Selasa, 26 November 2013

BENCANA ALAM; UJIAN, COBAAN ATAU AZAB?

Kita semua menyaksikan akhir-akhir ini planet bumi kita  kembali tertimpa bencana alam (selanjutnya disingkat ‘bencana’) yang datang beruntun. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, angin ribut, banjir, kekeringan di Indonesia, sampai bencana angin ribut di Filipina - yang menewaskan lebih dari lima ribu orang, puluhan ribu orang mengalami luka-luka, dan ribuan orang hilang.

Seperti telah dibahas di Al-Mustaqiim sejak beberapa tahun yang lalu, bencana adalah sebagian dari musibah. Rasulullah Saw menjelaskan: “Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah. (HR At-Tabrani). Musibah ada yang menimpa seseorang atau sekelompok orang tertentu berupa sakit, kerugian dalam usaha, kehilangan barang, meninggal dunia, yaitu musibah yang bersifat individual. Ada pula musibah bersifat sosial, misalnya bencana, wabah penyakit, kekeringan berkepanjangan, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, semburan lumpur, dan sebagainya, seperti yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini, bukan saja di Indonesia, tetapi juga banyak terjadi di berbagai tempat di bumi ini.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang bencana, di antaranya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (QS Al-Baqarah 2: 155), dan beberapa ayat lainnya seperti QS Al-Maaidah 5: 40, dan QS At-Taubah 9: 50.

Pendekatan keagamaan menegaskan, musibah adalah ketentuan dari Allah Swt, yang tidak bisa ditolak maupun dicegah. Meskipun demikian, manusia wajib untuk menghindari atau mengantisipasi dari berbagai bentuk musibah yang sudah atau akan terjadi pada diri kita. Seorang yang menderita sakit, diwajibkan untuk berobat agar bisa mendapatkan kesehatan seperti sediakala. Jika terjadi banjir, kekeringan atau bencana lainnya, diwajibkan untuk menghindar dari bahaya tersebut.

Apakah bencana-bencana itu merupakan ujian, cobaan atau azab Tuhan kepada manusia yang banyak berdosa? Atau hanya merupakan gejala alam biasa saja? Ada yang mengatakan itu merupakan peringatan Tuhan kepada kita yang semakin jauh menyimpang dari ketentuan-Nya. Lalu bagaimana kita sebagai orang yang beriman harus bersikap dengan adanya bencana-bencana yang menimpa kita itu? Jika sekiranya bencana tersebut merupakan azab dari Allah lalu bagaimana dengan hamba-hamba Allah yang taat dan patuh? Bukankah mereka juga terkena imbasnya?

Memang kita prihatin dengan musibah-musibah yang menimpa saudara-saudara kita yang terkena bencana di tanah air kita yang sering terjadi selama inii. Maka kita sangat menghargai mereka yang secara spontan dan tulus membantu berupa apapun, termasuk perhatian dan do’a untuk ikut meringankan penderitaan mereka yang terkena musibah.

Ketika bencana datang yang menimbulkan korban manusia dan kerugian lainnya yang besar seperti gempa dan tsunami di Aceh beberapa tahun yang lalu, banjir yang melumpuhkan Jakarta, sering memuncukanl pertanyaan: musibah ini ujian, cobaan atau azab dari Allah? Marilah kita cari jawabannya.

Allah Swt berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa' (21) : 35). Sebagian orang mengatakan, bencana adalah ujian dari Allah. Sebagian orang lainnya mengatakan, ini adalah cobaan. Ujian adalah suatu masalah yang diberikan kepada kita untuk mengetahui seberapa tinggi kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Jika lulus ujian, berarti kualitas kita meningkat. Naik kelas, begitulah.

Cobaan, hampir sama dengan ujian. Akan tetapi memiliki konotasi yang agak berbeda. Jika ujian menjurus pada kenaikan tingkat, maka cobaan terkesan hanya menguji apakah kita bisa mempertahankan keimanan dan ketakwaan kita atau tidak.

Sebagian orang yang lain mengatakan bencana adalah azab alias siksaan dari Allah, Bencana diberikan kepada sekelompok orang karena mereka telah melakukan kesalahan atau kejahatan atau pelanggaran atas ketentuan Allah. Besar kecilnya azab bergantung kepada besar kecilnya kesalahan yang diperbuat. Jadi bencana adalah azab atau siksa. Lalu, manakah yang benar; bencana adalah ujian, cobaan atau azab?

Untuk mendapatkan jawabannya, marilah kita simak kisah berikut ini. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka karena kekufuran mereka kepada Allah Swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian atau cobaan bagi kaum yang beriman, supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah Swt.

Sebagai contoh adalah kisah Nabi Nuh As yang dipaparkan Allah dalam QS Huud 11: 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah Swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung (QS Huud 11: 42).

Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdo’a agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (QS Huud 11: 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.

Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.

Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar sebagaimana diceritakan dalam percakapan antara Nabi Nuh As dan anaknya dalam QS Huud 11: 43, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Orang-tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi ummatnya.”

Jadi bencana atau musibah bisa merupakan peringatan Allah kepada manusia terutama mereka yang lupa diri, lupa asal dan tempat mereka akan kembali. Maka orang yang beriman pun bila terkena musibah akan mengatakan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. - Kita semua milik Alllah dan kepada-Nyalah kita kembali." (QS Al-Baqarah 2: 156).

Manusia adalah makhluk Allah yang dimuliakan dan diistimewakan-Nya melebihi makhluk-makhluk lain. Dia dijadikan khalifah di muka bumi. Lalu manusia, yang agaknya memang kebanyakan tidak kuat menyandang anugerah, jabatan, dan kekuasaan, menjadi lupa diri. Begitu bangga dengan akal, yang lambat laun mereka klaim sebagai miliknya. Dan mereka pun merasa bisa berbuat apa saja di bumi ini seenaknya, tanpa mempedulikan warisan untuk anak cucunya kelak dan mengabaikan kepentingan kanan kirinya.

Allah Swt berfirman: ▪ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Ruum 30: 41). ▪ "Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu, Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik." (QS Al-Baqarah 2: 59). ▪ "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri." (QS 42. Asy-Syuura: 30).

Lebih dari peringatan, bencana juga bisa merupakan azab kemurkaan Allah seperti yang, misalnya, menimpa Bani Israel di zaman dulu akibat perbuatan-perbuatan mereka yang melewati batas, seperti firman Allah Swt: ▪ "Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." (QS Al-Baqarah 2: 61). ▪ "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka melampaui batas." (QS 3. Ali-‘Imraan 3: 112) ▪ "Barangsiapa yang membelakangi orang-orang yang kafir (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan (sendiri) yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam." (QS  Al-Anfaal 8: 16).

Jadi, bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, bencana merupakan sunnatullah, atau bisa disebut hukum alam, yang pasti menimpa mereka seperti dalam firman-Nya: ▪ "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS Ali-‘Imraan 3: 137). ▪ "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: ''Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu." (QS Al-Anfaal 8: 38). ▪ "Dan tidak ada yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali (kepastian) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) ummat-ummat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata." (QS Al-Kahfi 18: 55).

Maka bagi kaum Muslimin, musibah, sebagaimana juga anugerah, merupakan ujian dan cobaan. Mereka diuji mengenai keIslaman, kesungguhan, kesabaran, dan kepasrahan mereka, seperti firman Allah Swt, antara lain: ▪ "Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 155. ▪ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan. Mereka digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ''Bilakah datangnya pertolongan Allah?' 'Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'' (QS Al-Baqarah 2: 214). ▪ "Apa kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS  Ali-‘Imraan 3: 142).

Baca pula misalnya firman-firman-Nya dalam QS Al-Ankabut 29: 2-3 dan QS Muhammad 47: 31. Maka sebagai pemeluk Islam terbanyak, kita menerima musibah yang menimpa itu sebagai peringatan, agar kita mawas diri dan memperbaiki diri; dan sebagai ujian bagi meningkatkan kesabaran, tawakkal dan kedekatan kita kepada Allah. Jadi musibah tidak akan menimpa kita kecuali yang sudah digariskan Allah untuk kita. Dialah Tuhan dan kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakkal.

Perlu kita perhatikan di sini, sebuah hadits dari shahabat Abu Hurairah Ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasai dari hadits dari Sufyan bin Uyainah dengan isnadnya. Shahabat Abu Hurairah Ra berkata: "Ketika turun ayat; “Siapa yang berbuat kesalahan akan mendapat balasannya, (QS  An-Nisaa 4: 123), kaum muslimin kelihatan sangat susah. Rasulullah Saw pun bersabda kepada mereka; ''Bidiklah dan dekat-dekatkan sasaran. Sesungguhnya dalam setiap musibah yang menimpa orang Islam, ada kaffarah  - penebus - sampai pun duri yang mengenainya dan kecelakaan yang menimpanya.'' Artinya, menurut hadits ini, setiap musibah yang mengenai orang Muslim, sekecil apa pun, merupakan tebusan bagi kesalahan dan sebagai ujian untuk kenaikan tingkat ketakwaannya. Anggap saja bahwa bencana merupakan peringatan untuk kembali ke jalan yang benar dan diridhai oleh Allah Swt.

Maka apapun kata orang, yang pasti bencana dapat diartikan sebagai ujian, cobaan dan sekaligus azab Allah Swt kepada hamba-bambanya sesuai ketentuan yang ditetapkan-Nya. Irhamnna yaa Allah - Berilah kasih sayang-Mu ya Allah.
Hermanto Harsolumakso
No. 204



1 komentar:

  1. Tinggal pilih, tergantung dosa kita, mau ujian, cobaan atau azab. Tetap tawakkal.

    BalasHapus