Allah Swt berfirman:
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ
عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١١٠﴾ إِنَّهُ مِنْ
عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ ﴿١١١﴾
"Dan Kami abadikan nama baik Ibrahim, sebagai
teladan bagi generasi kemudian. Keselamatan dilimpahkan kepada Ibrahim.
Begitulah Kami karuniakan balasan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ash-Shaffaat 37: 108-111).
Setiap kali menjumpai Hari Raya Qurban tanggal 10 Dzulhijjah, kita
mengenang dengan penuh hormat, seorang Nabi dan Rasul yang telah memperlihatkan
kepatuhan luar biasa kepada Allah Swt. Beliau adalah
Ibrahim As, seorang yang diakui sebagai cikal bakal dua bangsa yaitu Arab dan
Yahudi, serta dihormati oleh penganut tiga agama besar, yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Ibrahim dikaruniai dua orang putera yakni
Ismail dan Ishaq. Ismail menikah dengan wanita dari suku Jurhum; dari keduanya
lahir dan beranak pinak orang-orang Arab. Sedangkan Ishaq mempunyai anak
Ya'kub, seorang Nabi yang digelari Israil - hamba Allah yang setia; beliau
menurunkan Bani Israil, yang dikenal pula sebagai bangsa Yahudi. Di antara
keturunan Israil itu ada Musa As dan 'Isa As, sedangkan di antara orang-orang Arab ada Muhammad Saw.
Nabi Ibrahim As bukan hanya hamba
Allah yang taat tetapi juga pendidik dan Pembina keluarga yang berhasil. Isteri
beliau Hajar dan putera beliau Ismail merupakan dua orang yang menyandang
keyakinan tak berbatas akan keagungan dan kebaikan Allah Swt. Hari ini kita
mengenang untuk kesekian kalinya, peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh
tiga hamba Allah pilihan tersebut. Mereka telah memperlihatkan contoh ketaatan
yang luar biasa kepada Tuhannya. Mereka telah menempatkan kepatuhan kepada
Allah jauh di atas cinta kasih kepada apapun dan siapapun, termasuk kepada
anggota keluarga bahkan diri sendiri. Ismail adalah putera kandung yang telah
lama diharap oleh ayah dan bundanya. Anak itu merupakan hasil dari do’a demi do’a
yang diucapkan Ibrahim disertai tetesan air mata, pada saat beliau sudah berada
dalam usia senja. Ismail adalah tumpuan kebanggan dan harapan kedua orang
tuanya. Namun justru tatkala anak yang sangat diharap itu hadir di bumi, dan
ketika ayah serta ibunya sedang membuainya dengan kasih sayang, datanglah
ujian-ujian yang bukan alang kepalang beratnya.
Ketika ayah, ibu dan
anak itu sedang melakukan perjalanan bertiga, di suatu kawasan padang pasir
yang bernama Bakkah, Allah Swt memerintahkan Ibrahim As agar segera dan pada
saat itu juga berangkat ke negeri Mesir, meninggalkan isteri dan anaknya yang
masih bayi merah. Sebagai seorang suami dan lebih-lebih lagi sebagai seorang ayah,
sudah tentu Ibrahim sempat terpana ketika menerima perintah tersebut. Selaku
manusia biasa, tentu Ibrahim sangat berat hati untuk meninggalkan orang-orang
yang amat disayanginya itu di tengah padang pasir yang luas, tanpa teman dan
tanpa bekal yang memadai. Namun kegundahan itu hanya berlangsung beberapa saat.
Sejurus kemudian beliau telah memantapkan dirinya kembali. Beliau segera sadar
bahwa tidak patut seorang hamba meragukan kekuasaan Allah Swt. Perintah
meninggalkan isteri dan anak, beliau terima dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Pengasih. Maka pasti
Allah akan menghidupi dan melindungi orang-orang yang ditinggalkannya itu.
Isteri Ibrahim, Siti Hajar juga mempunyai keyakinan yang sama. Maka beliau
tidak menjadi cemas ataupun gelisah, sehingga tidak sedikitpun berusaha
menghalangi kepergian suaminya. Dengan tenang Siti Hajar memandangi punggung
suaminya yang semakin lama semakin menjauh. Hatinya menyatakan: Suami boleh
pergi tetapi Allah yang Maha Agung tidak akan ke mana-mana. Suami tidak lagi
dapat menolong, tetapi Allah Yang Maha Kuasa pasti akan dan pasti mampu
melindungi setiap hamba-Nya. Innallaaha
ma’anaa - sesungguhnya Allah
senantiasa menyertai kita. Demikian keyakinan seorang wanita yang hatinya diisi
penuh oleh iman yang sangat kokoh, sehingga tidak menyisakan lagi ruang untuk
kebimbangan dan keraguan.
Ujian nyata memang
kemudian harus dihadapi oleh wanita shalihah itu. Ismail
menangis menjerit, karena kehausan, padahal persediaan air sudah habis sama
sekali. Maka Siti Hajar pun memandang ke segenap penjuru, mencari-cari orang
yang lewat untuk dimintai seteguk air. Namun yang terlihat hanyalah pasir dan
batu-batuan belaka. Beliau menidurkan Ismail di tanah, lalu naik ke bukit
Shafa. Barangkali dari tempat yang tinggi akan nampak sebuah oasis, atau
iring-iringan kafilah yang dapat dimintai air barang secawan. Ternyata sejauh
mata mamandang hanya ada pasir dan batu. Beliaupun turun ke lembah lalu naik
lagi ke bukit Marwah. Mungkin saja dari arah yang berbeda dapat dilihat
orang-orang yang sedang melakukan perjalanan. Ternyata tidak ada juga. Namun
toh wanita yang amat sabar itu tidak putus asa terhadap rahmah Allah. Didakinya
lagi Shafa, kemudian Marwah, sampai tujuh kali balikan. Maka pada saat itulah
Allah Swt berkenan memperlihatkan kekuasaan-Nya yang agung. Di dekat kaki
Ismail yang tergolek, tampak tanah yang basah. Maka Siti Hajar mengeduk tanah
itu dengan kedua tangannya. Ternyata di sana terdapat mata air yang jernih.
Dengan adanya sumber air itu, selamatlah Ismail beserta ibunya. Subhanallah – Maha Hebat Allah, suci
dari segala kelemahan dan kekurangan!
Ujian bagi keluarga
Ibrahim As ternyata belum
berakhir. Beberapa tahun kemudian, tatkala Ismail sudah remaja, tampan
wajahnya, cerdas akalnya, dan luhur akhlaknya, datang lagi cobaan yang luar
biasa berat kepada beliau. Maka berkatalah sang ayah kepada putera kesayangannya:
"Wahai Ismail, malam tadi melalui mimpi aku menerima perintah Allah
yang sangat berat. Aku disuruh menyembelih engkau anakku, dengan tanganku
sendiri. Kini aku meminta pertimbanganmu, bagaimana sikap kita terhadap
perintah ini?" Hanya sekejap Ismail As terdiam, meresapkan kata-kata
ayahandanya. Pada detik berikutnya beliau sudah tegak menengadahkan muka, lalu
berkata dengan lembut namun tegas:
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي
إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾
"… Wahai ayahku, silakan melaksanakan apa yang
diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menyaksikan daku, insya Allah,
termasuk orang-orang yang sabar. (Ash-Shaffaat 37: 102).
Kemudian ayah dan
anak itu pergi ke suatu tempat yang sunyi. Ismail As dengan suka rela
telah membaringkan dirinya di atas tanah. Ibrahim As dengan hati yang
mantap telah meletakkan pedang tajam di atas leher anak terkasihnya. Tidak ada
sesuatu yang mengisi pikiran dan perasaan kedua hamba itu selain patuh dan taat
kepada Allah Swt. Maka di saat mereka berada pada puncak penyerahan diri, Allah
berfirman: " … Wahai Ibrahim, sungguh telah engkau laksanakan perintah
melalui mimpi itu dengan benar. Kami pasti mengganjar balasan kemuliaan bagi
orang-orang yang berbuat kebajikan. Sungguh ini adalah suatu ujian yang nyata
(Al-Shaffat:104-106). Allah menyelamatkan Ismail dan menggantinya dengan seekor
hewan yang besar. Itulah yang disembelih Ibrahim As
Maka sesuai dengan
janji-Nya, yang dikemukakan dalam empat ayat yang kita tuliskan di pangkal
uraian ini, Allah Swt mengabadikan peristiwa ini untuk diingat dan dikenang
umat manusia sampai akhir zaman. Perilaku Siti Hajar, yang tanpa kenal lelah
berikhtiar mengupayakan rizki bagi anaknya, dengan selalu tawakkal -
berserah diri kepada Allah sambil berdo’a kepada-Nya, diabadikan dalam bentuk
ritual Sa’i, yang harus dilakukan oleh setiap mukmin yang melakukan
Umrah atau Haji. Sedangkan tekad Ibrahim menyembelih Ismail As diabadikan dalam
bentuk perintah ibadah Qurban kepada
kaum Muslimin yang mampu, yakni menyembelih sapi, domba atau unta, pada Hari
Raya Adha atau hari-hari Tasyrik
Kisah keluarga
Ibrahim As dalam menghadapi ujian hidup, sebagaimana yang diceriterakan di
dalam Al-Quran, mengajar manusia sikap dasar yang benar, yaitu bahwa hidup di
dunia adalah ibadah – pengabdian diri kepada Allah Swt. Karena itu setiap
kali seseorang mendengar perintah Allah dia harus menjawab dengan hati, dengan
lisan dan dengan perbuatan: Sami’na wa atha’na - Kami dengar dan
kami patuh. Allah telah menandaskan pada ayat 56 surah 51 Adz-Dzaariyat: وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ - Dan tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Tentu saja sebagai Rabbunnas - Pembina dan Pelindung manusia, Allah Swt
menurunkan ketetapan-ketetapan yang manusia mampu melakukannya. QS Al-Baqarah 2: 286 menegaskan: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا - “Allah tidak
membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.”. Allah Maha Mengetahui bahwa manusia biasa tidak akan mampu menghadapi ujian seperti
Ibrahim As yaitu berkurban
dengan menyembelih putera kandung sendiri; maka Dia hanya memerintahkan kita
mengurbankan hewan sembelihan. Allah Maha Mengatahui bahwa manusia biasa tidak akan sanggup
menunaikan shalat fardhu limapuluh kali sehari; maka Dia hanya menyuruh kita
melaksanakan shalat wajib lima kali saja. Allah Maha Mengetahui bahwa banyak orang
yang karena keterbatasan dirinya tidak mampu menunaikan ibadah haji; maka Dia
memfardhukan haji itu manistatha’a – bagi yang sanggup melaksanakannya
yaitu yang sehat jasmani dan ruhani, memiliki biaya perjalanan, ada kendaraan
yang mengantarkannya ke tanah suci, dan kondisinya aman.
Hakikat ibadah adalah
melaksanakan suatu perbuatan dengan mengharapkan ridha Allah dan dengan
cara yang sesuai aturan Allah. Tetapi kebanyakan manusia - termasuk yang telah
mengaku Muslim - tidak sepenuhnya
berbuat demikian. Kebanyakan orang justru melakukan banyak hal untuk memenuhi
keinginan nafsu belaka, padahal nafsu yang tidak dikendalikan tidak akan pernah
terpuaskan. Nafsu menginginkan untuk menguasai harta kekayaan
sebanyak-banyaknya, sehingga orang kemudian mengusahakannya dengan segala cara,
termasuk yang melanggar larangan agama. Rasulullah menyindir orang-orang yang
bersikap demikian itu dengan sabdanya: "Seseorang itu apabila telah
memiliki dua lembah penuh emas permata, dia masih mengusahakan lembah yang
ketiga. Padahal yang dia perlukan ketika mati hanyalah sejengkal tanah untuk
menguburkan jasadnya". “Al-Quran bahkan secara jelas mengemukakan
perintah Allah: وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
- Dan makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan;
sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. Firman Allah dan sabda Rasul Allah telah dikemukakan dengan tegas
dan jelas, namun toh kebanyakan orang menutup telinganya rapat-rapat, tidak mau
mendengarkannya. Merekapun mengumbar nafsunya dengan melewati segala batas
dengan melampaui semua takaran.
Maka orang yang
menjadi industriwan, mengeksploitasi sumberdaya alam habis-habisan tanpa peduli
bahwa kekayaan alam itu dikaruniakan Allah bukan hanya kepada segolongan orang
tetapi untuk semua manusia dari semua generasi. Orang yang memegang jabatan kepemimpinan,
melakukan korupsi sebanyak-banyaknya tanpa mengingat bahwa yang dia curi itu
milik masyarakat, termasuk yang sangat miskin. Orang yang berdagang, dengan
menggunakan berbagai dalih mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, walaupun tahu
bahwa banyak orang yang sengsara karena ulahnya itu. Orang yang menangani bisnis
media informasi, menyajikan berita dan hiburan yang tidak ada manfaatnya bagi
pembaca atau penonton, bahkan merusak akhlak masyarakat terutama generasi muda
harapan Bangsa; tetapi mereka tidak peduli kerena yang disajikannya itu memberi
keuntungan yang bertimbun-timbun.
Demikianlah yang
terjadi, justru di negeri kita yang mayoritas penduduknya Muslim, sedemikian
sehingga tata ekonomi yang terbentuk sama sekali tidak Islami. Rektor sebuah
perguruan tinggi ekonomi bahkan
menyatakan bahwa sistem ekonomi yang berkembang di negeri ini tidak lain
kecuali ekonomi keserakahan. Akibat pelaksanaan ekonomi keserakahan itu
terjadilah apa yang telah dikemukakan Al-Qur’an belasan abad yang lalu: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ - “Nampak dengan nyata kerusakan di daratan
dan lautan yang disebabkan ulah tangan manusia.” Setiap hari kita
memperoleh berita tentang kerusakan alam seperti banjir, tanah longsor, aberasi
pantai, pencemaran udara, ambrolnya lapisan ozon, dan sebagainya. Semua itu
merupakan akibat dari eksploitasi alam yang tidak terkendali. Bencana
kemanusian berlangsung tak kalah hebatnya seperti semakin banyaknya penderita
kecanduan narkoba, penyebaran HIV AIDS, makin banyaknya aborsi, makin maraknya
pornografi, makin tingginya angka pengidap homoseksualitas, dan sebagainya.
Allah masih menambahkan bencana-bencana lain yang tidak secara langsung
merupakan hasil ulah manusia, seperti gempa tektonik, tsunami, pancaran lava
dari gunung berapi, angin puyuh, dan sebagainya. Semua itu merupakan
peringatan-peringatan keras dari Allah Swt kepada manusia agar mereka melakukan
muhasabah - introspeksi, kemudian ishlah - melakukan
perbaikan-perbaikan diri. Bila peringatan Allah itu tidak diindahkan, bisa jadi
terjadi bencana total seperti yang telah menimpa kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum
Tsamud, dan lain-lain.
Untuk menghindari
azab Allah yang dahsyat, bangsa Indonesia harus menata ulang mind set
kehidupannya. Sikap hidup yang benar menyatakan bahwa kehidupan dunia ini
adalah ibadah, dan yang diusahakan dengan ibadah adalah ridha Allah, dan dalam
naungan ridha Allah itu orang akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Sikap
hidup yang benar adalah: bahwa kebahagiaan yang didambakan bukan hanya di dunia
tetapi di dunia dan akhirat. Selanjutnya kebahahagiaan dunia diperoleh bukan
dengan bermandi harta, tetapi dengan hati yang tenang tenteram. Orang
memerlukan kekayaan dan boleh mengusahakan kekayaan yang sebanyak-banyaknya,
tetapi kekayaan itu bukan sarana memuaskan nafsu - kekayaan harta adalah bekal dan modal
ibadah. Demikian pula kedudukan, kekuasaan, keahlian, dan sebagainya. Dengan
menggenggam semua itu orang dapat berbuat lebih banyak dan lebik haik untuk
berbakti kepada Allah dengan menjadikan semua miliknya bermanfaat bagi banyak
orang, Penataan kembali mind set tersebut sekaligus meruipakan langkah taubatan
nasuha yaitu tobat yang bersungguh-sungguh kepada Allah Swt. Dengan
perbaikan diri tersebut, insya Allah kita akan menikmati indahnya suasana di
alam akhirat yang amat sangat panjang.
Sakib Machmud
No.
200
Sayangnya pengorbanan Nabi Ibrahim As telah dimanfaatkan oleh pengimpor dan pedagang hewan qurban untuk memperkaya diri sendiri. Inilah muslim di jaman edan. Wallahu'alam.
BalasHapusBayak orang bukannya bertaubat, malahan banyak yang makin kufur. Apa yang salah dan siapa yang salah?
BalasHapus