Selasa, 05 November 2013

TAHUN BARU HIJRIAH

Sehubungan dengan berakhirnya bulan Dzulhijjah 1434 H dan memasuki tanggal 1 bulan Muharram 1435 H pada hari ini, Al-Mustaqiim mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru Hijriah 1435’ kepada segenap pembaca dan seluruh ummat Islam, semoga kita selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah Swt, mensyukuri nikmat yang dikaruniakan oleh-Nya, serta dituntun selalu pada jalan  yang diridhai-Nya.

Setiap pergantian tahun dengan tahun yang baru Masehi, ada kebiasaan dalam masyarakat untuk untuk merayakan dengan acara meriah seperti yang diselenggarakan di Jakarta, mulai dari pesta di kampung-kampung sampai pesta rakyat di beberapa sudut kota, termasuk pesta musik spektakuler dengan diramaikan dengan artis-artis ternama berlangsung di sepanjang Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman, Jakarta merupakan acara masal pertama sejak Gubernur Jokowi memimpin Jakarta.

Padahal pergantian tahun baru itu sebenarnya hanya sebuah titik dalam perjalanan waktu, yang didasarkan kepada kesepakatan manusia. Titik tersebut tidak menunjukkan adanya sebuah peristiwa khusus atau sebuah kejadian besar di alam raya. Namun ternyata orang di berbagai kawasan di muka bumi ini membuat tradisi untuk menyambutnya dengan gegap gempita.

Bagaimana kita sebagai Muslim menyikapi setiap pergantian tahun, kususnya tahun baru Hijrah? Pergantian tahun memiliki makna berkaitan dengan waktu, di mana waktu merupakan salah satu yang penting dan sangat perlu mendapat perhatian bagi setiap Muslim. Pentingnya  waktu ditegaskan Allah Swt melalui ayat-ayat dalam Al-Qur’an: “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan yang berwasiyat dalam kebenaran dan berwasiyat dengan kesabaran. (QS Al-Ashr 103: 1-3).

Nabi bersabda: “Barang siapa yang pada hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, sesungguhnya dia termasuk orang yang celaka.”

Memperingati datangnya tahun baru Hijrah ini, bagi ummat Islam memiliki makna yang sangat penting, baik dari sisi historis maupun ibadah dalam meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt.

Sisi Historis

Memperingati tanggal 1 Muharram mengingatkan riwayat pada zaman Rasulullah Saw, di mana pada saat itu Rasulullah memutuskan untuk berpindah (hijrah) ke Madinah, dan memulai suatu era baru dalam perjuangan menegakkan agama Islam

Rasulullah melakukan perjalanan hijrah pada tahun 622 Masehi, ketika itu beliau berusia 53 tahun, hal itu dilakukan mengingat kekejaman kaum kafir Quraisy semakin meningkat yang dtujukan kepada ummat Islam di Makah. Untuk menjaga ha-hal yang tidak diinginkan serta memperhatikan keselamatan ummatnya Rasulullah memerintahkan agar berhijrah ke kota Madinah, sedangkan beliau akan menyusul kemudian.

Pada waktu Rasulullah akan berhijrah, kaum Quraisy mengawasi dengan sangat ketat, bahkan mereka merencanakan pembunuhan demi menghentikan dakwahnya. Mengetahui rencana orang Quraisy yang akan membunuhnya Rasulullah segera bersiap meninggalkan Makah. Beliau mengajak  sahabat Abu Bakar Ash Shidiq Ra untuk menemaninya berangkat pada tengah malam, dan untuk mengelabui kaum Quraisy beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib  untuk menggantikan tidur di tempat tidur beliau.

Ketika kaum Quraisy tiba di kediaman Rasulullah, mereka tidak menemukan Nabi kecuali Ali bin Abi Thalib, sementara Rasulullah Saw bersama Abu Bakar Ra telah meninggalkan berangkat menuju Madinah. Untuk menghindar dari kejaran kaum kafir Quraisy beliau bersembunyi di gua Tsur, yang menurut para ahli tafsir beliau tinggal di gua ini selama tiga hari.

Di gua ini Allah ‘membutakan’ kaum kafir yang berupaya mengejar Rasulullah, yang pada saat itu sudah sangat dekat sekali dengan tempat bersembunyinya Rasulullah. Allah memerintahkan laba-laba untuk membuat sarangnya tepat di mulut gua, sehingga menurut kaum kafir tidaklah mungkin Nabi berada didalam gua tanpa merusak sarang laba-laba itu. Bahkan di depan gua itu pula Allah memerintahkan burung merpati bersarang dan berelur di mulut gua, sesuatu yang tak mungkin terjadi apabila seseorang masuk ke dalamnya tanpa merusak sarang burung merpati itu. Setelah keadaan aman, Rasulullah Saw bersama Abu Bakar Ra meninggalkan gua Tsur dan meneruskan perjalanan menuju Madinah.

Usaha kaum Quraisy gagal dan Rasulullah berhasil  melepaskan diri dari upaya pembunuhan tersebut atas izin Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an: “(Ingatlah), ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu, membunuhmu dan mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu, sedangkan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya itu” (QS Al-Anfaal 8: 30). Selanjutnya dari kota Madinah nantinya Islam mulai dikembangkan secara terbuka dan aman di bawah kepemimpinan langsung Rasulullah Saw yang sekaligus memimpin pemerintahan Islam.

Sisi Ibadah

Pergantian tahun baru Hijrah yang merupakan tahun dengan penanggalan berbasis perhitungan bulan (qamariyah) yang digunakan ummat Islam ini mengingatkan setiap manusia untuk menyikapinya dengan upaya untuk menambah takwa kita kepada Allah Swt. yaitu dimulai dari syukur kepada Allah, melakukan muhasabah dan meningkatkan amal ibadah menjadi lebih baik dari apa yang telah dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya. Sikap kita sebagai Muslim menyambut datangnya bulan Muharram adalah:

Pertama, mengungkapkan rasa syukur kita atas segala kenikmatan yang telah dilimpakan kepada kita sampai saat ini dari Allah Swt, baik nikmat berupa kesehatan, rizki, pangkat dan kedudukan yang telah dikaruniakan kepada kita, keluarga yang bahagia  dan sebagainya.
“Jika kamu bersyukur, niscaya Kami tambah nikmat yang ada padamu, tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim 14: 7). “Sebagai nikmat dari Kami. Begitulah Kami membalas orang bersyukur.” (QS Al-Qomar  54: 35)..

Cara bersyukur ada tiga macam; Bersyukur dengan hati, yaitu menyadari dan menginsyafi bahwa semua rahmat dan nikmat datangnya dari Allah. Apapun nikmat yang kita peroleh, baik berupa kesehatan, kekayaan, pangkat maupun kedudukan, semanya itu adalah dari Allah Swt. Syukur dengan lidah, dengan mengucapkan, Alhamdulillah apabila mendapat nikmat dari Allah Swt, yaitu selalu memuja dan memuji kepada Allah Swt Tuhan yang Maha Kuasa. Selanjutnya bersyukur dengan perbuatan, ketika kita mendapatkan rahmat dan nikmat yang diterima dari Allah, kita mempergunakannya pada tempat dan sebagaimana mestinya, dan mempergunakan rahmat dan nimatnya itu ke jalan yang diridhai Allah Swt.

Kedua, dengan melakukan muhasabah, yaitu melihat kepada diri sendiri, apakah kita sudah melakukan amal perbuatan dengan baik. Apakah kita sudah melakukan shalat dengan benar, atau apakah kita sudah berpuasa secara ikhlas, dan apakah sedekah dan zakat yang telah kita tunaikan dengan ikhlas atau masih ada tercampur dengan riya’ atau untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Hal ini perlu kita lakukan,agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi, apalagi menjadi orang yang celaka di mata Allah Swt.

Muhasabah harus diikuti dengan taubat, apabila ditemui hal-hal yang menyadarkan kita telah berbuat salah. Semua harus bertaubat mengakui kekeliruannya, dan bejanji tidak akan mengulangi lagi, berusaha menyucikan diri dan kerja keras untuk mencapai prestasi sebagai hamba Allah  yang shaleh.

Ketiga, sikap kita adalah melakukan perubahan atas amal perbuatan segala sesuatu menjadi lebih baik, dengan komitmen untuk melakukan amal perbuatan lebih baik dari amal perbuatan yang telah dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya, atau dengan kata lain melaksanakan hijrah.

Hijrah diniatkan meliputi; hijrah dari kemaksiatan kepada takwa, hijrah dari kondisi masyarakat yang kurang sejahtera menuju peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat, atau apapun keinginan kita untuk merubah kearah keadaan yang  lebih baik serta memberikan manfaat  yang lebih besar. Sebenarnya semangat perubahan sudah diisyaratkan Allah kepada manusia sebagaimana tercantum dalam Al-Quran: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum/bangsa, sampai kaum/bangsa itu tersebut (mau) merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.“ (QS Ar-Ra’d 13:11). Jelaslah bahwa semangat perubahan tidak diperoleh dari siapapun kecuali dari diri sendiri, dan semangat perubahan membawa seseorang kepada hijrah qalbu.

Langkah pertama, kedua dan ketiga di atas, seyogyanya harus tetap dikuti dengan berdo’a, karena berdo’a adalah kewajiban setiap Muslim. Do’a-do’a sebagaiman dituntunkan dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS An-Naml 27: 19).
“Ya Tuhan kami. Janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau tunjukkan jalan yang benar kepada kami, dan berikanlah kepada kami dari sisi-Mu, rahmat kasih-sayang, sesungguhnya Engkau Maha Memberi.” (QS Ali Imran  3: 8).

Demikianlah disampaikan kesan-kesan yang dapat disampaikan sehubungan dengan suasana tahun baru Hijriah semoga menjadi tambahan pecerahan dan pemahaman dalam menyikapinya.
Mohammad Kamal
No. 202

3 komentar:

  1. Selamat Tahun Baru 1435 Hijriah kepada para ustadz Al Mustaqiim, dan selamat pula atas terbitnya Buku Kedua Media Dakwah Al Mustaqiim. yang telah mengudara selama 5 tahun. Semoga amal ibadah dan dakwah para ustadz mendapatkan dua pahala dari Allah Swt. Amiin ya Rabbal 'alamiin.

    BalasHapus
  2. Selamat Tahun Baru Hijriyah Al Mustaqiim, MAJU TERUS.

    BalasHapus
  3. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1435 dan Selamat Ulang Yahun ke-5 Al Mustaqiim, semoga dakwah ini menjadi kebaikan abadi di sisi-Nya. Amien.

    BalasHapus