Selasa, 15 Oktober 2013

MENGENANG PENGORBANAN NABI IBRAHIM AS DAN KELUARGANYA

Allah Swt berfirman:

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١١٠﴾ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ ﴿١١١﴾
"Dan Kami abadikan nama baik Ibrahim, sebagai teladan bagi generasi kemudian. Keselamatan dilimpahkan kepada Ibrahim. Begitulah Kami karuniakan balasan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ash-Shaffaat 37: 108-111).

Setiap kali menjumpai Hari Raya Qurban tanggal 10 Dzulhijjah, kita mengenang dengan penuh hormat, seorang Nabi dan Rasul yang telah memperlihatkan kepatuhan luar biasa kepada Allah Swt. Beliau adalah Ibrahim As, seorang yang diakui sebagai cikal bakal dua bangsa yaitu Arab dan Yahudi, serta dihormati oleh penganut tiga agama besar, yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Ibrahim dikaruniai dua orang putera yakni Ismail dan Ishaq. Ismail menikah dengan wanita dari suku Jurhum; dari keduanya lahir dan beranak pinak orang-orang Arab. Sedangkan Ishaq mempunyai anak Ya'kub, seorang Nabi yang digelari Israil - hamba Allah yang setia; beliau menurunkan Bani Israil, yang dikenal pula sebagai bangsa Yahudi. Di antara keturunan Israil itu ada Musa As dan 'Isa As, sedangkan di antara orang-orang Arab ada Muhammad Saw.

Nabi Ibrahim As bukan hanya hamba Allah yang taat tetapi juga pendidik dan Pembina keluarga yang berhasil. Isteri beliau Hajar dan putera beliau Ismail merupakan dua orang yang menyandang keyakinan tak berbatas akan keagungan dan kebaikan Allah Swt. Hari ini kita mengenang untuk kesekian kalinya, peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh tiga hamba Allah pilihan tersebut. Mereka telah memperlihatkan contoh ketaatan yang luar biasa kepada Tuhannya. Mereka telah menempatkan kepatuhan kepada Allah jauh di atas cinta kasih kepada apapun dan siapapun, termasuk kepada anggota keluarga bahkan diri sendiri. Ismail adalah putera kandung yang telah lama diharap oleh ayah dan bundanya. Anak itu merupakan hasil dari do’a demi do’a yang diucapkan Ibrahim disertai tetesan air mata, pada saat beliau sudah berada dalam usia senja. Ismail adalah tumpuan kebanggan dan harapan kedua orang tuanya. Namun justru tatkala anak yang sangat diharap itu hadir di bumi, dan ketika ayah serta ibunya sedang membuainya dengan kasih sayang, datanglah ujian-ujian yang bukan alang kepalang beratnya.

Ketika ayah, ibu dan anak itu sedang melakukan perjalanan bertiga, di suatu kawasan padang pasir yang bernama Bakkah, Allah Swt memerintahkan Ibrahim As agar segera dan pada saat itu juga berangkat ke negeri Mesir, meninggalkan isteri dan anaknya yang masih bayi merah. Sebagai seorang suami dan lebih-lebih lagi sebagai seorang ayah, sudah tentu Ibrahim sempat terpana ketika menerima perintah tersebut. Selaku manusia biasa, tentu Ibrahim sangat berat hati untuk meninggalkan orang-orang yang amat disayanginya itu di tengah padang pasir yang luas, tanpa teman dan tanpa bekal yang memadai. Namun kegundahan itu hanya berlangsung beberapa saat. Sejurus kemudian beliau telah memantapkan dirinya kembali. Beliau segera sadar bahwa tidak patut seorang hamba meragukan kekuasaan Allah Swt. Perintah meninggalkan isteri dan anak, beliau terima dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Pengasih. Maka pasti Allah akan menghidupi dan melindungi orang-orang yang ditinggalkannya itu. Isteri Ibrahim, Siti Hajar juga mempunyai keyakinan yang sama. Maka beliau tidak menjadi cemas ataupun gelisah, sehingga tidak sedikitpun berusaha menghalangi kepergian suaminya. Dengan tenang Siti Hajar memandangi punggung suaminya yang semakin lama semakin menjauh. Hatinya menyatakan: Suami boleh pergi tetapi Allah yang Maha Agung tidak akan ke mana-mana. Suami tidak lagi dapat menolong, tetapi Allah Yang Maha Kuasa pasti akan dan pasti mampu melindungi setiap hamba-Nya. Innallaaha ma’anaa - sesungguhnya Allah senantiasa menyertai kita. Demikian keyakinan seorang wanita yang hatinya diisi penuh oleh iman yang sangat kokoh, sehingga tidak menyisakan lagi ruang untuk kebimbangan dan keraguan.  

Ujian nyata memang kemudian harus dihadapi oleh wanita shalihah itu. Ismail menangis menjerit, karena kehausan, padahal persediaan air sudah habis sama sekali. Maka Siti Hajar pun memandang ke segenap penjuru, mencari-cari orang yang lewat untuk dimintai seteguk air. Namun yang terlihat hanyalah pasir dan batu-batuan belaka. Beliau menidurkan Ismail di tanah, lalu naik ke bukit Shafa. Barangkali dari tempat yang tinggi akan nampak sebuah oasis, atau iring-iringan kafilah yang dapat dimintai air barang secawan. Ternyata sejauh mata mamandang hanya ada pasir dan batu. Beliaupun turun ke lembah lalu naik lagi ke bukit Marwah. Mungkin saja dari arah yang berbeda dapat dilihat orang-orang yang sedang melakukan perjalanan. Ternyata tidak ada juga. Namun toh wanita yang amat sabar itu tidak putus asa terhadap rahmah Allah. Didakinya lagi Shafa, kemudian Marwah, sampai tujuh kali balikan. Maka pada saat itulah Allah Swt berkenan memperlihatkan kekuasaan-Nya yang agung. Di dekat kaki Ismail yang tergolek, tampak tanah yang basah. Maka Siti Hajar mengeduk tanah itu dengan kedua tangannya. Ternyata di sana terdapat mata air yang jernih. Dengan adanya sumber air itu, selamatlah Ismail beserta ibunya. Subhanallah – Maha Hebat Allah, suci dari segala kelemahan dan kekurangan!

Ujian bagi keluarga Ibrahim As ternyata belum berakhir. Beberapa tahun kemudian, tatkala Ismail sudah remaja, tampan wajahnya, cerdas akalnya, dan luhur akhlaknya, datang lagi cobaan yang luar biasa berat kepada beliau. Maka berkatalah sang ayah kepada putera kesayangannya: "Wahai Ismail, malam tadi melalui mimpi aku menerima perintah Allah yang sangat berat. Aku disuruh menyembelih engkau anakku, dengan tanganku sendiri. Kini aku meminta pertimbanganmu, bagaimana sikap kita terhadap perintah ini?" Hanya sekejap Ismail As terdiam, meresapkan kata-kata ayahandanya. Pada detik berikutnya beliau sudah tegak menengadahkan muka, lalu berkata dengan lembut namun tegas:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾
"… Wahai ayahku, silakan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menyaksikan daku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar. (Ash-Shaffaat  37: 102).

Kemudian ayah dan anak itu pergi ke suatu tempat yang sunyi. Ismail As dengan suka rela telah membaringkan dirinya di atas tanah. Ibrahim As dengan hati yang mantap telah meletakkan pedang tajam di atas leher anak terkasihnya. Tidak ada sesuatu yang mengisi pikiran dan perasaan kedua hamba itu selain patuh dan taat kepada Allah Swt. Maka di saat mereka berada pada puncak penyerahan diri, Allah berfirman: " … Wahai Ibrahim, sungguh telah engkau laksanakan perintah melalui mimpi itu dengan benar. Kami pasti mengganjar balasan kemuliaan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Sungguh ini adalah suatu ujian yang nyata (Al-Shaffat:104-106). Allah menyelamatkan Ismail dan menggantinya dengan seekor hewan yang besar. Itulah yang disembelih Ibrahim As

Maka sesuai dengan janji-Nya, yang dikemukakan dalam empat ayat yang kita tuliskan di pangkal uraian ini, Allah Swt mengabadikan peristiwa ini untuk diingat dan dikenang umat manusia sampai akhir zaman. Perilaku Siti Hajar, yang tanpa kenal lelah berikhtiar mengupayakan rizki bagi anaknya, dengan selalu tawakkal - berserah diri kepada Allah sambil berdo’a kepada-Nya, diabadikan dalam bentuk ritual Sa’i, yang harus dilakukan oleh setiap mukmin yang melakukan Umrah atau Haji. Sedangkan tekad Ibrahim menyembelih Ismail As diabadikan dalam bentuk perintah ibadah Qurban kepada kaum Muslimin yang mampu, yakni menyembelih sapi, domba atau unta, pada Hari Raya Adha atau hari-hari Tasyrik

Kisah keluarga Ibrahim As dalam menghadapi ujian hidup, sebagaimana yang diceriterakan di dalam Al-Quran, mengajar manusia sikap dasar yang benar, yaitu bahwa hidup di dunia adalah ibadah – pengabdian diri kepada Allah Swt. Karena itu setiap kali seseorang mendengar perintah Allah dia harus menjawab dengan hati, dengan lisan dan dengan perbuatan: Sami’na wa atha’na - Kami dengar dan kami patuh. Allah telah menandaskan pada ayat 56 surah 51 Adz-Dzaariyat:  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ - Dan tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Tentu saja sebagai Rabbunnas - Pembina dan Pelindung manusia, Allah Swt menurunkan ketetapan-ketetapan yang manusia mampu melakukannya. QS Al-Baqarah 2: 286 menegaskan: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا - Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.”. Allah Maha Mengetahui bahwa manusia biasa tidak akan mampu menghadapi ujian seperti Ibrahim As yaitu berkurban dengan menyembelih putera kandung sendiri; maka Dia hanya memerintahkan kita mengurbankan hewan sembelihan. Allah Maha Mengatahui bahwa manusia biasa tidak akan sanggup menunaikan shalat fardhu limapuluh kali sehari; maka Dia hanya menyuruh kita melaksanakan shalat wajib lima kali saja. Allah Maha Mengetahui bahwa banyak orang yang karena keterbatasan dirinya tidak mampu menunaikan ibadah haji; maka Dia memfardhukan haji itu manistatha’a – bagi yang sanggup melaksanakannya yaitu yang sehat jasmani dan ruhani, memiliki biaya perjalanan, ada kendaraan yang mengantarkannya ke tanah suci, dan kondisinya aman.

Hakikat ibadah adalah melaksanakan suatu perbuatan dengan mengharapkan ridha Allah dan dengan cara yang sesuai aturan Allah. Tetapi kebanyakan manusia - termasuk yang telah mengaku Muslim - tidak sepenuhnya berbuat demikian. Kebanyakan orang justru melakukan banyak hal untuk memenuhi keinginan nafsu belaka, padahal nafsu yang tidak dikendalikan tidak akan pernah terpuaskan. Nafsu menginginkan untuk menguasai harta kekayaan sebanyak-banyaknya, sehingga orang kemudian mengusahakannya dengan segala cara, termasuk yang melanggar larangan agama. Rasulullah menyindir orang-orang yang bersikap demikian itu dengan sabdanya: "Seseorang itu apabila telah memiliki dua lembah penuh emas permata, dia masih mengusahakan lembah yang ketiga. Padahal yang dia perlukan ketika mati hanyalah sejengkal tanah untuk menguburkan jasadnya". Al-Quran bahkan secara jelas mengemukakan perintah Allah: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ - Dan makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. Firman Allah dan sabda Rasul Allah telah dikemukakan dengan tegas dan jelas, namun toh kebanyakan orang menutup telinganya rapat-rapat, tidak mau mendengarkannya. Merekapun mengumbar nafsunya dengan melewati segala batas dengan melampaui semua takaran.

Maka orang yang menjadi industriwan, mengeksploitasi sumberdaya alam habis-habisan tanpa peduli bahwa kekayaan alam itu dikaruniakan Allah bukan hanya kepada segolongan orang tetapi untuk semua manusia dari semua generasi. Orang yang memegang jabatan kepemimpinan, melakukan korupsi sebanyak-banyaknya tanpa mengingat bahwa yang dia curi itu milik masyarakat, termasuk yang sangat miskin. Orang yang berdagang, dengan menggunakan berbagai dalih mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, walaupun tahu bahwa banyak orang yang sengsara karena ulahnya itu. Orang yang menangani bisnis media informasi, menyajikan berita dan hiburan yang tidak ada manfaatnya bagi pembaca atau penonton, bahkan merusak akhlak masyarakat terutama generasi muda harapan Bangsa; tetapi mereka tidak peduli kerena yang disajikannya itu memberi keuntungan yang bertimbun-timbun.

Demikianlah yang terjadi, justru di negeri kita yang mayoritas penduduknya Muslim, sedemikian sehingga tata ekonomi yang terbentuk sama sekali tidak Islami. Rektor sebuah perguruan tinggi ekonomi bahkan menyatakan bahwa sistem ekonomi yang berkembang di negeri ini tidak lain kecuali ekonomi keserakahan. Akibat pelaksanaan ekonomi keserakahan itu terjadilah apa yang telah dikemukakan Al-Quran belasan abad yang lalu: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ - Nampak dengan nyata kerusakan di daratan dan lautan yang disebabkan ulah tangan manusia. Setiap hari kita memperoleh berita tentang kerusakan alam seperti banjir, tanah longsor, aberasi pantai, pencemaran udara, ambrolnya lapisan ozon, dan sebagainya. Semua itu merupakan akibat dari eksploitasi alam yang tidak terkendali. Bencana kemanusian berlangsung tak kalah hebatnya seperti semakin banyaknya penderita kecanduan narkoba, penyebaran HIV AIDS, makin banyaknya aborsi, makin maraknya pornografi, makin tingginya angka pengidap homoseksualitas, dan sebagainya. Allah masih menambahkan bencana-bencana lain yang tidak secara langsung merupakan hasil ulah manusia, seperti gempa tektonik, tsunami, pancaran lava dari gunung berapi, angin puyuh, dan sebagainya. Semua itu merupakan peringatan-peringatan keras dari Allah Swt kepada manusia agar mereka melakukan muhasabah - introspeksi, kemudian ishlah - melakukan perbaikan-perbaikan diri. Bila peringatan Allah itu tidak diindahkan, bisa jadi terjadi bencana total seperti yang telah menimpa kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan lain-lain.

Untuk menghindari azab Allah yang dahsyat, bangsa Indonesia harus menata ulang mind set kehidupannya. Sikap hidup yang benar menyatakan bahwa kehidupan dunia ini adalah ibadah, dan yang diusahakan dengan ibadah adalah ridha Allah, dan dalam naungan ridha Allah itu orang akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Sikap hidup yang benar adalah: bahwa kebahagiaan yang didambakan bukan hanya di dunia tetapi di dunia dan akhirat. Selanjutnya kebahahagiaan dunia diperoleh bukan dengan bermandi harta, tetapi dengan hati yang tenang tenteram. Orang memerlukan kekayaan dan boleh mengusahakan kekayaan yang sebanyak-banyaknya, tetapi kekayaan itu bukan sarana memuaskan nafsu - kekayaan harta adalah bekal dan modal ibadah. Demikian pula kedudukan, kekuasaan, keahlian, dan sebagainya. Dengan menggenggam semua itu orang dapat berbuat lebih banyak dan lebik haik untuk berbakti kepada Allah dengan menjadikan semua miliknya bermanfaat bagi banyak orang, Penataan kembali mind set tersebut sekaligus meruipakan langkah taubatan nasuha yaitu tobat yang bersungguh-sungguh kepada Allah Swt. Dengan perbaikan diri tersebut, insya Allah kita akan menikmati indahnya suasana di alam akhirat yang amat sangat panjang.

Sakib Machmud
No. 200

2 komentar:

  1. Sayangnya pengorbanan Nabi Ibrahim As telah dimanfaatkan oleh pengimpor dan pedagang hewan qurban untuk memperkaya diri sendiri. Inilah muslim di jaman edan. Wallahu'alam.

    BalasHapus
  2. Bayak orang bukannya bertaubat, malahan banyak yang makin kufur. Apa yang salah dan siapa yang salah?

    BalasHapus