Allah Swt
berfirman: ▪ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS
Al-Qashsash 28: 77). ▪ “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan
duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS
Al-A’la 87: 16-17)
Dari kedua ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa di satu sisi Allah menyerukan agar kita mengingat akhirat, tetapi jangan melupakan dunia. Di sisi yang lain Allah juga memperingatkan kita akan masa depan yang hakiki, yakni kehidupan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal. Ini berarti agar kita senantiasa menjaga keseimbangan dalam hidup di dunia dan akhirat.
Apabila seorang ayah berkata kepada anaknya: “Nak kamu boleh bermain-main, tapi jangan lupa makan.,” Maka dari ucapan ayah tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, anak tersebut terlalu banyak bermain-main, sehingga perlu diingatkan agar jangan sampai lupa makan. Kalau Allah berseru kepada hambanya: “Carilah akhirat dan jangan lupa duniamu,” maka itu artinya hamba yang beriman lebih banyak mencari akhirat, sehingga lupa pada dunianya, padahal Islam mengajarkan kehidupan dunia dan akhirat secara berimbang.
Namun kenyatannya orientasi kehidupan kita lebih banyak pada dunia dan hampir-hampir melupakan akhirat, sepertinya seruan yang lebih tepat untuk kita adalah: “Carilah dunia jangan lupakan akhirat.” Betapa tidak, hampir sebagian besar waktu, kita habiskan untuk mengejar dunia. Dan apa yang kita peroleh dari dunia ini kita gunakan kembali sebagai modal mencari dunia lainnya.
Setiap kali berhasil memenuhi suatu kebutuhan dan kita puas dengannya, maka akan timbul kebutuhan baru. Kalau kita punya TV, kita ingin punya VCD player, dan kemudian VCD-nya, lalu kita butuh raknya, kita butuh TV yang lebih besar, sehingga kita bisa menyulap rumah menjadi seperti gedung bioskop dan seterusnya.
‘Butuh’. Itulah kata sederhana yang sudah terbiasa masuk ke telingan kita, namun siapa menyangka di balik kata itu banyak orang yang rela mengorbankan hampir seluruh waktunya untuk mememenuhi apa yang diinginkannya. Dari yang banyak manfaatnya sampai yang tidak bermanfaat sama sekali, dari perkara yang kecil Sampai hal yang besar, sehingga banyak di antara manusia yang lalai dan tidak memperhatikan batasan yang ada.
Satu hal yang sangat ironis,
bahwa banyak di antara manusia yang tidak memahami makna kebutuhan, bahkan
lebih dari itu, juga tidak bisa membedakan makna kebutuhan dan keinginan. Sehingga mereka sering mengedepankan nafsu
daripada perasaan. Bahkan di dalam do’a sekalipun sering kali kita terbawa oleh
nafsu. Mengapa demikian? Karena kita lebih sering mendahulukan keinginan
daripada kebutuhan.
Rasulullah Saw bersabda: “Andaikata
anak Adam itu memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki satu lembah
lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulutnya melainkan tanah (maut), dan Allah
menerima siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.” (HR Muslim).
Keinginan manusia tidak
terbatas, sementara itu kebutuhan manusia terbatas. Sebagai contoh, kebutuhan
manusia akan makan dan minum untuk memenuhi gizi dan kalori saja, cukup dengan sepiring
nasi dan beberapa lauk pauk saja. Demikian juga dengan kebutuhan pakaian, cukup
menutupi aurat dan melindungi badan dari panas dan dingin. Sedangkan kalau kita
mengikuti keinginan, perut senantiasa ingin diisi sebanyak-banyaknya dengan
makanan lezat, tubuh ingin mengenakan pakaian mewah, demikian pula keinginan akan
tempat tinggal dan kendaraan.
Ilmu ekonomi konvensional (kapitalisme)
tidak membedakan keinginan dengan kebutuhan. Mereka menyamakan keduanya
dengan alasan, jika tidak terpenuhi keinginan, maka akan akan mengakibatkan
kelangkaan (scarity). Hal ini sangat jelas dari teori ekonomi
konvensional yang menyatakan bahwa ekonomi adalah perilaku manusia untuk
memenuhi kebutuhan / keinginan yang tidak terbatas dengan faktor produksi (sumber
daya) yang terbatas. Inilah yang menjadi penyebab berbagai kerusakan dan
ekploitasi sumber daya alam dan sumberdaya manusia.
Dengan prinsip ini pula dalam
kasus ekonomi konvensional tidak ada distribusi kekayaan yang bersifat sosial,
yang mendominasi adalah hak milik pribadi, yang pada akhirnya menimbulkan sifat
individualistis, egois dan rakus. Itulah sebabnya kita menemukan banyak
fenomena di mana segelintir orang bisa menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk
memenuhi kebutuhan / keinginannya dalam sehari. Sementara itu masih banyak
orang yang mengalami kesulitan luar biasa untuk mendapatkan sesuap nasi.
Prinsip ini jelas berbeda dengan ajaran Islam.
Dalam ajaran Islam, kebutuhan
(hajat) adalah suatu yang dibutuhkan manusia dalam rangka mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya, yaitu menjalankan tugas
sebagai hamba Allah dengan beribadah secara maksimal. Karena ibadah kepada
Allah adalah wajib, maka kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan agar kewajiban
itu terlaksana dengan baik, maka hukumnya menjadi wajib juga, sebagaimana
kaidah “Sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka ia wajib
adanya.”
Inilah prinsip dasar dalam
setiap kegiatan manusia menurut Islam, yaitu senantiasa mengaitkannya dengan
tujuan utama manusia diciptakan yaitu untuk beribadah. Untuk memenuhi kebutuhan
ini, maka Allah menghiasi manusia dengan nafsu, dengan adanya nafsu, maka
muncullah keinginan dalam diri manusia. Allah Swt berfirman: “ Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali ‘Imraan
3: 14). Jika manusia selalu menuruti keinginannya, maka sama halnya dengan
menuruti nafsunya. Nafsu ini akan mendorong kepada kejahatan, kezhaliman dan
kemaksiatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah (QS Yusuf 12 : 33), yang
bisa mendorong kepada kebajikan.
Setiap kali kita menengok ke
kiri ke kanan ternyata masih amat sangat banyak yang belum kita miliki.
Motivasi untuk bekerjapun semakin bertambah, cinta kepada dunia semakin
melekat. Keinginan memiliki HP tercanggih, mobil banyak dan mewah, memiliki
rumah lebih banyak dan besar baik untuk diri sendiri, maupun keluarga dan
kerabatnya bukanlah hal yang terlarang. Yang menjadi masalah adalah sejauh mana
harta-harta tersebut dapat membahagiakan kita di masa mendatang.
Kita bisa
menyaksikan perilaku yang dilakukan oleh mereka yang semestinya sudah amat
sangat berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan dalam hidup di dunia, namun masih
juga memperkaya diri dengan melakukan korupsi, suatu perilaku yang selain
melanggar hukum yang dibuat manusia, juga telah melanggar hukum Allah. Dalam
kehidupannya, manusia sebagai mahluk di muka bumi ini, memerlukan sesuatu untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun manusia mengabaikan peringatan Allah untuk
tidak berlebih-lebihan sampai tak mengenal batas, karena sifat manusia yang
cenderung selalu ingin tambah dan selalu tambah banyak lagi. Itulah hidup yang dilandasi
pemenuhan keinginan (nafsu,) melebihi kebutuhan yang layak. Allah Swt telah
memperingatkan: “Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang
telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS Al-Maaidah 5: 87).
Kita lihat saja korupsi di
negeri kita ini, sudah merambah ke segala lini kehidupan manusia Indonesia, termasuk
di jajaran pemerintahanan, legislatif dan penegak hukum - di pusat maupun
daerah, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Perilaku itu sungguh amat sangat
menyedihkan untuk tidak mengatakan memuakkan, di mana keimanan dan ketakwaan kaum
Muslimin sudah sampai pada titik nadir. Belum
lama ini kita menyaksikan seorang petinggi kepolisian Negara (Polri) yang memiliki
kekayaan ratusan milyar rupiah, telah dikenakan pidana 10 tahun penjara oleh
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), karena terbukti bersalah telah
menerima suap dan melakukan pencucian uang dalam kasus pengadaan peralatan simulator
Surat Izin Mengemudi (SIM).
Kemudian seorang Ketua
Mahkamah Konstitusi (MK) negeri kita ini pada awal bulan lalu, telah tertangkap
tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap dalam
memutus perkara sengketa hasil pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada). Ia adalah
orang yang paling bertanggungjawab mengawal tegaknya konstitusi, sumber hukum
dari setiap hukum dan undang-undang Peristiwa ini sungguh mengejutkan dan memprihatinkan,
mengingat ia adalah penegak hukum tertinggi di negeri ini yang seharusnya memberikan
teladan terbaik bagi bangsa Indonesia.
Itulah tragedi terbesar di
kalangan penegak hukum di negeri kita ini akibat ketidakpuasan atas apa yang telah
diraihnya untuk memenuhi keinginan (nafsu) duniawinya sampai melupakan
akhiratnya. Ironisnya sang Ketua MK itu sendirilah yang pernah mengatakan agar
koruptor - termasuk penerima suap - dihukum potong jari tangannya. Sehingga wajarlah
jika masyarakat menuntut agar sang Ketua MK itu dihukum paling berat; potong
tangan, penjara seumur hidup, bahkan dihukum mati. Itulah yang terjadi pada
seorang penegak hukum yang tidak mengindahkan kaidah keadilan di dunia dan akhirat.
Itulah orang yang tidak bersyukur atas nikmat Allah Swt. Itulah orang yang
tidak berpikir untuk masa depan yang hakiki, yaitu masa depan yang lebih baik
dan lebih kekal.
Kalau dikatakan seseorang tidak
berfikir untuk masa depan, sebenarnya hampir semua orang memikirkan masa depannya.
Kalau dikatakan seseorang tidak berpikir untuk masa depan, untuk apa ia bersusah
payah bersekolah, untuk apa ia ikut serta membayar dana pensiun. Kalau
dikatakan tidak berfikir untuk masa depan, untuk apa orang menabung? Kalau
dikatakan seseorang tidak berpikir untuk menghadapi hal-hal yang tiba-tiba,
untuk ia ikut asuransi?
Hampir semua orang berfikir
untuk kebahagiaan masa depan. Hampir semua orang berfikir untuk menghadapi
suatu yang mendadak. Tetapi pada umumnya yang mereka pikirkan dan aktivitasnya masih
dalam kerangka duniawi. Masih dalam kerangka masa kini dan di dunia ini. Tetapi
berapa lama kita dapat menikmati semuanya itu?
Isteri kita yang kini masih
cantik dan muda, 10-20 tahun lagi mungkin tidak lagi cantik dan muda lagi,
10-20 ke depan kita selesai bekerja, dan
belum lagi hilang rasa letih dan lelah kita bekerja, kita sudah harus memilih
antara sakit dan makan enak, kita tidak bisa lagi menikmati sepenuhnya harta
dan kekayaan dan apa sajayang kita kumpulkan sewaktu fisik masih kuat.
Mengapa kita tidak berfikir
bahwa kelak kita punya kesempatan untuk merenggguk kebahagiaan yang tiada
habisnya? Isteri-isteri yang selalu muda, anak-anak kecil yang tetap kecil dan
enak dipandang mata (wildanum mukhalladun), pemuda-pemuda yang tampan, rumah
dan taman yang luas. Tak ada rasa iri, tak ada rasa dengki, semua yang kita
minta tersedia (wa absiru bi jannatillati tuu’adun). Dan bahkan kita pun bisa bertemu dengan orang-orang yang
kita cintai selama kita hidup di dunia, karena Allah telah menjanjikan: “Dan
orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan
Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat
dengan apa
yang dikerjakannya.”
(QS Ath-Thuur 52: 21).
Jawabannya adalah keyakinan
kita. Adakah keyakinan kita akan hal tersebut? Itulah masa depan yang hakiki. Kita
semua sesungguhnya berada dalam penantian. Kita sama-sama menantikan datangnya
tamu besar dari Allah Swt. Tamu yang pasti datang mengunjungki setiap diri dari
kita. Siapakah tamu besar itu? Dialah kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan
pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka
sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan.” (QS Ali ‘Imraan 3: 185).
Kematian adalah suatu hal yang
pasti datang pada diri kita. Minggu depan, lusa, besok, hari ini, satu jam
lagi, atau bahkan detik ini juga, kematian akan menjemput kita. Hanya Allah
Swt lah yang mengetahui kapan saatnya
kematian itu datang. Allah Swt berfirman:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun
kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, ..” (QS An-Nisaa’ 4: 78).
Bekal apa yang telah kita
persiapkan untuk menghadapi datangnya kematian yang datangnya tiba-tiba ini? Apakah hidup kita di dunia lebih banyak kita gunakan untuk ibadah, atau
mengerjakan hal-hal yang tidak berguna, atau bahkan untuk maksiat? Apakah
shalat, shaum, zakat, membaca Al-Qur’an, berdakwah - bagi para da’i, yang kita
lakukan adalah karena mengharap ridha Allah atau karena dorongan hal-hal lain?
Bagaimana kalau kelak ketika kita menceritakan amal-amal shaleh yang kita telah
kita perbuat, dan menyatakan bahwa semua itu karena mengharapkan ridha Allah,
dan kemudian, Allah membentak keras: "Kamu bohong! Kamu
shalat karena kebiasaan semata. Kamu puasa karena mengikuti orang-orang lain.
Kamu berdakwah karena mengharap pujian
atau hal-hal lain.”
Sunggung kematian adalah muara
sungai kehidupan. Muara kehidupan itu memang bagaikan anak sungai yang berliku-liku
dan panjang dan sungai-sungai itu akan bermuara pada suatu tempat, yaitu lautan
yang luas. Di situlah segala kehidupan manusia berakhir. Kematian akan
meninggalkan segala apa yang dimiliki manusia di dunia. Anak, isteri, suami,
harta kekayaan, ..... tak satupun yang akan kita bawa ke alam kubur, kecuali
bekal amal shaleh selama kehidupan kita di dunia. Rasulullah Saw pernah
bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian. Kematian akan memusnahkan segala
kenikmatan di dunia. “
Tidak seorangpun dapat
menghindarkan datangnya kematian pada dirinya. Jika kematian itu telah datang,
maka tak sedetikpun kita dapat menunda. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati
melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. “Sesuatu
yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan
yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya
Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali ‘Imraan 3: 145).
Bagi orang-orang yang takwa,
kematian adalah salah satu yang selalu diingat dan menjadi perhatiannya. Apabila
kita benar-benar takwa, kita akan selalu mengingat bahwa dahulu kita berada di sisi Allah. Kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini untuk menjalani
kehidupan sementara, kemudian kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain
kita dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya dalam keadaan
Islam. Sementara Ini fakta yang banyak terjadi di dunia sebelum kematian adalah
bahwa kita yakin akan datangnya kematian, namun kita tidak mempersiapkan diri
menghadapi kematian itu. Kita yakin akan surga, namun kita tidak beramal
untuknya, dan kita yakin akan adanya neraka, namun kita tidak merasa takut
kepadanya. Maka atas dasar apa kita bersuka ria di dunia ini? Mengapa kita
melupakan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat?
Dalam
tulisan No.199 (5-10-13), kita telah mempelajari akibat yang menimpa diri kita bila melakukan
maksiat yang disadur dari hasil penelitian ahli fikih, ahli hadits, ahli ilmu
nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Menurutnya, ada 22 (dua puluh dua) akibat yang
akan menimpa diri manusia yang melakukan maksiat. “Astaghfirullah, begitu
banyak kerugian kita akibat berbuat maksiat. Ya Allah, jauhkanlah kami dari perbuatan maksiat,
berikanlah kami bimbingan, perlindungan dan keberkahan-Mu. Amien,” tulis
seorang pembaca dalam komentarnya. Tentunya hal ini dikaitkan dengan apa yang
seharusnya dilakukan orang-orang Mukmin di dunia ini, yaitu melakukan muhasabah
total, dan taubatan nasuha selagi kita masih berada di dunia dalam waku
yang tidak kita ketahui, karena ajal seseorang hanya Allah yang menentukannya.
Rasulullah
Saw bersabda:
“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah
warna hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih.
Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi
hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati
mereka.” (HR
At-Tirmidzi).
Kematian adalah pintu gerbang bagi
kita manusia, yang akan mengantarkan diri ke babak kehidupan berikutnya,
kehidupan akhirat yang abadi. Bagi seseorang, alam kubur bisa menjadi sebagian
taman-taman surga, dapat juga menjadi parit-parit neraka yang akan
didapatkannya.
Untuk itulah kita selalu
mengingat akan datangnya kematian ini dengan mempersiapkan bekal yang
sebaik-baiknya. Kita bekali diri kita dengan amal shaleh dan berusaha mencari
ridha Allah dalam setiap amal ibadah kita untuk mencapai masa depan yang hakiki.
Sehingga kita tidak akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyesali
kehidupan di dunia. Ingatlah: “Allah adalah
Penguasa hari pembalasan.” (QS Al-Faatihah 1: 4). Demi Allah, tidak seorangpun
yang paling bahagia daripada seseorang yang masuk ke dalam kubur dalam keadaan
aman dari siksa Allah. Wallauhu A’lam bish shawab.
Hermanto Harsolumakso
No. 201
Seperti komentar saya untuk tulisan sebelum ini (No. 200), bayak orang bukannya bertaubat, malahan banyak yang makin kufur. Korupsi makin meraja lela. Apa yang salah dan siapa yang salah?
BalasHapusPertama para ulama telah gagal menyampaikan dakwahnya secara tepat, sehingga ajaran yang disampaikannya tidak membekas di hati ummat. Di sinilah peran para ulama yang seharusnya berada di garis terdepan untuk mengajarkan ilmu yang mereka miliki, dan memberi teladan dalam mengamalkan apa yang mereka ajarkan kepada ummat agar keindahan Islam terlihat dari perilaku mulia ummat Islam.Kedua, dalam kaitan ilmu dan teknologi, cara memanfaatkan ilmu untuk kepentingan praktis disebut teknologi. Jika materi dakwah diibaratkan ilmu, maka ijtihad adalah teknologinya. Ijtihad itu perlu untuk menangani masalah manusia yang berubah dan berkembang dari waktu ke waktu secara dinamik. Inilah tantangan bagi ummat Islam terutama para ulamanya, yakni harus berdiri paling depan bagaimana berijtihad merumuskan metoda (sistem penerapan dakwah) yang praktis dan tepat, sehingga ummat dapat dengan mudah melakukan muhasabah untuk meningkatkan kualitas iman dan takwanya. Di banyak negara maju yang tidak menjadikan agama sebagai rujukan dalam mendidik bangsanya bisa dengan baik. Mengapa kita tidak bisa? Jadi yang salah adalah metode dakwah dan siapa yang salah adalah ulama. Lebih janjut silakan baca tulisan No. 9 di lajur kanan No. 96. Wassalam. Hermanto Hs.
HapusTerima kasih jawaban ustadz. Wassalam.
Hapus