Sabtu, 07 Februari 2009

22. DISIPLIN

Banyak perusahaan Indonesia yang mengeluh bagaimana mereka bisa menciptakan lingkungan kerja yang selalu bersih, teratur rapi, dan setiap orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Betapa mereka banyak membuang waktu hanya untuk mencari data dan atau sarana yang lupa penempatannya. Bukan hanya itu, seringkali mereka kurang nyaman dengan kondisi berkas kerja yang berantakan, dan tidak jarang memicu kondisi emosional mereka.

Ternyata kondisi tersebut dapat diatasi dengan menerapkan KONSEP 5S, yaitu metode sederhana untuk melakukan penataan dan pembersihan tempat kerja yang yang merupakan adaptasi dari konsep 5S yang dikembangkan dan diterapkan di Jepang sejak lama, yang dalam bahasa asalnya dinamakan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke - disingkat 5S. Konsep itu kemudian digunakan pula oleh banyak negara di seluruh penjuru dunia, yang dikenal sebagai Sorting, Straightening, Sweeping, Standardization, Self Dicipline - disingkat 5S juga. Dan kemudian konsep ini juga diformulasikan di Indonesia menjadi Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin - disingkat 5R, Secara ringkas konsep tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Ringkas, adalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak digunakan, mana yang akan disimpan, dan bagaimana cara menyimpan supaya dapat mudah diakses, terbukti sangat berguna bagi sebuah perusahaan.

Rapi, adalah menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Ke-rapian adalah hal mengenai seberapa cepat kita meletakkan barang dan mendapatkannya kembali pada saat diperlukan dengan mudah. Peru-sahaan tidak boleh asal-asalan dalam memutuskan di mana benda-benda harus diletakkan untuk mempercepat waktu untuk memperoleh barang tersebut.

Resik, adalah membersihkan tempat / lingkungan kerja, mesin / peralatan dan barang-barang agar tidak terdapat debu dan kotoran. Kebersihan harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh setiap orang dari pimpinan perusahaan hingga pada tingkat pesuruh.

Rawat, adalah mempertahankan hasil yang telah dicapai pada 3R sebelumnya dengan membakukannya (standardisasi).

Rajin, adalah terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Rajin di tempat kerja berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang sudah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip Rajin di tempat kerja adalah; “Lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.”

Tentu saja penerapan dari masing-masing prinsip dari konsep 5S perlu diikuti langkah-langkah berikutnya. Misalnya, prinsip Ringkas, harus disertai dengan langkah-langkah lanjut seperti; 1) Melakukan cek barang yang berada di area masing-masing. 2) Menetapkan kategori barang-barang yang digunakan dan yang tidak digunakan. 3) Memberi label warna merah untuk barang yang tidak digunakan. 4) Menyiapkan tempat untuk menyimpan, membuang, atau memusnahkan barang-barang yang tidak digunakan. 5) Memindahkan barang-barang yang berlabel merah ke tempat yang telah ditentukan, dan sebagainya. Hal yang sama juga diperlukan langkah lanjut terhadap 4 prinsip lainnya,

Konsep 5R atau 5S ini merupakan inovasi besar yang menghasilkan disiplin dan efisiensi tinggi dalam kegiatan usaha terutama di bidang manufaktur. Konsep tersebut kelihatannya sederhana, tetapi hal yang sederhana itu tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa disiplin tinggi. Perlu kita ketahui bahwa keberhasilan melaksanakan suatu ikhtiar, akan sangat tergantung pada bagaimana mematuhi disiplin dalam pe-laksanaannya, karena disiplin adalah awal dari keberhasilan suatu ikhtiar. Seperti halnya melakukan ibadah shalat, tanpa niat yang benar, maka ibadah shalat kita itu tidak akan berlangsung dengan tertib dan khusyuk. Demikian pula dalam Membangun Masyarakat Islami (MMI), kita tidak akan bisa mencapai hasil yang baik dan maksimal tanpa disiplin tinggi dalam melaksakannya.

Pada Bab 48, kita telah membahas prinsip kelima MMI, yaitu ‘Mematuhi ‘Kesepakatan Bersama’, di mana kesepakatan yang ditetapkan harus ditaati oleh para pihak yang melakukan kesepakatan sebagai suatu kewajiban bersama. Sedangkan ‘Disiplin’ lebih merupakan kewa-jiban individu orang yang melakukan kesepakatan.

Seperti telah dibahas pada Bab 35, shalat mengatur dan mendidik manusia tahu waktu dan disiplin. Dalam melaksanakan ibadah shalat, kita diajarkan berdisiplin mulai dari disiplin waktu shalat fardhu, dan disiplin prosesi mulai dari niat, takbir, ruku’, i’tidal, sujud, iftirasy, hingga tahsyahhud, dan berakhir dengan mengucapkan salam.

Sebelum itu shalat dilakukan dengan prosesi sbb: 1) Niat dalam hati dan membasuh anggota badan dalam berwudhu. 2) Melupakan kesibukan sehari-hari dari pikiran, menyiapkan pikiran untuk berkon-sentrasi kepada Allah Swt. 3) Shalat khusyuk berdialog dengan Allah Swt. 4) Beristighfar dan bertaubat ditambah dengan berdzikir dan berdo’a memohon ampun, memohon perlindungan dan memohon berkah-Nya.

Demikianlah dapat kita pahami bahwa niat dalam shalat itu pe-rannya serupa dengan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain niat dalam hubungan ‘ubudiah itu. perannya serupa dengan disiplin dalam hubungan mu’amalah. Sehingga shalat juga merupakan dasar kedisiplinan dalam ibadah baik ‘ubudiah maupun mu’amalah.

Jika kita perhatikan lebih lanjut, sesungguhnya ibadah shalat berjamaah, dapat dijadikan acuan dalam berorganisasi secara berdisiplin. Jamaah shalat adalah sekelompok ummat Islam yang akan beribadah secara terorganisir menghadap Tuhan dipimpin salah seorang anggota kelompok sebagai Imam shalat. Karena kelompok ini pada umumnya sudah saling kenal, maka orang yang memenuhi persyaratan menjadi Imam mudah dikenal pula. Kadang-kadang kita lihat mereka saling mempersilakan. Yang merasa kurang memenuhi persyaratan, biasanya akan menolak untuk diminta menjadi Imam, dan mempersilakan kepada yang lebih memenuhi syarat.

Kalau shalat berjamaahnya sudah dimulai, maka prosesi shalat berjamaah berjalan dengan sendirinya sesuai aturannya. Makmum harus taat mengikuti imam, tidak mendahului imam dalam seluruh gerakan. Kalau imam keliru, ada tata cara menegur imam, dan kalau imam batal maka akan digantikan oleh satu orang di belakangnya. Imam memimpin shalat dengan mempertimbangkan keadaan makmum, kalau ada yang tua renta umpamanya, hendaknya imam tidak membaca surat / ayat-ayat Al-Qur’an yang terlalu panjang. Tidak ada aturan yang mengharuskan imam adalah yang fasih dan hafal membaca surat-surat yang panjang, mela-inkan yang dapat membaca dengan jelas dan melagukan dengan baik dengan suara cukup keras. Sebaiknya pula imam adalah seorang yang lebih alim dalam ilmu agama dan usianya lebih tua tetapi sehat. Begitulah tata-tertib dan disiplin dalam shalat berjamaah.

Tetapi sayang semangat musyawarah dalam menentukan Imam seperti disebutkan di atas tidak diterapkan ketika menentukan pemimoin, masyarakat. Yang terjadi justru sebaliknya, saling berebut dengan segala cara, termasuk dengan cara tidak halal.

Memang, menentukan seorang pemimpin masyarakat yang besar jumlahnya, tentu tidaklah semudah menentukan seorang Imam dalam shalat, tetapi yang perlu diambil pelajaran di sini adalah semangat bermusyawarah dengan cara memberi kesempatan mengemban amanah kepada seseorang yang layak untuk menjadi pemimpin.

Segala yang diwajibkan, yang makruh dan semua ketentuan Allah Swt maupun Sunnah Rasulullah Saw, hendaknya dipatuhi dengan tertib, diterapkan dalam setiap kegiatan kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu, maupun kehidupan bermasyarakat. Demi-kianlah bahwa sesungguhnya, shalat adalah sumber dari kedisiplinan. Namun shalat bukan hanya disiplin, melainkan juga salah satu pedo-man untuk membangun masyarakat Islami.

Harus kita akui bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ummat Islam masih ketinggalan dalam menetapi disiplin dibanding bangsa lain yang non Muslim. Mereka tentu tidak shalat dengan cara Islam, mereka juga tidak mengetahui bagaimana Islam mengajarkan ummatnya agar supaya mampu mengelola kehidupan duniawi dengan baik. Namun mereka banyak yang telah menerapkan prinsip-prinsip yang kita bahas selama ini secara konsekuen dan berdisiplin dalam kegiatan hidup bermasyarakat. Padahal mereka hanya menerapkan ayat kauniyah - sistem alam, yaitu kecenderungan manusia sendiri yang berasal dari Allah juga.

Maka kita perlu muhasabah, mengapa banyak negara termasuk Idonesia harus mengadopsi sistem manajemen dalam hal disiplin seperti Konsep 5S yang diuraikan di atas, sedangkan kita kaum Muslimin tertinggal dalam melakukan ijtihad - inovasi dalam hal kedisiplinan. Padahal shalat adalah sumber dari segala bentuk kedisiplinan, terutama disiplin karena kewajiban mematuhi ajaran Allah Swt. Jika sudah ditetapkan kewajiban shalat, maka kita harus melaksanakan shalat dengan tertib dan khusyuk. Orang yang shalatnya tidak khusyuk, tidak akan bisa berdisiplin, dan ibadah ’ubudiah itu sendiri tidak akan diterima Allah Swt.

Demikianlah kita telah membahas SP MMI. Kesepuluh prinsip tersebut harus senantiasa menjadi satu kesatuan semangat dalam kehidupan kita sehari-hari, yang dilaksanakan secara integral (ten in one). Maka sangatlah rasional jika dalam agama Islam, kita katakan bahwa semua pedoman, semua sila dan semua prinsip, semua konsep dalam Islam, berasal dari satu sumber, yakni ketaatan kita kepada Allah Swt. Peniadaan salah satunya, berarti mengurangi derajat ketaatan kita kepada-Nya, yang berarti turunnya derajat keimanan dan ketakwaan. Dengan demikian, untuk membentuk pribadi Muslim berakhlak mulia dan membangun masyarakat Islam madani, paling tidak kita bisa menyo-sialisasikan SP MMI ini sebagai salah satu pedomannya. SP MMI bukan satu-satunya cara untuk membangun masyarakat Islami, melainkan hanyalah suatu ijtihad yang merupakan salah satu sumbangan intelektual JSM di bidang sosiologi Islam untuk membangun masyarakat Islami. Sesungguhnya disiplin dalam Islam itu sendiri adalah juga salah satu pedoman untuk membangun masyarakat Islami.

Sebagai kesimpulan dari bab ini, yang sekaligus kesimpulan dari Bagian Keempat yang merupakan bahasan utama untuk membangun masyarakat Islami, adalah bahwa ummat Islam seyogyanya lebih banyak melakukan ijtihad di bidang mu’amalah untuk diterapkan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Hermanto Hs

5 komentar:

  1. Assalamu’alaikum Pak Hermanto. Saya selalu mendorong supaya Anda maju terus, karena saya tahu Anda suka menulis. Karena itu tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak melanjutkan menampilkan tulisan. Semoga Anda selalu sehat.. Wassalam. Zain Bahri.

    BalasHapus
  2. Assalamu’alaikum Dik Hermanto. Kan saya katakan kami sekeluarga setiap minggu selalu baca Al Mustaqiim. Tulisan tentang Berdisiplin di atas bagus. Penjelasan Anda tentang fatwa rokok oleh MUI, tidak ada yang keliru. Saya tidak bisa membayangkan, jika para kiyai perokok akhirnya juga mengambil hukum sendiri, melawan fatwa MUI misalnya. Lalu ke mana wajah MUI? Para kiyai tentu sudah melihat nash Al Qur’an maupun Hadis sebelum mereka merokok. Penjelasan Anda yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan, itu baik sekali. Semoga tidak ada halangan bagi Anda untuk terus menulis. Wassalam. Prawiradirja.

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum wr. wb.
    Ustadz Hermanto Harsolumakso, Ustadz Kyai Salim Alfarizi Dimyati, apa khabar? Semoga khabar baik datang dari Anda semua beserta keluarga masing-masing. Saya masih binun nih, Pemilu nanti nyontreng siapa yah? SBY bagus, mbak Mega chantique, Wiranto-Prabowo-Sutiyoso gagah semua, HBX berwibawa, Akbar kalem, Hidayat Nurwahid cantik (istrinya), weleh-weleh njur pripuun nikii? Wassalam. Kie Hoe Tan

    BalasHapus
  4. Assalamu’alaikum wr.wb. Sebenarnya saya masih penasaran dengan tulisan tentang Pemilu. Dan setelah membaca tulisan 17 tentang semangat memilih iman dalam shalat berjamaah, saya ingin menanyakan bagaimana sebaiknya sistem Pemilu yang terbaik supaya tidak terjadi manipulasi suara rakyat dalam memilih pemimpin. Terima kasih. Mohon maaf jika sekiranya pertanyaan saya berlebihan. Wassalamu’alaikum wr.wb. Zulfikar.

    BalasHapus
  5. Jawaban Editor atas komentar-komentar di atas, kamitampilkan di halaman muka.

    BalasHapus