Allah SWT berfirman: “Siapa saja yang mencari agama selain Islam, amalnya tidak akan diterima sama sekali, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi. [QS Ali ‘Imran (3): 85]. Kita bersyukur bahwa sebagai pemeluk Islam kelak di akhirat termasuk orang-orang yang beruntung. Tetapi keuntungan itu baru akan kita peroleh jika amalan kita di dunia baik, karena Islam mengajarkan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.
Kita telah membahas 17 judul tulisan dalam rangka membentuk pribadi muslim berakhlak mulia dan membangun masyarakat Islam madani. Berbekal pemahaman atas materi tulisan-tulisan tersebut, kita dapat mengambil sikap dan tindakan yang terbaik dalam kehidupan di masyarakat, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, baik di kalangan ummat Islam sendiri maupun dengan ummat lain, karena ajaran Islam adalah untuk semua ummat.
Dalam kaitan etika antar ummat yang berbeda agama, kita berpegang pada [QS Al Maaidah (5): 48]: ”Masing-masing dari kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Firman Allah tersebut menyerukan kepada ummat manusia bahwa dalam masyarakat yang berbeda aturan dan jalan / berbeda agama sebagaimana diciptakan-Nya, kita semua diuji agar berlomba berbuat kebajikan. Dengan berbuat kebajikan terhadap sesama, apapun agama mereka, maka akan terwujud kehidupan saling menghormati satu sama lain dan harmonis.
Seperti kita ketahui, sesungguhnya ajaran agama Nasrani adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana firman Allah SWT:
● Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri." [QS Ali Imran (3): 84].
Dan seruan Nabi Musa yang disebutkan dalam Al Qur’an:
● Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." [ QS Yunus (10): 84].
Tetapi ajaran Allah tersebut kemudian diubah oleh para pemimpin gereja Nasrani untuk kepentingan politik. Kaum Nasrani, yang telah mengubah ajaran Islam yang hakiki, jelas bukanlah orang Islam lagi, dan mereka menyebut dirinya orang Nasrani.
Jadi sebenarnya tidak ada perbedaan status antara agama Nasrani dengan aliran seperti Ahmadiyah (mengakui Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi terakhir), Al Qiyadah (tidak mewajibkan shalat 5 waktu), atau kelompok yang mengajarkan shalat berbahasa Indonesia, dan lainnya. Kita tidak perlu menuding sekelompok orang Islam yang mengubah ajaran Islam yang hakiki sebagai sesat, anggap saja mereka bukan orang Islam. Tak ada yang perlu dirisaukan.
Apabila ummat Islam bisa bersikap dan berperilaku baik terhadap ummat lain, maka ummat lain akan melihat betapa ajaran Islam itu merupakan agama yang universal, yakni mencakup segala aspek kehidupan, baik dunia maupun akhirat, dan berlaku untuk semua ummat. Kebenaran dan kesempurnaan ajaran Islam bukan hanya dilihat dari isi Al Qur’an dan apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, melainkan juga dilihat dari bagaimana ummat Islam mengamalkan dan berbuat kebajikan.
Sebaliknya apabila ummat Islam berperilaku buruk, maka ummat lain akan melihat Islam itu buruk. Misalnya sikap dan tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap mereka yang dituding sesat. Unjuk rasa dengan melakukan perusakan fasilitas umum, bentrok dengan aparat keamanan, telah merupakan kejadian sehari-hari yang memalukan dan membuang energi, bahkan tidak sedikit yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Belum lagi bentrok antar warga sesama ummat Islam, bahkan bentrok dengan ummat lain.
Dari fenomena-fenomena yang disebutkan di atas, kita harus bersikap jujur, obyektif dan menyadari bahwa citra ummat Islam sebagai suatu komunitas adalah buruk. Ummat Islam pada umumnya memahami ajaran Islam hanya sebagai identitas, tetapi tidak peka dengan bagaimana memperbaiki kerusakan moral dan etika ummat, yang meliputi hampir semua segi kehidupan. Karenanya kita harus melakukan perbaikan dan banyak berbuat kebajikan. Etika dalam pergaulan, baik antar ummat Islam maupun dengan ummat yang beragama lain, adalah memperbaiki apa yang buruk dan memalukan, dan saling menghormati satu sama lain.
Di sisi lain, kita juga sangat menyesalkan apabila ada ummat lain yang menistakan agama Islam. Misalnya saja pernyataan kontroversial Pemimpin Gereja Katolik Paus Benediktus XVI, sekitar dua tahun lalu, yakni; “Tak ada yang baru dari Muhamad (Muhammad Rasulullah SAW), dan yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis dan tak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan agama (Islam) dengan pedang”. Demikian pula penghinaan melalui karikatur Nabi Muhammad yang berkali-kali dipublikasikan oleh pers Barat.
Hal itu telah menimbulkan kritik dan kecaman di kalangan ummat Islam. Apa sebenarnya tujuan utama Paus ketika mengutip pernyataan Kaisar Imperium Bizantium dalam buku sejarah kuno yang umurnya sudah 600 tahun, dalam suatu ceramah ilmiahnya di Universitas Regensburg, Jerman itu? Apakah tidak ada lagi literatur kontemporer Islam yang menerangkan tentang jihad masa kini kecuali yang, yang dimuat dalam buku kuno tersebut?
Mengapa Paus tidak mengutip langsung dari Al Qur’an dan Hadis? Padahal Paus dikenal sebagai akademisi teologi, yang tentu sangat mengetahui etika pengutipan sumber secara intelektual. Kita tidak perlu ragu-ragu menyebut bahwa itu adalah pernyataan rasa benci oknum-oknum Nasrani terhadap Islam. Jelas itu adalah pernyataan fitnah. Betapa menyesakkan fitnah itu.
Mengapa hal itu terjadi? Perlu kita ketahui bahwa sesungguhnya kaum Nasrani (dan Yahudi) saat ini dalam kondisi ‘khawatir’ akan kebangkitan ummat Islam, sehingga mereka sering memfitnah, dan mengadu domba untuk memperlemah ummat Islam, agar tunduk kepada mereka. Hal ini diperingatkan Allah SWT dalam firman-Nya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan puas, sehingga kamu tunduk kepada agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itu petunjuk yang sejati. Jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah kamu mengetahui hakikatnya, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS Al Baqarah (2): 120]
Tetapi, meskipun kita jengkel atas penghinaan mereka terhadap Islam, kejengkelan kita tidak harus ditumpahkan dengan tindakan anarkistis, beringas dan brutal. Hal itu justru bisa menambah ‘kekeliruan pemahaman’ bahwa seakan-akan Islam itu keras dan kejam. Kita harus berhati-hati, bahwa kejengkelan harus kita kendalikan agar jangan sampai menjadikan kita tercela.
Namun apabila ummat Islam atau negara-negara Muslim diserang oleh orang-orang atau negeri kafir Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslimin untuk membalas tindakan menyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslimin, sebagaimana firman-Nya: ”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” [QS Al Baqarah (2): 190].
Seperti dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki Amerika sampai sekarang, demikian pula dalam kasus Palestina yang wilayahnya terus menerus dirampas Israel, terhadap serangan fisik semacam itu kita wajib membalas tindakan menyerang dan mengusirnya, tetapi tidak boleh berbuat yang berlebihan.
Ini adalah etika baik yang harus kita laksanakan dalam menghadapi fitnah atau kecaman ummat lain, bahwa Islam bukan berkembang karena menjajah dengan pedang (memerangi bangsa lain), melainkan karena sanggup memberikan kedamaian bagi ummat yang lain. Hendaknya kita tidak hanya peka terhadap ketidak-beradaan kaidah-kaidah ritual dalam masyarakat, melainkan juga harus peka pada ketidak-beradaan konsep-konsep sosial, politik, ekonomi, keamanan, dan lainya. Itulah salah satu makna dari berlomba dalam berbuat kebajikan.
Sayangnya meskipun kaum Muslimin diwajibkan untuk membalas serangan musuh, hal itu tidak diimbangi dengan kemampuan yang memadahi untuk membalas dan mengusir penyerang negara-negara Muslim. Hal disebabkan karena selain kekuatan politik dan persenjataan negara-negara penyerang lebih canggih, juga karena solidaritas antar negara-negara Muslim sendiri lemah. Sehingga dengan mudahnya negara-negara Muslim diadu domba oleh kaum kafir dari untuk kepentingan politik, ekonomi dan pertahanannya. Di sini kita harus waspada dan bijaksana. Lebih lanjut tentang hal ini, akan dibahas pada tulisan berikutnya. [Hermanto]
Kita telah membahas 17 judul tulisan dalam rangka membentuk pribadi muslim berakhlak mulia dan membangun masyarakat Islam madani. Berbekal pemahaman atas materi tulisan-tulisan tersebut, kita dapat mengambil sikap dan tindakan yang terbaik dalam kehidupan di masyarakat, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, baik di kalangan ummat Islam sendiri maupun dengan ummat lain, karena ajaran Islam adalah untuk semua ummat.
Dalam kaitan etika antar ummat yang berbeda agama, kita berpegang pada [QS Al Maaidah (5): 48]: ”Masing-masing dari kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Firman Allah tersebut menyerukan kepada ummat manusia bahwa dalam masyarakat yang berbeda aturan dan jalan / berbeda agama sebagaimana diciptakan-Nya, kita semua diuji agar berlomba berbuat kebajikan. Dengan berbuat kebajikan terhadap sesama, apapun agama mereka, maka akan terwujud kehidupan saling menghormati satu sama lain dan harmonis.
Seperti kita ketahui, sesungguhnya ajaran agama Nasrani adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana firman Allah SWT:
● Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri." [QS Ali Imran (3): 84].
Dan seruan Nabi Musa yang disebutkan dalam Al Qur’an:
● Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." [ QS Yunus (10): 84].
Tetapi ajaran Allah tersebut kemudian diubah oleh para pemimpin gereja Nasrani untuk kepentingan politik. Kaum Nasrani, yang telah mengubah ajaran Islam yang hakiki, jelas bukanlah orang Islam lagi, dan mereka menyebut dirinya orang Nasrani.
Jadi sebenarnya tidak ada perbedaan status antara agama Nasrani dengan aliran seperti Ahmadiyah (mengakui Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi terakhir), Al Qiyadah (tidak mewajibkan shalat 5 waktu), atau kelompok yang mengajarkan shalat berbahasa Indonesia, dan lainnya. Kita tidak perlu menuding sekelompok orang Islam yang mengubah ajaran Islam yang hakiki sebagai sesat, anggap saja mereka bukan orang Islam. Tak ada yang perlu dirisaukan.
Apabila ummat Islam bisa bersikap dan berperilaku baik terhadap ummat lain, maka ummat lain akan melihat betapa ajaran Islam itu merupakan agama yang universal, yakni mencakup segala aspek kehidupan, baik dunia maupun akhirat, dan berlaku untuk semua ummat. Kebenaran dan kesempurnaan ajaran Islam bukan hanya dilihat dari isi Al Qur’an dan apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, melainkan juga dilihat dari bagaimana ummat Islam mengamalkan dan berbuat kebajikan.
Sebaliknya apabila ummat Islam berperilaku buruk, maka ummat lain akan melihat Islam itu buruk. Misalnya sikap dan tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap mereka yang dituding sesat. Unjuk rasa dengan melakukan perusakan fasilitas umum, bentrok dengan aparat keamanan, telah merupakan kejadian sehari-hari yang memalukan dan membuang energi, bahkan tidak sedikit yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Belum lagi bentrok antar warga sesama ummat Islam, bahkan bentrok dengan ummat lain.
Dari fenomena-fenomena yang disebutkan di atas, kita harus bersikap jujur, obyektif dan menyadari bahwa citra ummat Islam sebagai suatu komunitas adalah buruk. Ummat Islam pada umumnya memahami ajaran Islam hanya sebagai identitas, tetapi tidak peka dengan bagaimana memperbaiki kerusakan moral dan etika ummat, yang meliputi hampir semua segi kehidupan. Karenanya kita harus melakukan perbaikan dan banyak berbuat kebajikan. Etika dalam pergaulan, baik antar ummat Islam maupun dengan ummat yang beragama lain, adalah memperbaiki apa yang buruk dan memalukan, dan saling menghormati satu sama lain.
Di sisi lain, kita juga sangat menyesalkan apabila ada ummat lain yang menistakan agama Islam. Misalnya saja pernyataan kontroversial Pemimpin Gereja Katolik Paus Benediktus XVI, sekitar dua tahun lalu, yakni; “Tak ada yang baru dari Muhamad (Muhammad Rasulullah SAW), dan yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis dan tak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan agama (Islam) dengan pedang”. Demikian pula penghinaan melalui karikatur Nabi Muhammad yang berkali-kali dipublikasikan oleh pers Barat.
Hal itu telah menimbulkan kritik dan kecaman di kalangan ummat Islam. Apa sebenarnya tujuan utama Paus ketika mengutip pernyataan Kaisar Imperium Bizantium dalam buku sejarah kuno yang umurnya sudah 600 tahun, dalam suatu ceramah ilmiahnya di Universitas Regensburg, Jerman itu? Apakah tidak ada lagi literatur kontemporer Islam yang menerangkan tentang jihad masa kini kecuali yang, yang dimuat dalam buku kuno tersebut?
Mengapa Paus tidak mengutip langsung dari Al Qur’an dan Hadis? Padahal Paus dikenal sebagai akademisi teologi, yang tentu sangat mengetahui etika pengutipan sumber secara intelektual. Kita tidak perlu ragu-ragu menyebut bahwa itu adalah pernyataan rasa benci oknum-oknum Nasrani terhadap Islam. Jelas itu adalah pernyataan fitnah. Betapa menyesakkan fitnah itu.
Mengapa hal itu terjadi? Perlu kita ketahui bahwa sesungguhnya kaum Nasrani (dan Yahudi) saat ini dalam kondisi ‘khawatir’ akan kebangkitan ummat Islam, sehingga mereka sering memfitnah, dan mengadu domba untuk memperlemah ummat Islam, agar tunduk kepada mereka. Hal ini diperingatkan Allah SWT dalam firman-Nya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan puas, sehingga kamu tunduk kepada agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itu petunjuk yang sejati. Jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah kamu mengetahui hakikatnya, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS Al Baqarah (2): 120]
Tetapi, meskipun kita jengkel atas penghinaan mereka terhadap Islam, kejengkelan kita tidak harus ditumpahkan dengan tindakan anarkistis, beringas dan brutal. Hal itu justru bisa menambah ‘kekeliruan pemahaman’ bahwa seakan-akan Islam itu keras dan kejam. Kita harus berhati-hati, bahwa kejengkelan harus kita kendalikan agar jangan sampai menjadikan kita tercela.
Namun apabila ummat Islam atau negara-negara Muslim diserang oleh orang-orang atau negeri kafir Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslimin untuk membalas tindakan menyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslimin, sebagaimana firman-Nya: ”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” [QS Al Baqarah (2): 190].
Seperti dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki Amerika sampai sekarang, demikian pula dalam kasus Palestina yang wilayahnya terus menerus dirampas Israel, terhadap serangan fisik semacam itu kita wajib membalas tindakan menyerang dan mengusirnya, tetapi tidak boleh berbuat yang berlebihan.
Ini adalah etika baik yang harus kita laksanakan dalam menghadapi fitnah atau kecaman ummat lain, bahwa Islam bukan berkembang karena menjajah dengan pedang (memerangi bangsa lain), melainkan karena sanggup memberikan kedamaian bagi ummat yang lain. Hendaknya kita tidak hanya peka terhadap ketidak-beradaan kaidah-kaidah ritual dalam masyarakat, melainkan juga harus peka pada ketidak-beradaan konsep-konsep sosial, politik, ekonomi, keamanan, dan lainya. Itulah salah satu makna dari berlomba dalam berbuat kebajikan.
Sayangnya meskipun kaum Muslimin diwajibkan untuk membalas serangan musuh, hal itu tidak diimbangi dengan kemampuan yang memadahi untuk membalas dan mengusir penyerang negara-negara Muslim. Hal disebabkan karena selain kekuatan politik dan persenjataan negara-negara penyerang lebih canggih, juga karena solidaritas antar negara-negara Muslim sendiri lemah. Sehingga dengan mudahnya negara-negara Muslim diadu domba oleh kaum kafir dari untuk kepentingan politik, ekonomi dan pertahanannya. Di sini kita harus waspada dan bijaksana. Lebih lanjut tentang hal ini, akan dibahas pada tulisan berikutnya. [Hermanto]
AKHIRNYA DATANG JUGA tulisan 18. Terima kasih editor. Wassalamu’alaikum.wr.wb. Samiun
BalasHapusmanteb tenaaan ustad ini
BalasHapus