperkirakan tidak akan kuat, karena sulit mendapatkan pendukung. Kemudian Mirza mengambil keputusan, bahwa agamanya harus dikaitkan dengan Islam yang merupakan agama yang cukup berpengaruh saat itu di samping agama Hindu.
Pemerintah kolonial Inggris yang selalu direpotkan oleh kaum Muslimin di dalam penjajahannya di
Pemelintiran Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an
Pilihan untuk menggunakan bendera Islam menimbulkan masalah tersendiri, khususnya tentang kenabian Mirza dan kitab suci Tazqiroh. Ummat Islam sudah sangat solid dengan aqidah bahwa Muhammad SAW bin Abdullah adalah nabi dan rasul terakhir. Bagaimanapun juga agenda dari pemerintah kolonial Inggris harus terwujud, oleh karenanya segala kesulitan tersebut harus dipecahkan, berapapun ongkosnya. Untuk keperluan itu, harus dicari celah di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai pegangan ummat Islam. Karena tidak ditemukan, dan memang tidak akan pernah ditemukan adanya celah di dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits, maka satu satunya jalan adalah memelintir tafsir ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang terbuka, kemudian menafsir dan mentakwilnya dengan arti sesuai kepentingan mereka. Sebagaimana kita ketahui, ayat Al-Qur'an tidak mungkin dipalsukan, tetapi tafsir bisa banyak dibuat.
Ayat pertama yang digunakan sebagai celah terbesar adalah kata ‘Ahmad’ dalam QS Ash-Shaff 61: 6. Kata Ahmad dalam ayat itu ditafsirkan sebagai Mirza Ghulam Ahmad, bukan Muhammad.
Ayat kedua adalah kata khatamun nabiyyin dalam QS Al Ahzab 33: 40, diterjemahkan sebagai bapak rohani seluruh nabi, nabi meterai; jadi bukan nabi penutup. Lebih rinci, kata khatamul nabiyyin mempunyai kemungkinan 4 macam arti:
1. Rasulullah adalah meterai para nabi, tiada nabi dianggap benar bila tidak bermeteraikan Muhammad SAW.
2. Rasulullah SAW adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari semua nabi, dan merupakan sumber hiasan bagi mereka.
3. Rasulullah SAW adalah nabi terakhir pembawa syariat. Tiada nabi yang datang sesudah Rasulullah SAW yang dapat membatalkan millahnya.
4. Rasulullah SAW adalah Nabi terakhir hanya dalam arti kata semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sempurna dan lengkap dalam diri beliau, tiada nabi yang datang setelahnya akan mempunyai sifat kenabian yang sama.
Kemudian dikuatkan lagi dengan QS Ali ‘Imraan 3: 31, diplesetkan lagi tafsirnya, "Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Mirza Ghulam Ahmad)....."
Kemudian QS Al-A'raaf 7: 37. Kata rusuluna ditafsirkan sebagai nabi-nabi setelah Rasulullah SAW, jadi kenabian masih akan berlanjut setelah beliau. Padahal jelas yang dimaksud ayat itu adalah para malaikat pencabut nyawa.
Banyak sekali sekte atau mazhab dalam Islam yang mengaku punya nabi setelah Muhammad SAW, namun sejarah membuktikan bahwa semuanya akan hilang dengan sendirinya ditelan waktu.
Namun Ahmadiyah bertahan sangat lama, sampai sekarang, dan bahkan dengan organisasi yang sangat kuat. Faktor utama dapat bertahannya dan menyebarnya Ahmadiyah adalah karena adanya dukungan pihak tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu baik dukungan fasilitas, perlindungan dan dana, terutama Inggris.
Inti Ajaran Ahmadiyah
1. Kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana dijelaskan di atas, QS Ash-Shaff 61: 6, “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Tafsirnya dipelintir, bahwa nabi terakhir adalah Mirza Ghulam Ahmad. Dan ini jelas dalam kitab-kitab Ahmadiyah. Namun Mirza menegaskan bahwa ia adalah nabi tanpa syariat baru. Ia hanya akan memulihkan agama Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Catatan: bagian mana dari aqidah, syariah Islamiyah yang akan dipulihkan?
2. Kitab Tazkiroh. Tazkiroh adalah kitab suci aliran ini, namun jarang diangkat atau digunakan untuk pengikutnya yang masih awam. Untuk membuktikan kenabiannya, Mirza mengaku menerima wahyu dari Allah dan dikumpulkannya di dalam Kitab Tazkiroh. Turunnya wahyu dikatakannya diawali dengan mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Namun bagi orang Islam yang bisa membaca Al-Qur'an apalagi memahami isinya, akan segera tahu bahwa Tazkiroh adalah bajakan dari Al-Qur'an. Sebagian besar isinya adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang digabung atau disambung satu dengan lainnya sesuai kebutuhan. Catatan: Wahyu pertama Tazkiroh adalah ayat pertama QS Ath-Thariq 86: 1, “Demi langit dan yang datang di malam hari”, bukan QS Al-‘Alaq 96: 1, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.”
Isi Tazqiroh dimulai dengan janji keselamatan, hanya yang ikut aliran ini yang selamat. Ditutup dengan doa kematian. Kalau dicermati, isi Tazqiroh dikonstruksikan hanya untuk membela kenabian Mirza. Sebagai Kitab Suci, isi dan fungsinya bahkan tidak ada. Pengenalan Tuhan malahan terlupakan, yang ada hanya sifat Tuhan yang pemaksa. Semakin ke belakang, keindahan Tazkiroh sudah tidak ada lagi. Ayat-ayatnya saling tidak konsisten.
Pengambilan ayat-ayat Al-Qur'an tidak tepat lagi, di
Dalam Al-Qur'an Allah menantang manusia dan jin untuk membuat surah semisal Al-Qur'an. Lalu kenapa Tazqiroh banyak menjiplak Al-Qur'an dan bahkan dengan susunan yang tidak karuan? Apakah Allah sudah menjadi bodoh? Sudah tidak mampu mencipta ayat ayat baru? Tentu tidak, tapi Tazqiroh lah yang palsu (bukan dari wahyu Allah). Dalam Tazqiroh tidak ada syariat. Syariat tetap dari Nabi Muhammad SWA Apakah Allah sudah tidak mampu menurunkan Syariah baru? Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, jelaslah bahwa Tazqiroh hanya kebohongan, bukan wahyu Allah SWT.
3. Bai'at, Setiap orang yang ingin masuk menjadi pengikut Ahmadiyah harus dibai'at, dan menjadi terikat. Hakekatnya konsep bai'at merupakan ciri dari kelompok eksklusif yang ingin mencengkeram jema'ahnya dan tidak ingin mereka keluar. Bagi yang ingin keluar biasanya diancam dengan mubahalah (mirip sumpah pocong). Orang yang keluar dari Ahmadiyah dinyatakan sesat dan akan celaka. Mati dalam keadaan hina!
Syarat-syarat orang yang akan dibai'at tidak menyimpang dari aqidah-syariah Islam seperti: tidak syirik, tidak berbuat kemunkaran, sholat 5 waktu, tidak menyusahkan orang lain, setia kepada Allah, berhenti dari adat buruk, tidak takabur, menghargai agama lain, belas kasih kepada makhluk Allah, mengikat tali persaudaraan dengan hamba Allah yang lain. Surat Bai'at juga menyatakan Syahadat dan Istighfar yang sama, namun di alinea terakhi dinyatakan hal terpenting sebagai berikut: ".....Saya akan tetap meyakini Nabi Suci Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin (yang Paling Sempurna dari sekalian Nabi) dan akan beriman kepada segala dakwah Hadhrat Masih Al Mau'ud AS."
Dari sini selanjutnya jema'ah digiring ke jurang kesesatan dan kemurtadan, sebab mereka harus mengakui apa yang dida'wahkan oleh Hadhrat Masih Mau'ud alias Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih Mau'ud dan juga Nabi dan Rasul. Harus diakui bahwa Ahmadiyah adalah organisasi yang sangat rapi. Secara organisatoris, jauh lebih baik dari ormas Islam lainnya di tanah air, bahkan di dunia Islam. Semua gerakan dan langkah mereka tersusun, terarah dan terpantau dengan baik. Pembinaan dalam jama'ah sangat baik. Bagi orang yang dasar tauhidnya lemah, akan mudah terpengaruh dan masuk ke dalam jama'ah Ahmadiyah.
Setiap anggota jema'at baru akan dipantau secara intensif, perilaku ibadahnya dan kondisi sosialnya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh NU maupun Muhammadiyah. Setiap da'i Ahmadiyah ditargetkan untuk mendapatkan anggota baru dan sebagai imbalannya, mereka akan digaji dari Pusat.
4. Bahtera Nuh / Kisti Nuh. Selain Bai'at, ada doktrin yang merupakan ciri dan pengikat ajaran Ahmadiyah, yang dikenal sebagai Doktrin Bahtera Nuh: Siapa yang ikut ke dalam 'rumah' Ahmadiyah, akan selamat; dan siapa yang tidak, akan celaka. Seperti kisah Nabi Nuh menyelamatkan ummatnya dari banjir besar dengan membuat bahtera. Di sini jelas sekali bahwa Ahmadiyah mengklaim bahwa yang benar dan selamat adalah yang masuk ke rumahnya; yaitu orang-orang yang mengamalkan ajaran Mirza Ghulam Ahmad dengan sempurna.
Dari sini muncul pengakuan dan penyesatan berikutnya, antara lain:
1. Yang benar hanya ajaran Ahmadiyah.
2. Selain Jema'ah Ahmadiyah, semuanya adalah sesat dan tidak akan selamat dan masuk surga.
3. Oleh karenanya, mereka mendirikan masjid sendiri, imam sendiri dan komunitas sendiri. Selain jama'ah Ahmadiyah, najis hukumnya masuk masjid mereka.
Fatwa Haram MUI
MUI memperkuat fatwanya tahun 1980 dengan menyatakan: Ahmadiyah bukan Islam. Ahmadiyah adalah ajaran sesat dan menyesatkan. MUI tidak sendirian, sebelum itu Majelis-majelis di berikut ini sudah mengeluarkan deklarasi yang sama, yaitu: 1. Majelis Ulama Malaysia, 2, Majelis Ulama Brunei, dan 3. Kongres di Mekah tahun 1974 yang diikuti 140 Negara. Pemerintah Arab Saudi sejak saat itu sampai sekarang melarang Jema'ah Ahmadiyah untuk ikut beribadah haji.
Namun bagi Jema'ah Ahmadiyah yang sudah mencapai tingkatan Ustadz hal itu tidak penting, karena mereka lebih menyukai ziarah ke Qadian dan Rawbah (daripada ke Mekah / Madinah), karena di sanalah Nabi mereka dilahirkan dan dimakamkan, di sanalah letak Bahtera Nuh yang akan menyelamatkan mereka dan di bawah kubur Mirza terletak surga yang diidam-idamkan.
Bagi saya, yakin seyakin-yakinnya Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Bahkan waktu kecilpun saya sudah diajari orang tua bahwa Ahmadiyah itu sesat. Kepada yang berpendapat Ahmadiyah tidak sesat dan masih bergaul akrab dengan mereka, saya hanya bisa mendoakan semoga Allah SWT melindungi Anda semua dan tidak terbawa sesat. Aamiin ya Robbal 'Alamien.
Sebuah hadits menjelaskan kurang lebih sbb: “Bila engkau mendapati kemungkaran, cegahlah dengan perbuatan. Bila engkau tidak mampu, cegahlah dengan perkataan. Dan bila engkau masih tidak mampu pula, jauhilah kemungkaran itu.”
Penulis: Dr. A. Luthfi Fathullah
Pengirim: Marwan AffandI
No. 107
Kelihatannya Mendagri akan tetap pertahankan SKB, tapi Menag cenderung pada pembubaran Ahmadiyah. Pripun niki?
BalasHapusMempertahankan SKB hanyalah menyakitkan bagi ummat Islam. Pemerintah tidak mau belajar dari pengalaman bahwa selama ini selalu timbul konflik antara ummat Islam dengan jemaat Ahmadiyah.
BalasHapusTelah kami hapus komentar / pertanyaan pembaca tanpa menyebut identitas. Sebaiknya anda membaca dengan teliti tulisan di atas sebelum bertanya, karena jawabannya sudah ada dalam tulisan itu.
BalasHapus