Sabtu, 05 Desember 2009

59. PERKEMBANGAN TASAUF

Ajaran Tauhid yang merupakan inti aqidah Islam, dan keterangan wahyu tentang Allah SWT ‘mengundang’ kaum Muslimin untuk mendekat kepada Allah dengan dua pendekatan, yakni pendekatan lahiriah (eksoteris) dengan melaksanakan ketetapan hukum yang dikemukakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan pendekatan batin (esoteris). Rasulullah SAW menggunakan kedua jalan itu secara bersama-sama dan harmonis. Akan tetapi kemudian ada di antara ummat yang lebih merasa sesuai dengan salah satu jalan dan karena itu lebih banyak menggunakan jalan yang dipilihnya.



Mereka yang memilih jalan lahiriah kemudian mengembangkan Ilmu Fiqh atau Syari'ah, sedangkan yang memilih mendekatkan diri kepada Allah melalui jalur batiniah kemudian mengembangkan Tasauf. Masing-masing jalur berkembang dan membesar sehingga jarak antara keduanya menjadi semakin lebar. Ada dua alasan yang pada umumnya digunakan oleh para sufi untuk memilih jalan pendekatan batini. > Pertama: Tuhan bersifat rohani, maka yang mendekatkan diri kepada Tuhan juga rohani. > Kedua: Tuhan itu Maha Suci, maka pendekatan kepada Tuhan juga harus melalui pensucian diri.



Tasauf adalah ilmu tentang cara pendekatan diri kepada Tuhan melalui pensucian rohani. Kaum sufi bersatu pendapat dengan para filosof dalam menyatakan bahwa manusia itu adalah jiwa yang berpikir (nafs insaniyah). Akan tetapi mereka bertentangan ketika membicarakan cara mencapai kesempurnaan manusia. Para filosof beranggapan bahwa kesempurnaan diperoleh dengan pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) sedangkan kaum sufi menganggap kesempurnaan dicapai dengan pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah).



Ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW memang mengisyaratkan dorongan untuk mendekat kepada Tuhan secara eksoteris maupun esoteris. Al Quran dan As Sunnah dengan jelas menggariskan berbagai hukum yang berupa perintah dan larangan untuk ditaati manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup pribadi maupun masyarakat. Hukum-hukum itu mencakup kawasan yang sangat luas, mulai dari masalah shalat dan puasa sampai kepada persoalan ekonomi dan politik. Diterangkan pula sanksi-sanksi yang nyata untuk setiap pelanggaran dan keingkaran, baik yang berupa sangsi duniawi maupun sangsi akhirat. Namun dikemukakan pula agar orang melakukan ketaatan dengan suka rela, dengan kecintaan dan semangat pengabdian yang setinggi-tingginya. Al Quran memuji tinggi orang yang ‘menjual dirinya’ untuk memperoleh ridla Allah [QS Al Baqarah (2): 207]. Setelah menerangkan bermacam-macam kesenangan yang akan diperoleh orang di surga, Al Qur’an menyatakan bahwa ridla Allah itulah kenikmatan yang paling besar [QS At Taubah (9): 72]. Wajah-wajah penghuni surga pada kehidupan akhirat itu akan berseri-seri karena dapat melihat Tuhannya [QS Al Qiyamah (75): 22-23].



Kehidupan Rasul juga menyontohkan perilaku penyucian diri yang tinggi. Aisyah RA menceriterakan, beliau menyaksikan Rasul shalat malam sambil meneteskan air mata tida henti-hentinya. Maka Aisyah RA bertanya: "Ya Rasulullah, apakah yang menyebabkan Anda sekuat itu beribadah, bukankah Allah telah berjanji mengampuni dosa Anda yang terdahulu maupun yang akan datang?". Rasulullah SAW menjawab: "Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?". [HR Bukhari dan Muslim].



Dengan pemahamannya kaum Sufi kemudian beranggapan bahwa keutamaan manusia tergantung kepada kedekatannya dengan Allah. An Nawawi misalnya menyatakan adanya tiga tingkatan amal. Yang paling rendah ialah amal yang dilakukan karena takut neraka; ini disebutnya sebagai amal budak belian. Yang kedua karena mengharap surga; ini adalah amal pedagang. Yang ketiga amal manusia merdeka yakni yang dilakukan karena kesadaran dan kecintaan kepada Allah. Rabi'ah Al Adawiyah (713-801 M) bahkan menyatakan tidak peduli lagi apakah akan dimasukkan ke dalam neraka atau surga. Baginya yang terpenting adalah kesempatan ‘memandang Wajah Allah’.



Al Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menceriterakan kisah metaforik tentang tiga orang yang diberi hadiah kuda oleh Raja. Ketiga-ketiganya merasa senang dan berterima kasih. Namun ketika ditanya ternyata mereka mempunyai alasan kegembiraan yang berbeda. Orang yang pertama merasa senang karena hadiah yang diberikan adalah kuda, yang memang hewan kesenangannya. Yang kedua senang karena merasa memperoleh perhatian dan kehormatan dari Raja. Dan yang ketiga merasa senang karena mendapat sarana untuk mengabdi lebih baik kepada Raja. Al Ghazali kemudian berkomentar bahwa orang yang pertama egoistik, yang kedua pertengahan, dan yang ketiga adalah yang berterima kasih secara benar. Maka manusia yang baik adalah yang orientasinya hanya untuk mengabdi dengan lebih baik kepada Allah SWT.



Tentang asal mula istilah Tasauf, tidak ada kesepakatan di antara para ulama. Dari kepustakaan diketemukan beberapa anggapan tentang asal mula perkataan tersebut yakni:

> 1. Safa, yang berarti suci dan Sufi adalah orang yang disucikan.

> 2. Shaf bermakna baris, yakni barisan orang-orang yang shalat berjamaah di masjid. Para Sufi karena usaha keras untuk mensucikan diri selalu datang lebih dahulu di masjid dan karena itu menempati baris yang pertama.

> 3. Ahl Al Suffah, yakni para sahabat Nabi yang hijrah dari Makkah kemudian hidup sangat sederhana di Madinah. Mereka itu tidur di Masjid Nabi di atas bangku dari batu dengan berbantalkan suffah (pelana).

> 4. Suf (kain bulu). Para Sufi dalam kesederhanaannya mengenakan pakaian dari bulu kasar, yang pada saat itu dianggap sebagai bahan pakaian yang sangat sederhana. Pakaian yang mewah dibuat dari sutera halus.



Ada beberapa peneliti yang beranggapan bahwa Tasauf ini berkembang karena pengaruh agama-agama lain, terutama Hindu, kepercayaan Persia, mitologi Yunani, dan agama Nasrani. Pendapat mereka didasarkan kepada adanya kesamaan cara pendekatan diri kepada Tuhan melalui ritus-ritus tertentu, yang juga terdapat pada agama dan kepercayaan tersebut. Namun bukti-bukti yang lebih jelas tentang hal tersebut, sampai saat ini belum diutarakan dengan memuaskan. Yang pasti adalah bahwa sudah banyak sahabat Rasul yang menjalani kehidupan zuhud (berpaling dari kemewahan duniawi untuk mendapat kepuasan spiritual), sebelum ada interaksi intensif antara orang-orang Islam dengan agama dan kepercayaan tersebut.



Dalam Tasauf, zuhud dipandang sebagai syarat utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Empat Khulafaur Rasyidin, meskipun memegang kekuasaan sepenuhnya, namun tetap rendah hati dan menjauhkan diri dari kemewahan. Umar bin Khatab dalam melakukan perjalanan sebagai Khalifah bersedia jalan kaki bergiliran dengan orang lain. Utsman bin Affan yang kaya raya telah menafkahkan sebagian besar kekayaannya untuk sedekah. Apalagi kaum Shuffah, yang tinggal di masjid Nabi. Mereka memang menyengaja menjalani kehidupan sangat sederhana untuk menyucikan diri sehingga mencapai kedekatan dengan Allah.



Tasauf dapat ditinjau pula sebagai sikap oposisi terhadap perkembangan sosial ekonomi yang terjadi pada masa sesudah Rasul wafat. Pada masa kehidupan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, kaum Muslimin hidup secara sederhana. Tetapi mulai dari masa pemerintahan Bani Umayah, orangpun bermewah-mewah terutama di lingkungan istana. Apalagi Khalifah Yazid (680-683 M) yang dikenal sebagai peminum; dia sudah jauh meninggalkan kehidupan yang dicontohkan Rasul dan lebih dekat kepada kehidupan Kaisar Romawi. Masyarakat bawah tidak lagi dapat mengadukan masalah kepada Khalifah, apa lagi memprotes Khalifah, karena dia berada di istana yang terpisah dari masyarakat umum, dikawal ketat oleh para hulubalang dan perajurit. Khalifah juga tidak bisa diganti begitu saja karena tidak dipilih tetapi kedudukannya diperoleh sebagai warisan.



Maka menghadapi keadaan itu muncullah gerakan untuk hidup secara zuhud, tidak tenggalam dalam nafsu. Di antara pemula gerakan tersebut, yang terkenal ialah Abu Dzar Al Ghifari. Dia melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayah. Sesudah itu muncul Sa'id bin Musayyab, menantu Abu Hurairah, dan Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab. Di kota Basrah masyhurlah nama Hasan Al Basri (642-728 M). Dia memperkenalkan sikap khauf (takut hanya kepada kemurkaan Allah) dan raja' (mengharap hanya karunia Allah).



Sikap dan perilaku seperti ini kemudian dikembangkan oleh generasi berikutnya. Mereka menyusun jalan-jalan yang harus dilalui untuk sampai ke tingkat paling tinggi. Jalan itu disebut dalam bahasa Arab: Thariqah (dalam bahasa Indonesia disebut Tarekat). Jalan itu akan melalui stasiun-stasiun tertentu yang disebut maqomat. Di stasiun itu seseorang menyucikan diri untuk menuju stasiun berikutnya, dengan shalat, puasa, membaca Al Qur’an dan dzikir. Dari semua maqomat yang dikemukakan, kita dapat menyebut tujuh yang pada umumnya dianut.



Maqomat pertama adalah Taubat Nasuha, membersihkan diri dari dosa dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mula-mula orang bersuci dari dosa besar, kemudian dosa kecil, akhirnya menjauhkan diri dari segala yang syubhat, meragukan. Maqomat berikutnya adalah Zuhud, menjauhkan diri dari kesenangan materi dan duniawi. Maqomat ketiga adalah Wara', menghindari semua yang syubhat, termasuk cara memperoleh rizki yang tidak jelas hukumnya apakah boleh atau terlarang. Maqomat berikutnya adalah Faqr, hidup sangat sederhana. Seseorang pada stasiun itu tidak akan minta meskipun tidak punya; namun ia tidak menolak anugerah Allah SWT. Stasiun berikutnya adalah Sabar, yakni tahan menderita. Pada maqomat ini orang tidak meminta pertolongan Tuhan bahkan tidak menunggu pertolongan Tuhan. Ia sabar dalam penderitaannya. Maqomat berikutnya ialah Tawakal, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dan stasiun yang terakhir adalah Ridla. Di sini orang tidak lagi mengharap surga dan tidak minta dijauhkan dari neraka. Dia tulus menerima apa saja yang ditetapkan dan dianugerahkan oleh Allah SWT.



Sejarah mencatat beberapa guru besar di bidang Tasauf yang menyampaikan ajaran-ajaran khas masing-masing. Ketika guru besar itu meninggal, murid-muridnya membentuk organisasi untuk melestarikan ajaran atau ‘aliran’ gurunya. Di antaranya thariqah yang banyak penganutnya di Indonesia adalah Qodiriyah, pelanjut ajaran Abdul Qodir Jaelani (wafat 1166 M), Naqsyabandiyah, pengikut Bahauddin Naqsyabandi (wafat 1415 M), Syatariyah, pengikut Abdullah Syatar (wafat 1415 M), dan Tijaniyah (berkembang pada abad 19). [Sakib Machmud]

1 komentar:

  1. Assalamu’alaikum wr.wr. Tulisan-tulisan tentang agama Islam sangat bermanfaat bagi saya. Terimakasih ustadz. Saya tunggu tulisan berikutnya. Wassalam. Hamba Allah

    BalasHapus