Allah Swt berfirman: ▪ “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
mereka kekal di dalamnya, dan baginya adzab yang
menghinakan”. (Q.S An-Nisaa’ 3: 14). ▪ “Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada
Allah, niscaya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Barangsiapa yang
mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan)
dirinya sendiri. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An
Nisaa’ 3: 110-111).
Rasulullah Saw bersabda: “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka
ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar,
hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu
pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah
dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka
usahakan itu menutup hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).
Untuk itu yang perlu kita ketahui adalah akibat yang menimpa diri kita
jika kita melakukan maksiat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah - ahli fikih, ahli hadits,
ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, dan mujtahid dari Suriah yang
hidup di abad ke-13, telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 (dua puluh
dua) akibat yang akan menimpa diri manusia.
1. Maksiat akan menghalangi kita
untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ilmu adalah
cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tetapi, kemaksiatan dapat menghalangi
dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya
hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah
telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah
engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.” Beliau menunjukkan kepada kita
bahwa pintu ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan
maksiat.
2. Maksiat akan menghalangi kita
untuk mendapatkan rezeki. Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rIzki, maka
meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah Saw bersabda,
“Seorang hamba dicegah dari rizki
akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR
Ahmad). Karena itu, kita harus meyakini bahwa takwa
adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rizki kita. Namun
tidak berarti semua orang yang mendapat rizki adalah orang yang takwa, bisa jadi rizki itu
merupakan ujian bagi mereka.
3. Maksiat akan membuat kita
berjarak dengan Allah. Diriwayatkan
ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian
jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka
tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih
pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”
4. Maksiat akan membuat kita berjarak
dengan orang-orang baik. Semakin banyak dan
semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita
dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Seorang salaf
berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya
pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”
5. Maksiat akan mempersulit urusan kita. Jika
ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempersulit
segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap
gulita. Ibnu Abbas Ra berkata: “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan
kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan.
Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidak-ceriaan
pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya
rizki dan kebencian makhluk.” Begitulah, jika kita gemar bermaksiat, semua
urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri
kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak
suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.
6. Maksiat melemahkan hati dan
badan. Kekuatan seorang Mukmin terpancar dari kekuatan
hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat,
meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam
dirinya. Lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum Muslimin
pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik
tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan
berpuasa.
7. Maksiat menghalangi untuk taat kepada Allah. Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat kepada
Allah. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi
mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan
lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat maksiat, kita akan
terhalang untuk berbuat taat.
8. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak
ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta,
dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya. Jika usia kita saat ini 40
tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia
kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak
memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat. Sementara
itu, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah Swt, usianya
begitu panjang, sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab ‘Riyadhush
Shalihin’ dan ‘Hadits Arbain’. yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab
dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin
generasi yang akan datang.
9. Perbuatan maksiat akan menumbuhkan maksiat lain. Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka
hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan
seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan
cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi
kebiasaan bagi pelakunya. Karena itu, berhati-hatilah, Jangan sekali-kali
mencoba berbuat maksiat. Kita akan akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti
jika sudah jadi kebiasaan.
10. Berbuat maksiat akan mematikan bisikan hati nurani. Maksiat
dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak
untuk berbuat maksiat yang lain.
11.
Maksiat juga dapat memutuskan keinginan hati untuk bertaubat. Inilah yang
menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita
sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain. Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat
begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali.
12. Tidak ada lagi rasa
malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak
lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa
malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain
dengan rinci semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa
yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah Swt. Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para
pewaris ummat yang pernah diazab Allah Swt. Inilah
akibat menimpa pelaku maksiat . Homoseksual
adalah maksiat warisan ummat Nabi Luth As Perbuatan curang dengan mengurangi
takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib As Kesombongan di muka bumi dan
menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan
takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Huud As. Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang
ini adalah pewaris kaum ummat terdahulu yang menjadi musuh Allah Swt. Dan Rasulullah
Saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk golongannya.” (HR Ahmad), Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.
13. Maksiat menimbulkan kehinaan dan
mewariskan kehina dinaan. Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah
sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak
seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia
kehendaki.” (QS Al-Hajj 22: 18). Sedangkan kemaksiatan itu
akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari
ketaatan kepada Allah Swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi
Allah-lah kemuliaan itu.” (QS Faathir 35: 10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah,
anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau
hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”
14. Maksiat merusak akal kita. Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal
yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat,
akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan
berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat
Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah
seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!
15. Maksiat menutup hati. Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang
selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS Al-Muthaffifiin 85: 14).
Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan
maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.
16. Rasulullah Saw melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk
jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan
perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan
menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-menyuap (HR At-Tirmidzi),
dan sebagainya.
17. Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat. Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada
jalan yang lurus. Allah Swt berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang
berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya
serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya
Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan
kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau
dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan
masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka
dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka,
dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan
peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (QS Al-Mukmin 40: 7-9).
18. Maksiat melenyapkan rasa malu. Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa
malu telah hilang dari diri kita, hilangkah seluruh kebaikan dari diri kita.
Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu
tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Al-Bukhari).
19. Maksiat yang kita lakukan adalah
bentuk meremehkan Allah. Jika
kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah
perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau
tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah
Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa.
20. Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita.
Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus
berbuat maksiat berteman dengan syeitan. Allah berfirman: “Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah
menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang
yang fasik.” (QS Al-Hasyir 59: 19).
21. Maksiat akan melenyapkan nikmat dan mendatangkan adzab Allah: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syuura 42: 30). Sayidina Ali Ra berkata: “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena taubat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?
21. Maksiat akan melenyapkan nikmat dan mendatangkan adzab Allah: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syuura 42: 30). Sayidina Ali Ra berkata: “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena taubat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?
22. Maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.
Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang
pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli
yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga
tinggi selain Allah? Hanya Allah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang
abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana,
sungguh ia telah tertipu.
Demikian penjelasan ini, untuk muhasabah
kita bersama, betapa dahsyatnya hukuman apabila
kita berbuat maksiat. Hendaknya kita memperbaiki diri sewaktu-waktu kapan saja
untuk meninggalkan maksiat. Betapa
kerugian yang kita dapatkan dengan berbuat maksiat, dengan memperhatikan peringatan
Allah Swt: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,
lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah
orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hasyr 59: 19). Semoga kita terlindung dari godaan syeitan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
(Disadur dari Rubrik Khutbah Jum’at,
Dakwatuna.Com - 15 Mei 2008)
Hermanto
Harsolumakso
No. 199
Astaghfirullah, begitu banyak kerugian kita akibat berbuat maksiat. Ya allah, jauhkanlah kami dari perbuatan maksiat, berikankanlah kami bimbingan, perlidungan dan keberkahan. Amien.
BalasHapusBagus ustadz,
BalasHapus