Suriah adalah negara di kawasan Timur
Tengah dengan jumlah penduduk 22.517.750 orang (perkiraan tahun 2010).
Komposisi penduduknya berdasarkan agama adalah Muslim Sunni 74%, Muslim Syiah
16%, Kristen dan lainnya 10%. Demonstrasi yang terjadi di Suriah sejak Januari
2011, telah berkembang menjadi pemberontakan oleh kelompok oposisi melawan
pemerintahan Presiden Bashar al-Assad yang menggantikan ayahnya (sebagian
pengamat menyebut pamannya) Hafez al-Assad, yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Bashar al-Assad yang berkuasa selama 12 tahun ini, mengikuti jejak ayahnya yang
keras dan diktator, tidak transparan dalam hal keuangan negara dan belum
mengembangkan proses demokrasi di negaranya. Para demonstran menuntut
pengunduran diri Bashar al-Assad sebagai presiden. Bagaimana perkembangan
selanjutnya?
Dalam membahas krisis politik di Timur Tengah, secara umum ada dua hal yang perlu kita cermati. Pertama adalah legitimasi pemerintahan negara, dan kedua adalah kepentingan beberapa negara lain di kawasan tersebut.
Dalam membahas krisis politik di Timur Tengah, secara umum ada dua hal yang perlu kita cermati. Pertama adalah legitimasi pemerintahan negara, dan kedua adalah kepentingan beberapa negara lain di kawasan tersebut.
1. Legitimasi
Pemerintahan
Legitimasi
secara sederhana diartikan sebagai hak moral seseorang pemimpin suatu
pemerintahan untuk memimpin dan mengatur negaranya dengan mendapatkan dukungan dan
dihormati oleh warga negaranya. Beberapa tahun belakangan ini krisis legitimasi
merupakan pokok isu bagi pemerintahan di beberapa negara Arab, karena banyak
terjadi demonstrasi atau unjuk rasa, pemberontakan, dan bahkan kudeta militer terhadap
pemerintah yang berkuasa.
Untuk
memadamkan pemberontakan tersebut, pemerintah Suriah mengerahkan tentaranya.
Menurut para saksi, tentara yang membelot menolak untuk menembaki warga sipil,
dieksekusi oleh tentara pemerintah Suriah. Tentara pembelot membentuk unit
pertempuran, dan memulai kampanye pemberontakan melawan tentara pemerintah
bersama warga sipil. Para pemberontak bersatu di bawah bendera ‘Tentara
Pembebasan Suriah’, dan berjuang dengan cara yang semakin terorganisir, namun
komponen sipil dari oposisi bersenjata tidak memiliki kepemimpinan yang
terorganisir. Hal
ini berbeda dengan di Mesir ketika melawan rezim Mohammed Hosni Mubarak, kekuatan sipil
dipimpin oleh Al-Ikhwanul Muslimin, yang mengusung Mohammed Mursi ke kursi kepresidenan, namun kemudian dikudeta oleh militer Mesir yang
sekarang berkuasa.
Pemberontakan
di Suriah kemudian berubah seakan-akan menjadi perang sektarian, di mana pihak
oposisi didominasi oleh kaum Muslim Sunni, sedangkan pemerintahan Assad
didukung oleh kaum Syiah dan kelompok Kristen, meskipun perang itu sebenarnya
bukan konflik antar penganut agama, karena mayoritas rakyat yang penganut
Muslim Sunni Suriah tidak mempersoalkan dipimpin oleh seorang Muslim Syiah,
apabila keuangan negara dikelola dengan baik dan transparan, dan demokrasi
dikembangkan secara wajar.
Banyaknya
jumlah korban, terutama korban rakyat sipil tak senjata, dan kerusakan harta
benda yang sia-sia, penggunaan senjata atau bom berbahan kimia, juga merupakan
persoalan serius dalam perang Suriah. Terlepas dari siapa yang bersalah dalam
perang itu, atau terlepas dari siapa yang akan menang atau yang akan kalah
nanti, yang harus didahulukan penanganannya adalah membantu orang-orang sipil yang terjebak dalam perang
itu, agar mereka segera lepas dari medan
perang. Hal ini juga menjadi masalah legitimasi pemerintahan di Suriah saat ini.
Di
negara yang memiliki legitimasi pemerintahan kokoh pun sering kali timbul
konflik internal, apalagi yang legitimasinya rapuh seperti Suriah, yang mana presidennya seorang Muslim Syiah,
sedangkan mayoritas rakyatnya adalah Muslim Sunni. Seorang pemimpin haruslah menjadi
khadimul ummah yaitu pelayan bagi rakyatnya. Pemimpin
haruslah berorientasi pada pelayanan dan pengabdian kepada rakyat, dan akan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nabi
Saw bersabda: ▪ “Pemimpin suatu kaum adalah
pengabdi mereka.” (HR Abu Na'im). ▪ “Barangsiapa
diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum
lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada
hari kiamat.” (HR Ahmad).
Legitimasi
dalam suatu pemerintahan merupakan hal yang sangat vital dan wajib ada, karena
tanpa adanya legitimasi, pemerintahan akan sulit bekerja dengan baik, sehingga membutuhkan
tenaga ekstra untuk mencapai suatu kapabilitas manajemen konflik, yang merupakan
keniscayaan bagi kestabilan jangka panjang sebuah negara dengan pemerintahan
yang baik.
Kebangkitan
Arab. Di sisi
lain, pemberontakan di Suriah, juga dapat dilihat sebagai salah satu rangkaian
dari apa yang dinamakan ‘kebangkitan Arab’. Seperti halnya ‘gelombang
demokrasi’ yang terjadi beberapa tahun yang lalu yang diawali di Tunisia pada
28 Desember 2010, Mesir, dan Libya, ketiganya menuntut presiden masing-masing
untuk turun jabatan. Kemudian di Yaman dan Jordania, yang walaupun belum
terjadi peristiwa perubahan rezim yang signifikan, namun gelombang demonstrasi
yang terjadi sudah mulai timbul. Hal yang sama Arab Saudi mau tidak mau juga
harus meninjau beberapa undang-undang dan peraturannya dengan memberi kelonggaran
kepada rakyatnya dalam dunia politik, demi mencegah demonstrasi serupa terjadi
di negaranya.
Untuk
membangun legitimasi di Timur Tengah ada tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan
cara personal, ideologis dan struktural. Cara personal yang dimaksud di
sini seperti ke’tokoh’an yang kuat dan dicintai masyarakat, misalnya Ayatullah Rohullah
Khomeini di Iran yang menjadi simbol kebanggaan dan semangat masyarakat Iran.
Legitimasi juga dapat dibangun secara ideologis melalui Islam yang mana
merupakan agama sekaligus ideologi dalam sistem perpolitikan negara-begara Muslim.
Sedangkan secara struktural, adalah legitimasi yang dibangun melalui struktur
pemerintahan atau birokrasi dalam mengatur masyarakatnya dapat dijadikan dasar
legitimasi untuk memimpin negara tersebut.
2. Kepentingan Berbagai Negara di Kawasan Timur
Tengah
Dalam
krisis politik di Suriah, negara yang paling berkepentingan adalah Israel yang
berusaha menghancurkan eksistensi negara Palestina. Sisi positif Presiden Bashar
al-Assad adalah sosok yang konsiten mendukung perjuangan rakyat Palestina
dengan menyediakan tempat untuk faksi Hamas (Sunni) di Suriah dan mendukung
penuh kelompok faksi Hizbullah (Syiah) di Lebanon. Hal inilah yang
mengakibatkan konflik di Suriah menjadi perhatian berbagai negara yang
berkepentingan dengan Timur Tengah. Tentu saja Israel sangat serius memandang
ancaman kedua faksi perlawanan Palestina itu - dibanding faksi Al-Fatah, karena
secara kekuatan kedua faksi tersebut dapat mengimbangi Israel, bahkan pernah mengalahkan
Israel ketika Israel melakukan serangan darat.
Tentu
Israel harus memikirkan bagaimana caranya melumpuhkan kedua faksi perlawanan
bersenjata itu. Untuk Hamas, Israel melakukan kebijakan blokade Gaza karena
Hamas memerintah di Damaskus dan terus melakukan perlawan terhadap Israel sampai
saat ini. Untuk melumpuhkan Hizbullah di Lebanon, secara logika yang mudah
saja, ‘putuskan jalur pendukungnya’, yaitu Suriah. Oleh sebab itu Suriah harus
dikuasai secara politik, yaitu ‘mengganti penguasanya’.
Saat
ini di dunia Arab sedang dalam kenderungan mengganti penguasa yang sudah lama
berkuasa dengan dalih untuk menegakkan demokrasi. Ini adalah road map-nya
kebijakan luar negeri Amerika (Serikat). Kita tahu kebijakan luar negeri Amerika
ditentukan oleh badan-badan lobby Israel. Israel, dan Amerika bermaksud menggulingkan
penguasa yang memberikan kontribusi besar untuk Palestina, yaitu Muammar Qadafi
- pemimpin Libya yang sudah tumbang, dan sedang mengusahakan menggulingkan Bashar
al-Assad, presiden Suriah.
Jadi
rencana penurunan Bashar ini bukan semata-mata persoalan Bashar demokratis atau
tidak, tiran atau tidak, tetapi juga karena kepentingan Amerika dan Israel.
Seperti biasa Israel memperalat Amerika melalui kebijakan luar negerinya. Israel
dan Amerika menunggangi konflik di Suriah untuk menurunkan Bashar al-Assad.
Supaya lebih efektif, isu ini ditambah tekanannya dengan isu sektarian, konflik
Sunni-Syiah. Israel, Amerika, Arab Saudi, Qatar, Turki dan Eropa berada dalam
satu blok yang bertentangan dengan Rusia, Cina dan Iran dalam konflik Suriah ini.
Dalam
kaitan ini Rusia sangat berkepentingan melawan dominasi Amerika di Timur Tengah,
karena tinggal Suriah tempat berpijaknya setelah Libya jatuh ke tangan Amerika
dan sekutunya (Uni Eropa dan Israel). Selain itu Amerika juga ‘mengacak-acak’
Rusia dengan menempatkan persenjataan anti rudalnya di bekas negara Uni Soviet
seperti Georgia.
Cina
tidak mau ketinggalan dalam melawan Amerika, setelah berhasil menahan hegemoni Amerika
di bidang ekonomi, Cina diancam oleh Amerika melalui pergerakan Angkatan Laut Amerika
di Pasifik. Cina saat ini berhasil menciptakan kapal perang anti radar yang
membuat Amerika khawatir.
Di
sisi lain, Iran adalah negara yang tidak disenangi oleh Arab Saudi, Qatar dan
negara-negara Arab lainnya, karena berhasil melakukan ‘Revolusi Tahun 79’ di
bawah pimpinan Imam Ayatullah Khomeini, yang menumbangkan Raja Reza Pahlevi,
yang merupakan sahabat penguasa Saudi
Arabia. Raja-raja di sekitar Arab Saudi khawatir revolusi tersebut diekspor ke
negara-negara mereka. Untuk mempertahankan kekuasaan mereka, isu yang paling
ampuh ditiupkan adalah Iran adalah ‘negara kaum Syiah bukan negara Muslim’
karena Syiah dianggap sesat.
Demikian
telah kita bahas dua hal pokok tentang konflik Suriah. Konflik yang berkobar di
Suriah akan berubah menjadi tragedi politik berdarah-darah antara kubu rezim
Bashar al-Assad dan kubu oposisi. Setidaknya 80.000 warga Suriah tewas,
sebanyak 950.000 lebih warga berada di pengungsian di negara-nara sekitarnya,
dan 1.000.000 lebih warga kehilangan tempat tinggal.
Perebutan
Pengaruh Antara Amerika dan Rusia.
Lebih lanjut tentang kepentingan berbagai negara di Timur Tengah dapat
diuraikan sebagai berikut. Dari berbagai aspek, krisis politik di Suriah
memerlukan penyelesaian yang bersifat komprehensif. Krisis tersebut telah
menjadi ajang tarik-menarik kepentingan dan perebutan pengaruh dua negara
adidaya di kawasan Timur Tengah, yaitu Amerika dan Rusia.
Rusia
berkepentingan memberikan dukungan terhadap rezim Bashar al-Assad sebagai mitra
strategisnya di Timur Tengah dalam lima dekade terakhir. Faktanya, penyelesaian
secara politik di Perserikatan Bangsa-BangSa (PBB) berakhir dengan kebuntuan
karena Rusia menggunakan hak veto untuk menolak proposal Amerika dan sekutunya
dalam melakukan intervensi politik di Suriah. Sikap Rusia tidak kalah kuatnya
dari dukungan Amerika dan sekutunya karena Rusia didukung sepenuhnya oleh Cina,
Iran, dan Lebanon.
Karena
itu, krisis politik yang berlangsung di Suriah punya dampak jauh lebih besar,
yang berbeda dengan apa yang telah berlangsung di Tunisia, Mesir dan Libya. Di
sini dimensi geopolitik sangat menonjol, sehingga penyelesaiannya harus
melibatkan negara-negara yang terlibat dalam perebutan hegemoni politik. Di
Suriah, Rusia merupakan faktor obyektif dalam mencari solusi krisis politik.
Negara-negara
Arab tidak bisa diandalkan untuk menjadi mediator dalam penyelesaian krisis
Suriah. Negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab terbukti tidak punya
pengaruh cukup signifikan untuk menekan rezim Bashar al-Assad. Hasil pertemuan
Liga Arab dalam memecahkan krisis politik di Suriah hanyalah pepesan kosong.
Karena
itu, solusi yang terbaik untuk menyelesaikan krisis politik Suriah adalah
memilih jalur diplomasi antara Amerika dan sekutunya dengan Rusia dan Cina.
Langkah yang diambil Perancis agar Rusia mendorong reformasi politik di Suriah,
merupakan solusi yang moderat daripada mengambil langkah-langkah militeristis.
Perang sipil hanya akan menyisakan luka amat mendalam, terutama bagi kubu
oposisi Suriah.
Bagi
masa depan Suriah yang lebih penting adalah kepastian bahwa pemimpinnya haruslebih
baik dari rezim Bashar al-Assad yang otoriter. Demokratisasi sejatinya tidak
hanya berlangsung secara prosedural, tetapi juga menyentuh substansi demokrasi yang
menjamin hak asasi manusia dan pluralitas. Tanpa jaminan itu, Suriah di masa
mendatang hanya akan menjadi perebutan kekuasaan, seperti yang terjadi di
Tunisia, Mesir, dan Libya.
Demikian
ulasan tentang konflik politik di Suriah, yang nampaknya akan berlangsung lama,
karena Israel memainkan peran utama dalam krisis tersebut. Israel sangat
berkepentingan untuk menghancurkan Palestina dengan cara memotong jalur
logistik Hizbullah (Syiah) di Lebanon dan membungkam kegiatan Biro Politik
Hamas (Sunni) di Suriah. Inilah alasan yang sebenarnya bagi Israel. Di samping
itu ada kepentingan Amerika dan sekutunya untuk mengeliminasi pengaruh Rusia di
Timur Tengah, sedangkan negara-negara Arab ‘sepakat untuk tidak sepakat’ alias terpecah
oleh kepentingannya masing-masing.
Dengan
menyimak realitas konflik politik di Suriah ini, penulis teringat pernyataan Sekjen
Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir bahwa konflik yang terjadi di Suriah, Palestina, dan Mesir, adalah perang
global yang sudah Allah takdirkan sebagaimana firman-Nya dalam QS At-Tiin 95: 1-3: "Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan
demi kota (Makkah) ini yang aman." Ustadz
Bachtiar Nasir menafsirkan ayat tersebut dengan menegaskan lokasi konflik adalah
sebagai berikut: "Demi bumi Tin di Damaskus (Suriah), dan demi bumi Zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur di Sinai (Mesir). Dan demi kota
Makkah yang aman." Perang itu, bahkan melibatkan seluruh dunia. Benarkah? Silakan pembaca menilainya.
Hermanto Harsolumakso
No. 203

Dunia Islam memang penuh konflik. Memalukan. Sementara penguasa menindas rakyatnya, musuh-musuh Islam memanfaatkan kondlik itu.untuk menguasai kaum muslimin.
BalasHapusItulah yang sering disebut "cahaya Islam ditutupi oleh sebagian kaum muslimin"..
BalasHapusDi negeri Muslim memang buanyak ummat Islam yang berteman dengan setan yang mendorong nafsu konflik.
BalasHapus