Kamis, 29 Januari 2009

20. PEMILU

Assalamu'alaikum wr.wb.

Menjawab pertanyaan Bapak Zulfikar tentang Pemilu, kami jelaskan bahwa Pemilu, yang lazim disebut ‘pesta demokrasi’, sesungguhnya bukan berasal dari Islam, melainkan dari Barat, atas dasar kelompok mana / siapa yang kuat, mereka / dialah yang berhak mewakili rakyat atau memimpin bangsa. Dalam praktek di Indonesia, demokrasi membuka peluang terjadinya manipulasi suara rakyat, karena yang menentukan sebenarnya bukanlah rakyat, melainkan sekelompok orang yang yang menguasai massa. Banyaknya Parpol peserta Pemilu juga menunjukkan femomena tersebut. Dalam tulisan 10 tentang kejujuran dan integritas, yaitu prinsip ke-3 Membangun Masyarakat Islami (MMI), Machiavelli menyebutkan bahwa untuk menguasai massa, senjata paling ampuh adalah berbohong. Hal ini nampaknya berlaku juga di Indonesia. Sehingga demokrasi hanyalah merupakan ajang adu kekuatan antar mereka yang menguasai massa.

Karena dalam kaitan memilih pemimpin, bangsa Indonesia sudah sepakat untuk memilih jalan demokrasi, maka mematuhi kesepakatan adalah wajib, dan ini merupakan prinsip ke-5 MMI. Jadi Pemilu harus dilaksanakan sesuai UU Pemilu yang telah disepakati bersama (hasil tarik ulur yang melelahkan). Hanya saja, yang membuat masalah adalah mereka yang berkompetisi dalam Pemilu. Hal ini disebabkan karena mereka kurang memiliki rasa bertanggungjawab terhadap kepentingan bersama (prinsip ke-4 MMI). Moral dan etika (prinsip ke-2 MMI) seperti ini harus diperbaiki. Demikian jawaban kami.

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Hermanto Harsolumakso

1 komentar: