Jumat, 13 Februari 2009

24. ZAMAN ITU SUDAH DATANG

Assalamu’alaikum wr.wb.

Terimakasih kami ucapkan kepada Ustadz Dudung Sanjaya atas komentarnya pada tanggal 11 Pebruari 09 tentang garis besar konsep ‘Pemilu dan Pilpres’. Dikemukakan antara lain sbb:

Penjelasan Editor tentang konsep Pemilu dan Pilpres bagus. Tapi kesadaran para elite bangsa yang haus kekuasaan dan kekayaan itu mungkin baru bisa berubah pada akhir zaman. Saat ini mungkin adalah zaman seperti yang digambarkan Rasulullah SAW sbb: “Akan datang suatu zaman atas manusia. Perut-perut mereka menjadi Tuhan-tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar mereka menjadi agama mereka. Kehormatan mereka tergeletak pada kekayaan mereka. Waktu itu, tidak tersisa iman sedikit pun kecuali namanya saja. Tidak tersisa Islam sedikit pun kecuali ritual-ritualnya saja. Tidak tersisa Al Qur’an sedikit pun kecuali pelajarannya saja. Masjid-masjid mereka makmur dan damai, akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi. Kalau terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekejaman para penguasa, dan sebagainya”. Demikian ustadz telah mengutip sabda Rasulullah SAW.

Menggaris bawahi antisipasi Rasulullah SAW di atas, kami melihat bahwa zaman itu telah datang, yaitu zaman ketika kemuliaan seseorang diukur berdasarkan kekayaannya. Manusia memberikan penghormatan kepada orang yang memiliki banyak kekayaan. Manusia berlomba-lomba menumpuk kekayaan untuk menunjukkan kemuliaan dan kehormatan mereka di tengah-tengah masyarakat.

Pada waktu itu, iman hanya tinggal namanya saja. Islam hanya tinggal upacara ritualnya saja. Al Qur’an hanya tinggal pelajarannya saja. Orang-orang ramai belajar Al Qur’an, tetapi tidak mencoba hidup dengan ajaran Al Qur’an. Mereka membaguskan suara bacaan Al Qur’an, tetapi tidak membaguskan akhlak mereka dengan ajaran Al Qur’an. Tanpa kita sadari, kemakmuran yang dicapai manusia selama ini lebih bersifat duniawi, dan telah mencapai puncaknya sedemikian rupa sehingga manusia yang sudah mendapatkan bimbingan Ilahi dan para rasul pun telah mendzalimi diri mereka sendiri.

Rasulullah SAW juga bersabda: "Mesjid-mesjid pada masa itu ramai. Akan tetapi, hati penghuninya kosong dari petunjuk Allah. Dalam riwayat yang lain, Nabi mengatakan bahwa orang tidak mengenal ulama kecuali karena pakaiannya yang khas, dan bukan karena ilmu serta akhlaknya. Orang tidak mengenal Al Qur’an kecuali dengan suaranya yang baik. Mereka tidak beribadah kepada Allah kecuali di bulan Ramadhan saja. Bila ulama-ulamanya sudah seperti itu, dan bila ummat Muslim hanya beramai-ramai melakukan ibadat di bulan Ramadhan saja, maka mereka akan diberi penguasa yang tidak memiliki ilmu. Tidak mempunyai kasih sayang kepada rakyatnya."

Takjub mendengarkan ucapan Rasulullah yang melukiskan keadaan zaman itu, para sahabat bertanya: "Wahai Rasul Allah, apakah mereka menyembah berhala?" Nabi menjawab: "Benar. Hanya saja berhalanya bukanlah berhala yang dipahat dalam bentuk makhluk-makhluk tertentu. Berhalanya adalah uang. Mereka menyembah, mengabdi, dan mencurahkan seluruh hidupnya untuk uangnya".

Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Nanti pada akhir zaman, ada sekelompok orang dari ummatku yang datang ke mesjid. Mereka duduk dalam barisan yang rapat. Mereka berzikir. Namun zikir mereka adalah dunia, dan kecintaan mereka terpaut pada dunia. Janganlah kamu duduk bersama mereka, karena Allah tidak berkepentingan dengan mereka"
.
Menanggapi ‘tantangan’ Ustadz Dudung Sanjaya tentang sosialisasikan dan penerapkan ijtihad kita ini, kami, menghibau kepada para pembaca yang sudah pernah membaca Al Mustaqiim, terutama kepada kami segenap pengurus paguyuban sendiri, hendaknya menerapkan secara konsekuen substansi dari konsep membangun masyarakat Islami dalam kehidupan pribadi maupun di lingkungan masyarakat.

Di zaman perut manusia menjadi Tuhan dan uang menjadi agama ini, pada umumnya orang tidak tertarik melakukan sesuatu yang tidak memberikan keuntungan materi. Namun seperti dijelaskan dalam tulisan 15, kita generasi sekarang harus bertanggungjawab untuk membangun generasi muda yang kuat karena kita telah diperingatkan Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (bodoh) …. [QS An Nisaa’ (4): 9].

Betapa berat tanggungjawab kita saat ini, selain kita harus memperbaiki diri dan lingkungan kehidupan dalam masyarakat di zaman ketika kita hidup saat ini, kita juga harus bertanggungjawab atas generasi mendatang, agar mereka menjadi manusia yang baik, bahkan lebih baik daripada kita. Kita harus berani berjihad.

Seperti disebutkan dalam tulisan 5 tentang ‘Makna Jihad dan Ijtihad’, jihad haruslah dilakukan dengan motivasi kuat yang didorong oleh niat tulus hanya untuk Allah SWT. Tanpa niat dan motivasi ini jihad sulit mencapai tujuan yang diharapkan. Meskipun jihad adalah perjuangan yang dilakukan secara fisik, perjuangan non-fisik seperti dalam mensosialisasikan dan menerapkan ijtihad kita membangun masyarakat Islami, juga termasuk jihad. Marilah kita melakukan perbaikan sekarang juga, selagi dunia belum kiamat.

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Hermanto Harsolumakso

3 komentar:

  1. Assalamu’alaikum. Sekarang memang zaman edan. Zaman dimana kekuasaan dan kekayaan menjadi rebutan. Saya setuju Pilkada langsung ditinjau kembali. Konon pemerintah mulai mengkaji ulang Pilgub langsung yang bikin ricuh. Elite politik betul-betul kurang ajar, serakah, siap menang, tidak siap kalah. Analisa dan konsep Editor cukup obyektif dalam menanggapi masalah-masalah yang sedang berkembang. Bagus. Wassalam. Anonim.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum wr.wb. Sebaiknya tulisan-tulisan Editor diterusin aja! Saya kira gak banyak orang rajin nulis komentar. Orang seperti saya misalnya, mau baca aja udah lumayan. Habis baca … ya introspeksi supaya jadi orang baik. Gitu kan? Jadi gak usah nungguin komentar. Wassalamu’alaikum wr.wb.
    Samiun.

    BalasHapus
  3. Assalamu’alaikum wr. wb. Menanggapi komentar Bapak Samiun di atas, kesempatan memberikan komentar kami maksudkan supaya: 1) Kami bisa memperbaiki diri dari kritik atau saran yang masuk. Tidak adanya kritik dan saran, tidak berarti tulisan-tulisan kami bagus. Seperti halnya Anda, mungkin banyak pembaca yang malas menulis. 2) Mengetahui apa saja yang menjadi perhatian pembaca. Dari komentar-komentar yang masuk, masalah yang saat ini sedang berkembang di masyarakat, banyak menjadi perhatian pembaca. Demikian untuk menjadikan maklum. Kami akan menampilkan tulisan baru jika tiba waktunya. Insya Allah. Wassalamu’alaikum wr.wb. Editor

    BalasHapus