Rabu, 30 Maret 2011

BELAJAR DARI BENCANA ALAM DI JEPANG

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, manusia tidak akan terlepas dari musibah. Ada musibah yang bersifat individual, misalnya sakit yang diderita seseorang, meninggal dunia, kerugian dalam usaha, kehilangan barang dan lainnya, dan ada pula musibah bersifat sosial, misalnya bencana alam, wabah penyakit, kekeringan, banjir bandang dan lainnya.

Tentang musibah Rasulullah SAW menjelaskan: “Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah. (HR At-Tabrani). Selama hayat masih di kandung badan, seketika itu juga musibah bisa mengintai siapa saja, baik orang-orang Muslim maupun non-Muslim, dan di mana saja mereka berada.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang musibah, antara lain dalam QS Al-Baqarah 155-156: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"

Musibah adalah Sunatullah, yang tidak bisa ditolak atau dicegah. Menghadapi bencana, selain istirja – berserah diri kepada Allah SWT dengan mengucapkan "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun", manusia juga wajib menghindari dan mengantisipasi berbagai bentuk musibah termasuk bencana alam yang sudah atau akan terjadi pada diri kita.

Menghindari dan mengantisipasi bukan saja pada tingkat pencegahan, tetapi juga dalam penanggulangannya, karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan sangatlah bertentangan dengan Al-Qur’an – petuntuk Allah untuk semua manusia. Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al Baqarah 2: 195).

Gempa Jepang Terdahsyat ke-5 Sesudah Gempa Aceh 2004

Pada tanggal 11 Maret 2011 yang lalu bangsa Jepang mengalami bencana alam yang maha dahsyat, yaitu gempa bumi di bagian Utara pulau Honshu. Pusat gempa berada di lepas pantai 373 km dari ibukota Tokyo ke arah Timur Laut, di kedalaman 24,4 km yang berkekuatan 8,9 SR (gambar atas). Gempa ini merupakan yang terdahsyat ke-5 sesudah gampa di Aceh dan Sumatera Utara tahun 2004 sejak taun 1900. Gempa di Jepang ini masih disertai beberapa kali gempa lainnya dengan pusat gempa juga di sebelah Timur Laut Tokyo.

Gempa di Jepang tersebut diikuti tsunami yang menyapu daratan pantainya terutama di 3 prefektur; Miyagi, Iwate, Fukushima (gambar bawah), dan 2 prefektur lainnya Ibaraki dan Chiba (di sebelah Utara dan Selatan ketiga prefektur tersebut). Korban yang timbul akibat gempa bumi dan tsunami tersebut yang diketahui sampai dengan naskah ini disusun, mencapai 11.000 orang tewas, 17.400 orang hilang, dengan kerugian ditaksir mencapai 310 milyar dollar AS. Di samping itu gempa bumi tersebut juga telah merusak 4 reaktor nuklir PLTN di kota Fukushima, prefektur Fukushima. Dua orang petugas PLTN mengalami luka bakar di kaki.

Para ahli nuklir mancanegara khawatir akan dampak buruk radiasi nuklir bagi kesehatan. Peristiwa ini mengingatkan bangsa Jepang pasca peristiwa di Nagasaki dan Hiroshima, akibat bom atom yang dijatuhkan Amerika (Serikat) dalam Perang Dunia II yang menewaskan sekitar 80,000 orang, sehingga tentara Jepang menyerah kepada tentara Amerika. Bencana nuklir Jepang kali ini memang tidak seburuk peristiwa pada Perang Dunia II kedua, namun yang terburuk pasca Perang Dunia II. Meskipun tidak dapat dikatakan Jepang telah menyerah menghadapi bencana alam dan radiasi nuklir, nampaknya ekonominya akan mandek untuk sementara waktu. Namun Jepang yang pernah bangkit seperti sesudah pasca Perang Dunia II, tentu akan berusaha bangkit kembali. Kita lihat saja nanti.

Industri Jepang yang sangat kuat telah mendorong negara itu menciptakan kemakmuran bagi bangsanya. Semua itu berhasil dicapai dalam waktu hanya beberapa dekade sesudah Jepang dihancurkan oleh Amerika. Sejak itu ekonomi Jepang terus berkembang, yang menyebabkan perdagangan Amerika terhadap Jepang terus mengalami defisit, sehingga produk-produk Amerika tidak lagi kompetitif dibandingkan dengan produk-produk Jepang. Hal ini telah memacu Jepang menjadi raksasa ekonomi dunia selama bertahun-tahun, kedua setelah Amerika, meskipun kini telah tergesar oleh Cina.

Jepang negara berpenduduk 128 juta jiwa, kurang memiliki sumber daya alam (SDA). Hampir semua kehidupan sangat tergantung dari impor bahan baku dari negara lain. Impor barang-barang itulah yang diolah menjadi produk yang dijual ke luar negeri. Semuanya menggunakan teknologi tinggi, dan ini dimiliki oleh Jepang. Inilah yang dialami Jepang sejak usai perang dunia kedua.

Gempa bumi yang terjadi di Jepang dan ledakan reaktor nuklir PLTN tersebut nampaknya akan terus menjadi trauma secara psikologis bagi Jepang. Bangsa Jepang tentu akan mengkaji kembali seluruh kebijakan dan pilihan yang telah dilakukannya, terutama penggunaan tenaga nuklir. Memang, tenaga nuklir sangat efisien untuk mendapatkan listrik yang menggerakkan industri Jepang.

Gempa bumi dan tsunami yang telah merusakkan reaktor nuklir Jepang akan menjadi dilema bagi masa depan Jepang. Jika Jepang mengkaji ulang sumber energi yang akan menggantikan energi nuklir, maka semuanya memerlukan waktu. Setidaknya ini akan berpengaruh pada industri Jepang setidaknya dalam satu dekade. Inilah persoalan yang serius bagi masa depan Jepang.

Pengaruh Gempa Jepang Terhadap Ekonomi Indonesia

Selama ini Jepang dikenal sebagai negara yang paling agresif mengekspor produk-produk industri ke berbagai negara. Sekarang Jepang dihadapkan dengan bencana, bukan hanya bencana alam, tetapi bencana dari hasil teknologi nuklir mereka sendiri. Itulah Sunatullah yang bisa terjadi di mana saja termasuk Jepang dan Indonesia.

Bagaimana nasib Indonesia yang bergantung ekonominya kepada Jepang? Sekarang Jepang ambruk akibat gempa bumi, tsunami, dan meledaknya reaktor nuklir, sehingga kemungkinan pola hubungan ekonomi Indonesia-Jepang akan mengalami perubahan. Sekedar referensi berikut ini adalah data ringkas ekonomi Indonesia - Jepang.

Jepang merupakan negara kreditur terbesar bagi Indonesia. Dari total pinjaman sebanyak 68,04 miliar dollar per 31 Desember 2010, sekitar 44,8 persen di antaranya atau senilai 30,49 miliar dollar AS berasal dari Jepang. Kredit dari Jepang banyak digunakan untuk pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Jika kredit terhambat, maka otomatis pembangunan infrastruktur di Indonesia ikut terkendala. Sejauh ini belum ada kejelasan Jepang terkait kelanjutan kredit tersebut. Kita tentu berharap tidak ada penghentian atau penundaan, meski mereka sedang butuh banyak dana untuk pemulihan dalam negeri. Bukan hanya itu, Jepang juga merupakan investor terbesar nomor dua dalam hal penanaman modal langsung dengan total investasi Jepang ke Indonesia mencapai 11,5 %. Kementerian Perindustrian tentu khawatir jika investasi tersebut akan terhambat.

Sebagai negara tujuan ekspor utama, Jepang menjadi mitra dagang penting bagi Indonesia. Pada 2010, nilai ekspor nonmigas ke Jepang mencapai 16,49 miliar dollar dan menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor. Barang-barang yang diekspor ke Jepang berupa minyak, gas alam, batubara, hasil tambang lainnya, tekstil, dan produk tekstil, serta perlengkapan listrik – termasuk dari negara di mana Jepang melakukan relokasi industri. Sepanjang tahun 2010, ekspor non migas Indonesia ke Jepang senilai 16,49 miliar dollar.

Dan pada bulan Januari 2011 ekspor non migas Indonesia ke Jepang tercatat sebesar 1,21 miliar dollar atau merupakan negara pertama tujuan ekspor. Dengan terjadinya bencana di Jepang tersebut, tentu Indonesia akan terkena dampaknya yang negatif, sehingga diperkirakan kondisi tersebut akan mengalami kontraksi. Karena itu pemerintah Indonesia harus mencari pasar ekspor ke negara-negara lain juga.

Tahun 2010 impor dari Jepang tercatat 16,91 miliar dollar atau sekitar 15,62 persen dari total nilai impor. Jepang menempati posisi kedua dalam hal impor, sementara posisi pertama ditempati oleh Cina. Posisi strategis Jepang juga terjadi pada sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan dari Jepang per tahun berkisar 475.000 - 525.000 orang.

Selama lebih dari 50 tahun Jepang juga telah memberikan berbagai bentuk bantuan ke Indonesia. Bantuan tersebut banyak terfokus pada bidang industri, peningkatan teknologi pertanian, pendidikan sumber daya manusia (SDM) serta bantuan ekonomi pada saat krisis ekonomi melanda Asia tahun 1997. Ketika gempa bumi mengguncang Aceh dan Yogyakarta, Jepang juga turut membantu.

Fakta-fakta tersebut menggambarkan betapa pentingnya posisi Jepang bagi perekonomian Indonesia. Hal itu sedikit banyaknya akan berpengaruh pada perekonomian kita. Salah satunya adalah proyek pembangunan PLTN di Jepara, Jawa Tengah dan investasi proyek-proyek yang dibiayai Japan Bank for International Cooperation (JBIC) mencapai US$ 15 miliar. Proyek yang tetap berjalan di Indonesia saat ini adalah program prioritas wilayah metropolitan atau Metropolitan Priority Area (MPA) senilai US$ 20 miliar. Proyek ini menurut rencana berjalan mulai Maret 2011 ini. Dikhawatirkan pula nasib puluhan ribu pekerja Indonesia yang bekerja di pabrik-pabrik milik perusahaan Jepang di Indonesia, jika benar-benar ekonomi Jepang mandek?

Khatimah

Demikian untuk kesekian kalinya Al-Mustaqiim membahas tentang bencana alam, dan ketika itu pula kita diingatkan bahwa sehebat apapun ikhtiar dan karya manusia, tidak akan bisa mengungguli kekuasaan Allah SWT. Kehidupan manusia dengan berbagai macam masalahnya, akan memiliki dampak positif dan negatifnya. Sebagian ada yang menyikapi dengan keluar dari jalan Allah, dan ada pula yang menyikapi dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ini berarti Allah memberikan kesempatakan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya dan selalu dapat memperbaiki diri yang diawali dengan muhasabah – introspeksi diri.

Kita harus bisa mengakui bahwa apapun halnya, musibah adalah akibat kesalahan dan keteledoran manusia juga. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ akibat bencana. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana lebih dahsyat dan besar.

Allah SWT berfirman: ”Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS Al-’Araaf 7: 96). Dalam ayat ini Allah SWT berjanji akan menjadikan masyarakat suatu negeri menjadi makmur dan sejahtera. apabila masyarakatnya beriman dan bertakwa. Namun jika manusia yang ada di dunia ini tidak beriman dan bertakwa, maka Allah akan memadzab sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.

Maka yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertakwa. Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertakwa itu, yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia membangun masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.

Namun dalam mengelola kehidupan dunia, hendaknya kita juga harus berpegang pada peringatan Allah: ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum 30: 41). Hal itu merupakan peringatan agar dalam mengelola kehidupan duniawi manusia dapat membatasi diri dari tindakan yang berlebihan agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Hermanto Hs
No. 108

5 komentar:

  1. Semoga pengelola selalu dalam bimbingan Allah Swt. Amin. Terima kasih. Wassalam, Dadi AR (via e-mail)

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas doa Anda. Semoga kita semua selalu dalam bimbingan dan lindunganNya.Amien

    BalasHapus
  3. Jepang saja kewalahan mencegah radiasi nuklir akibat kebocoran reaktornya, bagaimana kita? Ilmuwan Indonesia saya akui pintar, tapi ...... Energi panas bumi dan tenaga surya lebih aman. Maaf prefektur itu padanannya apa ya?

    BalasHapus
  4. Prefektur / Prefecture adalah daerah administrasi pemerintahan tingkat I. Tidak disebut Provinsi / Province karena wilayahnya sempit, tetapi penduduknya banyak – kira-kira seluas Karesidenan di pulau Jawa pada zaman penjajahan Belanda dulu. Jumlah prefektur ada 47, masing-masing dipimpin seorang Gubernur / Governor. termasuk Tokyo dan Osaka.

    BalasHapus
  5. Ekspor ke Jepang mulai menurun, kedatangan turis Jepang juga menurun, ketergantungan kita kepada Jepang memang besar.

    BalasHapus