Rabu, 05 Januari 2011

97. POTENSI SUKSES

Manusia diciptakan Allah yang Maha Pencipta sebagai makluk yang paling sempurna, namun manusia sering tidak manyadari betapa besar potensi yang ada pada dirinya, dan seberapa jauh kita mampu mengembangkan potensi itu untuk meraih sukses dalam hidup di dunia, sebagai bekal hidup di akhirat. Jika kita perhatikan perilaku binatang-binatang, masing-masing juga memiliki potensi untuk sukses dalam menjalani hidupnya.

Kita lihat burung, setiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya ke mana dan di mana dia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala dia pulang ke sarangnya dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan untuk anak-anaknya, tetapi terkadang makanan itu hanya cukup buat anak-anaknya, sementara dia harus berpuasa. Bahkan seringkali dia pulang tanpa membawa apa-apa untuk anak-anaknya sehingga dia dan anak-anaknya harus berpuasa.

Meskipun burung mungkin sering mengalami kekurangan makanan, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang putus-asa dan berusaha untuk bunuh diri karena keputus-asaan itu. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas, atau burung yang menenggelamkan diri ke sungai.

Kita lihat burung tetap optimis akan rezeki yang menjadi haknya. Walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Nampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup bagaikan roda berputar, suatu waktu berada di atas dan di lain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan makanan dan di lain waktu kekurangan makanan. Suatu waktu kekenyangan dan di lain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive – bertahan hidup. Dia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin dia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi dia adalah makhluk hidup juga, dan sama dengan makhluk hidup lainnya, dia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka dia akan mati. Tetapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus-asa dan frustasi untuk mencari rezeki.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi mengapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah mental daripada burung atau cacing? Banyak manusia yang putus-asa menghadapi kesulitan yang dihadapi lalu bunuh diri? Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

Selanjutnya marilah kita perhatikan apa yang dilakukan kepompong kupu-kupu. Jika kita amati dalam beberapa jam sebelumnya, kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati suatu lubang kecil, kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Seorang peneliti mencoba membantunya, peneliti itu mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, kupu-lupu itu tubuhnya menjadi gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.

Peneliti itu terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang dalam beberapa waktu. Namun semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.

Peneliti itu kemudian berkesimpulan bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil kepompong adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Sesungguhnya yang kita perlukan dalam hidup kita adalah perjuangan. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita harus mau bersusah payah dan berkorban agar kita bisa mencapai apa yang kita harapkan. Kiranya salah satu firman Allah SWT yang relevan untuk itu semua adalah: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (Al- Kaustar 108: 1-2).

Kita memohon kekuatan …. , maka Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita kuat. Kita memohon kebijakan…. dan Tuhan memberi kita persoalan untuk diselesaikan. Kita memohon kemakmuran .... dan Tuhan memberi kita otak dan tenaga untuk bekerja. Kita memohon keteguhan hati ... dan Tuhan memberi kita bahaya untuk diatasi. Kita memohon kebahagiaan dan cinta kasih... dan Tuhan memberikan kesedihan-kesedihan untuk dilewati. Kita memohon cinta .... dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk ditolong. Kita memohon kemurahan / kebaikan hati……… dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan untuk mencapainya. Kita tidak memperoleh yang kita inginkan, namun kita bisa mendapatkan segala yang kita butuhkan. Untuk itu marilah kita dirikan shalat, berjuang dan berkorban.

Setiap manusia sesungguhnya merupakan jelmaan dari sang pemenang. Setiap kita, merupakan pemenang dari kompetisi super ketat yang terjadi pada awal proses penciptaan kita. Oleh karenanya, patutlah dikatakan bahwa, setiap orang telah dibekali dan dikondisikan untuk siap menghadapi segala kondisi persaingan dan menjadi pemenang dalam persaingan tersebut.

Perhatikan Allah SWT berikut ini: ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat” (QS Al-Insaan 76: 2). Jadi setiap manusia diciptakan dari air mani, yang kemudian menjadi segumpal daging, kemudian tumbuh menjadi janin, dan akhirnya menjadi seorang bayi dan seterusnya.

Dalam proses awal penciptaan manusia, tidak kurang dari 3 juta sperma sang ayah, berlomba untuk memperebutkan tempat pertama bertemu dan melebur dengan satu-satunya sel telur sang ibu. Sel telur hanya akan menerima dan melebur dengan satu sperma saja yang paling cepat berlari dan paling pertama mencapainya. Bayangkan, dari 3 juta sperma tersebut, hanya ada satu saja yang akan menjadi pemenang dan kemudian menjadi manusia. Bahkan dalam beberapa literatur kedokteran disebutkan bahwa dalam perjalanannya menuju sel telur tidak kurang dari 50% sperma mati di tengah jalan karena kehabisan energi dan tidak kuat bersaing dengan yang lainya.

Kesimpulannya sangat jelas bahwa setiap orang, siapapun dan dengan latar belakang apapun, apakah dia anak bangsawan, raja, atau anak kaum dhuafa, sesungguhnya memiliki potensi dahsyat untuk menjadi pemenang dalam setiap kompetisi yang dijalaninya. Setiap orang berpotensi untuk menggapai sukses dalam setiap langkah hidupnya. Tidak tergantung dari keluarga seperti apa dia berasal, tidak tergantung dari sekolah / almamater mana dia berasal, tidak tergantung dari tersedianya sarana atau tidaknya dalam beraktifitas.

Semuanya tidak memiliki pengaruh berarti selama dia memiliki sikap yang positif, cara berpikir dan sikap hidup yang positif, serta keyakinan yang positif terhadap berbagai hal yang dihadapinya. Berangkat dari hal seperti ini, maka sikap malas, mudah menyerah, mementingkan diri sendiri, dan gaya hidup santai dan sebagainya akan sirna dari kehidupan seseorang. Sebaliknya, sikap rajin, tangguh, dan pantang menyerah, disiplin, mau belajar dan mau bekerja sama dengan orang lain akan selalu mengisi kehidupan kita menuju hidup yang sukses.

Siapapun makhluk yang diciptakan Allah di langit dan bumi ini memiliki karakteristik masing-masing. Jika kita kaji lebih lanjut, kita masing-masing akan menemukan unsur-unsur yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita. Setiap kita diciptakan untuk menjadi pemenang dalam kehidupan kita, meskipun tidak harus menjadi juara. Diibaratkan kompetisi sepakbola AFF 2010 yang berlangsung akhir tahun lalu, Malaysia telah keluar sebagai juara. Namun dalam tiga pertandingan antara Indonesia dengan Malaysia selama kompetisi tersebut, Indonesia memenangkan dua dari tiga kali pertandingan dengan total selisih gol 7 - 5 dan Indonesia tidak pernah kalah pada babak penyisihan grup termasuk menang 5-1 atas Malaysia. Maka pemenang sesungguhnya adalah Indonesia meskipun tidak menjadi juara karena kalah 0 - 3 dari Malaysia pada pertandingan final leg pertama, dan menang 2 - 1 atas Malaysia pada final leg kedua.

Orang-orang sukses atau berhasil mencapai kemenangan adalah mereka yang mau mendalami, mencari tahu dan mendaya-gunakan potensi masing-masing. Mereka harus fokus pada kekuatannya dan bukan pada kelemahan-nya. Kita perhatikan dua jenis burung berikut ini. Burung terkecil di dunia ini adalah burung Kolibri dan burung terbesar adalah burung Unta.

Burung Kolibri adalah burung terkecil dan teringan di dunia. Dia hanya memiliki berat sekitar 10 milligram saja. Namun, dia merupakan burung dengan kepakan sayap tercepat, yaitu sebanyak 75 kali kepakan sayap per detik dan memiliki paruh tipis panjang yang memungkinkan ia dapat menghisap madu pada bunga yang tidak mengembang.

Burung Unta, merupakan burung terbesar dengan berat bisa mencapai 150 kilogram. Tetapi dia adalah burung yang tidak bisa terbang. Di sisi lain, dia adalah burung yang dapat berlari dengan kecepatan tertinggi, yaitu mencapai 90 km / jam dengan lompatan sejauh 4 – 5 meter yang memungkinkan ia lolos dari kejaran hewan pemangsa.

Jadi apapun yang Allah ciptakan dipastikan masing-masing memiliki kekuatan. Termasuk kita manusia! Kita pasti memiliki kekuatan dahsyat di dalam diri kita. Kita harus menemukan kekuatan tersebut dan mendaya gunakannya, untuk menjadi pribadi sukses luar biasa. Perhatikanlah sikap hidup positif dari bayi. Jika kita perhatikan, bayi adalah manusia yang masih bersih dari segala pengaruh buruk lingkungan, dan mereka adalah bukti bahwa Allah telah memberikan bekal yang sama kepada setiap manusia tentang prinsip-prinsip kesuksesan.

Ketika bayi-bayi belajar duduk, puluhan kali mereka terguling dan terus terguling. Namun, mereka tidak pernah putus asa dan menyerah, tidak pernah komplain kepada lingkungan dan orang tuanya, dan mereka tidak berhenti berusaha, mencoba dan terus mencoba lagi, sampai akhirnya berhasil duduk dengan sempurna. Begitu pula ketika belajar berdiri, dan belajar berjalan, puluhan kali mereka terjatuh dan terjatuh lagi, tetapi mereka tidak pernah berhenti untuk mencoba dan mencoba lagi.

Allah Maha Besar, Dia telah memberikan pelajaran berharga kepada setiap manusia tentang prinsip-prinsip dasar kesuksesan, bahkan ketika manusia masih bayi. Billy Lim, dari Malaysia penulis buku ’Dare To Fail’, mengemukakan di dalam salah satu bukunya, suatu hasil penelitian yang menyatakan bahwa bayi rata-rata mengalami 240 kali terguling-jatuh-bangun dalam proses belajarnya tersebut.

Orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya telah menerapkan prinsip hidup; berpikir positif dan bersikap hidup positif, yang bersumber dari ajaran Islam. Mereka telah berihktiar dengan bersungguh-sungguh dalam kehidupannya, memiliki budaya kerja keras, disiplin, komitmen, mau belajar, dan yang terpenting, selalu optimis, berani mencoba, dan berani menerima kegagalan. Mereka sangat menyadari bahwa kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya, tidak akan ’turun dari langit’. Oleh karenanya, mereka mau ‘membayar harga’ kesuksesan tersebut dengan sikap hidup positif.

Rasulullah SAW bersabda: ”Janganlah salah seorang di antara kalian duduk berpangku tangan tidak mau mencari rezeki dan hanya berkata, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki’, sedangkan ia mengetahui bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.” (HR Ibnul Jauzi dari Ummar bin Khattab).

Sebagai penutup marilah kita simak firman Allah SWT berikut ini: ”Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyak-nya agar kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah 62: 10). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk berusaha bersungguh-sungguh dengan mempergunakan seluruh potensi dan kemampuan yang ada sehingga menjadi manusia yang mendapatkan keuntungan / keberhasilan, dan juga memberi pesan agar senantiasa menjaga keseimbangan antara mencari rezeki dan beribadah dengan mengingat Allah SWT melalui shalat. Kita harus siap menghadapi kesibukan hidup di dunia dengan sukses, dan diridhai oleh-Nya.

(Hermanto Hs)

5 komentar:

  1. Kemenangan Indonesia atas Malaysia memang sesuai potensi kekuatan dan perjuangan gigih yang telah mereka lakukan.

    BalasHapus
  2. Kalau boleh bertanya; bagaimana pendapat ustadz tentang istighotsah yang dilakukan menjelang final AFF yang lalu?

    BalasHapus
  3. Manusia harus tahu diri, tidak meminta hal-hal yang remeh. Manusia harus yakin keputusan Allah pasti yang terbaik.

    BalasHapus
  4. Nah, para kiyai yang menyelenggarakan istighotsah dan pengurus PSSI harus tahu diri tuh. Konon sepatu pemain Timas Okto - yang non Muslim, hilang dicuri, sehingga dia kembali ke bus dengan kaki telanjang. Siapa yang mencuri? Tidak tahu malu!

    BalasHapus
  5. Bukan pencuri sepatu saja yang tidak tahu malu, pengurus PSSI juga tidak tahu malu, maunya terus mempertahankan kekuasaan untuk meraih kekayaan pribadi, sedangkan prestasi sepakbola kita selama ini selalu buruk. Kemenangan di AFF memang benar, meski tidak juara, tapi kemenangan itu bukan berarti prestasi kerja bagus dari pengurus PSSI, hanya akal-akalan naturalisasi pemain yang dipoles oleh pelatih asing.

    BalasHapus