Minggu, 07 Desember 2008

11. IMAN DAN TAKWA

Kesibukan manusia dengan berbagai macam masalahnya, akan memiliki dampak negatif dan positifnya. Sebagian ada yang menyikapi dengan frustasi – keluar dari jalan Allah dan menjadi kafir, dan ada pula yang menyikapi dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini berarti Allah SWT masih memberikan kesempatakan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya dan selalu dapat memperbaiki diri yang diawali dengan melakukan muhasabah – introspeksi.

Dengan melakukan muhasabah seseorang dapat mengambil langkah yang tepat apa yang perlu diperbaiki; apakah sudah iman dan takwa dengan benar atau belum. Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya iman dan takwa itu. Keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia membentuk masyarakat Islami. Maka kita perlu mengetahui hakikat iman dan takwa, yaitu prinsip pertama dalam utama dari SPMMI.

Iman

Orang beriman harus memenuhi tiga unsur, yaitu: Pertama, membenarkan dengan yakin dalam hati hal-hal yang harus diimani. Kedua, mengikrarkan secara lisan, yaitu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketiga, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa iman itu adalah amanah, sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW: “Tidaklah beriman seseorang itu kalau tidak amanah”. Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang beriman adalah orang yang bisa amanah artinya dapat dipercaya untuk menyampaikan sesuatu kepada yang berhak. Allah telah menitipkan hati kepada kita untuk beriman, maka dengan sendirinya kita harus menyampaikan iman itu kepada hati kita. Dan Allah juga menitipkan kepada kita untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, ini berarti kita sebagai orang yang amanah harus melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Akan tetapi kalau orang sudah tidak amanah baik kepada Allah, dirinya sendiri maupun orang lain, berarti dia telah berkhianat pada Allah, dirinya sendiri dan orang lain tersebut. Sedangkan berkhianat itu adalah tanda-tandanya orang munafik yang Allah tegaskan adzabnya dalam Al-Qur’an dengan menjebloskannya ke dalam api neraka yang paling bawah (QS An Nisaa’ 4: 145).

Karena itu kita harus senantiasa mengawal iman yang mudah goyah yaitu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Untuk itu kita membentengi diri terhadap pelbagai godaan terutama godaan syeitan, karena syeitan itu lebih kuat daripada manusia yang iman dan takwanya lemah. Untuk itu, kita dirikan ‘Rumah Pribadi Muslim’ sebagai benteng keimanan di atas lahan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Luas lahan atau hidayah tergantung pada usaha atau ikhtiar seseorang, makin besar ikhtiar seseorang, insya Allah makin luas pula lahan atau hidayah yang diperoleh. Kemudian di atas lahan hidayah itu, pertama kali tentu dibangun suatu fondasi yaitu iman dan takwa. Jika fondasi itu kokoh, maka akan kokoh pulalah bangunan keIslaman seseorang, sebaliknya jika fondasinya rapuh, maka akan rapuh pulalah keIslamannya.

Untuk menegakkan suatu rumah maka diperlukan tiang-tiang yaitu shalat, tanpa adanya shalat ini tak akan ada yang namanya rumah ke-Islaman. Dalam Al-Qur'an perintah shalat selalu disandingkan dengan perintah membayar zakat (aqimus shalaata wa aatuz zakaata), karena itu tiang-tiang dengan dinding-dindingnya sangat erat bahkan menjadi satu. Sebagai atap dari rumah keIslaman itu adalah puasa. Makin besar rumah itu, diperlukan tiang-tiang tambahan (shalat sunat), dinding yang makin banyak (infaq dan shadaqah) dan atap tambahan (puasa Syawal dan lainya).

Tiang, dinding dan atap inilah yang melindungi penghuninya dari sengatan sinar matahari, guyuran air hujan atau tiupan angin. Jika fondasi, tiang, dinding dan atapnya dibangun asal-asalan, maka akan terbentuk adalah bangunan kualitas rendah.

Meskipun sudah melaksanakan shalat tetapi apabila kita tidak membayar zakat, itu ibarat bangunan tanpa dinding, hanya tiang-tiang saja. Jika tidak berpuasa, ibarat rumah tanpa atap. Jadi ketiga komponen dasar itu mutlak harus ada. Tidak shalat, tidak membayar zakat dan tidak berpuasa, hanya lahan hidayah saja, tetapi di atasnya belum ada bangunan keIslaman sama sekali, berarti kita hanya mengaku beragama Islam.

Lantai bangunan kita umpamakan sebagai Al-Qur'an dan Al- Hadits di mana penghuninya setiap berjalan dan bergerak melakukan segala kegiatan dan amalan selalu berpedoman pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Untuk menerangi kehidupan kita, maka dzikrullah dan shalawat Nabi merupakan lampu penerangnya, sehingga syeitan akan lari tunggang langgang karena dzikrullah dan shalawat Nabi itu.

Pintu rumah melambangkan kesabaran dan keikhlasan, jendela adalah ilmu yang dari mana penghuninya dapat melihat dunia luar dan belajar mengetahui mana yang benar dan salah. Dengan kesabaran, keikhlasan dan ilmu, penghuni rumah dapat menangkal masuknya tamu-tamu tak diundang (godaan syeitan, jin, manusia) yang sewaktu-waktu bisa masuk melalui pintu rumah.

Warna dinding dan bentuk atap melambangkan al-akhlaqul karimah. Makin indah bentuk dan warnanya, makin baik moral dan etikanya. Keindahan warna dinding dan atap itu juga menunjukkan kesempurnaan keseluruhan bangunan rumah.

Pagar yang mengelilingi lahan dan rumah keIslaman kita, ibarat jihad fisabilillah, yakni berjuang di jalan Allah. Pagar ini melindungi semua komponen yang ada di dalam rumah Islam, melindungi terpeliharanya al-akhlaqual karimah, yakni bagian penting dalam kelangsungan syiar Islam.

Terakhir dari perumpamaan mengenai bangunan rumah ini, adalah lahan tempat berdirinya rumah ini perlu dibuatkan sertifikatnya dengan menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu, baik dari segi ketersediaan dana, waktu maupun kesehatan.

Takwa

Seruan untuk selalu bertakwa dinyatakan decara tegas dalam firman Allah SWT: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran 3: 102). Ayat ini selalu diucapkan para khotib shalat Jum’at dalam mengawali khotbahnya. Meskipun sudah diperintahkan supaya bertaqwa, tetapi Allah masih menambahkan dengan kalimat ‘takwa yang sebenar-benarnya’. Ayat tersebut merupakan perintah wajib kepada orang beriman untuk menindak lanjuti keimanannya dengan bertakwa. Mengapa kata takwa itu masih diikuti dengan dengan kalimat ’sebenar-benarnya takwa’

Pertama: Orang yang benar-benar takwa itu adalah orang yang selalu ta’at kepada Allah dan berusaha tidak akan berbuat maksiat. Oleh sebab itu orang yang bertakwa ini akan selalu berusaha melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Karena semua perbuatan yang ia lakukan pasti terbersit rasa takut dalam hatinya, karena Allah selalu memantaunya dan tidak sedikpun dia lepas dari pantauan Allah.

Kedua: Orang yang benar-benar takwa selalu berdzikir kepada Allah. Dia selalu ingat kepada Allah dan ketika dia hendak melakukan kemaksiatan dia akan langsung berdzikir mengingat Allah dan segera bertaubat serta memohon ampun kepada Allah. Dia tidak pernah lupa sedikitpun bahwa Allah maha segalanya.

Ketiga: Orang yang takwa selalu bersyukur atas segala anugerah Allah, tidak pernah mengingkari anugerah-Nya. Rasa syukur itu dinyatakan dalam bentuk ibadah. Ketika diberikan kesehatan, dia mensyukurinya dengan shalat, puasa dan ibadah lainnya. Ketika dia mendapatkan anugerah harta, dia beribadah denga membelanjakan rizkinya di jalan Allah. Ketika diberikan anugerah anak ia selalu beribadah dengan menjaga anaknya agar selalu dekat dengan Allah, dan banyak lagi anugerah Allah yang perlu disyukuri dengan bentuk beribadah kepadanya. Inilah sebenar-benarnya takwa. Jangan sampai kita berfikir berat melakukannya dalam hidup keseharian kita, melainkan berusaha untuk melaksanakannya.

Dalam ayat tersebut juga terdapat ungkapan “jangan sekali-kali kamu mati”. Ayat tersebut tentu tidak dimaksudkan sebagai perintah untuk mengatur saat kematian, karena hal itu tidak mungkin dilakukan siapapun. Kalimat tersebut merupakan penegasan agar orang-orang yang beriman senantiasa membentuk, memelihara dan mengembangkan ketakwaan di dalam dirinya sehingga kapanpun kematian tiba, dia dalam keadaan Islam – tunduk dan patuh dengan sepenuh hati kepada Allah SWT. Karena kebaikan takwa yang sangat tinggi nilainya itu maka Allah SWT yang sangat mencintai manusia, juga memerintahkan untuk menjadi orang-orang yang takwa sebagaimana ayat tersebut di atas.

Demikianlah pentingnya takwa, kepada orang yang takwa Allah SWT mengemukakan janji-janji yang sungguh amat sangat menggembirakan. Di antara janji-janji tersebut ialah: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS Al Hujuraat 49: 13), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar (dari segala permasalahannya”. (QS At-Thalaaq 65: 2), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS At-Thalaaq 65: 3). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” (QS An-Nabaa’ 78: 31). Dalam hal ketakwaan itu telah menjadi sikap mayoritas orang yang hidup di suatu negeri, Allah menyatakan: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”. (QS Al A’raaf 7: 96).

Dengan dua kunci iman dan takwa, Allah pasti akan menepati janjinya yaitu membukakan berkah dari langit dan bumi sebagaimana firman-Nya: “pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS .....: ) Berkah berarti terbukanya tambahan kebaikan dari langit dan bumi, baik berupa hujan yang menjadi sumber kehidupan tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya, dengan tumbuh-tumbuhan dan makhluk lain yang ada di bumi. Bumi akan menjadi kaya dengan alamnya dan ini sangat bermanfa’at bagi kelangsungan hidup manusia.

Kalau Allah sudah memberikan kekayaan-Nya, tentunya pengelolaannya akan dipimpin oleh orang-orang yang amanah karena imannya dan masyarakat yang amanah karena imannya, sehingga apa yang dicita-citakan demi kebaikan hidup di dunia dan akhirat akan dengan mudah dapat tercapai.

Dengan demikian marilah kita masing-masing menjadi orang-orang yang iman dan takwa, jangan selalu mengkambing hitamkan orang lain terhadap permasalahan kita di dunia ini, terutama bangsa Indonesia yang tercinta ini. Mulailah dari diri kita sendiri untuk melakukan muhasabah agar menjadi orang yang beriman dan bertakwa.

(Hermanto)

2 komentar:

  1. Assalamu’alakum wr.wb. Pak Hermanto. Saya Donny, operator komputernya Ayah, yang sudah lebih dahulu memberikan komentar di blog Bapak ini. Saya selalu membaca Al Mustaqiim, semoga sepuluh prinsip membangun masyarakat Islami dapat disosialisasikan di kalangan ummat Islam. Ini memang tidak mudah. Seperti Bapak tuliskan; “berdakwah kepada mereka yang hidup dalam lingkungan materialistis, individualistis dan hedonis, harus berbeda kiat dan caranya dengan berdakwah kepada akhli masjid dan penuntut / pengamal ilmu”. Sungguh memerlukan keteguhan hati untuk berdakwah. Semoga ijtihad Pak Hermanto membuahkan hasil. Insya Allah saya juga akan membantu sebisanya. Wassalamu’alaikum wr.wb, Donny Prawiradirja, Bandung.

    BalasHapus
  2. Alaikum salam wr.wb. Saya masih ingat Donny, sekarang tentu sudah bekerja dan berkeluarga (?) Selanjutnya kita komunikasi via e-mail ya.Terima kasih atas kebersamaan Anda. Wassalam. Hermanto

    BalasHapus