Sabtu, 15 Januari 2011

98. FENOMENA ALAM MENURUT SAINS DAN Al-QUR’AN

Kita pernah membahas gempa bumi dan erupsi gunung antara lain pada tulisan 95 / Bencana Alam / 15-12-10. Dalam tulisan kali ini kita akan membahas fenomena alam seperti gempa bumi, erupsi gunung dan lainnya menurut kacamata ilmu pengetahuan (sains) dan Al-Qur’an. Dengan bahasan ini kita bisa membuktikan satu kenyataan pasti bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang di dalamnya berisi informasi yang semuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah dan informasi mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat kita ketahui pada masa lalu, telah dinyatakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an lebih dari 14 abad yang lalu. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan sains dan teknologi masa itu. Ini merupakan bukti nyata bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan manusia.

Al-Qur’an adalah kalam Ilahi Yang Maha Suci dan Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dia-lah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Allah SWT berfirman: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An-Nisaa’ 4: 82). Al-Qur’an tidak hanya bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandungnya semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari.



Dari gempa bumi dan erupsi gunung berapi yang tengah melanda negeri kita ini, marilah kita mengambil beberapa hikmahnya. Mengapa mesti ada gempa bumi dan erupsi gunung? Para ahli geologi telah mengetahui bahwa yang berpengaruh besar dalam sejarah pembentukan bumi adalah munculnya rangkaian gunung. Munculnya relief gunung mempengaruhi keseimbangan lautan dan benua, menghilangkan beberapa bagian bumi yang tinggi dan menumbuhkan bagian-bagian yang baru.

Al-Qur’an telah menyebutkan fakta-fakta sain yang baru belakangan ditemukan oleh para ahli ilmuwan terkemuka. Ini membuktikan tanpa keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata harfiah dari Allah SWT, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan sekaligus membuktikan bahwa Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. Tidak mungkin seseorang dari 14 abad yang lalu mengetahui fakta-fakta yang baru saja ditemukan oleh manusia menggunakan peralatan modern serta metode-metode yang canggih.

Di antara sekian banyak fakta ilmu pengetahuan yang kini telah ditemukan oleh para ahli, salah satunya adalah tentang fenomena alam. Beberapa ilmuwan Barat maupun Timur belakangan telah meyakini bahwa segala fenomena yang telah terjadi di alam ini, dan setelah melalui berbagai macam penelitian mendalam dan menghabiskan waktu bertahun-tahun, ternyata telah dikemukakan jauh sebelumnya dalam Kitab Al-Qur’an melalui seseorang bernama Muhammad sang utusan Allah. Prof. R. Bosworth Smith, pengarang buku Mohammed and Mohammeddanism menyatakan: “Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat dengan keaslian gaya, kebijakan dan kebenaran.”

Al-Qur’an telah mengabarkan: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya?” (QS Al-Anbiyaa’ 31: 30). Prof. Alfred Kroner, guru besar Geologi dan Kepala Departemen Geologi Universitas Johannes, Guttenburg, Jerman, mengatakan bahwa para ilmuwan baru menyimpulkan fenomena itu beberapa tahun terakhir dengan menggunakan metode teknologi maju dan canggih bahwa alam raya ini mula-mula berasal dari suatu kesatuan yang tunggal. Alfred Kroner pun mengemukakan kekagumannya atas apa yang telah digambarkan Al-Qur’an itu.

Sehubungan dengan laut dan samudra, Prof. William Hay, Geolog Universitas Colorado, Amerika Serikat, mengatakan bahwa tubuh air tidaklah merupakan laut yang homogen, akan tetapi mereka merupakan laut-laut yang berbeda, yang dibedakan dari derajat keasinan / kadar garam, suhu dan kerapatannya yang masing-masing tidak bercampur satu dengan yang lain. Rupanya teori ini telah dikemukakan dalam Al-Qur’an ketika belum ditemukan teknologi canggih untuk dapat melihat bahwa air laut itu heterogen. Al-Qur’an mejelaskan: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS Ar-Rahmaan 55: 19-20).

Bukan itu saja Prof. Yves Costeau dari Peransis dengan jelas menyatakan ada air tawar di laut. Kemudian dia menemukan ayat Al-Qur’an: Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqaan 25: 53). Dan gara-gara inilah dia kemudian masuk Islam.

Al-Qur’an dengan keajaibannya juga telah menguak tabir tentang bagaimana terjadinya hujan dan petir. Dalam satu ayat: “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. An-Nur 24 : 43).

Para ahli meteorologi telah mempelajari dengan seksama bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana mereka menghasilkan hujan, hujan es dan kilat. Semua itu terjadi melalui tiga tahapan, yaitu: Awan terdorong oleh angin sehingga terbentuk awan cumulonimbus, bergabung menjadi awan yang lebih besar, dan terjadi penumpukan. Ahli meteorologi juga telah menemukan awan-awan itu yang bisa menimbulkan hujan es, dapat mencapai ketinggian 25.000 sampai 30.000 kaki, seperti gunung-gunung, dan ini juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Di sisi lain Prof. Siaveda, ahli geologi kelautan di Jepang mengungkapkan: “Gunung-gunung itu terpancang demikian kuat di bumi, mereka menembus jauh ke dalamnya mempunyai akar (seperti pasak). Baik pegunungan darat dan laut sama-sama memiliki akar untuk menyangga mereka. Gunung-gunung yang hanya muncul sebagian kecilnya saja di atas permukaan bumi baik lautan maupun daratan. Bumi ini juga memiliki fungsi amat signifikan untuk menstabilkan ‘kulit bumi’. Telah terbukti bahwa yang paling mendasar dari perubahan geologi adalah ‘lipatan’ bumi yang asalnya dari rangkaian gunung. Lipatan tanah ini mengambil ’tempat duduk’ di atas relief, dan dimensinya berbeda-beda, sampai beberapa kilometer bahkan beberapa puluh kilometer. Dari fenomena lipatan inilah kulit bumi menjadi stabil.

Sekitar 1500 tahun yang lalu sebelum para ahli mengetahui, keterangan tentang terpancangnya gunung-gunung sebagai pasak yang menstabilkan bumi telah ditegaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

”Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi (permukaan) supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang-biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS Luqman 31: 10).

”Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya Bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS Al-Anbiya 21: 31).

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? " (QS An-Nabaa’ 78: 6-7).

Bisa dibayangkan tanpa adanya gunung yang erupsi, maka bumi yang di dalamnya ada magma yang sangat panas, pasti bumi akan selalu berguncang hebat bahkan hancur berantakan. Pergeseran bumi pada lipatan bumi adalah elastisitas kulit bumi yang menyikapi menggelegarnya isi bumi. Bahkan dalam Al-Qur’an digambarkan gunung (yang merupakan dataran tinggi sehingga berbentuk pulau di daratan) berjalan seperti jalannya awan yang menunjukkan elastisitas kulit bumi.

Tentang hal itu Allah SWT berfirman: ”Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An-Naml 27: 88).

Dengan memahami hal-hal tersebut di atas, insya Allah kita akan memaklumi setiap musibah gempa dan gunung yang erupsi. Alam ini tidak berjalan dengan sendirinya, semuanya atas kehendak Allah, dan Dia telah berbuat yang terbaik untuk manusia, sebagaimana firman-Nya: ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2: 216).

Kita bisa membayangkan, bagaimana komentar masyarakat jahiliyah saat itu yang mendapat ayat-ayat tersebut, mereka mengatakan Rasulullah Muhammad SAW sebagai orang gila, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: ”Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur'an dan mereka berkata: "Sesungguhnya ia (Muhammad) bena-benar orang yang gila". (QS Al-Qalam 68: 51).

Al-Qur’an benar-benar akan menjadi mukjizat bagi manusia modern, karena berbagai misteri di dalamnya akan banyak bukti seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS Fushshilat 41: 53).

Tetapi banyak manusia yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an tetapi tidak berpengaruh bagi keimanan mereka, karena hatinya keras membatu. "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah se-kali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Baqarah 2: 74).

Dan Allah menyindir manusia yang demikian bahwa gunung pun punya perasaan dan rasa takut kepada Allah dalam firman-Nya: ”Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al-Hasyr 59: 21).

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa tidak ada satu huruf pun yang bisa ditambahkan di dalam Al-Qur’an dan tidak ada satu huruf pun yang bisa dikurangi dari Al-Qur’an. Bahkan tidak ada satu titik pun yang boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Apabila ada orang yang mencoba melakukan perubahan terhadap Al-Qur’an niscaya akan diketahui dengan mudah. Karena begitu banyak para penghafal Al-Qur’an dari masa ke masa. Dan tidak ada satu kitab pun yang ada di dunia ini yang abadi seperti abadinya Al-Qur’an.

Semoga Allah SWT memberikan hikmah kepada kita seperti dinyatakan dalam firman-Nya. ”Allah menganugrahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi hikmah itu, ia benar-banar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al Baqarah 2: 269).

(Salim A Dimyati)

2 komentar:

  1. Biasanya setiap ada penemuan baru, para cendekia Muslim cepat-cepat menanggapi bahwa Al-Qur’an sejak lama, sejak sekian abad, telah menyatakan hal itu, Al-Qur’an mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya, dan sebagainya. Hal itu bisa ditafsirkan sebagai kompensasi perasaan rendah diri, yang hanya menunjukkan kelemahan ummat Islam saat ini. Memang, mengingat kejayaan lama kadang-kadang dapat merupakan pendorong untuk maju ke depan. Tetapi kita juga harus berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari sikap demikian yang dapat membekukan pemikiran. Waspadalah!

    BalasHapus
  2. Perlu Anda catat bahwa maksud penulis mengangkat tulisan itu hanya sebatas menginformasikan materi judul tulisannya. Selama ini kita lebih sering mengkaitkan fenomena alam seperti gempa bumi dan erupsi gunung sebagai peringatan atau ujian dari Allah SWT. Komentar Anda di atas benar. Memang tulisan itu bisa mengundang komentar bermacam-macam antara lain seperti Anda katakan sebagai kompensasi perasaan rendah diri. Mungkin ada pula yang berkomentar bahwa mengingat kejayaan lama merupakan obat bius yang hanya bisa meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi tidak bisa menyembuhkan penyakit itu. Ucapan itu hanya sekedar jawaban sesaat terhadap ketinggalan kita dari bangsa lain yang bukan Muslim.

    BalasHapus