Penghargaan terhadap lingkungan untuk menjaga
kelestarian dan kebersihannya sangat dianjurkan dalam Islam. Semua upaya kita
yang sungguh-sungguh untuk hidup sehat akan tidak berarti manakala lingkungan
dan ekosistem tempat kita idup tercemar oleh najis dan kotoran yang tidak
sehat.
Islam merupakan risalah kolektif, semua perintah dan larangannya sering merupakan tuntutan dalam hal kebersamaan (jama’ah). Ajaran-ajaran sederhana perintah Rasulullah seperti: “Jangan sekali-sekali seseorang dari kamu kencing di dalam air yang berhenti, tidak mengalir, lalu ia mandi di dalamnya.” (Abu Hurairah Ra). Begitu pula sebuah hadis yang berbunyi: “Tanamlah sebuah pohon, meski engkau tahu besok adalah Hari Kiamat.” Petunjuk-petunjuk di atas sangat berperan dalam menciptakan suasana yang sehat.
Tauhid seseorang akan tercermin dalam sikapnya terhadap lingkungan sekitarnya. JIka lingkungan diperkosa, alam dijarah, bumi dieksploitasi semaunya, maka itu pertanda nyata dari bentuk kekufuran.
Manusia Bertugas Menjaga Keharmonisan Alam
Fungsi dan tugas utama manusia adalah berperan sebagai khalifah di atas bumi. Karena fungsinya sebagai khalifah atau ‘manager’, manusia bertugas menjaga keharmonisan alam sesuai dengan garis-garis besar haluan yang diperintahkan Tuhan dan moralitas kemanusiaan. Seorang Astrofisikawan Muslim Perancis bernama Dr. Bruno Guiderdoni mengatalan: “Konsep kekhalifahan manusia tidak menempatkan manusia berada di atas penciptaan, tapi berlokasi di pusatnya. Dan menjadi tugas yang teramanatkan atas nama Tuhan, kita manusia berfungsi sebagai ‘penjaga kebun yang baik’. Kita bertanggungjawab atas ciptaan dan tidak diperkenankan mengubahnya semau kita.”
Umar bin Khattab Ra pernah memerintahkan tentaranya berpindah dari suatu tenda hanya karena di tenda tersebut telah bersarang seekor induk burung yang akan menetaskan anaknya. Pahlawan-pahlawan lingkungan pun sangat dihormati dalam Islam. Diceritakan dalam sebuah hadits, seorang berkulit hitam yang dulunya menjadi seorang pembersih masjid meninggal dunia. “Suatu hari Nabi mengingatnya dan bertanya, ada apa dengan orang (yang selalu membersihkan masjid). Para Sahabat menjawab, ‘Ya Rasulullah, ia telah meninggal dunia’, Nabi mengatakan ‘mengapa kalian tidak memberi tahu saya?’. Para Sahabat menjawab, ‘Sudah lama sekali’. Nabi berkata ‘Tunjukkan kuburannya pada saya’. Dan Nabi pun melakukan do’a pada jenazah.” (HR Al-Bukhari). Betapa dimuliakan orang itu oleh Nabi, meski ia hanya orang berkulit hitam dan rakyat jelata..
Allah telah memberikan akal kepada manusia untuk mempelajari, menggali dan mengelola sumber daya alam guna kemashlahatan manusia. Namun karunia dari Allah tersebut bukan tanpa batas untuk dikembangkan.
Ketika alam dimanipulasi dan dieksploitasi dengan melanggar kodratnya, maka bencana demi bencana akan menimpa menusia itu sendiri. Tuhan telah memaklumkan peringatan tersebut:“ Telah sampai kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum 30: 41).
Misalnya, pada kasus mengubah pola makan hewan ternak yang akan diambil dagingnya untuk bahan makanan. Sapi yang asalnya merupakan hewan herbivora (pemakan rumput), kemudian ‘direkayasa’ menjadi carnivora (pemakan daging) dengan memberinya jeroan, atau daging hewan mati dengan tujuan kelak dari ternak tersebut diperoleh daging yang lebih banyak. Namun yang terjadi, hal tersebut malah menimbulkan penyakit Bovine Spongiform Encephalitis atau dikenal juga dengan penyakit ‘sapi gila’. Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa menular kepada manusia yang mengkonsumsinya.
Dari berbagai tayangan di media, diketahui orang kini tega membuat adonan kerupuk dicampur dengan plastik untuk memperoleh hasil gorengan yang renyah dan tidak mudah melempem, atau mendaur ulang daging dari sisa sampah restoran, dan hal-hal aneh yang tidak terbayang betapa ada orang yang mau berbuat demikian. Hal tersebut kelak menimbulkan bencana biologis karena akumulasi toksin atau hormoni berlebih yang bisa menyebabkan retardasi mental pada anak-anak di masa pertumbuhan, menimbulkan penyakit osteoporosis pada orang dewasa, bahkan menimbulkan resistensi antibiotik yang menyebabkan infeksi sulit bahkan tidak bisa disembukan dengan pemberian antibiotik yang patent, serta seluruh malapetaka bagi rantai generasi selanjutnya.
Al-Qur’an menegaskan: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan ummat-ummat (juga) seperti kamu.” (QS Al-An’aam 6: 38). Nabi mengatakan bahwa: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR Ahmad dan Muslim). Konsep tetangga itu bisa luas sekali; mencakup tetangga dalam kaitan lingkungan tempat tinggal kita, tetangga dalam hubungan publik atau tempat bekerja, maupun tetangga dengan sesama mahluk yang berlainan spesies.
Di alam semesta ini, hanya spesies manusia saja yang bisa merusak ekosistem. Hanya spesies homo sapiens saja yang tega membantai sesama saudaranya atas dasar hal-hal yang sepele.
Menyiapkan Generasi Cerdas Peduli Lingkungan
Merindukan masyarakat yang Islami adalah dambaan dari setiap Muslim, di mana masyarakatnya menjunjung tinggi kebersamaan, kebersihan menjadi suasana sehari-hari, disiplin merupakan bagian dalam segala tugas dan pekerjaan, menghormati sesama dan menghargai orang lain demi menjaga keharmonisan bertetangga dan menjaga persatuan, serta tetap hormat kepada orang tua.
Di samping upaya kita memahami dan menjaga kondisi lingkungan demi kelestarian dan kelangsungannya, maka generasi baru sejak usia dini harus mulai dididik untuk sadar atas tanggungjawabnya terhadap lingkungan. Upaya ini bukan hanya pemberian pengetahuan dan perlakuan terhadap alam lingkungan, namun juga mempersiapkan mental dan kecerdasannya, semua didasarkan atas kewajiban orang tua terhadap anak.
Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim 66: 6).
Dalam ayat tersebut diperintahkan memelihara keluarga dari api neraka. Hal ini dilakukan dengan menaati Allah dan untuk taat kepada Allah ini, wajib mengetahui caranya, dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa belajar. Ketika anak merupakan anggota keluarga, maka ayat tersebut menjadi ‘dalil’ bahwa orang tua wajib untuk mengajar, mendidik, membimbing dan mengarahkan anaknya, ke jalan yang baik, juga agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya; serta wajib untuk menjauhkan diri dari kekufuran dan perbuatan dosa, juga dari kerusakan di muka bumi, serta kejahatan, agar anak terhindar dari api neraka.
Salah satu implementasi ayat tersebut adalah menyiapkan generasi baru sejak usia dini agar sadar dan yakin perlunya menjaga lingkungan dan kelestarian alam. Dari beberapa pengalaman yang diperoleh dari negara lain dapat dijadikan cermin akan hal-hal seperti di atas.
Jepang Negeri Non Muslim Yang Islami
Di Jepang, suatu pola kehidupan di mana orang-orang yang ada di dalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan, melekatnya tanggungjawab dan rasa malu, kebersihan dan kenyamanan lingkungan, keamanan publik dan ketertiban lalu-lintas, keramahan, kebersamaan, kreatifitas, kerja keras, kecintaan yang dalam pada lingkungan alam, seni, dan pengetahuan. Sesuatu nilai-nilai yang sesungguhnya didambakan semua manusia dan bersifat ‘Islami’.
Menurut Dr. Ade Hasman, yang pernah bertugas di Onomichi General Hospital, Hiroshima. Jepang, menyatakan bahwa di sana tidak (jarang) ditemui kasus infeksi tropik. Hal tersebut disebabkan tradisi higienis mereka yang terawat sempurna. Orang Jepang umumnya setiap selesai makan langsung menyikat giginya. Kebersihan tercermin dari tidak terlihatnya sampah-sampah berserakan di tempat umum. Bahkan tak terlihat adanya lalat, kecoa, dan serangga yang bereputasi sebagai vektor penyakit tersebut. Mungkin kedua spesies itu memang tidak dapat hidup di Jepang.
Lingkungan di sekitarnya menyediakan ruang untuk rekreasi warganya yang nyaman dan jauh dari polusi. Meskipun kota-kota di Jepang berjulukan kawasan industri dan padat dengan kendaraan bermotor, namun udara tetap bersih dan segar untuk dihirup sebagaimana udara pegunungan. Dengan udara yang segar demikian, orang-orang bebas melakukan olah raga kapan saja, pagi, siang atau malam hari.
Suasana bertambah kondusif dengan keamanan yang sempurna dalam berlalu-lintas. Para manula yang terlihat bugar banyak berseliweran mengendarai sepeda atau menggunakan tongkat di jalanan dengan leluasa. Kendaraan melaju dengan tertib, tidak terlihat kejar-kejaran brutal atau saling potong lintasan ataupun parade bunyi klakson. Apabila pejalan kaki atau sepeda akan menyeberang jalan, maka spontan mobil-mobil akan berhenti dengan sendirinya, memberi kesempatan kepada mereka.
Seorang anak kecil dengan yakin menyeberang jalan di zebra-cross pada saat lampu hijau tanda menyeberang menyala. Hal ini menunjukkan telah terciptanya kepercayaan yang sangat tinggi terhadap sistem lalu-lintas yang sudah dimulai sejak usia dini. Kondisi tersebut tidak akan terjadi tanpa berjalannya sistem tersebut, yang dimulai dari pendidikan di bangku sekolah, penegakan peraturan maupun perilaku para penggunanya.
Mengapa Orang Yahudi Rata-Rata Pintar
Contoh berikut berupa informasi dari terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset, Amerika Serikat tentang penelitian yang dilakukan oleh Dr. Stephen Carr Leon. Penelitian Dr Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang-orang Yahudi.
Mengapa orang Yahudi, rata-rata pintar? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut: Ternyata, apabila seorang Yahudi hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Bukan itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya.
Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih di dalam kandungan. Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayinya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (cod liver oil).
Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan, karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging, hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja. Mereka yang memiliki anak-anak, selalu memprioritaskan untuk menganjurkan makan buah dulu, baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Yang istimewa lagi adalah: Di Israel, merokok itu tabu!
Contoh di atas, menunjukan bahwa di negeri-negeri bukan Muslim, menyiapkan generasi muda juga merupakan suatu keniscayaan dan dilakukan secara sistematis, yang pada hakikatnya menyiapkan generasi penerus atas tanggung jawabnya mengelola sumber daya alam melalui kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Dari kacamata ajaran Islam, mempersiapkan generasi dengan hal yang baik dan bermanfaat bagi ummat manusia berarti melaksanakan kewajiban orang tua menjauhkan keluarga dari api neraka.
Islam merupakan risalah kolektif, semua perintah dan larangannya sering merupakan tuntutan dalam hal kebersamaan (jama’ah). Ajaran-ajaran sederhana perintah Rasulullah seperti: “Jangan sekali-sekali seseorang dari kamu kencing di dalam air yang berhenti, tidak mengalir, lalu ia mandi di dalamnya.” (Abu Hurairah Ra). Begitu pula sebuah hadis yang berbunyi: “Tanamlah sebuah pohon, meski engkau tahu besok adalah Hari Kiamat.” Petunjuk-petunjuk di atas sangat berperan dalam menciptakan suasana yang sehat.
Tauhid seseorang akan tercermin dalam sikapnya terhadap lingkungan sekitarnya. JIka lingkungan diperkosa, alam dijarah, bumi dieksploitasi semaunya, maka itu pertanda nyata dari bentuk kekufuran.
Manusia Bertugas Menjaga Keharmonisan Alam
Fungsi dan tugas utama manusia adalah berperan sebagai khalifah di atas bumi. Karena fungsinya sebagai khalifah atau ‘manager’, manusia bertugas menjaga keharmonisan alam sesuai dengan garis-garis besar haluan yang diperintahkan Tuhan dan moralitas kemanusiaan. Seorang Astrofisikawan Muslim Perancis bernama Dr. Bruno Guiderdoni mengatalan: “Konsep kekhalifahan manusia tidak menempatkan manusia berada di atas penciptaan, tapi berlokasi di pusatnya. Dan menjadi tugas yang teramanatkan atas nama Tuhan, kita manusia berfungsi sebagai ‘penjaga kebun yang baik’. Kita bertanggungjawab atas ciptaan dan tidak diperkenankan mengubahnya semau kita.”
Umar bin Khattab Ra pernah memerintahkan tentaranya berpindah dari suatu tenda hanya karena di tenda tersebut telah bersarang seekor induk burung yang akan menetaskan anaknya. Pahlawan-pahlawan lingkungan pun sangat dihormati dalam Islam. Diceritakan dalam sebuah hadits, seorang berkulit hitam yang dulunya menjadi seorang pembersih masjid meninggal dunia. “Suatu hari Nabi mengingatnya dan bertanya, ada apa dengan orang (yang selalu membersihkan masjid). Para Sahabat menjawab, ‘Ya Rasulullah, ia telah meninggal dunia’, Nabi mengatakan ‘mengapa kalian tidak memberi tahu saya?’. Para Sahabat menjawab, ‘Sudah lama sekali’. Nabi berkata ‘Tunjukkan kuburannya pada saya’. Dan Nabi pun melakukan do’a pada jenazah.” (HR Al-Bukhari). Betapa dimuliakan orang itu oleh Nabi, meski ia hanya orang berkulit hitam dan rakyat jelata..
Allah telah memberikan akal kepada manusia untuk mempelajari, menggali dan mengelola sumber daya alam guna kemashlahatan manusia. Namun karunia dari Allah tersebut bukan tanpa batas untuk dikembangkan.
Ketika alam dimanipulasi dan dieksploitasi dengan melanggar kodratnya, maka bencana demi bencana akan menimpa menusia itu sendiri. Tuhan telah memaklumkan peringatan tersebut:“ Telah sampai kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum 30: 41).
Misalnya, pada kasus mengubah pola makan hewan ternak yang akan diambil dagingnya untuk bahan makanan. Sapi yang asalnya merupakan hewan herbivora (pemakan rumput), kemudian ‘direkayasa’ menjadi carnivora (pemakan daging) dengan memberinya jeroan, atau daging hewan mati dengan tujuan kelak dari ternak tersebut diperoleh daging yang lebih banyak. Namun yang terjadi, hal tersebut malah menimbulkan penyakit Bovine Spongiform Encephalitis atau dikenal juga dengan penyakit ‘sapi gila’. Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa menular kepada manusia yang mengkonsumsinya.
Dari berbagai tayangan di media, diketahui orang kini tega membuat adonan kerupuk dicampur dengan plastik untuk memperoleh hasil gorengan yang renyah dan tidak mudah melempem, atau mendaur ulang daging dari sisa sampah restoran, dan hal-hal aneh yang tidak terbayang betapa ada orang yang mau berbuat demikian. Hal tersebut kelak menimbulkan bencana biologis karena akumulasi toksin atau hormoni berlebih yang bisa menyebabkan retardasi mental pada anak-anak di masa pertumbuhan, menimbulkan penyakit osteoporosis pada orang dewasa, bahkan menimbulkan resistensi antibiotik yang menyebabkan infeksi sulit bahkan tidak bisa disembukan dengan pemberian antibiotik yang patent, serta seluruh malapetaka bagi rantai generasi selanjutnya.
Al-Qur’an menegaskan: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan ummat-ummat (juga) seperti kamu.” (QS Al-An’aam 6: 38). Nabi mengatakan bahwa: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR Ahmad dan Muslim). Konsep tetangga itu bisa luas sekali; mencakup tetangga dalam kaitan lingkungan tempat tinggal kita, tetangga dalam hubungan publik atau tempat bekerja, maupun tetangga dengan sesama mahluk yang berlainan spesies.
Di alam semesta ini, hanya spesies manusia saja yang bisa merusak ekosistem. Hanya spesies homo sapiens saja yang tega membantai sesama saudaranya atas dasar hal-hal yang sepele.
Menyiapkan Generasi Cerdas Peduli Lingkungan
Merindukan masyarakat yang Islami adalah dambaan dari setiap Muslim, di mana masyarakatnya menjunjung tinggi kebersamaan, kebersihan menjadi suasana sehari-hari, disiplin merupakan bagian dalam segala tugas dan pekerjaan, menghormati sesama dan menghargai orang lain demi menjaga keharmonisan bertetangga dan menjaga persatuan, serta tetap hormat kepada orang tua.
Di samping upaya kita memahami dan menjaga kondisi lingkungan demi kelestarian dan kelangsungannya, maka generasi baru sejak usia dini harus mulai dididik untuk sadar atas tanggungjawabnya terhadap lingkungan. Upaya ini bukan hanya pemberian pengetahuan dan perlakuan terhadap alam lingkungan, namun juga mempersiapkan mental dan kecerdasannya, semua didasarkan atas kewajiban orang tua terhadap anak.
Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim 66: 6).
Dalam ayat tersebut diperintahkan memelihara keluarga dari api neraka. Hal ini dilakukan dengan menaati Allah dan untuk taat kepada Allah ini, wajib mengetahui caranya, dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa belajar. Ketika anak merupakan anggota keluarga, maka ayat tersebut menjadi ‘dalil’ bahwa orang tua wajib untuk mengajar, mendidik, membimbing dan mengarahkan anaknya, ke jalan yang baik, juga agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya; serta wajib untuk menjauhkan diri dari kekufuran dan perbuatan dosa, juga dari kerusakan di muka bumi, serta kejahatan, agar anak terhindar dari api neraka.
Salah satu implementasi ayat tersebut adalah menyiapkan generasi baru sejak usia dini agar sadar dan yakin perlunya menjaga lingkungan dan kelestarian alam. Dari beberapa pengalaman yang diperoleh dari negara lain dapat dijadikan cermin akan hal-hal seperti di atas.
Jepang Negeri Non Muslim Yang Islami
Di Jepang, suatu pola kehidupan di mana orang-orang yang ada di dalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan, melekatnya tanggungjawab dan rasa malu, kebersihan dan kenyamanan lingkungan, keamanan publik dan ketertiban lalu-lintas, keramahan, kebersamaan, kreatifitas, kerja keras, kecintaan yang dalam pada lingkungan alam, seni, dan pengetahuan. Sesuatu nilai-nilai yang sesungguhnya didambakan semua manusia dan bersifat ‘Islami’.
Menurut Dr. Ade Hasman, yang pernah bertugas di Onomichi General Hospital, Hiroshima. Jepang, menyatakan bahwa di sana tidak (jarang) ditemui kasus infeksi tropik. Hal tersebut disebabkan tradisi higienis mereka yang terawat sempurna. Orang Jepang umumnya setiap selesai makan langsung menyikat giginya. Kebersihan tercermin dari tidak terlihatnya sampah-sampah berserakan di tempat umum. Bahkan tak terlihat adanya lalat, kecoa, dan serangga yang bereputasi sebagai vektor penyakit tersebut. Mungkin kedua spesies itu memang tidak dapat hidup di Jepang.
Lingkungan di sekitarnya menyediakan ruang untuk rekreasi warganya yang nyaman dan jauh dari polusi. Meskipun kota-kota di Jepang berjulukan kawasan industri dan padat dengan kendaraan bermotor, namun udara tetap bersih dan segar untuk dihirup sebagaimana udara pegunungan. Dengan udara yang segar demikian, orang-orang bebas melakukan olah raga kapan saja, pagi, siang atau malam hari.
Suasana bertambah kondusif dengan keamanan yang sempurna dalam berlalu-lintas. Para manula yang terlihat bugar banyak berseliweran mengendarai sepeda atau menggunakan tongkat di jalanan dengan leluasa. Kendaraan melaju dengan tertib, tidak terlihat kejar-kejaran brutal atau saling potong lintasan ataupun parade bunyi klakson. Apabila pejalan kaki atau sepeda akan menyeberang jalan, maka spontan mobil-mobil akan berhenti dengan sendirinya, memberi kesempatan kepada mereka.
Seorang anak kecil dengan yakin menyeberang jalan di zebra-cross pada saat lampu hijau tanda menyeberang menyala. Hal ini menunjukkan telah terciptanya kepercayaan yang sangat tinggi terhadap sistem lalu-lintas yang sudah dimulai sejak usia dini. Kondisi tersebut tidak akan terjadi tanpa berjalannya sistem tersebut, yang dimulai dari pendidikan di bangku sekolah, penegakan peraturan maupun perilaku para penggunanya.
Mengapa Orang Yahudi Rata-Rata Pintar
Contoh berikut berupa informasi dari terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset, Amerika Serikat tentang penelitian yang dilakukan oleh Dr. Stephen Carr Leon. Penelitian Dr Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang-orang Yahudi.
Mengapa orang Yahudi, rata-rata pintar? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut: Ternyata, apabila seorang Yahudi hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Bukan itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya.
Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih di dalam kandungan. Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayinya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (cod liver oil).
Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan, karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging, hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja. Mereka yang memiliki anak-anak, selalu memprioritaskan untuk menganjurkan makan buah dulu, baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Yang istimewa lagi adalah: Di Israel, merokok itu tabu!
Contoh di atas, menunjukan bahwa di negeri-negeri bukan Muslim, menyiapkan generasi muda juga merupakan suatu keniscayaan dan dilakukan secara sistematis, yang pada hakikatnya menyiapkan generasi penerus atas tanggung jawabnya mengelola sumber daya alam melalui kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Dari kacamata ajaran Islam, mempersiapkan generasi dengan hal yang baik dan bermanfaat bagi ummat manusia berarti melaksanakan kewajiban orang tua menjauhkan keluarga dari api neraka.
(Bahan-bahan
bacaan antara lain dari buku ‘Rasulullah Tak Pernah Sakit’, Penulis: Dr. Ade
Hashman, Penerbit: Hikmah, 2009 dan Pusat Berita dan Informasi Palestina http://knrp/wp/mengapa-orang yahudi-rata-rata-pintar}
Mohammad Kamal
No.205
Tidak ada komentar:
Posting Komentar