Jumat, 25 Oktober 2013

MENCUKUPKAN KEBUTUHAN DEMI MASA DEPAN YANG HAKIKI

Allah Swt berfirman: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashsash 28: 77). ▪ “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’la 87: 16-17)

Dari kedua ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa di satu sisi Allah menyerukan agar kita mengingat akhirat, tetapi jangan melupakan dunia. Di sisi yang lain Allah juga memperingatkan kita akan masa depan yang hakiki, yakni kehidupan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal. Ini berarti agar kita senantiasa menjaga keseimbangan dalam hidup di dunia dan akhirat.

Apabila seorang ayah berkata kepada anaknya: “Nak kamu boleh bermain-main, tapi jangan lupa makan.,” Maka dari ucapan ayah tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, anak tersebut terlalu banyak bermain-main, sehingga perlu diingatkan agar jangan sampai lupa makan.  Kalau Allah berseru kepada hambanya: “Carilah akhirat dan jangan lupa duniamu,” maka itu artinya hamba yang beriman lebih banyak mencari akhirat, sehingga lupa pada dunianya, padahal Islam mengajarkan kehidupan dunia dan akhirat secara berimbang.

Namun kenyatannya orientasi kehidupan kita lebih banyak pada dunia dan hampir-hampir melupakan akhirat, sepertinya seruan yang lebih tepat untuk kita adalah: “Carilah dunia jangan lupakan akhirat.” Betapa tidak, hampir sebagian besar waktu, kita habiskan untuk mengejar dunia. Dan apa yang kita peroleh dari dunia ini kita gunakan kembali sebagai modal mencari dunia lainnya.

Setiap kali berhasil memenuhi suatu kebutuhan dan kita puas dengannya, maka akan timbul kebutuhan baru. Kalau kita punya TV, kita ingin punya VCD player, dan kemudian VCD-nya, lalu kita butuh raknya, kita butuh TV yang lebih besar, sehingga kita bisa menyulap rumah menjadi seperti gedung bioskop dan seterusnya.

‘Butuh’. Itulah kata sederhana yang sudah terbiasa masuk ke telingan kita, namun siapa menyangka di balik kata itu banyak orang yang rela mengorbankan hampir seluruh waktunya untuk mememenuhi apa yang diinginkannya. Dari yang banyak manfaatnya sampai yang tidak bermanfaat sama sekali, dari perkara yang kecil Sampai hal yang besar, sehingga banyak di antara manusia yang lalai dan tidak memperhatikan batasan yang ada.

Satu hal yang sangat ironis, bahwa banyak di antara manusia yang tidak memahami makna kebutuhan, bahkan lebih dari itu, juga tidak bisa membedakan makna kebutuhan dan keinginan.  Sehingga mereka sering mengedepankan nafsu daripada perasaan. Bahkan di dalam do’a sekalipun sering kali kita terbawa oleh nafsu. Mengapa demikian? Karena kita lebih sering mendahulukan keinginan daripada kebutuhan.

Rasulullah Saw bersabda: “Andaikata anak Adam itu memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulutnya melainkan tanah (maut), dan Allah menerima siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.” (HR Muslim).

Keinginan manusia tidak terbatas, sementara itu kebutuhan manusia terbatas. Sebagai contoh, kebutuhan manusia akan makan dan minum untuk memenuhi gizi dan kalori saja, cukup dengan sepiring nasi dan beberapa lauk pauk saja. Demikian juga dengan kebutuhan pakaian, cukup menutupi aurat dan melindungi badan dari panas dan dingin. Sedangkan kalau kita mengikuti keinginan, perut senantiasa ingin diisi sebanyak-banyaknya dengan makanan lezat, tubuh ingin mengenakan pakaian mewah, demikian pula keinginan akan tempat tinggal dan kendaraan.  

Ilmu ekonomi konvensional (kapitalisme) tidak membedakan keinginan dengan kebutuhan. Mereka menyamakan keduanya dengan alasan, jika tidak terpenuhi keinginan, maka akan akan mengakibatkan kelangkaan (scarity). Hal ini sangat jelas dari teori ekonomi konvensional yang menyatakan bahwa ekonomi adalah perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan / keinginan yang tidak terbatas dengan faktor produksi (sumber daya) yang terbatas. Inilah yang menjadi penyebab berbagai kerusakan dan ekploitasi sumber daya alam dan sumberdaya manusia.

Dengan prinsip ini pula dalam kasus ekonomi konvensional tidak ada distribusi kekayaan yang bersifat sosial, yang mendominasi adalah hak milik pribadi, yang pada akhirnya menimbulkan sifat individualistis, egois dan rakus. Itulah sebabnya kita menemukan banyak fenomena di mana segelintir orang bisa menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk memenuhi kebutuhan / keinginannya dalam sehari. Sementara itu masih banyak orang yang mengalami kesulitan luar biasa untuk mendapatkan sesuap nasi. Prinsip ini jelas berbeda dengan ajaran Islam.

Dalam ajaran Islam, kebutuhan (hajat) adalah suatu yang dibutuhkan manusia dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya, yaitu menjalankan tugas sebagai hamba Allah dengan beribadah secara maksimal. Karena ibadah kepada Allah adalah wajib, maka kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan agar kewajiban itu terlaksana dengan baik, maka hukumnya menjadi wajib juga, sebagaimana kaidah “Sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka ia wajib adanya.”

Inilah prinsip dasar dalam setiap kegiatan manusia menurut Islam, yaitu senantiasa mengaitkannya dengan tujuan utama manusia diciptakan yaitu untuk beribadah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka Allah menghiasi manusia dengan nafsu, dengan adanya nafsu, maka muncullah keinginan dalam diri manusia. Allah Swt berfirman: “ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali ‘Imraan 3: 14). Jika manusia selalu menuruti keinginannya, maka sama halnya dengan menuruti nafsunya. Nafsu ini akan mendorong kepada kejahatan, kezhaliman dan kemaksiatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah (QS Yusuf 12 : 33), yang bisa mendorong kepada kebajikan. 

Setiap kali kita menengok ke kiri ke kanan ternyata masih amat sangat banyak yang belum kita miliki. Motivasi untuk bekerjapun semakin bertambah, cinta kepada dunia semakin melekat. Keinginan memiliki HP tercanggih, mobil banyak dan mewah, memiliki rumah lebih banyak dan besar baik untuk diri sendiri, maupun keluarga dan kerabatnya bukanlah hal yang terlarang. Yang menjadi masalah adalah sejauh mana harta-harta tersebut dapat membahagiakan kita di masa mendatang.

Kita bisa menyaksikan perilaku yang dilakukan oleh mereka yang semestinya sudah amat sangat berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan dalam hidup di dunia, namun masih juga memperkaya diri dengan melakukan korupsi, suatu perilaku yang selain melanggar hukum yang dibuat manusia, juga telah melanggar hukum Allah. Dalam kehidupannya, manusia sebagai mahluk di muka bumi ini, memerlukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun manusia mengabaikan peringatan Allah untuk tidak berlebih-lebihan sampai tak mengenal batas, karena sifat manusia yang cenderung selalu ingin tambah dan selalu tambah banyak lagi. Itulah hidup yang dilandasi pemenuhan keinginan (nafsu,) melebihi kebutuhan yang layak. Allah Swt telah memperingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Maaidah 5: 87).  

Kita lihat saja korupsi di negeri kita ini, sudah merambah ke segala lini kehidupan manusia Indonesia, termasuk di jajaran pemerintahanan, legislatif dan penegak hukum - di pusat maupun daerah, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Perilaku itu sungguh amat sangat menyedihkan untuk tidak mengatakan memuakkan, di mana keimanan dan ketakwaan kaum Muslimin sudah sampai pada titik nadir.  Belum lama ini kita menyaksikan seorang petinggi kepolisian Negara (Polri) yang memiliki kekayaan ratusan milyar rupiah, telah dikenakan pidana 10 tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), karena terbukti bersalah telah menerima suap dan melakukan pencucian uang dalam kasus pengadaan peralatan simulator Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kemudian seorang Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) negeri kita ini pada awal bulan lalu, telah tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap dalam memutus perkara sengketa hasil pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada). Ia adalah orang yang paling bertanggungjawab mengawal tegaknya konstitusi, sumber hukum dari setiap hukum dan undang-undang Peristiwa ini sungguh mengejutkan dan memprihatinkan, mengingat ia adalah penegak hukum tertinggi di negeri ini yang seharusnya memberikan teladan terbaik bagi bangsa Indonesia.

Itulah tragedi terbesar di kalangan penegak hukum di negeri kita ini akibat ketidakpuasan atas apa yang telah diraihnya untuk memenuhi keinginan (nafsu) duniawinya sampai melupakan akhiratnya. Ironisnya sang Ketua MK itu sendirilah yang pernah mengatakan agar koruptor - termasuk penerima suap - dihukum potong jari tangannya. Sehingga wajarlah jika masyarakat menuntut agar sang Ketua MK itu dihukum paling berat; potong tangan, penjara seumur hidup, bahkan dihukum mati. Itulah yang terjadi pada seorang penegak hukum yang tidak mengindahkan kaidah keadilan di dunia dan akhirat. Itulah orang yang tidak bersyukur atas nikmat Allah Swt. Itulah orang yang tidak berpikir untuk masa depan yang hakiki, yaitu masa depan yang lebih baik dan lebih kekal.

Kalau dikatakan seseorang tidak berfikir untuk masa depan, sebenarnya hampir semua orang memikirkan masa depannya. Kalau dikatakan seseorang tidak berpikir untuk masa depan, untuk apa ia bersusah payah bersekolah, untuk apa ia ikut serta membayar dana pensiun. Kalau dikatakan tidak berfikir untuk masa depan, untuk apa orang menabung? Kalau dikatakan seseorang tidak berpikir untuk menghadapi hal-hal yang tiba-tiba, untuk ia ikut asuransi?

Hampir semua orang berfikir untuk kebahagiaan masa depan. Hampir semua orang berfikir untuk menghadapi suatu yang mendadak. Tetapi pada umumnya yang mereka pikirkan dan aktivitasnya masih dalam kerangka duniawi. Masih dalam kerangka masa kini dan di dunia ini. Tetapi berapa lama kita dapat menikmati semuanya itu?  

Isteri kita yang kini masih cantik dan muda, 10-20 tahun lagi mungkin tidak lagi cantik dan muda lagi, 10-20  ke depan kita selesai bekerja, dan belum lagi hilang rasa letih dan lelah kita bekerja, kita sudah harus memilih antara sakit dan makan enak, kita tidak bisa lagi menikmati sepenuhnya harta dan kekayaan dan apa sajayang kita kumpulkan sewaktu fisik masih kuat.

Mengapa kita tidak berfikir bahwa kelak kita punya kesempatan untuk merenggguk kebahagiaan yang tiada habisnya? Isteri-isteri yang selalu muda, anak-anak kecil yang tetap kecil dan enak dipandang mata (wildanum mukhalladun), pemuda-pemuda yang tampan, rumah dan taman yang luas. Tak ada rasa iri, tak ada rasa dengki, semua yang kita minta tersedia (wa absiru bi jannatillati tuu’adun). Dan bahkan kita pun bisa bertemu dengan orang-orang yang kita cintai selama kita hidup di dunia, karena Allah telah menjanjikan: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.(QS Ath-Thuur 52: 21).

Jawabannya adalah keyakinan kita. Adakah keyakinan kita akan hal tersebut? Itulah masa depan yang hakiki. Kita semua sesungguhnya berada dalam penantian. Kita sama-sama menantikan datangnya tamu besar dari Allah Swt. Tamu yang pasti datang mengunjungki setiap diri dari kita. Siapakah tamu besar itu? Dialah kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali ‘Imraan 3: 185).

Kematian adalah suatu hal yang pasti datang pada diri kita. Minggu depan, lusa, besok, hari ini, satu jam lagi, atau bahkan detik ini juga, kematian akan menjemput kita. Hanya Allah Swt  lah yang mengetahui kapan saatnya kematian itu datang. Allah Swt berfirman:  Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, ..” (QS An-Nisaa’ 4: 78).

Bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi datangnya kematian yang datangnya tiba-tiba ini? Apakah hidup kita di dunia lebih banyak kita gunakan untuk ibadah, atau mengerjakan hal-hal yang tidak berguna, atau bahkan untuk maksiat? Apakah shalat, shaum, zakat, membaca Al-Qur’an, berdakwah - bagi para da’i, yang kita lakukan adalah karena mengharap ridha Allah atau karena dorongan hal-hal lain? Bagaimana kalau kelak ketika kita menceritakan amal-amal shaleh yang kita telah kita perbuat, dan menyatakan bahwa semua itu karena mengharapkan ridha Allah, dan kemudian, Allah membentak keras: "Kamu bohong! Kamu shalat karena kebiasaan semata. Kamu puasa karena mengikuti orang-orang lain. Kamu berdakwah karena mengharap pujian atau hal-hal lain.

Sunggung kematian adalah muara sungai kehidupan. Muara kehidupan itu memang bagaikan anak sungai yang berliku-liku dan panjang dan sungai-sungai itu akan bermuara pada suatu tempat, yaitu lautan yang luas. Di situlah segala kehidupan manusia berakhir. Kematian akan meninggalkan segala apa yang dimiliki manusia di dunia. Anak, isteri, suami, harta kekayaan, ..... tak satupun yang akan kita bawa ke alam kubur, kecuali bekal amal shaleh selama kehidupan kita di dunia. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian. Kematian akan memusnahkan segala kenikmatan di dunia. “

Tidak seorangpun dapat menghindarkan datangnya kematian pada dirinya. Jika kematian itu telah datang, maka tak sedetikpun kita dapat menunda. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali ‘Imraan 3: 145).

Bagi orang-orang yang takwa, kematian adalah salah satu yang selalu diingat dan menjadi perhatiannya. Apabila kita benar-benar takwa, kita akan selalu mengingat bahwa dahulu kita berada di sisi Allah. Kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini untuk menjalani kehidupan sementara, kemudian kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain kita dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya dalam keadaan Islam. Sementara Ini fakta yang banyak terjadi di dunia sebelum kematian adalah bahwa kita yakin akan datangnya kematian, namun kita tidak mempersiapkan diri menghadapi kematian itu. Kita yakin akan surga, namun kita tidak beramal untuknya, dan kita yakin akan adanya neraka, namun kita tidak merasa takut kepadanya. Maka atas dasar apa kita bersuka ria di dunia ini? Mengapa kita melupakan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat?

Dalam tulisan  No.199 (5-10-13), kita telah mempelajari akibat yang menimpa diri kita bila melakukan maksiat yang disadur dari hasil penelitian ahli fikih, ahli hadits, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Menurutnya, ada 22 (dua puluh dua) akibat yang akan menimpa diri manusia yang melakukan maksiat. “Astaghfirullah, begitu banyak kerugian kita akibat berbuat maksiat. Ya Allah,  jauhkanlah kami dari perbuatan maksiat, berikanlah kami bimbingan, perlindungan dan keberkahan-Mu. Amien,” tulis seorang pembaca dalam komentarnya. Tentunya hal ini dikaitkan dengan apa yang seharusnya dilakukan orang-orang Mukmin di dunia ini, yaitu melakukan muhasabah total, dan taubatan nasuha selagi kita masih berada di dunia dalam waku yang tidak kita ketahui, karena ajal seseorang hanya Allah yang menentukannya.

Rasulullah Saw bersabda: “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).

Kematian adalah pintu gerbang bagi kita manusia, yang akan mengantarkan diri ke babak kehidupan berikutnya, kehidupan akhirat yang abadi. Bagi seseorang, alam kubur bisa menjadi sebagian taman-taman surga, dapat juga menjadi parit-parit neraka yang akan didapatkannya.

Untuk itulah kita selalu mengingat akan datangnya kematian ini dengan mempersiapkan bekal yang sebaik-baiknya. Kita bekali diri kita dengan amal shaleh dan berusaha mencari ridha Allah dalam setiap amal ibadah kita untuk mencapai masa depan yang hakiki. Sehingga kita tidak akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyesali kehidupan di dunia. Ingatlah: “Allah adalah Penguasa hari pembalasan.” (QS Al-Faatihah 1: 4). Demi Allah, tidak seorangpun yang paling bahagia daripada seseorang yang masuk ke dalam kubur dalam keadaan aman dari siksa Allah. Wallauhu A’lam bish shawab.
Hermanto Harsolumakso
No. 201
 

3 komentar:

  1. Seperti komentar saya untuk tulisan sebelum ini (No. 200), bayak orang bukannya bertaubat, malahan banyak yang makin kufur. Korupsi makin meraja lela. Apa yang salah dan siapa yang salah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama para ulama telah gagal menyampaikan dakwahnya secara tepat, sehingga ajaran yang disampaikannya tidak membekas di hati ummat. Di sinilah peran para ulama yang seharusnya berada di garis terdepan untuk mengajarkan ilmu yang mereka miliki, dan memberi teladan dalam mengamalkan apa yang mereka ajarkan kepada ummat agar keindahan Islam terlihat dari perilaku mulia ummat Islam.Kedua, dalam kaitan ilmu dan teknologi, cara memanfaatkan ilmu untuk kepentingan praktis disebut teknologi. Jika materi dakwah diibaratkan ilmu, maka ijtihad adalah teknologinya. Ijtihad itu perlu untuk menangani masalah manusia yang berubah dan berkembang dari waktu ke waktu secara dinamik. Inilah tantangan bagi ummat Islam terutama para ulamanya, yakni harus berdiri paling depan bagaimana berijtihad merumuskan metoda (sistem penerapan dakwah) yang praktis dan tepat, sehingga ummat dapat dengan mudah melakukan muhasabah untuk meningkatkan kualitas iman dan takwanya. Di banyak negara maju yang tidak menjadikan agama sebagai rujukan dalam mendidik bangsanya bisa dengan baik. Mengapa kita tidak bisa? Jadi yang salah adalah metode dakwah dan siapa yang salah adalah ulama. Lebih janjut silakan baca tulisan No. 9 di lajur kanan No. 96. Wassalam. Hermanto Hs.

      Hapus
    2. Terima kasih jawaban ustadz. Wassalam.

      Hapus