Sehubungan dengan berakhirnya bulan Dzulhijjah 1434
H dan memasuki tanggal 1 bulan Muharram 1435 H pada hari ini, Al-Mustaqiim mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru Hijriah 1435’ kepada segenap pembaca dan
seluruh ummat Islam, semoga kita selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah
Swt, mensyukuri nikmat yang dikaruniakan oleh-Nya, serta dituntun selalu pada
jalan yang diridhai-Nya.
Setiap pergantian tahun dengan tahun yang baru
Masehi, ada kebiasaan dalam masyarakat untuk untuk merayakan dengan acara
meriah seperti yang diselenggarakan di Jakarta, mulai dari pesta di
kampung-kampung sampai pesta rakyat di beberapa sudut kota, termasuk pesta
musik spektakuler dengan diramaikan dengan artis-artis ternama berlangsung di
sepanjang Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman, Jakarta merupakan acara masal
pertama sejak Gubernur Jokowi memimpin Jakarta.
Padahal pergantian tahun baru itu sebenarnya hanya
sebuah titik dalam perjalanan waktu, yang didasarkan kepada kesepakatan
manusia. Titik tersebut tidak menunjukkan adanya sebuah peristiwa khusus atau
sebuah kejadian besar di alam raya. Namun ternyata orang di berbagai kawasan di
muka bumi ini membuat tradisi untuk menyambutnya dengan gegap gempita.
Bagaimana kita sebagai Muslim menyikapi setiap
pergantian tahun, kususnya tahun baru Hijrah? Pergantian tahun memiliki makna
berkaitan dengan waktu, di mana waktu merupakan salah satu yang penting dan sangat
perlu mendapat perhatian bagi setiap Muslim. Pentingnya waktu ditegaskan Allah Swt melalui ayat-ayat
dalam Al-Qur’an: “Demi masa. Sesungguhnya
manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,
dan yang berwasiyat dalam kebenaran dan berwasiyat dengan kesabaran.”
(QS Al-Ashr 103: 1-3).
Nabi bersabda: “Barang
siapa yang pada hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang
beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia
termasuk orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari
kemarin, sesungguhnya dia termasuk orang yang celaka.”
Memperingati datangnya tahun baru Hijrah ini, bagi
ummat Islam memiliki makna yang sangat penting, baik dari sisi historis maupun ibadah
dalam meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt.
Sisi Historis
Memperingati tanggal 1 Muharram mengingatkan
riwayat pada zaman Rasulullah Saw, di mana pada saat itu Rasulullah memutuskan
untuk berpindah (hijrah) ke Madinah,
dan memulai suatu era baru dalam perjuangan menegakkan agama Islam
Rasulullah melakukan perjalanan hijrah pada tahun
622 Masehi, ketika itu beliau berusia 53 tahun, hal itu dilakukan mengingat
kekejaman kaum kafir Quraisy semakin meningkat yang dtujukan kepada ummat Islam
di Makah. Untuk menjaga ha-hal yang tidak diinginkan serta memperhatikan
keselamatan ummatnya Rasulullah memerintahkan agar berhijrah ke kota Madinah,
sedangkan beliau akan menyusul kemudian.
Pada waktu Rasulullah akan berhijrah, kaum Quraisy
mengawasi dengan sangat ketat, bahkan mereka merencanakan pembunuhan demi
menghentikan dakwahnya. Mengetahui rencana orang Quraisy yang akan membunuhnya
Rasulullah segera bersiap meninggalkan Makah. Beliau mengajak sahabat Abu Bakar Ash Shidiq Ra untuk
menemaninya berangkat pada tengah malam, dan untuk mengelabui kaum Quraisy
beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk
menggantikan tidur di tempat tidur beliau.
Ketika kaum Quraisy tiba di kediaman Rasulullah,
mereka tidak menemukan Nabi kecuali Ali bin Abi Thalib, sementara Rasulullah
Saw bersama Abu Bakar Ra telah meninggalkan berangkat menuju Madinah. Untuk
menghindar dari kejaran kaum kafir Quraisy beliau bersembunyi di gua Tsur, yang
menurut para ahli tafsir beliau tinggal di gua ini selama tiga hari.
Di gua ini Allah ‘membutakan’ kaum kafir yang
berupaya mengejar Rasulullah, yang pada saat itu sudah sangat dekat sekali
dengan tempat bersembunyinya Rasulullah. Allah memerintahkan laba-laba untuk
membuat sarangnya tepat di mulut gua, sehingga menurut kaum kafir tidaklah
mungkin Nabi berada didalam gua tanpa merusak sarang laba-laba itu. Bahkan di depan
gua itu pula Allah memerintahkan burung merpati bersarang dan berelur di mulut
gua, sesuatu yang tak mungkin terjadi apabila seseorang masuk ke dalamnya tanpa
merusak sarang burung merpati itu. Setelah keadaan aman, Rasulullah Saw bersama
Abu Bakar Ra meninggalkan gua Tsur dan meneruskan perjalanan menuju Madinah.
Usaha kaum Quraisy gagal dan Rasulullah
berhasil melepaskan diri dari upaya
pembunuhan tersebut atas izin Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an: “(Ingatlah), ketika orang-orang kafir
Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu, membunuhmu dan mengusirmu. Mereka
memikirkan tipu daya itu, sedangkan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah
sebaik-baik pembalas tipu daya itu” (QS Al-Anfaal 8: 30). Selanjutnya dari
kota Madinah nantinya Islam mulai dikembangkan secara terbuka dan aman di bawah
kepemimpinan langsung Rasulullah Saw yang sekaligus memimpin pemerintahan
Islam.
Sisi Ibadah
Pergantian tahun baru Hijrah yang merupakan tahun
dengan penanggalan berbasis perhitungan bulan (qamariyah) yang digunakan ummat Islam ini mengingatkan setiap
manusia untuk menyikapinya dengan upaya untuk menambah takwa kita kepada Allah
Swt. yaitu dimulai dari syukur kepada Allah, melakukan muhasabah dan
meningkatkan amal ibadah menjadi lebih baik dari apa yang telah dilakukan pada
waktu-waktu sebelumnya. Sikap kita sebagai Muslim menyambut datangnya bulan
Muharram adalah:
Pertama, mengungkapkan rasa syukur kita atas segala
kenikmatan yang telah dilimpakan kepada kita sampai saat ini dari Allah Swt,
baik nikmat berupa kesehatan, rizki, pangkat dan kedudukan yang telah dikaruniakan
kepada kita, keluarga yang bahagia dan
sebagainya.
“Jika kamu bersyukur, niscaya Kami tambah nikmat yang ada padamu, tetapi
jika kamu kufur, sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim 14: 7). “Sebagai nikmat dari Kami. Begitulah Kami membalas orang bersyukur.”
(QS Al-Qomar 54: 35)..
Cara bersyukur ada tiga macam; Bersyukur dengan
hati, yaitu menyadari dan menginsyafi bahwa semua rahmat dan nikmat datangnya
dari Allah. Apapun nikmat yang kita peroleh, baik berupa kesehatan, kekayaan,
pangkat maupun kedudukan, semanya itu adalah dari Allah Swt. Syukur dengan
lidah, dengan mengucapkan, Alhamdulillah apabila mendapat nikmat dari
Allah Swt, yaitu selalu memuja dan memuji kepada Allah Swt Tuhan yang Maha
Kuasa. Selanjutnya bersyukur dengan perbuatan, ketika kita mendapatkan rahmat
dan nikmat yang diterima dari Allah, kita mempergunakannya pada tempat dan sebagaimana
mestinya, dan mempergunakan rahmat dan nimatnya itu ke jalan yang diridhai
Allah Swt.
Kedua, dengan melakukan muhasabah, yaitu melihat kepada
diri sendiri, apakah kita sudah melakukan amal perbuatan dengan baik. Apakah
kita sudah melakukan shalat dengan benar, atau apakah kita sudah berpuasa
secara ikhlas, dan apakah sedekah dan zakat yang telah kita tunaikan dengan
ikhlas atau masih ada tercampur dengan riya’
atau untuk mendapatkan pujian dari
orang lain. Hal ini perlu kita lakukan,agar kita tidak termasuk
orang-orang yang merugi, apalagi menjadi orang yang celaka di mata Allah Swt.
Muhasabah harus diikuti dengan taubat, apabila
ditemui hal-hal yang menyadarkan kita telah berbuat salah. Semua harus
bertaubat mengakui kekeliruannya, dan bejanji tidak akan mengulangi lagi,
berusaha menyucikan diri dan kerja keras untuk mencapai prestasi sebagai hamba
Allah yang shaleh.
Ketiga, sikap kita adalah melakukan perubahan atas amal
perbuatan segala sesuatu menjadi lebih baik, dengan komitmen untuk melakukan
amal perbuatan lebih baik dari amal perbuatan yang telah dilakukan pada
waktu-waktu sebelumnya, atau dengan kata lain melaksanakan hijrah.
Hijrah diniatkan meliputi; hijrah dari kemaksiatan
kepada takwa, hijrah dari kondisi masyarakat yang kurang sejahtera menuju
peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat, atau apapun keinginan kita
untuk merubah kearah keadaan yang lebih
baik serta memberikan manfaat yang lebih
besar. Sebenarnya semangat perubahan sudah diisyaratkan Allah kepada manusia
sebagaimana tercantum dalam Al-Quran: “Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum/bangsa, sampai kaum/bangsa itu
tersebut (mau) merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.“ (QS Ar-Ra’d
13:11). Jelaslah bahwa semangat perubahan tidak diperoleh dari siapapun
kecuali dari diri sendiri, dan semangat perubahan membawa seseorang kepada hijrah
qalbu.
Langkah pertama, kedua dan ketiga di atas,
seyogyanya harus tetap dikuti dengan berdo’a, karena berdo’a adalah kewajiban
setiap Muslim. Do’a-do’a sebagaiman dituntunkan dalam Al-Qur’an:
▪ “Ya
Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan
amal shaleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS An-Naml 27: 19).
▪ “Ya Tuhan
kami. Janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau tunjukkan jalan
yang benar kepada kami, dan berikanlah kepada kami dari sisi-Mu, rahmat
kasih-sayang, sesungguhnya Engkau Maha Memberi.” (QS Ali Imran 3: 8).
Demikianlah disampaikan kesan-kesan yang dapat disampaikan
sehubungan dengan suasana tahun baru Hijriah semoga menjadi tambahan pecerahan
dan pemahaman dalam menyikapinya.
Mohammad Kamal
No. 202
Selamat Tahun Baru 1435 Hijriah kepada para ustadz Al Mustaqiim, dan selamat pula atas terbitnya Buku Kedua Media Dakwah Al Mustaqiim. yang telah mengudara selama 5 tahun. Semoga amal ibadah dan dakwah para ustadz mendapatkan dua pahala dari Allah Swt. Amiin ya Rabbal 'alamiin.
BalasHapusSelamat Tahun Baru Hijriyah Al Mustaqiim, MAJU TERUS.
BalasHapusSelamat Tahun Baru Hijriyah 1435 dan Selamat Ulang Yahun ke-5 Al Mustaqiim, semoga dakwah ini menjadi kebaikan abadi di sisi-Nya. Amien.
BalasHapus